
Evan menatap tajam pria sombong yang kini berdiri dengan begitu angkuhnya sedang menatap kearahnya dengan tatapan mencabik-cabik.
"Apa yang kau inginkan ?" Tanya Evan.
"Apa yang aku inginkan ?" Rio mengulang. Mimik wajahnya begitu menyebalkan.
Keduanya saling menatap tajam, Evan sangat kesal melihat tampang arogan Rio.
"Aku rasa tidak pernah bermasalah denganmu. Mengapa kau selalu mencari gara-gara denganku ? Kau membakar pabrikku dan apa begal juga itu kirimanmu ?" Tanya Evan.
"Benar. Aku mengirim mereka untuk memberimu pelajaran tapi ya maaf aku salah mengirim orang-orang bodoh itu padamu !" Ujar Rio dengan memasang wajah seolah-olah menyesal. Benar-benar menyebalkan.
"Tapi sekarang, aku akan berusaha untuk tidak ceroboh lagi karena aku ingin aku sendiri yang akan menghabisimu !" Rio tersenyum aneh.
Tanpa dia sadari, Rizky mencoba berdiri dengan cepat dan menangkap Rio membuat pria itu terkejut dan tidak siap. Rizky memeluk Rio erat, berusaha melumpuhkan pergerakan pria itu namun Rio berusaha kerasa untuk melepaskan diri. Tangan kanannya yang bebas kembali meninju pinggang Rizky membuat Rizky hampir melepaskan dekapannya namun cowok itu makin mempererat hingga Rio yang emosi langsung berontak dan menjatuhkan Rizky di tanah. Keduanya kembali berguling untuk memukuli lawan satu sama lain.
Rio berhasil duduk diperut Rizky dan kembali memukuli wajah dan dada Rizky. Sebelum Rizky berhasil mengganti posisi dengan cepat Rio bangkit dari tubuh Rizky dan menjambak rambut cowok itu serta menyeretnya berusaha melemparnya ke sungai membuat Evan panik dan Lala histeris, seketika gadis itu berlari menarik tangan Rio sebelum tubuh Rizky berguling ke sungai yang terlihat dalam itu.
"Jangan !" Lala sudah menangis berusaha keras melepaskan tangan Rio dari rambut Rizky.
"Lepas, kamu itu dari tadi bikin repot aja !" Rio yang kesal berusaha menghempaskan pegangan Lala.
"Tolong jangan, jangan lakuin ini. Kita bisa bicara baik-baik !" Air mata Lala tak henti menetes.
Lala berhasil membuat pegangan Rio terlepas dan berusaha keras menjauhkan pria itu dari Rizky yang nyaris dijatuhkan ke sungai. Wajah Rizky benar-benar babak belur. Rio nampak marah menatap gadis yang menangis didepannya.
Terdengar suara beberapa langkah kaki yang mendekat dan 5 detektif sampai ditempat itu dan melongo melihat keadaan yang cukup kacau dan langsung menolong Rizky yang berada diujung tanah. Evan tersenyum berpikir jumlah mereka yang banyak akan dengan mudah mengalahkan Rio.
"Menyerahlah, kau tidak akan bisa kemana-mana !" Ucap Evan membuat Rio menatap malas padanya.
"Jangan senang dulu, kau pikir situasi seperti ini merugikanku, Hah !" Cibir Rio. Evan yang mendengar itu jadi kesal.
"Tangkap dia !" Perintah Evan pada para detektif itu yang langsung diangguki kelimanya, segera saja mereka berusaha menangkap Rio namun baru 2 langkah sebuah tembakan melesat tepat didepan mereka dimana tanah yang menjadi target seketika terbang melewati kepala para detektif itu membuat kelima detektif itu mematung sekektika.
Refleks kelimanya mengeluarkan senjata masing-masing dengan mata liar menatap ke segala arah, tembakan itu bukan berasal dari Rio tetapi dari seseorang yang sedang bersembunyi dan sekarang sedang mengamati mereka. Para detektif itu yakin, ini adalah penembak yang kemarin.
"Hahahahahahahaha !" Rio tertawa kencang. "Sekarang kau mengerti ucapanku tadi ?" Ia memandang remeh pada Evan. Ia cukup senang orang yang tadi diteleponnya kini tiba di suasana yang tepat.
"Apa sebenarnya maumu ?" Tanya Evan sambil menatap tajam Rio yang dibalas tatapan tajam juga oleh pria itu.
"Ayahku Edi Gunawan, sudah sangat berdedikasi tinggi dalam hampir seluruh proyek pembangunanmu tapi apa balasanmu ? Kau memecatnya ! Membuat banyak orang tidak mempercayainya sampai dia jadi stres dan terkena serangan jantung !" Geram Rio.
__ADS_1
"Kau salah justru karena ayahmu yang memegang tanggung jawab itu maka banyak orang yang menderita karenanya !" Jawab Evan.
"Kau yang salah, dia sangat cekatan dalam melakukan pekerjaannya bahkan siapapun yang menjadi kliennya akan selalu puas dengan pekerjaannya !"
"Lalu ?"
"Sialan kau, jika saja kau membiarkan ayahku tetap memegang proyekmu pasti sekarang ini dia masih hidup !" Teriak Rio.
Evan menghela nafas panjang, tidak menyangka pria dewasa didepannya itu berpikir dangkal.
"Ayahmu adalah orang yang berbahaya. Dia egois sangat egois. Selalu mementingkan diri sendiri dan tidak pernah memikirkan orang lain, jika aku menuruti keinginan ayahmu maka banyak keluarga yang akan mati kelaparan !" Jelas Evan.
"Huh, itu alasanmu saja kan ? Kau iri pada ayahku yang memiliki kemampuan yang baik hingga kau merasa tersaingi dan memutuskan menyingkirkan dia !"
Evan mengerutkan kening, sepertinya Edi memberi tahu hal-hal palsu pada anaknya sehingga pria itu dengan mudah percaya dan juga pria dewasa didepannya ini terkadang bertingkah seperti anak-anak.
"Dia laki-laki yang baik, dia ayah yang baik. Pastinya dia juga baik pada semua orang dan apa yang kamu bilang tadi itu semuanya bohong !" Bentak Rio lagi, matanya memerah.
"Papamu itu pembohong, dia egois dan yang pasti, dia itu serakah. Dia adalah orang yang memang harus disingkirkan jika dalam suatu hal tidak merugikan banyak orang !" Evan berucap dengan tegas membuat emosi Rio memuncak.
"Apa kau tahu berapa banyak kepala keluarga kehilangan mata pencahariannya karena keserakahan papamu ? Edi menjanjikan sejumlah uang pada mereka agar mau melepas sawah, tanah atau kebun untuk dijadikan lahan proyek dan jika mereka menolak maka Edi mengancam mereka akan melenyapkan keluarga mereka. Dan saat ia berhasil mendapatkan semua itu justru ia tidak membayar seperserpun kepada mereka yang membuat mereka jadi menderita. Mendengar ini apa kau masih mau bilang kalau papamu itu orang baik !" Bentak Evan menggelegar, menatap nyalang pada keturunan Edi itu.
"Tidak, kau bohong. Kau hanya iri pada kemampuan ayahku makanya kau mengarang cerita itu !"
"Ayahmu itu penipu. Penipu berbahaya dan jika tetap kupertahankan maka akan jadi lintah dalam perusahaanku !"
"Dan aku harap sifat itu tidak menurun padamu. Aku lega, dia kudepak dengan cepat sebelum membuat banyak kepala keluarga lainnya kehilangan mata pencahariannya !"
Emosi Rio tidak dapat dibendung lagi, dengan segera ia mengeluarkan pistolnya dari balik bajunya membuat Lala yang masih berada didekatnya seketika kembali histeris. Rio menodongkan pistol itu kepada Evan.
"Jangan, tolong turunin pistol itu !" Lala menangis sambil berusaha meraih lengan Rio agar tidak membidik Evan.
"Minggir !" Rio mendorong keras Lala hingga gadis itu terjerembab di tanah. Membuat dada Evan naik turun ikut emosi.
"Sekarang aku akan mengirimmu pada ayahku agar kau bisa minta maaf padanya. Hahahaha !"
Para detektif ikut menodongkan pistol kepada Rio namun hanya disambut senyum sinis pria itu. Tak lama lima tembakan melesak tepat didepan kelima detektif itu didekat kaki mereka membuat bulu kuduk mereka meremang mendapatkan tembakan dari penembak yang sedang bersembunyi. Mata mereka kembali menatap liar ke segala arah mencari keberadaan penembak misterius itu.
Lala masih menangis berusaha membujuk agar Rio menurunkan pistolnya namun diabaikan oleh pria itu. Rizky terbaring tidak berdaya, ia tidak percaya akan semudah ini dikalahkan padahal ia sangat bangga dengan kekuatannya selama ini dalam melindungi Evan dan perusahaan. Cowok itu menatap langit yang terbingkai oleh dedaunan saat tersirat sebuah pikiran yang langsung membuatnya mengeluarkan Hp-nya, menghubungi seseorang dengan pengawasan ujung mata Rio.
Meloudspeaker Hp-nya, panggilan itu berdering sejenak.
__ADS_1
"Halo !" Suara Cleo menyapa.
"Cle, aku sedang berada disituasi yang menegangkan !"
"Maksudnya bagaimana ?"
"Benar, aku lagi terlibat dalam perang besar tapi bukan itu yang ingin kukatakan !"
"Lalu ?"
"Kalau aku berhasil selamat dari perang ini. Apa kau mau menikah denganku ?" Teriak Rizky.
Siinnggg...
Hening melanda, semua yang mendengar itu mematung bahkan ikut sulit bernafas menunggu jawaban dari si wanita. Bisa dipastikan Cleo pun terkejut mendengar itu.
"Baiklah !" Ucap Cleo sebelum menutup panggilan sepihak membuat Rizky terperangah. Terasa sebuah kekuatan baru meresap dalam dirinya. Evan pun hanya bisa melongo melihat itu. Rizky bangkit berdiri dan menarik Lala agar menjauh dari Rio dan membawa ke belakangnya seraya menatap lawan dengan wajah garangnya yang kini babak belur.
"Keluarlah !" Teriak Rio.
Kemudian dari balik semak-semak dibelakang Rio muncul seseorang berpakaian serba hitam dan topeng menutup wajahnya. Kedua tangannya pun memakai sarung tangan hitam kulit dan ditangan kanannya sebuah pistol Raging Bull 454 yang mampu melakukan tembakan sampai kecepatan 580 meter per detik.
Tinggi pria itu 170 cm dengan tubuh kekar.
Rio menurunkan lengannya dan memainkan pistol ditangannya.
"Perkenalkan dia adalah Amir. Seorang penembak jitu profesional !" Ujar Rio serayaa menepuk-nepuk bahu pria bertopeng itu.
Rio amat terhibur melihat wajah-wajah tegang lawannya. Para detektif pucat pasi saat mendengar kata penembak jitu profesional.
"Aku tarik ucapanku yang ingin menghabisimu dengan tanganku sendiri. Akan kuserahkan pada Amir kehormatan itu untuk melenyapkan kalian !" Rio terkekeh.
"Habisi mereka semua !" Perintah Rio dengan lantang.
Si penembak jitu mulai menodongkan pistolnya kearah lawan, para detektif ikut menodongkan senjatanya dengan keyakinan mereka banyak jumlah dan cukup terlatih dalam penggunaan senjata.
Lala kembali menangis, Evan meraihnya dan memeluknya. Ia memejamkan mata, jujur ketakutan melanda hatinya kini. Apakah ini hari terakhir mereka bersama ? Sedangkan Rizky, ia pun gelisah. Merutuki dirinya sendiri akibat tidak pernah berlatih menggunakan senjata.
Penembak jitu mulai melangkah maju disertai para detektif melangkah mundur, mereka berusaha menguasai diri dengan terus membidik penembak jitu itu berharap bisa menembaknya dengan tepat.
'DOR'
__ADS_1
Letusan dari senjata penembak jitu itu terdengar.