Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
054


__ADS_3

Pagi harinya saat semua orang melakukan aktivitas seperti biasanya. Begitu juga Lala, ia nampak sibuk di mejanya saat Benki menghampirinya.


"Sebentar lagi ada tamu dari luar kota. Tolong kamu sambut ya !" Pesan sang atasan.


"Eh tamu ? Berarti harus siapin makanan ringan dong ? Aduh kita punya apa ?" Lala panik.


"Udah gak perlu, sambut aja tamunya nanti !" Ucap Benki sebelum meninggalkan Lala. Gadis itu geleng-geleng kepala seraya meraih telepon di mejanya untuk menghubungi pantry namun ia langsung terdiam saat lupa menanyakan berapa orang yang akan datang.


Lala menghela nafas dan kembali fokus pada pekerjaannya hingga telepon dari resepsionis datang dan mengabarkan bahwa tamu sudah datang. Lala bersiap menyambut tamu dan berdiri didepan lift. Telihat nomor lantai lift semakin berubah naik dan naik hingga saat berada di lantai direktur pintu lift itu terbuka.


Lala terperangah setelah pintu lift terbuka, Evan disana dengan ekspresi datarnya. Keduanya terdiam saling bertatapan dengan tatapan rindu dan tersadar saat pintu lift hampir tertutup. Evan segera keluar dari lift sebelum benda itu membawanya kembali turun.


"Selamat datang. Silahkan !" Sambut Lala.


"Terima kasih !" Jawab Evan.


Keduanya melangkah masuk menuju ruangan Benki. Pria itu mendongak saat pintu ruangannya terbuka.


"Oh, selamat datang tuan Evan !"


"Terima kasih sambutannya tuan Ben !"


"Panggil saja saya Benki !"


"Terima kasih Benki !"


"Silahkan duduk !" Benki menunjuk sofa dan langsung duduk didepan Evan.


Kedua pria itu terlibat pembicaraan serius. Lala keluar dan menelepon pantry kemudian kembali masuk dan duduk diantara keduanya. Kedua pria itu kembali terlibat pembicaraan yang makin lama makin jauh dari kata pekerjaan.


Tanpa Lala sadari, 2 pria itu saling melempar kode lewat mata dengan senyum tertahan.


Jam makan siang Evan meminta izin pada Benki untuk membawa Lala makan siang bersama yang tentu saja langsung diijinkan oleh sang atasan.


"Kita mau makan dimana ?" Tanya Evan menatap Lala.


Awalnya gadis itu melongo mendengar pertanyaan itu namun segera tersadar bahwa Evan asing di kota ini. Lala memutuskan membawanya makan di warung ayam geprek yang terkenal enak di kota itu. Keduanya kini duduk berhadapan menunggu pesanan mereka datang.


"Kenapa tiba-tiba datang kesini tanpa kabar ? Jangan bilang untuk bahas bisnis dengan Benki !" Ucap Lala bisa membaca pikiran Evan membuat cowok itu yang sudah akan membuka mulut kembali mingkem.


"Aku kangen padamu !" Ujar Evan tersenyum membuat Lala salah tingkah.


"Ih, baru kemarin kita pisah udah kangen, aneh !" Sungut Lala.


"Ya, memang aneh apalagi setelah ditinggalkan selama setahun pasti jadi gila !" Ujar Evan membuat gadis itu merasa tersindir. Gadis itu terdiam menatap sebal pada pria didepannya.


"Jadi gimana ?"


"Gimana apanya ?"


"Keputusanmu ?"


"Aku belum ambil keputusan !" Jawaban Lala membuat Evan kecewa.


Makanan pesanan mereka telah datang dan Evan terlihat ogah-ogahan dan tidak berselera memakannya.


"Ayo dong dimakan, nanti malam kita jalan yuk !" Lala yang menyadari perubahan wajah Evan membuatnya meraih tangan pria itu dan mengelusnya pelan. Evan menatap Lala yang sedang tersenyum padanya membuat mood-nya membaik dan mulai menikmati makanannya.


*****


Ditempat lain, Rizky mengantar Cleo kembali ke kantornya setelah mereka makan siang bareng.


"Nanti malam mau jalan bareng !" Rizky mengikuti Cleo keluar mobil.


"Nanti malam ?" Cleo berpikir.


"Ayo deh, nanti malam ada film bagus. Ayo nonton bareng !" Ajak Rizky.


"Baiklah !" Cleo mengangguk.


Rizky mendekati wanita itu, tersenyum seraya meraih tangannya. Menggenggam dan menatap Cleo dalam.


"Kamu kelihatan pucat !" Rizky membelai pipi wanita itu membuat Cleo malu karena beberapa orang melintas disekitar mereka.


"Udah ih, aku nggak apa-apa !" Cleo melepaskan pegangan Rizky.


"Jangan terlalu lelah, kalau kamu butuh bantuan aku akan selalu siap bantuin kamu calon istri !" Rizky terkekeh seraya membelai rambut Cleo yang juga membuat wanita itu bersemu.

__ADS_1


'HATSYIIIIIII'


Suara bersin yang keras mengangetkan keduanya dan sukses merusak suasana syahdu itu. Keduanya menoleh kearah suara. Tampak tuan Kevin berdiri menjulang tidak jauh dari mereka seraya menatap datar pada keduanya.


"Selamat siang tuan !" Sapa Rizky sopan.


"Siang !" Balas tuan Kevin datar.


"Apa aku harusnya bilang siang papa mertua ?" Bisiknya pada Cleo membuat wanita itu menahan senyum seraya memelototi Rizky.


"Kamu sering datang kemari Ky ?" Tanya tuan Kevin.


"Ng.. Benar tuan !"


"Mengapa tidak pernah menemuiku ?"


"Eh, i.. itu.. !" Belum selesai Rizky menjawab terdengar suara berat menyapa papa Cleo.


"Pak Kevin, apa kabar ?" Sapanya membuat papa Cleo langsung menoleh.


"Eh, Heru. Kabar saya baik. Kamu kamu sendiri bagaimana ?" Balas tuan Kevin.


"Saya juga baik pak !" Jawab pria bernama Heru itu, ia menatap Cleo sejenak dengan senyuman membuat Rizky senewen. Baru saja ia akan menyapa Cleo saat serta merta Rizky menutupi tubuh Cleo dengan tubuhnya membuat senyum si Heru langsung luntur dari bibirnya dan menatap penuh tanya pada Rizky yang dibalas dengan alis terangkat cowok itu.


"Ayo masuk Her !" Tawar tuan Kevin. Menyadari ada perang mata yang terjadi. Keduanya memasuki kantor dan tuan Kevin sempat memberi kode mata pada Cleo agar cepat masuk.


"Ya udah, aku masuk dulu ya !" Pamit Cleo kemudian bersiap memasuki kantor. Namun tangannya langsung ditahan oleh Rizky.


"Dia siapa ?"


"Heru, anak teman papa. Bisa dibilang kami juga teman masa kecil !" Jelas Cleo.


"Masuknya nanti aja kalau dia udah pulang !" Titah Rizky membuat Cleo melongo.


"Gak bisa, nanti papa marah. Udah ya, jangan aneh-aneh deh !" Cleo melepaskan pegangan Rizky dan berlalu masuk seraya melambaikan tangan pada cowok itu.


Tinggallah Rizky yang panik saat tubuh Cleo telah masuk kedalam. Secara tidak langsung ia memang tidak mengenal pria itu namun ia tahu jika pria itu adalah CEO sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanahan dimana perusahaan itu salah satu perusahaan tersukses di Indonesia membuat Rizky berpikir kemana-mana berharap kedatangan pria itu ke perusahaan ini bukan untuk Cleo karena dia bisa merasakan saat pria itu menatap Cleo, tatapan matanya tersirat ketertarikan pada Cleo.


Rizky kemudian memutuskan pergi dan kembali ke tempat kerjanya sendiri. Sekarang ini ia hanya bisa percaya pada Cleo.


*****


"Mau makan dulu ?" Tawar Evan yang diangguki Lala.


"Pizza !" Gadis itu tersenyum. Keduanya menuju restoran pizza.


"Bagaimana pekerjaanmu ? Apa berat ?" Tanya Evan setelah mereka memesan.


"Nggak kok, semua baik-baik aja, apalagi Benki dan Fajar baik jadinya dengan bantuan mereka membuat pekerjaan terasa mudah !" Jelas Lala tersenyum membuat Evan menarik nafas berat.


Setelah selesai makan, keduanya menuju toko aksesoris yang terlihat cantik, tempat favorit setelah makan pizza. Menjelajah dari satu rak ke rak yang lain. Rasanya Lala ingin membeli semuanya karena cantik dan lucu-lucu. Evan pun yang juga ikut mengitari setiap sudut toko, saat matanya kembali tertuju pada sebuah cincin couple yang terlihat keren bingitz.



Evan menoleh kearah Lala, tersenyum dan langsung memutuskan membeli cincin itu. Setelah itu ia menyusul Lala yang melihat-lihat sekitar.


"Ada yang mau dibeli ?" Tanya Evan mengagetkan Lala.


"Eh, ngga ada. Kalau mau beli ya aku mau beli semua. Semuanya lucu. Hehehe !" Gadis itu terkekeh.


"Ya udah beli aja semua !" Evan sudah mengeluarkan black card-nya.


"Eh.. eh.. becanda. Nggak kok. Ya udah yuk kita keluar aja !" Lala menarik tangan Evan keluar.


"Sekarang kita kemana ?" Tanya Evan.


"Timezone !" Jawab Lala langsung membuat Evan melongo.


Lala menarik Evan menuju tempat permainan itu. Tempat itu cukup ramai oleh anak-anak hingga remaja. Lala kemudian menuju ke permainan bola basket, membuka dompetnya yang dikenali Evan yang ia belikan di toko aksesoris dulu seraya mengeluarkan kartunya dan mulai bermain sesuka hati. Keduanya tertawa saat semua bola itu masuk dengan sempurna tanpa satupun terlewati. Setelah itu keduanya mencoba permainan lain, memainkan dengan penuh semangat sesekali berteriak saat permainan capit boneka Evan gagal berkali-kali hingga percobaan terakhir ia berhasil mendapatkan boneka lumba-lumba berwarna biru putih ukuran sedang untuk Lala membuat gadis itu girang bukan main.


Setelah seluruh saldo kartu Timezone Lala habis baru mereka menghentikan permainan mereka. Setelah menukar tiket Timezone dengan hadiah mug cantik yang Lala berikan pada Evan karena ia lebih suka pada bonekanya. Lala amat senang memainkan boneka lumba-lumba ditangannya. Keduanya berjalan keluar mall.


"Kita kemana lagi ini ?" Tanya Evan.


"Mau ke pinggir pantai ?" Tawar Lala yang langsung diangguki oleh Evan.


Keduanya menaiki taksi menuju pinggiran pantai dimana di malam hari berjejer pedagang kaki lima melengkapi malam Minggu para anak muda yang ingin merasakan suasana syahdu.

__ADS_1


Saat sampai mata Evan melotot tidak percaya melihat pemandangan itu karena 100 meter samping kiri adalah tempat hotel dimana ia menginap.


"Wow !" Ucapan pertama Evan melihat pemandangan itu.


"Bagus kan !" Sahut Lala salah mengartikan.


Evan menuju tempat duduk yang menurutnya strategis dalam menatap hamparan ombak yang dibantu penerangan dari gerobak para pedagang. Lala datang menyusul setelah memesan kelapa muda untuk mereka berdua.


"Jauh-jauh datang kencan kita gak beda seperti sebelumnya ya !" Ujar Evan membuat Lala tertawa kecil.


"Tidak masalah selama kita bahagia !" Lala menatap Evan.


"Apa kamu tidak mau mencoba hal lain ?"


"Contohnya ?"


"Liburan gitu. Ke Bali atau ke luar negeri !" Tawar Evan membuat Lala melotot.


"Nggak deh, lebih baik begini !"


"Kenapa ?"


"Tidak pantas 2 orang yang belum menikah pergi liburan begitu !" Ucap Lala.


"Oh, oke !" Evan tersenyum penuh arti membuat Lala mengerutkan kening.


Kelapa muda mereka datang dan keduanya menikmati dalam diam kemudian Evan meraih kelapa muda Lala dan menyimpan disamping diiringi tatapan bingung gadis itu.


Evan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, membukanya seraya membelakangi Lala kemudian beralih pada gadis itu, meraih tangannya dan memasangkan cincin yang tadi dibelinya. Lala tertegun melihat cincin itu dan menatap Evan bingung.


"Tadi aku lihat lucu jadinya aku beli !" Ujar Evan.


"Terima kasih !" Lala tersenyum senang.


"Eit !" Potong Evan langsung membuat Lala menatap bingung padanya.


"Ini !" Evan menyerahkan pasangan cincin itu yang perlahan diraih oleh Lala dan kemudian langsung mengerti saat Evan mengulurkan jari tangannya. Lala memasangkan cincin itu dijari Evan bersebelahan dengan cincin hitamnya.


"Ini maksudnya apa ?" Tanya Lala setelah proses 'pertunangan' mereka selesai.


"Tanda balikan !" Evan terbahak melihat ekspresi Lala.


"Cincin kita jadi banyak kan !" Lala menatap cincin baru dijarinya itu yang terlihat keren.


Evan meraih tangan Lala menggenggamnya, menautkan kedua jari dimana cincin baru itu terselip. Lala merebahkan kepalanya di bahu Evan, merasakan kembali perasaan bahagia yang sempat hilang. Keduanya mengobrol akrab tanpa sadar seseorang memerhatikan keduanya dengan geleng-geleng kepala. Orang itu memutuskan menghampiri keduanya.


"Selamat malam 2 orang yang sedang berbahagia !" Sapanya. Lala dan Evan langsung melepaskan diri saat mendengar suara itu dan menoleh.


"Oh, pak bos. Anda disini juga ?" Sapa Lala.


"Benar, aku datang jalan-jalan kesini !" Ucap Benki. "Oh, pak Evan, apa sekertarisku menculik anda ?"


"Apa dia menyusahkan anda !" Tanya Benki beruntun membuat wajah Lala manyun dan Evan tertawa.


"Anda kemari datang bersama siapa ?" Tanya Evan membuat Benki terdiam dan refleks berbalik. Evan dan Lala sontak melirik kebelakang Benki.


Tiara terlihat berjalan mendekat dengan canggung, ia nampak salah tingkah setelah dipelototi 3 orang. Gadis itu tersenyum manis pada Lala dan Evan setelah berdiri disamping Benki. Ia terlihat semakin menawan dari terakhir bertemu.


"Perkenalkan ini Evan. Kalau Lala kamu udah kenal kan. Mereka ini pasangan rujuk !" Ucap Benki membuat Lala sebal dan Tiara menatap tidak mengerti.


"Tiara !" Diulurkan tangannya yang disambut Evan.


Mata Benki menangkap sesuatu yang mirip di kedua jari Evan dan Lala membuat ujung bibirnya terangkat.


Keempatnya tersenyum seraya berbincang-bincang ringan.


"Mau gabung bersama kami !" Tawar Evan.


"Oh tidak perlu. Saya tidak mau mengganggu pasangan rujuk. Kami permisi. Hahaha !" Benki menggandeng tangan Tiara dan berlalu ke tempat duduk lain disertai cibiran Lala.


Cukup lama duduk, Evan mulai bosan.


"Jalan-jalan di pasir yuk !" Ajak Evan. Lala terdiam sejenak dan mengangguk.


Keduanya berjalan menghampiri Benki seraya pamit padanya untuk berlalu lebih dulu yang diangguki pria itu.


Setelah itu keduanya melepas alas kaki dan berjalan di pasir dengan kaki telanjang.

__ADS_1


__ADS_2