Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
042


__ADS_3

Evan berlari memasuki rumah sakit seraya berteriak panik memanggil dokter, beberapa suster membawa brankar dan meminta Evan meletakkan Lala di brankar itu dan mendorongnya menuju UGD.


"Maaf pak. Silahkan tunggu diluar !" Ucap suster saat Evan ingin masuk ke ruang UGD.


Lagi terjadi, Evan gusar menunggu didepan UGD itu, ia berjalan mondar mandir menatap ruangan tertutup itu. Dia tidak menyangka akan mengalami lagi kejadian seperti ini.


"Begal-begal kurang ajar !" Umpat Evan gusar, matanya nyalang kesegala arah.


Rizky pun sempat memikirkan hal yang sama. Karena terlalu khawatir dengan keadaan lala, mereka berdua tidak sempat mempertanyakan niat para pelaku. Baru saja ia akan meraih Hp-nya untuk menelepon polisi saat sebuah hp senter berbunyi, awalnya Evan dan Rizky cuek karena tidak mengenali bunyi itu namun saat suaranya berasal dari kantong celana Rizky membuat keduanya saling pandang.


Begitu juga Rizky, ia merogoh saku celananya mengeluarkan hp itu yang ia ingat milik salah satu penjahat itu dan melihat layar hp yang bertuliskan "Bos". Dia menekan tombol hijau dan mendekatkan hp itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Halo, bagaimana ? Kalian sudah membereskan dia ?" Tanya langsung si penelepon.


Rizky membulatkan mata mendengar itu dan seketika matanya menajam. Ia mematikan sambungan telepon kemudian meraih Hp-nya dan menelepon seorang detektif.


"Halo, aku akan mengirimkan nomor telepon padamu, tolong selidiki siapa pemiliknya !" Ucap Rizky kemudian mematikan sambungan telepon dan beralih pada Evan yang menatap penuh tanya padanya.


"Sepertinya ada mengincar nyawa kita. Para begal tadi bukan untuk merampok kita tapi untuk membunuh kita !" Ucap Rizky membuat mata Evan memerah.


"Temukan dan beri pelajaran dan juga segera telepon polisi agar para penjahat itu segera dipenjara !" Ucap Evan.


"Baik bos !" Jawab Rizky yang langsung sibuk menelepon.


Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, Evan terus menatap ruangan UGD. Lama menunggu, akhirnya seorang dokter keluar.


"Kami sudah mengoperasi pasien untuk menghilangkan sesuatu yang menekan tukang belakangnya tapi setelah itu pasien harus melakukan terapi fisik agar kemampuan bergeraknya lebih baik !" Kata sang dokter.


"Iya dok, terima kasih. Tolong berikan pengobatan terbaik untuknya, biayanya tidak masalah !" Ucap Evan.


"Baik, dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Permisi !" Ucap sang dokter dan segera berlalu.


"Ky, cari sampai dapat siapa dalang dari semua ini setelah itu jangan beri ampun !" Titah Evan tajam tanpa memandang Rizky.


"Baik bos !" Patuh Rizky.


Tak lama pintu itu terbuka, beberapa orang mendorong brankar dimana Lala tertidur diatasnya dan membawanya keruang perawatan diikuti Evan dan Rizky. Setelah itu, para perawat undur diri setelah memindahkan Lala ke ranjang pasien.


"Ky, pulanglah. Biar aku yang menjaga Lala !" Perintah Evan.


"Baik bos !" Jawab Rizky dan beranjak dari tempat itu.


Setelah itu, ruangan kembali sunyi. Evan melangkah menuju samping ranjang Lala, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dan mendekatkan ke pipinya. Menatap sendu pada gadis yang tidak berdaya itu.


"Terima kasih karena sudah melindungiku !" Ucap Evan membelai pipi Lala dengan sebelah tangannya.


"Aku mencintaimu La, masih dan selalu. Aku pernah berpikir untuk melupakan kamu tapi gak bisa. Kamu selalu ada di hatiku. Aku sudah bercerai, aku bercerai dengan Cleo karena aku sadar hatiku sepenuhnya untuk kamu La, jadi tolong buka matamu. Ayo perbaiki hubungan kita !" Ucap Evan menangis.


Lala masih terdiam dengan mata tertutup, Evan menghapus air matanya dengan masih memandang gadis itu lama dan semakin lama tanpa sadar Evan meletakkan kepalanya pada sisi ranjang hingga matanya memberat dan terlelap diposisinya.


*****

__ADS_1


Keesokan harinya Evan terbangun dengan leher dan tubuh terasa pegal. Menatap Lala yang masih belum sadarkan diri, Evan menuju kamar mandi bersamaan dengan itu Rizky memasuki kamar dengan membawa paperbag dan beberapa kantongan plastik yang diletakkannya di meja. Melirik kearah ranjang menatap Lala yang masih tertidur dan suara gemericik dari kamar mandi.


Saat seorang suster masuk dan menyerahkan barang-barang Lala pada Rizky dan pergi bersamaan dengan Evan yang keluar dari kamar mandi.


"Ini saya bawakan baju ganti dan sarapan bos !" Ucap Rizky.


"Terima kasih Ky. Apa itu ?" Tanya Evan melihat sesuatu ditangan Rizky.


"Ini barang-barangnya Lala tadi dibawa suster !" Ucap Rizky.


Evan melihat-lihat isi paperbag yang dibawa Rizky dan memilih memakai pakaian santai dan berlalu menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Ky, hari ini aku tidak ke kantor, aku mau jaga Lala. Hari ini aku serahkan urusan kantor padamu !" Ucap Evan setelah keluar dari kamar mandi.


"Baik bos. Bagaimana keadaannya ?" Tanya Rizky.


"Sepertinya dia baik-baik saja !" Rizky menggeleng-gelengkan kepala mendengar itu.


"Kalau begitu saya permisi bos !" Ucap Rizky yang diangguki Evan.


Tinggallah Evan yang menatap Lala yang masih terlelap dan matanya beralih pada barang-barang Lala yang tadi dipegang Rizky kini berada diatas nakas. Evan meraih kalung Lala dan menatap lekat pada 2 cincin hitam yang menjadi bandul kalung itu.


Evan tidak menyangka dapat menyentuh cincin hitamnya lagi setelah ia melemparkannya pada Lala dengan penuh emosi atas penolakan gadis itu.


Evan beralih pada gadis didekatnya, menatapnya dengan kasih.


"Setelah ini kau tidak akan bisa lari lagi dariku !" Evan tersenyum.


*****


Saat menelepon ketua-nya melaporkan kegagalan mereka, ketuanya menyuruh mereka untuk pergi ke gudang tersebut. Kini mereka telah sampai dan ternyata di gudang itu terlihat cukup bersih dengan beberapa kursi yang mengelilingi meja serta dilengkapi lampu yang terang dan juga telah disediakan berbagai macam minuman dan makanan ringan dan kue kering, kue basah dan cake untuk mereka nikmati. Kedua orang itu pelan-pelan meletakkan teman mereka di kursi kayu dan meraih air putih botol dan langsung menenggaknya sampai habis.


"Hei, bangun !" Keduanya berusaha membangunkan 2 orang yang masih pingsan itu. Setelah beberapa kali mencoba membangunkan keduanya, akhirnya 2 orang itu akhirnya bangun dan menatap sekeliling seraya meringis menahan sakit diseluruh tubuhnya.


Saat akan meraih air putih namun tangannya terasa bergetar hebat, melihat itu temannya berinsiatif membantu temannya untuk minum. Setelah itu keempatnya menikmati makanan ringan itu bersama dengan menyuapi temannya yang lemah.


"Sebentar lagi bos akan datang kesini !" Ucap si songong dan dialah yang pertama kali sadar dari pingsannya dan saat tak menemukan Hp-nya ia meraih hp temannya untuk menghubungi ketuanya seraya membangunkan mereka.


"Kita babak belur seperti ini harus meminta bayaran 2 lipat !" Ucap si tinggi dengan menahan sakit diseluruh tubuhnya.


"Seharusnya kita kerumah sakit bukan kesini !" Ucap yang satu yang baru sadar dari pingsan, ia pun meringis menahan sakit pada lengan dan kepala.


"Iya, maka itu kita minta bayaran 2 kali lipat setelah itu kita ke rumah sakit !" Ucap si songong menahan sakit.


Keempatnya kembali menikmati cake cokelat itu diselingi obrolan serius hingga habis dan bersamaan seseorang memasuki gudang tersebut.


"Bos !" Sapa mereka bersamaan.


Orang yang dipanggil bos itu hanya menghela nafas melihat keadaan anak buahnya yang menurutnya miris.


"Apa kalian berhasil membunuhnya ?" Tanyanya dengan mimik serius.

__ADS_1


Keempatnya saling melirik dan kompak menggeleng membuat sang bos menghela nafas kasar. Ia mengusap wajahnya kasar berpikir bagaimana menjelaskan pada orang itu.


Matanya melirik kudapan yang berada di dekat mereka. Meraih sebotol air dan juga menenggaknya hingga habis. Baru saja ingin bertanya saat terdengar suara langkah kaki dari arah luar dan memasuki gudang.


"Apa kabar Madi !" Sapa orang yang baru datang itu.


"Ba.. baik tuan !" Ucap sang bos gugup.


Orang yang baru datang itu menelisik 4 orang yang terlihat babak belur itu kemudian beralih menatap bos mereka.


"Maaf tuan, kali ini kami gagal tapi kedepannya kami akan berusaha lebih baik lagi dalam menjalankan perintah anda !" Ucap Madi dengan ekspresi meyakinkan pada orang yang baru datang itu.


Orang yang baru datang itu terdiam, menatap nyalang pada orang-orang didepannya. Ia sangat marah saat Madi meneleponnya dan mengabari jika mereka gagal menjalankan misi, seketika tersenyum sinis dan meminta bertemu di sebuah gudang tua dengan alasan akan menyusun rencana lagi.


"Sia-sia aku membayarmu jika kalian gagal seperti ini !"


"Kami janji kedepannya kami pasti berhasil tuan tapi tolong untuk sekarang ini beri kami bayaran 2 kali lipat untuk ke rumah sakit !" Si songong membuka suara.


Semua mata menoleh kearahnya dan Madi memelototinya karena sudah berani menyela namun si songong hanya mengangkat bahu.


"Maafkan dia tuan. Mereka babak belur karena justru mereka yang dikalahkan !" Ucap Madi tak sadar telah mengungkapkan kepayahan mereka.


Orang yang baru datang itu melirik kudapan yang nyaris tak bersisa itu, tersenyum tipis sambil melirik jam tangannya.


"Baiklah, aku akan membayar kalian 2 kali lipat !" Ucapnya tersenyum.


Mendengar itu kelima orang itu tersenyum senang.


"Terima kasih tuan. Lalu apa rencana tuan selanjutnya ?" Tanya Madi.


Orang yang baru datang itu tersenyum sinis, tiba-tiba si songong terbatuk-batuk merasakan tenggorokannya memanas diikuti perutnya yang juga bergejolak panas. Ia membungkuk dengan terus batuk-batuk dan tak lama jatuh telentang dengan tubuh kejang-kejang serta mulut mengeluarkan busa yang banyak. Yang lain panik melihat itu, saat hendak menolong temannya, seketika juga ikut terbatuk-batuk dengan memegangi perut seraya berteriak kencang dan tak lama jatuh dengan tubuh kejang-kejang serta busa keluar dari mulut mereka. Setelah itu 4 tubuh itu diam tak bergerak.


Madi melotot melihat itu dan masih berdiri tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Mendekat dan mencoba memegang salah satu anak buahnya dan saat merasakan tubuh itu sudah tak bernyawa. Seketika Madi semakin panik dan menuju pada pria baru datang yang hanya tersenyum sinis.


"Tuan, bagaimana ini ?" Tanya Madi panik menatap sekeliling. Ia berjalan kesana-kemari dengan mencengkram Hp-nya tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba ia sendiri batuk-batuk memegangi tenggorokannya.


"Aku lupa bilang kalau aku menaruh racun kimia di minuman itu !" Ucap orang baru datang itu dengan enteng.


Tentu saja Madi kaget mendengar itu dan seketika menatap orang itu tidak percaya.


"Mengapa anda tega sekali ?" Tanyanya ditengah batuknya.


"Orang yang sudah gagal tidak pantas diberikan kesempatan kedua dan inilah hukuman kalian karena telah gagal jadi nikmatilah. Hahahaha !" Ucapnya dengan mimik garang kemudian tertawa kencang.


Madi pun jatuh dengan tubuh kejang-kejang serta mulut mengeluarkan busa. Setelah tubuhnya diam tak bergerak, orang itu tersenyum remeh kemudian keluar dari tempat itu. Cukup jauh berjalan saat 2 orang pria berdiri melihatnya mendekat.


"Kubur mayat-mayat itu dan bersihkan gudangku !" Ucapnya seraya menyerahkan 2 amplop uang pada kedua pria itu.


"Baik tuan !" Ucap keduanya meraih amplop uang itu dan segera menuju gudang.


Orang itu menatap keduanya hingga memasuki gudang dan kedua orang itu juga yang ia perintahkan untuk menyiapkan beberapa makanan ringan hingga menaruh racun pada minuman penjahat tadi.

__ADS_1


Orang itu memasuki mobilnya yang ia parkir dibalik pohon hingga tak terlihat juga karena terlindungi oleh gelapnya malam. Menyalakan mobilnya dan berlalu.


"Tunggulah kejutan selanjutnya Evan. Aku tidak akan berhenti sampai kau hancur !" Ucapnya sinis.


__ADS_2