
Jerry selalu gusar saat mengikuti berita penemuan senjata api itu, Perdana Menteri itu benar-benar lolos dan semua kesalahan dilimpahkan kepada anak buahnya.
"Ck, aku tidak boleh diam seperti ini, aku harus melakukan sesuatu !" Tekadnya.
Jerry jalan mondar-mandir menahan kesal tanpa menyadari kalau perlahan mata Bryan terbuka, berusaha menyesuaikan dengan penerangan kamar. Ujung matanya melirik Jerry yang masih mondar-mandir dengan gerutuan yang tidak jelas. Ia hendak memanggil Jerry namun sebuah telepon datang yang mengatakan jika pesanan makanannya telah datang.
"Heh, aku juga butuh cemilan !" Ucap Jerry seraya berlalu keluar tak lupa menutup pintu dengan pelan.
Tinggal Bryan yang hanya bisa diam, ia sulit bergerak apalagi dada kanannya terasa sakit, pelan-pelan ia coba mengerakkan tubuhnya rasa ngilu mengalir dari sumber luka hingga membuatnya meringis.
Bryan terasa sangat haus tapi adik kampretnya malah pergi keluar dan berharap si cengeng itu cepat kembali.
Jerry menuju lift dan ia mengerutkan kening manakala melihat seorang pria memakai pakaian serba hitam juga memakai kaca hitam sedang berpose layaknya seorang model sambil main Hp didepan lift, Jerry nampaknya mengingat itu adalah pria asing kemarin namun Jerry enggan menyapa karena pria itu tampak sangat fokus pada Hp-nya.
Lift terbuka dan Jerry segera masuk, nampaknya pria serba hitam itu tidak ada niat masuk membuat Jerry menekan tombol tutup pada lift tanpa bertanya.
"Sok-sokan pake kacamata hitam sambil main Hp, gelap-gelap dah tu layar !" Jerry cekikikan membayangkan pria tadi harus melihat kegelapan dalam Hp-nya.
Bersamaan lift itu tertutup, pria tadi langsung tersenyum sinis dan mendekatkan Hp ke telinganya.
"Adiknya sudah turun kebawah, dia memakai kaos putih dengan celana pendek polkadot !" Lapornya seraya mulai mendekati kamar Bryan.
Saat Jerry sudah sampai dilantai dasar ganti 2 orang yang memasuki lift sambil menoleh kearah pakaian Jerry yang sesuai deskripsi temannya tadi. Lift tertutup dan membawa mereka naik ke lantai VIP.
Jerry celingak-celinguk mencari kurir makanannya, setelah mendapatkan pesanannya ia membayarnya.
Jerry berbalik, menuju mesin penjual minuman dan makanan ringan otomatis. Ia terdiam memilah-milah mana yang ia inginkan, setelah mendapatkan yang ia mau ia bergegas kembali.
"Eh, tuan Collins. Apa anda sudah bertemu dengan keluarga anda ?" Tanya resepsionis dengan ramah, Jerry menghentikan langkahnya dan menghadap wanita itu.
"Keluarga ? Keluarga apa ?" Tanya Jerry.
"Kemarin ada yang mencari kalian dan sepertinya tadi ia sudah naik ke atas !" Lapor wanita cantik itu dengan senyum manis.
Jerry seketika panik, matanya mengadah keatas. Pikirannya berpikir keras. Sial, laki-laki depan lift.
"TIDAAAAK !" Jerry langsung berlari.
"TELEPON POLISI !" Teriaknya lagi pada resepsionis membuat semua yang berada disana kaget.
Langkah Jerry terhenti saat melihat tabung pemadam kebakaran, dengan cepat ia membuang apa yang dipegangnya dan meraih tabung itu kemudian bergegas menaiki lift. Pikirannya kini fokus kepada sang kakak, saking paniknya ia mengancam siapa saja yang ingin memasuki lift dengan tabung pemadam itu.
Sementara itu, pria serba hitam tadi sudah berada diruangan Bryan dan melihat sang pasien sudah sadar. Bryan menatapnya penuh tanya pada laki-laki sok keren didepannya ini. Ia mulai bergerak dan detik berikutnya ia mengerang saat rasa sakit serta ngilu menyetrumnya.
Pria tadi langsung tertawa terbahak-bahak melihat itu.
"Perkenalkan namaku Jack. Senang rasanya melihat kamu tidak berdaya seperti itu, hahahaha !"
Tak lama 2 orang lagi masuk, kedua pria itu memakai masker dan topi warna hitam dan hijau yang menutup rambut pirang mereka. Keduanya melepas masker mereka dan tersenyum mengejek kearah Bryan yang melotot menatap ketiganya.
"Perkenalkan juga yang pakai topi hijau itu Elon dan yang topi hitam itu Pat !"
"Oh, kau penasaran siapa kami !" Ucapnya dengan senyum mengejek melihat ekspresi melotot Bryan.
__ADS_1
"Kami datang kesini untuk menyampaikan salam hangat dari Perdana Menteri untukmu, hahahaha !" Ketiga pria itu tertawa keras membuat Bryan panik, kini ia mengerti maksud dan tujuan ketiga orang asing itu, matanya menatap pintu masuk berharap Jerry segera datang.
Saat ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya malah sakit dan ngilu yang ia rasakan membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa semoga bantuan segera datang.
"Apa ? Kau mau tahu dimana Perdana Menteri sekarang ini ?" Pria bernama Jack itu bicara lagi seolah-olah mengerti pertanyaan lewat tatapan mata Bryan.
Ketiga pria itu saling pandang dan kembali tertawa keras.
"Baiklah, karena kamu sudah bersiap untuk mampus, maka aku akan beritahu dengan gratis padamu !"
"Dia sekarang bersenang-senang di sel mewah kantor polisi, dengan kedudukan dan uang yang ia miliki maka ia bisa mendapatkan apa yang ia mau terutama kebebasan dan sekarang ia menginginkan nyawamu, hehehehe !" Pria itu tertawa aneh.
"Ini rumah sakit, sayang sekali kami tidak bisa menggunakan pistol jadi kami akan membunuhmu dengan sunyi tanpa mengeluarkan suara ribut, hehehehe !"
Bryan semakin pucat, menatap nanar semua pria itu kemudian menatap pintu masuk yang sedikitpun tidak bergerak. Kemudian ketiga pria itu nampak melempar kode lewat mata membuat Bryan takut.
Kemudian Jack mendekati sisi kepala Bryan dan menarik bantal dengan kasar seraya tertawa remeh saat Bryan terlihat meringis kemudian melepaskan selang oksigennya hingga Bryan sesak nafas, dengan cepat pria itu membekap kepala Bryan dengan bantal itu kencang.
Tubuh Bryan meronta-ronta kuat, ia tidak bisa bernafas.
"Pegang kakinya !" Pekik Jack dan bisa Bryan rasakan 4 tangan menekan kakinya dengan keras hingga ia benar-benar tidak bisa bergerak, saat itu Bryan merasakan penglihatannya mulai memudar, gejolak dadanya akibat tak ada oksigen yang masuk membuatnya semakin lemah dan....BRAK.
"HEYYYYYYYY !"Sebuah teriakan murka nan menggelegar memenuhi kamar itu. Jerry datang dengan kekuatan cahaya.
TENG. TENG.
Dengan sekuat tenaga, tabung karbon dioksida itu menghantam kepala 2 orang yang sedang menahan kaki Bryan hingga keduanya terjengkang kelantai dengan erangan kesakitan.
TUNG.
Sedetik kemudian, Jack yang membekap Bryan juga terpental ke lantai karena tidak siap dengan gerakan cepat Jerry.
Jerry yang panik mengambil bantal dari wajah Bryan yang mulai ngos-ngosan serta kembali memasang selang oksigen ke lobang hidung kakaknya hingga Pria itu perlahan mulai tenang.
"DASAR SETAN !" Teriak Jerry lagi saat melihat Elon dan Pat berusaha berdiri meski kepalanya berdarah, ia kembali menerjang kedua pria itu dengan memukulkan tabung itu ke perut serta bawah perut mereka bergantian dengan masih menggunakan kekuatan cahaya membuat kedua pria itu ambruk dilantai seraya termehek-mehek.
Jerry beralih pada Jack yang pandangannya nampak remang-remang namun berusaha fokus untuk melihat sekitar. Belum juga pandangannya jelas saat sebuah bogem mentah mendarat di pipinya dan Bogeman selanjutnya. Jerry memukulnya membabi buta.
BUK.
Tampaknya pria itu tidak mau pasrah begitu saja, ia berhasil menghalau tinju Jerry dan ganti menonjok Jerry dengan keras hingga cowok itu terlempar. Dengan cepat pria itu bangkit meski terhuyung ia mencoba menghajar Jerry. Kini ia berada diatas tubuh Jerry dan memukuli cowok itu, Jerry berusaha bertahan dengan menghalau dengan lengannya. Dengan cepat ia mendorong tubuh pria itu.
"Elon, Pat. Pegangi dia !" Perintah Jack
Keduanya menurut dan langsung memegangi Jerry kanan kiri membuat cowok itu meronta-ronta minta dilepaskan. Matanya menatap liar ke seisi kamar mencari senjata untuk melindungi diri, hingga matanya tertuju pada kantong ajaibnya yang tergeletak di sofa.
Jack meraih tabung merah itu seraya menatap Jerry dengan pandangan membunuh.
"Terima kasih kau bersedia mengantar nyawa pada kami !" Jack menatap tajam Jerry sambil bersiap menghantamkan tabung merah itu tepat dipuncak kepala Jerry.
"Eh tunggu dulu, sebelum memukulmu. Aku akan memberikan kehormatan pukulan pertamaku untuk kakakmu, hehehe !" Jack tersenyum mengerikan kemudian berbalik hendak menghampiri Bryan.
Jerry menarik nafas dan dengan bertumpu pada pria dikanan kiri, ia mengangkat tubuhnya dan menendang sekeras mungkin Jack yang baru sekali melangkah hingga pria itu terlempar kedepan dan mencium tembok dengan keras. Secepat kilat Jerry menghantamkan jidatnya pada pria disampingnya bergantian. Berhasil, pegangan mereka terlepas dan Jerry langsung berlari ke sofa meraih tasnya, membuka dan meraih botol parfum.
__ADS_1
Ssssssssss.
Jerry menyemprotkan pada 2 pria yang masih meringis dengan hidung berdarah itu hingga keduanya tak sadarkan diri lalu ia menuju Jack yang murka dan meski mengerang sakit ia berusaha bangkit untuk menghampiri Bryan dengan tabung merah itu, dengan cepat ia menyemprotkan cairan itu kewajah Jack hingga tabung itu terlepas dan mengenai tepat di kaki Jack bersamaan pria itu ambruk tak sadarkan diri.
Saking kencangnya menyemprot, Jerry pun menghirup baunya membuat kepalanya langsung pusing. Ia berusaha keras mempertahankan kesadarannya. Namun akhirnya ia tumbang sedetik setelah dokter dan perawat masuk kesana diikuti polisi.
*****
Minggu pagi Benki bersama Fajar sedang berjalan-jalan di mall, nanti malam Melati adiknya berulang tahun jadi ia juga sekaligus membeli hadiah untuk sang adik. Keduanya memasuki toko pakaian wanita.
Benki memutuskan membeli sebuah gaun cantik nan indah berwarna pink untuk sang adik, saat itu matanya juga tertuju pada sebuah gaun potongan sederhana namun anggun berwarna peach membuatnya teringat pada Aulia. Pasti gadis itu cocok sekali dengan gaun itu.
Benki melirik kearah Fajar yang sedang memperhatikan sebuah gaun, Benki menimang dan akhirnya memutuskan membeli gaun peach itu.
Kemudian Benki dan Fajar memutari mall untuk mencari pakaian mereka sendiri kemudian makan dan memutuskan pulang.
Saat menuju pintu keluar, 5 orang gadis memasuki mall dengan obrolan seru sesekali tertawa-tawa.
DEG
Benki mematung, begitu juga Aulia. Keduanya tidak menyangka akan bertemu disini.
Sedetik kemudian Aulia berlari dan memeluk Benki erat. Menyandarkan pipi kanannya di dada bidang cowok itu, memejamkan mata menikmati aroma tubuh juga detak jantung Benki yang terasa semakin cepat.
"Aku kangen kamu kak !" Bisiknya.
"Aku minta maaf kak, aku minta maaf. Tolong jangan marah lagi !" Tambahnya, Benki masih membisu tak bereaksi meski Aulia mengeratkan pelukannya.
Ana, Irma, Isa dan Veni kaget melihat adegan itu, seketika mereka saling lirik apalagi orang-orang mulai melirik kearah sejoli itu.
"Kak, Tolong. Jangan marah lagi. Bicaralah kak, jangan diam aja !" Aulia mengguncang pelan tubuh Benki namun cowok itu tetap membisu hanya tangannya saja mencengkram kuat paperbag ditangannya.
"Aulia, tolong lepas. Bos mau pulang !" Ucap Fajar merusak momen itu.
Aulia tersentak, ia mendongak menatap Benki dan cowok itu malah menatap titik lain. Dengan berat hati perlahan Aulia melepaskan dekapannya disertai tatapan dalam kepada pria didepannya.
Saat pelukan itu terlepas, Benki langsung melangkah keluar tanpa menoleh lagi membuat mata Aulia mulai berkaca-kaca, ia berharap Benki mau berbalik sebentar saja menatapnya namun hingga cowok itu hilang dibelokan keinginan Aulia tidak terpenuhi. Keempat temannya hanya bisa berusaha menghibur.
"Sudah, cowok itu banyak, banyak banget. Ada tukang ojek, supir taksi, kuli bangunan atau gak satpam hotel kita. jadi jangan terlalu bersedih, oke !" Veni.
Yang lain hanya geleng-geleng kepala mendengar itu.
"Kau itu memang minta diceburkan di kali belakang rumahmu, huh !" Semprot Isa.
"Emang, sekalian kirim ke Kutub Utara supaya dia nikah sama beruang kutub !" Ana.
"Sudah.. sudah, ayo jalan. Kita senang-senang disini !" Irma.
Aulia hanya mengangguk, ia pun tidak ingin merusak momen kebersamaan mereka sekarang.
"Ayo !" Aulia semangat berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Sedangkan Benki, ia berusaha menetralisir sesak didadanya. Jujur saja, Ia pun sangat merindukan gadis itu namun sebisa mungkin ia menahan tangannya agar tidak membalas pelukan Aulia. Rasa marah dan kecewa masih mendominasi egonya.
__ADS_1
Benki meraba pakaian area dadanya, masih bisa ia rasakan suhu tubuh Aulia yang hangat serta parfum murah yang digunakan gadis itu tertinggal di tubuhnya membuatnya memejamkan mata berusaha menghilangkan perasaan rindu itu.
Fajar yang melihat mimik wajah Benki hanya bisa menghela nafas tak tahu harus berbuat apa.