Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 073


__ADS_3

Eh, kunyuk bangun.. bangun !" Teriak Irma sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aulia. Gadis itu masih molor meski sudah dibangunkan sejak tadi sedangkan yang lainnya telah siap sedia.


"Aul, bangun.. bangun.. bangunnnnnnnn !" Ana ikut berteriak tapi tetap saja gadis itu tidak bergeming dan masih tetap bertahan di alam mimpi.


Keempatnya saling pandang, mereka dongkol sekali melihat Aulia yang terdengar masih mendengkur halus.


"Bagaimana ini ?" Isa frustasi.


"Siram air aja !" Saran Veni yang membuat tiga lainnya menoleh cepat kearahnya dengan mata melotot.


Melihat ketiganya masih mematung mencerna saran dari teman sesat mereka itu, Veni menuju kamar mandi dan membawa segayung air keluar. Saat hendak menyiramkan ke Aulia seketika tiga lainnya mencegah dan hanya memercik air itu sedikit demi sedikit pada wajah Aulia dan lagi gadis itu masih tidak bergeming. Keempatnya sontak jengkel, Veni kembali mengambil segayung air dan langsung menyiram semuanya pada Aulia.


Berhasil, Aulia langsung bangun duduk sambil megap-megap dengan mata melotot menatap 4 manusia didepannya.


"Aku tidak percaya kalian melakukan ini padaku !" Aulia histeris.


"Sudah kami lakukan, percayalah !" Sahut Veni enteng membuat yang lainnya tertawa.


"Teganya kalian, hiks !" Aulia pura-pura mewek.


"Udah deh, kamu pikir ini sudah jam berapa. Ayo bersiap kita sudah telat !" Ucap Irma.


"Eh, hah ? Apa ?" Aulia lambat loading.


"Sebentar lagi jam masuk ini, ayo kita perlu beres-beres lagi !"


"Oh iyaaaaaaaa !" Aulia segera melesat ke kamar mandi dan bersiap secepat kilat.


"Ayo !" Kelimanya mulai berjalan bersama dengan langkah cepat hingga memasuki hotel.


Kelimanya langsung melakukan pekerjaan masing-masing sebelum ketahuan atasan. Nanti malam akan diadakan pesta ulang tahun seorang putri konglomerat yang pastinya dibuat sangat mewah dan meriah bahkan mengundang penyanyi artis-artis ternama sekalipun.


Para pegawai hotel mulai terlihat sibuk mempersiapkan aula utama yang sangat luas yang dipastikan akan banyak tamu memenuhinya nanti. Kelima gadis itu mulai membantu menata dan mempercantik dengan membawa bunga-bunga segar nan cantik untuk memperindah ruangan atau menghias meja makan sedemikian rupa.


Aulia sedang membawa bunga mawar merah saat hampir bertabrakan dengan seseorang yang membuatnya memekik serta hampir menjatuhkan bunga-bunga yang berjumlah 50 tangkai itu ke lantai.


"Kak Toni, aku kaget !" Pekik Aulia.


"Makanya kalau jalan pelan-pelan, kamu diikuti hantu kah sampai terburu-buru gitu !" Ucap si pemilik hotel enteng.


"Ya ampun, amit-amit deh diikuti hantu !" Aulia bergidik membuat Toni tersenyum geli.


"Oh ya, kakak lagi apa disini ?"


"Inikan hotel punyaku !"


"Iya kak, aku tau banget itu tapi tumben datang kesini ?"


"Ya, kebetulan yang ulang tahun nanti itu temanku jadi ya gitu deh hadirin pesta sekaligus kerja juga, hehehe !"


"Wah !"


Keduanya ngobrol seru hingga salah seorang teman memanggila Aulia membuatnya pamit dari hadapan kak Toni dan kembali bekerja.


Setelah berjibaku membuat ruangan menjadi negeri dongeng, Kelima gadis itu begitu terpukau melihat ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa, amat mewah dan sangat indah.

__ADS_1


"Beruntung banget ini yang punya acara !" Ucap Irma.


"Betul, Sultan memang berbeda !" Sahut Isa.


Aulia hanya bisa mengangguk mendengar ucapan teman-temannya. Ia sangat suka melihat bunga-bunga cantik nan harum yang menyejukkan mata bahkan bunga impor juga menguasai ruangan.


Dan Malam harinya seperti dugaan, tamu-tamu dengan cepat memnuhi ruangan, mereka terlihat kaya raya nan terpandang. Cara mereka berbicara, menatap dan tersenyum memang terlihat datang dari dimensi lain. Penyanyi terkenal mulai mengeluarkan suara emasnya yang mampu membuat hampir seluruh yang berada diruangan itu menoleh kepadanya.


Belum lagi si bintang utama, seorang gadis cantik yang mengenakan dress putih ala-ala negeri dongeng yang membuat siapa saja terpesona menatapnya. Senyum gadis itu tidak luntur sama sekali membuat semua pria terasa terhipnotis tak ingin mengalihkan pandangan darinya.


Aulia mengingat gadis itu yang kemarin berbicara dengan Benki. Hingga orang dipikirkannya pun muncul. Benki datang dengan tersenyum pada gadis itu yang dimana membuat wajah gadis itu memerah.


"Hei Helen, Happy Birthday. Semoga kamu bahagia selalu ?" Ucap Benki seraya memberikan sebuah kotak kecil.


"Terima kasih Ki, kamu baik banget. Oh ya ini apa ?" Helen mengguncang pelan kado itu, tersenyum.


"Itu parfum. Semoga aja kamu suka !" Ucap Benki dan wajah Helen sekejab terlihat kecewa.


Aulia yang bersembunyi sejak kedatangan Benki dan mengintip interaksi keduanya membuatnya hatinya kembali nyut-nyut. Sangat bisa dia sadari bahwa gadis bernama Helen itu tertarik pada Benki dan saat melihat mereka bersama, keduanya sangat cocok, bahkan banyak orang yang memuji keduanya membuat gadis bernama Helen itu tersenyum senang. Aulia memalingkan wajahnya tak ingin pikirannya semakin membuat hatinya semakin nyeri.


Teringat kembali saat Benki mencium keningnya yang membuatnya saat itu tak bisa berkata apa-apa kemudian membuatnya bahagia, apa itu artinya Benki mulai mencintainya ? Bisakah Benki hanya melihatnya seorang saja ? Aulia sadar jika mengenai Benki mungkin dia akan menjadi serakah.


Aulia melihat Benki menelepon seseorang dan tak lama Hp-nya bergetar, ia hanya menatap datar layar HP-nya dan menoleh kearah Benki yang masih setia menunggu panggilannya dijawab.


Aulia menatap dalam wajah pria itu tanpa ingin menjawab panggilan teleponnya.


*****


Syifa sudah berdandan cantik, malam ini Evan kembali mengajaknya makan malam bersama membuat Syifa sangat senang. Sepertinya ia akan mulai menerima perjodohan ini. Menatap cermin mematut diri, Syifa tersenyum puas.


"Oke Bi, terima kasih !" Syifa meraih tas kecilnya dan segera menemui Evan.


"Orang tua kamu mana Fa ?" Tanya Evan saat melihat Syifa berada didepannya.


"Mereka lagi hadirin undangan pernikahan teman papa !"


"Oh gitu, ya udah kita jalan sekarang !" Kata Evan yang hanya diangguki oleh Syifa.


Keduanya kini berada di hotel bintang 5, makan malam mewah nan enak dengan sesekali membicarakan pekerjaan masing-masing hingga makan malam usai.


"Mau jalan-jalan lagi ?" Ajak Evan setelah keluar dari hotel.


"Boleh kak !"


Evan mengemudikan mobilnya menuju alun-alun tepi pantai yang menjadi tempat nongkrong favorit anak muda, dimana bisa menikmati deburan ombak sambil menikmati jajanan setempat. Syifa sempat terpukau saat pertama kalinya melihat tempat itu.


"Mau kelapa muda ?"


"Boleh kak ?"


Evan memesan 2 kelapa muda utuh setelah itu Syifa mengikuti Evan menuju dahan pohon yang tergeletak di pasir begitu saja. Syifa sedikit terkejut saat sesuatu hinggap dibahunya dan dilihatnya jaket yang diberikan Evan membuat Syifa tersenyum manis atas perhatian pria itu.


"Terima kasih kak !" Ucap Syifa tersenyum yang diangguki Evan.


Keduanya terdiam memandang lautan gelap dimana ombak-ombak kecil berlomba menggapai tepi yang akan mengeluarkan suara deburan paling keras tanda kemenangan.

__ADS_1


"Fa !" Panggil Evan memecah kesunyian.


"Iya kak ?"


"Apa kamu menerima perjodohan ini ?"


Syifa tertegun, tidak menyangka mendengar pertanyaan ini.


"Iya kak !" Syifa menjawab pelan namun tegas.


Evan menoleh kearah Syifa, menatap dalam mata gadis itu dengan tatapan nanar.


"Apa kamu sudah punya rasa padaku ?"


Syifa terdiam, balas menatap Evan dalam. Mendapat pertanyaan seperti itu sontak saja membuatnya gugup. Jujur saja ia tertarik kepada Evan, pria itu tampan dan baik.


"Em, Ng, emm !" Syifa bingung bagaimana menjawabnya. Ia malu menjawab jika ia yakin mulai tertarik pada pria didepannya ini.


"Fa, sebenarnya aku mencintai orang lain bahkan sejak aku masih bersama Cleo, aku pun sudah bersamanya jadi bisa dibilang aku selingkuh !" Ucap Evan gamblang.


Syifa terkejut mendengar itu serta menatap Evan tidak percaya dan kini ia terdiam mendengar setiap kata demi kata yang keluar dari bibir pria itu.


Tidak bisa ia pungkiri hatinya sedikit kecewa mendengar penuturan Evan bahwa dihati pria itu telah lama dimiliki oleh seseorang yang bahkan rela menduakan istrinya, dimana Syifa yakin kalau sudah tidak ada tempat untuknya di hati Evan atau bahkan menggeser posisi kekasih Evan.


Pesanan kelapa muda mereka datang mengalihkan fokus keduanya sesaat, Syifa meminumnya dengan cepat, ia masih setia mendengar penuturan Evan yang ingin mengakhiri perjodohan ini karena tidak ingin menyakitinya. Syifa terkejut saat Evan mengambil kelapa mudanya dan memeluknya.


"Maaf Fa, maaf banget !" Suara Evan bergetar, pria itu terdengar menyesal sekali.


Syifa yang awalnya terkejut kini mulai tersenyum dan balas memeluk Evan.


"Tidak apa-apa kak. Terima kasih sudah mau jujur !"


Keduanya sejenak terdiam saling memeluk, menata hati masing-masing agar tidak jatuh sakit dan berharap satu sama lain bisa bahagia kemudian keduanya melepaskan pelukan mereka.


"Ini dihabisin !" Evan menyerahkan kembali kelapa muda Syifa.


Obrolan keduanya berlanjut mengenai gadis yang dicintai oleh Evan. Perasaan Syifa mulai lega mendengar cerita Evan. Setiap menyebut kekasih hatinya wajah Evan terlihat lucu membuat Syifa tertawa tanpa suara.


"Kalau kamu Fa ? sebelum bertemu denganku apa kamu punya pacar ?" Syifa langsung menggeleng.


"Aku dari kecil belajar terus kak, dikeluargaku pendidikan itu penting jadi aku tidak pernah pacaran. Itu kenapa aku bersedia dijodohkan !"


"Maaf Fa, maaf banget. Perjodohan kita gagal !" Evan terlihat menyesal sekali.


"Tidak apa-apa kak, terima kasih sudah mau jujur !" Syifa tersenyum dari lubuk hatinya.


Evan masih merasa tidak enak dan memberikan harapannya semoga kedepannya Syifa segera bertemu cinta sejatinya, menurutnya siapapun yang mendapatkan gadis yang baik dan cantik seperti Syifa pasti sangat beruntung.


Obrolan keduanya berlanjut pada hal-hal kecil yang membuat mereka tertawa juga saling ledek hingga cukup lama keduanya memutuskan pulang.


"Terima kasih kak !" Syifa tersenyum pada Evan.


"Fa, untuk sekarang kita jangan bicara apa-apa dulu pada orang tua kita. Pelan-pelan aku akan bicara pada mamaku !" Pesan Evan sebelum gadis itu keluar dari mobilnya.


"Oke kak, kalau begitu duluan !" Syifa turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Evan yang mulai berlalu pergi.

__ADS_1


Saat mobil Evan sudah tidak terlihat, Syifa meraba lehernya dan mengeluarkan kalung titaniumnya. Entah mengapa perasaannya jauh lebih enak setelah menatap kalung itu namun bersamaan ia juga malu jika mengingat pertama kali mendapatkan kalung itu. Wajahnya seketika memerah saat ingatan itu kembali, Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memasuki rumahnya.


__ADS_2