Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
030


__ADS_3

Seminggu sudah Lala berada di kampungnya.


Selama berada di kampung, Lala menjadi primadona. Pekerjaannya yang sebagai seorang sekertaris di sebuah perusahaan besar hingga mampu membangun rumah batu 2 lantai yang bagus sukses merubah hidup keluarganya dan juga dilengkapi paras tubuhnya yang cantik seketika membuat tetangga-tetangga mereka yang dulu memandang rendah mereka sekarang berlomba-lomba menginginkan dia jadi menantu.


"Eh Lala, ya ampun kamu makin cantik ya !" Sapa Bu Eni, salah satu tetangga mereka saat mereka mengantarkan beras.


"Iya, terima kasih Bu !" Lala tersenyum ramah.


"Kamu sudah punya pacar belum ? Bagaimana kalau ibu lamar kamu untuk anak ibu !"


Seketika Lala dan Ade saling pandang dengan tatapan horor.


"Anak ibu ?" Tanya Lala.


"Nico"


DUARRRRR


Lala kaget mendengar itu. Anaknya yang bernama Nico itu Tukang bully dan suka berbuat onar.


"Nico sekarang sudah kerja di bank X. Jadinya sudah bisa jadi suami. Kalau kamu siap Tante akan lamar kamu segera !" Ucapan itu membuat Lala dan Ade geleng-geleng kepala berjamaah.


"Maaf Tante, kak Andika sudah menjodohkan kak Lala dengan juragan emas kampung sebelah !" Ucap Ade buru-buru, Lala menganga mendengar itu.


Setelah barang selesai dibayar, buru-buru Ade menarik tangan Lala untuk segera pergi meninggalkan Bu Eni yang wajahnya jadi sinis karena ditolak.


"Amit-amit punya kakak ipar macam Niko !" Diperjalanan pulang Ade mengedikan bahunya ngeri.


"Lho, dia belum berubah ?"


"Justru tambah parah. Hiyy !"


"Maksudnya ?"


"Sekarang dia kecanduan narkoba dan suka main perempuan. Kerja di bank juga dia malas masuk kerja, dia lebih suka keluyuran gak jelas dengan cewek-cewek gak jelas !" Ucap Ade. Lala pun ikutan bergidik mendengar cerita adiknya.


"Siapa juragan emas kampung sebelah ?"


"Gak tau, asal sebut aja !"


Keduanya ngakak.


Lain hari seorang ibu, yang dulu selama bertetangga tidak pernah mengajaknya bicara bahkan tak mau memandangnya, juga ikutan menginginkan Lala menjadi menantunya.


"Ya ampun Lala, gak nyangka ya kamu ternyata pintar bisa kerja di perusahaan besar. Pasti bangga deh punya mantu seperti kamu. Gimana kalau dengan anakku Madani ?" Tanya Bu Shela.


Lala dan Ade saling pandang, Ade menggelengkan kepala.


"Maaf Tante, kak Andika sudah jodohin kak Lala dengan juragan emas kampung sebelah !" Ade kembali mengeluarkan kata pamungkasnya membuat Bu Shela diam seketika.


Karena berasal dari keluarga kaya dan terpandang membuat Madani arogan, tempramental dan egois banget hingga dijauhi cewek-cewek baik. Hal itulah juga yang pasti membuat Lala mundur teratur.


Saat kembali membawa pesanan Bu Ratna, wanita tua itu tidak mau kalah.


"La, kalau kamu menikah dengan Bani, hidupmu akan selalu sejahtera karena nanti harta bapaknya akan diwariskan ke dia !" Ucap Bu Ratna, Lala tertawa kecil.


Bani yang kebetulan ikut keluar dan mendengar ucapan ibunya tersenyum penuh arti pada Lala membuat Lala merinding.


Yang bener aja nikah sama laki-laki seperti dia. Bukan hanya karena sakit hati mengingat perlakuan Bani yang suka mengejek kakaknya tapi juga Bani tak segan-segan menghina dan mengganggu siapapun yang tidak disukainya.


Gimana nasibnya Lala kelak punya suami seperti itu.


"Anakku PNS, hidup masa tuamu akan terjamin !"


"Anakku calon Tentara pasti kamu akan bangga punya suami seperti anakku !"


"Anakku punya sawah yang luasnya berhektar-hektar !"


Anakku begini, anakku begitu dan banyak lagi hal-hal menjanjikan yang membuat Lala tak tahu harus menjawab apa.


Jika ia mendalami hatinya maka jawabannya adalah seorang pria bernama Evan Setyawan.


Semenjak saat itu Lala tidak pernah lagi ikut mengantar barang atau dia akan selalu di sodorkan anak laki-laki yang katanya tampan dan mapan keluarga tetangganya. Kakaknya pun ikut melongo mengetahui betapa populernya sang adik.


Setelah seminggu lebih berada di kampung Lala memutuskan untuk kembali agar ia bisa cepat mencari pekerjaan. Ia tidak bisa dalam waktu lama menganggur apalagi Sekarang adiknya minta dibiayai.


Tibalah saatnya Lala kembali. Kakaknya banyak memberikan kue dan buah-buahan serta hasil bumi lain seperti jagung dan ubi. Ingin memberi beras namun Lala pasti repot membawanya.


"Sering-seringlah pulang !" Pesan Andika menatap sendu pada adiknya.


"Iya !"


"Jangan terlalu capek, ingat selalu makan makanan bergizi !"


"Iya !"


"Kalau ada apa-apa langsung telpon kakak ya, nanti kakak akan menemui kamu !"


"Iya kak, iya. Tenang aja aku baik-baik aja dan selalu banyak makan. Hehehehe !"

__ADS_1


"Ini !" Ade menyodorkan 3 kotak coklat bengbeng.


Andika dan Rina saling pandang saat Ade mengembat stok di toko.


"Terima kasih !" Lala tertawa menerima pemberian adiknya.


"Tante pulang dulu ya, nanti Tante datang lagi main sama kalian berdua !" Lala mencium pipi kedua keponakannya.


"Iya Tante !" Jawab keduanya kompak.


"Ya udah kak, aku balik dulu. Dadah !" Lala menaiki becak untuk diantarkan terminal.


"Hati-hati !" Pesan kakak ipar. Lala mengangguk.


Becak mulai berjalan disertai tatapan sendu yang lain terutama sang kakak yang kini harus terpisah lagi dari adiknya. Air mata Lala kembali jatuh saat ia semakin menjauh dari keluarganya, rasanya masih ingin tinggal dalam waktu yang lama.


Bus yang dinaiki Lala sudah memasuki kota, saat berhenti di lampu merah banyak pedagang memasuki bus untuk menjajakan dagangannya, menawarkan pada satu penumpang ke penumpang yang lain. Saat penjual koran masuk Lala memutuskan membeli beberapa koran dengan berbagai merek.


2 jam perjalanan cukup membuat tubuh Lala pegal akibat bus yang melewati jalanan berbatu. Di siang yang sangat terik itu saat ia sampai suasana kost sangat sepi nampaknya semua orang beraktivitas diluar.


Lala memasuki kamarnya dan dengan susah payah menyeret karung berisi hasil bumi dari kakaknya, langsung merebahkan tubuhnya dilantai mengurangi sedikit lelah tubuhnya.


Setelah itu mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, Lala menikmati kue pemberian sang kakak seraya membuka korannya mencari halaman yang memperlihatkan lowongan kerja.


Lowongan jaga konter hp.


Lowongan jadi baby sitter.


Lowongan jadi pembantu menjaga lansia.


Lowongan kerja di bengkel.


Lowongan jadi agen penjualan freelance.


Lala geleng-geleng kepala melihat lowongan itu, dengan teliti matanya menelisik dari satu lowongan kerja ke lowongan kerja yang lain.


Pandangannya langsung tertuju pada lowongan dengan tulisan besar bahwa sebuah perusahaan yang bergerak di bidang makanan kemasan sedang mencari sekertaris baru.


Lala langsung antusias dan membaca dengan teliti kelengkapan apa saja yang harus disiapkannya.


Saat dirasa persyaratan yang diminta sudah Lala miliki untuk dilampirkan Lala berbaring terlentang, perlahan matanya memberat dan membuatnya terlelap.


Sore tiba saat Lala terbangun dari tidur siangnya, duduk sebentar lalu bangkit menuju balkon, merenggangkan tubuhnya dan menatap pemandangan sekitar.


Warung mang Ujang terlihat ramai oleh banyak perempuan. Jika diperhatikan seksama ternyata dibelakang rumah mang Ujang beberapa meter ke belakang ada beberapa petak sawah dan banyak pohon kelapa tumbuh sekelilingnya. Yang utama adalah disitulah dimana Lala bisa menatap bola dunia tenggelam tanpa harus pergi jauh membuat Lala terpaku pada pemandangan itu.


Saat sedang asik menikmati pemandangan itu saat sebuah suara menginterupsi mengagetkan Lala.


"Love you too !" 3 dari mereka membalas sapaan jahil Fajar sisanya hanya tersenyum.


"Oh !" Fajar memegang dadanya lebay.


"Eh, kau baju kuning. Kau seperti sunset di sore hari mendekati senja yang indah !" Kali ini godaannya tertuju pada gadis cantik yang baru saja lewat. Gadis itu hanya tersenyum saat pria tampan menggodanya.


Saat sekumpulan 5 cewek-cewek SMP lewat, disambarnya juga.


"Ya ampun ini adik-adik, kalian cantik-cantik seperti idol-idol Korea !" Ucapnya tersenyum jahil.


"Ih Kak, kakak juga ganteng lho. Mirip Tukul !" Setelah mengatakan itu kelimanya berlari dengan tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan temannya.


Semua yang berada di warung mang Ujang tertawa geli mendengar itu.


Lala pun menahan tawa melihat ekspresi menganga Fajar dan memutuskan masuk kekamarnya sebelum cowok itu menyadari keberadaannya. Saat itu Lala tak sengaja melirik disebelahnya, ia melihat gadis bernama Tika sedang menatap Fajar dengan tatapan sulit diartikan.


Menyadari gadis itu cemburu, lala segera memasuki kamarnya dan menutup pintu balkon.


Setelah Maghrib, Lala memutuskan untuk jalan-jalan ke mall untuk membeli hp baru. Selain membuang nomornya Lala juga memutuskan untuk tidak menggunakan handphonenya lagi.


Memasuki mall segera setelah taksi yang ditumpanginya sampai, Lala segera masuk dan mencari konter penjualan hp. Membeli yang menurutnya cocok dengan harga terjangkau.


Saat berjalan keluar pandangan Lala tertuju pada toko aksesoris kemudian memasuki toko tersebut, mengitari seluruh rak barang yang kembali mengingatkannya pada Evan. Memutuskan membeli gantungan kunci untuk kunci kamarnya, Lala keluar untuk mengisi perut.


Duduk menikmati makanan sendirian sambil melihat pemandangan pasangan kasmaran bertebaran dimana-mana.


"Beb, aaaaaaaa ?" Sejoli yang duduk didepannya memakai jaket couple warna biru muda bergambar garis vertikal saling menyuapi tapi sang wanita menolak dengan mimik imut.


"Gak mau, nanti aku gendut !" Suaranya imut banget.


"Ih sayang, kalau kamu gak makan nanti kamu sakit trus kalau kamu sakit siapa yang akan nyakitin aku ?" Dengan tampang khawatir


HUEKKKSS


Lala menatap eneg pada pasangan lebay itu.


"Ih, aku gak akan pernah nyakitin kamu beb, karena kamu sangat berarti dihati aku !" Suara imut dibuat-buat membuat Lala sekuat tenaga menahan agar tidak memuntahkan makanannya.


"Kalau gitu makan ya. Karena kamu permata hatiku aku gak akan biarin kamu kelaparan. Sekarang aaaaaaaaa !" Si cowok menyuap si cewek yang diterima dengan hati riang.


Mereka terlihat saling menyuap bergantian hingga...

__ADS_1


"REGIIIIIIIIII !" Seorang gadis berteriak kearah pasangan lebay itu.


"Siapa dia ?" Bentaknya dengan cepat menghampiri pasangan itu dan menunjuk si cewek imut.


"Harusnya aku yang tanya kamu siapa ? Gak sopan banget teriak-teriak begitu !" Si cewek imut berubah jadi wanita garang. Sifat imutnya hilang tak berbekas.


"Aku tunangan Regi. Bulan depan kami mau nikah. Makanya aku tanya kamu siapa ?" Si cewek baru datang masih membentak.


"Aku tunangannya, Minggu depan dia bilang mau kerumahku untuk melamar !" Si cewek imut tak mau kalah balik membentak.


Kedua gadis itu berargumen menunjukkan siapa arti diri mereka pada cowok bernama Regi itu dan memaksa cowok itu untuk menjelaskan situasi yang terjadi. Ketiganya sudah jadi bahan tontonan pengunjung mall.


Cowok bernama Regi itu pusing melihat kedua pacarnya adu mulut.


"Sudah.. sudah jangan bertengkar. Aku janji aku akan adil pada kalian berdua !" Ucapnya membuat kedua gadis itu langsung terdiam tak percaya mendengar kata-kata itu.


Cukup lama kedua gadis itu hening hingga...


PLAKKKKK. Si cewek imut menampar pipi kanan cowok nya dengan keras.


"Mulai sekarang kita putus. Aku gak mau punya pacar buaya darat sepertimu !" Setelah mengatakan itu ia melepas jaketnya dan melemparkan ke wajah pacarnya dan segera meninggalkan tempat itu.


"Sayang aku......!" Si cowok beralih ke si cewek baru datang dengan tampang memelas namun belum juga melanjutkan sudah dipotong.


PLAKKKKK. Kali ini pipi kirinya ditampar oleh si cewek baru datang membuatnya menahan panas dikedua pipinya.


"Aku kira kamu itu laki-laki yang baik. Selama ini kamu ajarin aku hal-hal baik buat aku yakin kalau kamu itu orang yang tepat jadinya aku mau terima kamu apa adanya meski kamu hanya seorang supir grab. Tapi ternyata kamu tidak sebaik kelihatannya. Kamu sama aja playboy. Mulai sekarang jangan pernah temui aku lagi dan jangan telpon aku lagi. Selamat tinggal, kita putus !" Si cewek baru datang melepas cincinnya dan meletakkan di meja kemudian berlari pergi dengan berurai air mata.


Cowok itu setelah ditinggalkan menghela nafas kasar dan meremas rambutnya sendiri ingin mengamuk tapi situasi kondisi tidak tepat kemudian ia ikut berlari pergi mengabaikan orang-orang yang menontonnya.


Disaat kamu telah memiliki sesuatu yang berharga maka syukuri, jaga dan cintai dia maka semakin lama dia akan semakin indah namun jika kau hanya menganggapnya tidak berarti dan mencari yang terbaik maka kamu akan kehilangan semuanya dalam waktu yang singkat.


Pikiran Lala menerawang mencari nilai positif dari kejadian tadi setelah itu ikut memutuskan pulang.


Keesokan harinya, Lala sudah berpakaian rapi untuk melamar pekerjaan.


Lala singgah sebentar ke tukang fotocopy untuk menyalin beberapa berkas penting untuk dilampirkan pada surat lamaran kerjanya dan membeli materai.


Lala menaiki taksi menuju alamat kantor tersebut. Setelah sampai Lala menganga tidak percaya melihat lautan manusia memenuhi halaman kantor tersebut. Jumlahnya 2 kali lipat saat melamar menjadi sekertaris Evan dulu.


Menunggu hingga setengah hari akhirnya Lala bisa menyerahkan berkasnya dan saat panitia memeriksa dan merasa sudah lengkap ia memberikan nomor urut pada Lala.


"Berdasarkan nomor urut, anda bisa diwawancarai 5 hari lagi !" Ucapnya.


"Hah !" Lala memekik seraya melongo sambil memerhatikan nomor urut 257.


"Baiklah, terima kasih !" Lala meninggalkan tempat itu diiringi tatapan seseorang yang cukup terkejut melihat kehadiran Lala.


*****


Seminggu lebih Evan dirawat dirumah sakit akhirnya dia diijinkan pulang. Selama itu hanya Lala yang selalu menguasai kondisi dan pikirannya membuatnya harus mendapatkan perhatian ekstra. Selama berada di rumah sakit, mamanya yang selalu menyuapi makan karena jika bukan maka Evan tidak akan makan.


Begitu juga Rizky, kedatangannya setiap hari selalu merecoki Evan dengan pekerjaan, sebisa mungkin mengalihkan perhatian Evan agar mengembalikan semangatnya dalam bekerja.


Cukup berhasil, sekarang Evan sudah terlihat kembali bugar meski wajahnya murung.


Sesampainya di rumah, Cleo membantunya menuju kamar dan pelan-pelan membantunya duduk di sofa. Keluarga Evan memutuskan menginap hingga kondisi Evan benar-benar pulih.


"Aku sudah sehat Cle !" Ucap Evan saat Cleo memperlakukannya seperti orang sakit.


"Maaf !"


Evan menarik lengan Cleo untuk duduk disampingnya. Ditatapnya wanita itu dan memegang pipinya.


"Maaf. Aku harap kamu bisa bahagia dan bertemu dengan laki-laki yang tulus sayang sama kamu !"


"Yank, tidak bisa kah kita......!"


"Gak bisa Cle. Maaf. Sulit, Lala pergi dengan membawa perasaanku !"


Cleo menangis saat Evan mengatakan itu. Evan meraih tubuh Cleo dan memeluknya.


"Maaf Cle, aku pun berharap kita bisa seperti pasangan lain yang bisa saling mencintai tapi ternyata aku mencintai orang lain. Aku gak mau nyakitin kamu lebih lama. Jadi tolong jangan memaksakan dirimu untuk bertahan denganku !" Evan membelai rambut Cleo yang terisak sambil memeluk erat Evan.


"Hubungan kita dimulai dengan perjodohan dan aku pernah berusaha mencintai kamu dan itu berhasil. Aku menanam bunga dan bunga itu berhasil tumbuh indah tapi aku lupa jika bunga itu perlu dirawat, diberi air dan dipupuk dan aku mengabaikannya hingga bunga itu layu dan mati !"


"Maaf Cle, aku tidak merawat perasaanku padamu seperti bunga !"


"Aku yakin diluar sana ada laki-laki yang bisa mencintaimu tulus apa adanya !"


Cleo semakin mengeratkan pelukannya dan terisak semakin keras. Evan tetap membelai rambutnya lembut.


Setelah cukup lama terisak, Cleo melepaskan pelukannya, menatap Evan dengan mata sembabnya.


"Baiklah, terima untuk selama ini. Tapi bagaimana dengan papa ? Jujur aku takut kalau sampai papa tahu ini !" Wajah Cleo khawatir.


"Kita cari waktu yang tepat dulu lalu kita akan beritahu papa kita. Jangan sekarang !" Kata Evan membuat Cleo mengangguk.


Malam telah larut dengan Cleo yang terlelap lebih dulu. Evan menaikkan selimut hingga menutupi leher Cleo mencegah ia menerkam wanita itu. Andai tidak ada orang tuanya pasti ia akan tidur di ruang kerjanya.

__ADS_1


Evan keluar balkon, membiarkan angin malam menerpa kencang tubuhnya. Tatapan Evan tertuju pada tangan kanannya, sudah tidak ada lagi cincin hitamnya membuat ia merasakan benar-benar kehilangan.


"La, aku akan menemukanmu apapun yang terjadi dan saat itu tiba jangan harap kamu bisa lepas lagi dariku !" Evan menatap tajam langit malam.


__ADS_2