
Sejak ketidaksengajaan yang terjadi di pesta pernikahan Cleo yang membuat Bryan terus menerus memikirkannya. Lebih tepatnya, memikirkan gadis itu, Syifa.
Dan hari ini Bryan bersiap untuk pergi check up, ia memandang lama dirinya di cermin, mempersiapkan diri untuk bertemu lagi dengan Syifa. Saat baru melangkah, ia berhenti dan tampak berpikir cukup lama dan akhirnya ia berbalik dan membuka kopernya mencari sesuatu dan ia bernafas lega saat menemukan benda itu dalam kotak underwearnya.
Dengan ditemani Jerry, ia menuju rumah sakit tempat ia dirawat kemarin. Selama perjalanan, pikiran Bryan beranak-pinak. Banyak sekali yang ia pikirkan dan langkah apa yang sebaiknya ia ambil.
Hingga mereka tiba disana, menunggu hingga Bryan mendapat giliran. Jantungnya berdegup kencang saat menunggu sang dokter.
Syifa terlihat disana berjalan menuju kearah Jerry tapi seseorang menahan langkah gadis itu, seorang dokter pria tampan yang nampak seusia dengan Syifa membuat Bryan menatap datar namun mencekam. Keduanya berbicara akrab bahkan sesekali tertawa.
Kemudian Syifa masuk keruang pemeriksaan dengan senyum canggung, saat melihat Bryan ia mengingat jelas saat tidak sengaja mencium cowok itu di pesta pernikahan Cleo membuatnya malu jika saling tatap dengan Bryan.
Berusaha terlihat biasa, Syifa memeriksa kondisi tubuh Bryan dengan melakukan beberapa tes. Beberapa waktu berlalu hingga Syifa kembali tersenyum.
"Kondisi kamu sudah membaik, tolong dijaga pola makannya ya tapi tetap gak boleh lakuin hal-hal yang berat dulu !" Titah Syifa.
"Iya terima kasih !" Bryan menatap lekat gadis itu yang kembali salah tingkah.
Padahal sejak tadi pikiran Bryan fokus pada 1 titik yaitu gadis itu, ia membiarkan gadis itu memenuhi pikirannya seraya memikirkan langkah apa yang akan dia ambil.
Saat pemeriksaan selesai, keduanya keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Jadwal check up berikutnya, tolong datang tepat waktu ya !"
"Terima kasih !" Bryan tersenyum.
Syifa segera mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Bryan yang ia rasa sangat berbeda, Bryan hendak menghampiri Jerry yang nampak sibuk dengan Hp-nya dikursi tunggu depan ruangan itu hingga lelaki yang tadi mengajak Syifa bicara kini kembali menghampiri gadis itu.
"Jadi gimana ? Nanti malam mau kan makan malam bareng aku ?"
"Aku gak bisa dok, maaf !"
"Kenapa ? Apa kamu sibuk ? Aku pikir kamu tidak lembur ?"
"Ng, aku udah janji sama mama buat makan malam bareng !"
"Lho, itu kan kamu bisa lakuin setiap hari, sekali-kali aja kita keluar bareng !"
Bryan melirik dan mencabik-cabik lelaki dengan tag name Rizal itu dengan tatapan tajam.
"Dokter Syifa !" Ucap Bryan lantang membuat 2 orang yang sedang bicara itu menoleh kearahnya.
"Maukah kau menikah denganku ?" Tanpa sadar Bryan mengatakan itu sambil berlutut didepan gadis itu seraya membuka kotak beludru kecil yang ia ambil dari kantong celananya.
Suasana hening seketika, semua mata menoleh kearah mereka, bahkan tempat itu semakin ramai dipenuhi orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Jerry menganga tidak percaya melihat adegan didepan matanya itu dan langsung merekam adegan itu. Ia geleng-geleng kepala melihat keberanian sang kakak.
Syifa menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya. Ia menatap sekitar yang tersenyum kepadanya kemudian memelototi Bryan yang menatap lekat padanya dengan sorot mata yang memberikan kepastian jika apa yang ia lakukan adalah hal serius.
Pandangan Syifa beralih kearah cincin dikotak beludru itu, seketika ia terbelalak melihat cincin itu, cincin yang sangat ia idamkan. Berlian putih dimana sekelilingnya dipenuhi berlian kecil warna-warni. Ia beralih menatap Bryan tidak percaya.
Begitu senang melihat cincin idamannya membuat Syifa mengangguk dan seketika membuat suasana heboh dengan tepuk tangan meriah.
Dokter tampan disebelah Syifa yang tadinya terpaku kaget seketika tersadar.
"Tolong jangan ribut, ini rumah sakit harap tenang !" Kata dokter Rizal tegas.
Ia segera berlalu dari sana saat suasana mulai tenang dengan hati yang dongkol, hancur sudah keinginannya buat mendapatkan Syifa.
Bryan menyematkan cincin itu dijari Syifa kemudian memeluk gadis yang masih belum percaya itu jika ini terjadi padanya. Ia sadar gadis ini masih terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Terima kasih !"
Hanya itu yang Bryan ucapkan, padahal banyak hal yang ingin ia sampaikan terutama keadaan mereka yang belum saling mengenal tapi sekarang gadis itu menerima lamarannya membuat hati Bryan tenang dan berjanji pada diri kedepannya akan memperlakukan gadis ini dengan baik.
*****
Sekarang Aulia berada dirumah Tiara dan duduk didepan kedua orang tua Tiara, ia kembali meminta maaf sekaligus meminta restu karena ia akan menikah dengan Benki.
"Saya minta maaf om, Tante !" Ucap Aulia melirik sekilas kedua orang tua didepannya.
Terdengar keduanya menghela nafas dan saling pandang. Awalnya mereka terkejut mendengar penuturan Aulia namun mereka berusaha mengerti jika memang keadaan sudah tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
"Kalau memang kalian bahagia, ya om dan Tante akan ikut bahagia untukmu !" Ucap Tante Rasti berusaha bijaksana. Meski awalnya ia marah namun ia sadar sudah tidak bisa memaksakan apapun.
"Iya, kalau memang jalannya seperti ini kami hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia !" Tambah om John membuat Aulia menatap kedua orang tua itu haru.
"Om dan Tante gak marah kan sama Aulia karena udah hancurin perjodohan Tiara ?"
Pasangan tua itu menghela nafas dan kembali saling pandang.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu disalahkan karena memang jalannya sudah seperti ini !" Om John bijak.
"Sekali lagi saya minta maaf om, Tante. Aulia gak bermaksud hancurin perjodohan Tiara !"
"Ini bukan salahmu, kamu gak perlu merasa bersalah. Tiara dan Benki memang tidak jodoh jadinya pertunangan mereka batal !" Tante Rasti ikutan bijak.
"Kalau memang Benki jodohmu, kami bisa apa selain memberi restu dan mendoakan semoga kamu bahagia !" Tambah om John.
Aulia memandang haru keduanya, orang tua Tiara benar-benar baik.
"Terima kasih om, Tante !" Aulia sudah berkaca-kaca.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam !"
Tiara melangkah masuk dengan senyum mengembang menatap orang tuanya namun senyuman itu luntur saat melihat Aulia. Ia pandangi temannya itu dengan tatapan sulit diartikan. Tanpa berkata lagi, ia melangkah menuju kamarnya.
"Om, Tante. Saya kekamar Tiara ya !" Aulia beranjak dan menyusul temannya.
"Ra !" Panggil Aulia dan yang dipanggil hanya diam sambil mengganti bajunya.
Aulia melangkah masuk, ia menarik nafas dalam sebelum berkata lagi.
"Ra, maaf. Kak Benki melamarku dan aku menerimanya. Maaf !" Ucap Aulia jujur meski tidak enak dan Tiara yang mendengar itu langsung mematung.
"Maaf untuk ?" Sahut Tiara kembali normal.
"Maaf, aku gak bermaksud rebut kak Benki dari kamu. Maaf kalau aku menyakiti perasaanmu tapi aku juga gak bisa lepasin kak Benki. Maaf !" Aulia menangis, hatinya nyut-nyut mengatakan itu.
Mendengar itu, Tiara menghela nafas. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela dan melihat Jerry tersenyum pada bulan malam itu membuat Tiara tersentak.
Cukup lama akhirnya Tiara kembali bersuara.
"Aku biasa aja, mungkin kemarin aku memang suka dan mau banget menikah dengan Ben tapi sekarang aku udah ilfeel sama dia !" Jelas Tiara.
Aulia terdiam, mencerna ucapan Tiara.
"Jadi kalau aku menikah dengan kak Benki kamu gak marah kan ?"
"Nggak, biasa aja. Aku sudah melupakan kak Benkimu itu !"
"100% !"
Aulia nampak ragu mendengar itu, kemudian ia mendekat dan memeluk temannya erat.
"Sekali lagi maaf, aku gak mau karena cowok kita musuhan. Aku benar-benar gak mau kehilangan teman sebaik kamu Ra, tapi aku juga minta maaf, aku gak bisa lepasin kak Benki, aku sayang banget sama dia jadi terima kasih dan sekali lagi maaf !"
Tiara mematung dan detik berikutnya ia balas memeluk Aulia.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Maaf, karena melibatkan kamu dalam masalah ini, harusnya aku gak minta kamu buat gantiin aku ketemu kak Benki. Maaf, aku gak mikirin perasaanmu. Kalau memang Benki bisa buat kamu bahagia, menikahlah dengannya. Bahagialah dengannya !"
Aulia tidak bisa membendung air matanya dan memeluk Tiara semakin erat.
"Terima kasih !"
Keduanya melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"Ya udah, kamu istirahat aku pulang dulu Ra !" Aulia segera beranjak keluar.
Sedetik setelah Aulia menutup pintu, Hp Tiara berdering dan memunculkan nama Jerry disana.
"Halo sayang, kamu lagi apa ?" Sapa Jerry begitu Tiara mengangkat teleponnya.
"Lagi ganti baju !" Jawaban itu membuat otak Jerry Travelling.
"Jangan pikir macam-macam !" Semprot Tiara seolah bisa membaca pikiran pria itu.
"Aku mau lihat ?"
"Lihat apa ?"
"Lihat kamu ganti baju !"
"Dasar mesum !"
"Hehehehe !"
"Aku kangen mau ketemu kamu lagi !"
__ADS_1
*****
Entah apa yang dipikirkan Benki saat ia tiba-tiba ingin melakukan foto prawedding di kebun singkong milik keluarganya.
Benki membawa Tiara menuju kebun singkong keluarganya. Ia sudah menyewa fotografer dan membuat janji hari ini. Maka dari itu, Benki memberi libur pada para pekerjanya sehari agar ia bisa menyelesaikan rencananya dengan tenang. Ia sudah siap dengan setelan jasnya dan Aulia memakai gaun panjang lengan pendek berwarna cream.
Aulia begitu terpukau melihat luas kebun singkong itu. Belum lagi pemandangan sekitar yang indah, hamparan langit biru yang menenduhkan juga gunung yang berdiri kokoh membuat siapapun bisa betah lama-lama berada disana.
"Ini semua kerja keras papa !" Ucap Benki.
"Wah, papa pasti berusaha keras sekali buat kembangin semua ini !"
"Iya benar, sini deh !" Benki mulai melangkah diikuti Aulia.
Keduanya berhenti disebuah tanah petak seukuran 4 x 4 meter.
"Ini kebun singkong pertama yang papa dan mama garap !"
"Wah, berarti ini sudah lama sekali ya ?"
"Iya, sebelum aku lahir !"
Perkataan Benki itu seketika membuat Aulia terdiam, ia mengingat sesuatu dan matanya menatap liar kearah tanah petak yang ditumbuhi dengan subur pohon singkong itu.
"Eum, jadi disini papa dan mama ngebuat kakak ?" Wajah Aulia bersemu merah.
"Hah ? Maksudnya ?" Pertanyaan itu membuat Benki bingung namun detik berikutnya otaknya mulai nyambung dengan maksud Aulia.
"Ya ampun kak, mama sama papa gak takut apa dilihat orang ?" Aulia menoleh kesana kemari melihat tempat dan kondisi yang tidak memadai karena kemungkinan besar akan ketahuan orang lain.
"Itu 30 tahun yang lalu, belum seperti ini. Waktu itu masih banyak tanaman-tanaman liar trus lebat, jadi aman !" Jelas Benki.
"Waduh, papa dan mama berani juga ya. Gak takut ketangkap kamera satelit diatas sana trus jadi tontonan gratis para peneliti itu ?" Aulia mengadah menatap langit
"Huh, iya juga, aku lupa itu, padahal aku mau ikuti jejak papa dan mama !" Benki menghela nafas panjang membuat Aulia langsung mendelik padanya.
"Jangan pikir macam-macam !" Aulia melotot tapi Benki hanya tersenyum mesum.
"Oh berarti ini yang tumbuh disini itu singkong yang bersinar ya !" Aulia tertawa sambil menatap semua pohon singkong yang tumbuh disitu membuat Benki melirik tajam padanya.
"Sini kau !" Benki mendekat membuat menghindar dan berusaha lari namun karena memakai sandal flat tinggi membuat Benki dengan mudah menggapai Aulia dan menggelitik pinggang gadis itu hingga terkikik geli dan memohon berhenti.
Hingga sang fotografer pun tiba dan telah bersiap untuk melakukan pemotretan prawedding keduanya. Aulia memperbaiki riasannya dan penampilannya kemudian menyusul dimana Benki berada. Keduanya berpose mesra dengan backround gunung dan langit biru serta tanaman singkong yang nampak hijau menyejukkan mata.
Berbagai pose mereka lakukan dari bergandengan tangan, memeluk, dipeluk, duduk sambil bersandar bahu dan juga menatap langit dengan senyum manis.
Keduanya nampak bahagia, apalagi Benki menatap penuh cinta pada Aulia membuat gadis itu salah tingkah.
Setelah berbagai pose yang sangat bagus telah diambil, fotografer pun pamit undur diri.
Benki dan Aulia melanjutkan jalan-jalan mereka di kebun singkong nan luas itu. Benki meraih tangan Aulia dan menggandeng gadis itu.
"Aku gak sabar tunggu hari H !"
"Aku juga !"
Rencana pernikahan mereka yang disepakati akan diadakan sebulan lagi, maka dari itu Benki mulai fokus menyiapkannya dari sekarang.
Keduanya bergandengan tangan menelusuri jalan disana hingga sampai ujung kebun yang ditandai dengan pagar besi hingga dada dan melihat pemandangan gunung dengan jurang dibawah.
"Aku senang banget, akhirnya aku sama Tiara sekarang baik-baik aja dan kita bisa lanjutin hubungan ini dengan kerelaan semua orang !" Ucap Aulia sambil merebahkan kepalanya di bahu Benki.
"Maksudnya ?"
"Iya, Tiara dan orang tuanya juga mama dan papa kakak yang berbesar hati mau maafin aku !" Lirih Aulia.
Tiba-tiba Benki memeluk Aulia membuat gadis itu memekik kaget hingga tubuh keduanya rapat dan nafas Benki menyentuh wajahnya.
"Kak, jangan macam-macam. Nanti dilihat orang !" Aulia panik seraya menoleh ke segala arah takut ada yang melihat kejahilan Benki.
"Tidak ada siapa-siapa disini cuma kita berdua !" Benki mulai menarik tengkuk Aulia.
"Eh, eh, eh. Awas, ada kamera satelite. Nanti kita direkam trus muncul di Google map, bagaimana ?"
Benki mengerutkan kening seraya menengadah menatap langit.
"Lebih seru dan mendebarkan !" Ucap Benki membuat Aulia melotot.
Tanpa membiarkan gadis itu berkata lagi, Benki segera membungkam mulut Aulia dengan bibirnya, mencium gadis itu dengan amat lembut. Aulia yang awalnya melotot sebal kini memejamkan mata seraya memeluk erat pinggang Benki.
__ADS_1