Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 099


__ADS_3

Aulia kini berada didepan rumah mewah Benki, tak seperti kemarin-kemarin dimana ia selalu melangkah memasuki rumah itu dengan langkah yang ringan tapi sekarang kakinya terasa dihimpit batu yang membuatnya takut dan gugup namun ia terus memantapkan hati untuk masuk kesana untuk meraih sebuah maaf.


Dan kini ia telah duduk diruang tamu rumah itu dihadapan kedua orang tua Benki yang sekarang memandangnya dengan tatapan berbeda, tatapan yang sulit diartikan membuat Aulia sedikit merana. Benar-benar keadaan yang tidak terduga karena biasanya ia akan duduk santai disana sambil mengobrol akrab dengan calon mertua tapi sekarang ia duduk seperti terdakwa yang hendak dieksekusi.


"Sebenarnya nama saya Aulia bukan Tiara. Saya minta maaf, saya tidak bermaksud membohongi kalian. Saya benar-benar minta maaf !" Aulia berusaha keras menahan tangisnya. Dia bahkan tidak berani menyebut kata mama atau papa pada dua orang didepannya.


"Awalnya saya hanya ingin bantu Tiara buat batalin perjodohan ini tapi saya salah karena terlalu menunda-nunda buat jujur pada kak Benki dan jadinya seperti ini !" Akhirnya Aulia menangis.


Orang tua Benki tetap diam menatap gadis didepannya membuat Aulia semakin sedih.


"Ma, pa. Tolonglah bicaralah, jangan diam seperti itu !" Akhirnya ia memberanikan diri mengucapkan kata itu.


Belum juga terdengar kata apapun dari dua orang didepannya saat terdengar suara derap sepatu melangkah mendekat. Benki seketika membeku melihat Aulia di ruang tamunya, cowok itu mendengus dan melangkah cepat ke kamarnya.


"Ma, pa. Ijin ke kamar kak Benki ya !" Tanpa mendengar jawaban kedua orang tua itu, Aulia berlari kecil menyusul Benki.


Gadis itu terlojak kaget saat Benki menutup pintu kamarnya dengan kencang didepan wajahnya. Aulia terdiam sejenak menetralisir rasa kagetnya kemudian membuka kamar itu dan masuk, dilihatnya Benki sedang berdiri menghadap jendela kamarnya.


"Kak !" Panggil Aulia pelan.


"Mau apa kau datang kesini ?" Bentak Benki tanpa menoleh. Aulia menghapus air matanya yang langsung jatuh mendengar kalimat itu.


"Aku minta maaf !" Lirihnya.


"MAAF ! Enak sekali ya setelah kamu mainin perasaanku dan bohongin aku mentah-mentah, sekarang kamu cuma bilang MAAF. KAMU TAHU GAK PERASAANKU SEPERTI APA ?" Teriak Benki menggelegar, emosinya naik mendengar kalimat Aulia dan diraihnya lampu tidur di nakas dan membantingnya dengan keras ke lantai.


Aulia menutup kedua telinga sambil memejamkan mata seraya menjerit dengan air mata yang kembali luruh. Suara pecahan kaca itu membuatnya terkejut bukan main. Bisa dipastikan orang diluar kamar itu, siapapun bisa mendengar keributan itu.


Aulia membuka mata melihat serpihan kaca lampu yang berserakan beserta kabelnya. Gadis itu menoleh ke arah Benki yang menatap nyalang padanya.


"Aku hanya bermaksud membatalkan perjodohanmu dengan Tiara, hanya itu tapi aku selalu menunda-nunda jadi maaf !"


"Kalau memang seperti itu, seharusnya kau tidak pernah meladeni apapun kemauanku. Mengajakmu jalan, membawamu kerumahku dan mengenalkanmu pada papa dan mama. Itu semua untuk apa kalau kamu bukan Tiara !" Teriak Benki.


"Maaf kak, aku minta maaf !" Aulia terisak. Benki membalikkan badannya membelakangi

__ADS_1


gadis itu. Ia pun tidak sanggup melihat gadis itu menangis tapi emosinya menutup rasa ibanya.


"Aku tidak peduli, pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi !" Bentak Benki seraya membelakangi Aulia.


"Kak, aku benar-benar gak bermaksud seperti ini. Aku gak berniat bohong sama kamu. Aku.. aku juga cari waktu yang tepat untuk jujur ke kamu tapi aku takut.. aku selalu takut waktu mau jujur ke kamu, aku takut kamu benci sama aku !" Jelas Aulia.


"Dan benar, sekarang aku benci sama kamu, aku benci kamu yang membohongiku selama ini !" Benki tak berhenti membentak membuat Aulia terus menangis.


"Aku pikir kamu cewek yang baik, aku mengenalkanmu pada orang tuaku karena aku yakin untuk memilihmu tapi ternyata kamu tidak lebih dari seorang pembohong !" Ucapan Benki menohok Aulia.


Aulia mendekat pada Benki dan perlahan memeluk cowok itu dari belakang. Benki tidak bergeming namun kedua tangannya terkepal kuat. Rasanya ia tidak sanggup menepis tangan yang sedang membelit perutnya.


"Aku mencintaimu kak, sangat, aku sangat mencintaimu. Itu alasan utama kenapa aku selalu tidak berani jujur ke kamu. Maaf, aku udah lancang jatuh cinta sama kamu, maafin aku !" Aulia terisak seraya memeluk erat tubuh Benki. Pria itu memejamkan mata dengan dada naik turun.


"Berhentilah bohong, mau sampai kapan kamu membohongiku !" Suara Benki masih sedikit meninggi membuat pelukan Aulia semakin erat.


"Kali ini aku bicara jujur, aku cinta sama kamu kak tapi aku bukan Tiara, aku juga bukan orang kaya. Aku gak sederajat denganmu dan itu yang buat aku semakin minder dan semakin takut untuk jujur ke kamu, hiks !" Punggung Benki sudah basah akibat airmata Aulia.


Benki terdiam sambil memejamkan mata berusaha menahan gejolak perasaannya yang ia tidak tahu apakah amarah atau bukan atau hal lain. Suasana hening yang hanya terdengar isakan Aulia.


Hati Aulia terasa tercabik-cabik mendengar itu, ia tidak tahu harus berkata apa lagi, hanya air matanya yang deras mewakili perasaanya saat ini. Ucapan menyakitkan Benki adalah final dari hubungan mereka.


Perlahan Aulia melepaskan pelukannya, menatap nanar tubuh didepannya kemudian menghapus air matanya dan tanpa kata berbalik melangkah keluar dari kamar itu. Sebelum menutup pintu, Aulia menoleh pada Benki dengan tatapan sedih, berharap cowok itu sebentar saja mau menoleh kearahnya namun Benki tetap tidak bergeming dan terus bertahan pada posisinya yang membelakanginya. Ia kemudian menutup pintu itu. Benki menoleh cepat saat pintu itu tertutup, gadis itu telah pergi dari sana membawa luka yang sama dengannya. Tubuh Benki jatuh terduduk, air matanya kembali luruh dan bersamaan sesuatu rasa sesak yang mengganjal perasaanya membuat air matanya tidak bisa diajak kompromi.


Dengan masih terisak, Aulia melangkah turun. Orang tua Benki masih duduk disana dan menoleh kearahnya. Aulia mendekati mereka sambil berusaha tersenyum walau sulit.


"Ma, aku pamit. Terima kasih atas semuanya dan maaf aku sudah membohongi kalian. Aku sayang sama mama dan papa !" Aulia menghapus air matanya yang kembali mengalir.


Kedua orang itu tetap setia membisu, Aulia berjongkok dan langsung memeluk mama Benki meski tubuh tua itu tak bergeming. Gadis itu beralih pada papa Benki dan juga memeluknya yang akhirnya hanya mendaratkan telapak tangannya pada bahu gadis itu.


Aulia berdiri dan menunduk sejenak.


"Selamat tinggal ma, pa. Terima kasih atas segalanya dan tolong maafin aku. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Permisi !" Aulia langsung berbalik dan berlari keluar dari rumah itu diiringi tatapan sedih mama Benki.


Aulia berlari dan terus berlari dengan menghapus air matanya yang tidak mau berhenti. Rasanya sakit, sakit sekali. Perpisahan seperti ini benar-benar menyakitkan. Ia segera menyetop taksi yang lewat dan langsung membawanya pulang.

__ADS_1


Setelah Aulia sudah tidak terlihat, air mata mama Benki juga akhirnya jatuh membuat sang suami merangkul untuk menenangkannya.


"Kenapa jadi seperti ini pa !" Lirih sang mama.


"Sabar ma, sabar ya !" Sang papa tidak tahu harus berkata apalagi.


Hingga Hp mama Benki berbunyi dan memunculkan nama mama Tiara.


*****


Aulia menangis tiada henti diatas kasurnya, perkataan Benki benar-benar menjadi pukulan keras untuknya. Ia menangis dan terus menangis hingga tertidur.


Saat ibunya membangunkan untuk makan malam, wajah Aulia begitu bengkak membuat sang ibu terkejut.


"Makanlah !" Ibu Aulia menggeser piring ke hadapan gadis itu. "Atau mau ibu suap ?" Tawarnya.


Aulia menggeleng dan mulai meraih sendoknya. Hanya sesendok tapi terasa sulit melewati kerongkongannya.


"Udah bu, kenyang !" Gadis itu meletakkan sendoknya dan beranjak menuju kamarnya meninggalkan sang ibu yang begitu khawatir kepadanya.


Aulia menutup pintu kamarnya dan menuju meja belajar sekaligus meja riasnya. Diraihnya tasnya dan mengeluarkan kotak beludru kecil itu yang tadinya ingin ia kembalikan pada Benki namun emosi Benki membuatnya lupa segalanya. Kemudian ia membuka laci meja dan meraih cincin couplenya yang tersimpan rapi.


Cincin couple itu lebih ia sukai dibandingkan cincin berlian itu. Saat Benki memasangkan dijarinya benar-benar hal membahagiakan untuknya dan saat ia juga memasangkan dijari cowok itu, ia merasa dunia sedang berpihak pada mereka dan bintang-bintang yang menjadi saksi betapa bahagianya 2 insan yang dimabuk cinta tapi sekarang ia harus melupakan semua itu. Aulia memakai kedua cincin itu dijarinya dan tersenyum tipis melihat 2 cincin itu tampak indah dijarinya.


Sedangkan dikamar Benki, cowok itu tak ingin beranjak dari kasurnya. Ia juga melewatkan makan malamnya, rasa sesak dihatinya menghilangkan rasa laparnya dan dipikirannya hanya dipenuhi oleh Aulia sekeras apapun ia berusaha melupakan gadis itu.


Hal-hal yang selama ini mereka lewati bersama memenuhi kepalanya dan saat mereka pelukan atau berciuman membuat perasaan Benki sekarang tidak tahu berbentuk seperti apa.


Pintu kamarnya terbuka dan memunculkan sang mama.


"Ki, ayo makan nak !" Sang mama membawa nampan makan untuknya.


"Taruh aja ma di meja nanti aku makan !" Lirih cowok itu tanpa melirik sang mama.


"Lusa, keluarga Tiara mengundang kita untuk makan malam. Nanti kita makan malam bareng jadi perbaiki penampilanmu !" Ucap sang mama yang hanya diangguki cowok itu yang pada dasarnya tidak peduli karena pikirannya dipenuhi seorang gadis.

__ADS_1


Sang mama menghela nafas kemudian keluar dari kamar itu meninggalkan sang anak yang menatap keluar jendela yang dibiarkan terbuka dan menatap langit malam dengan tatapan kosong.


__ADS_2