
Saat pertama kali Benki menyusul kekasih hati ke Bali, otomatis semua urusan kantor dibebankan kepada Fajar. Cowok itu menggerutu saat Benki lari dari tanggung jawab dan lebih memilih menyusul Aulia.
"Dasar bos sableng, pasti bagus tuh kalau dikutuk jadi batu akik !" Gerutunya seraya menatap tumpukan dokumen di mejanya apalagi pengganti Lala belum ada yang otomatis masih dia yang mengatasi segalanya.
Fajar fokus mengerjakan dokumen itu satu demi satu agar pekerjaannya bisa berkurang dan ia bisa segera bersantai.
Saat pulang ke kost-an, setelah membersihkan diri, ia menuju balkon kamarnya menikmati pemandangan sore hari.
Dengan menjadi asisten direktur di sebuah perusahaan besar serta merta tidak membuat Fajar besar kepala. Dengan keuangannya sekarang ia bisa saja menyewa sebuah apartemen juga membeli sebuah mobil namun ia malah memilih bertahan di kost-kostan ini dan juga tetap menggunakan motor matic buluk kesayangannya. Apalagi pemandangan sekitarnya begitu oke karena dipenuhi gadis-gadis cantik membuat Fajar super super betah.
Fajar menatap sejenak pada kamar Lala yang sudah kosong itu, dimana tidak ada lagi yang mengejeknya saat menggoda gadis-gadis atau mengikutinya jika Benki memiliki acara penting.
"Hai, bidadari bumi, kalian makin bohay ya !" Godanya pada Fitri, Dara dan Tika yang baru saja tiba di warung mang Ujang, ketiganya menoleh kearah suara dan disambut kedipan mata genit playboy itu.
"Hai juga buaya buntung !"
"Hai juga keong racun !"
"Hai juga belut listrik !"
Mendengar itu, Fajar terkekeh.
"Ketiga istriku, aku senang melihat kalian akur begini. Aku jadi gimana gitu !"
Ketiga gadis itu melengos meladeni buaya buntung ini.
Fajar bersiul nyaring saat seorang seorang gadis cantik anak pak RT lewat. Gadis itu menoleh keasal suara yang juga langsung disambut kedipan mata si buaya buntung.
"Aduh si Eneng, makin bening aja bikin hati Abang dag Dig dug gimana gitu !"
Si cantik anak pak RT hanya tertawa pelan mendengar itu dan terus saja berlalu setelah menyapa 3 gadis cantik di warung mang Ujang.
"Bisa gak itu sifat mata keranjangmu itu disembuhkan ? Kasian itu jutaan cewek-cewek malah kamu PHP !" Semprot Fitri melotot.
"Betul, kalau kamu selalu kayak gitu nanti cewek-cewek gak ada yang percaya sama kamu lho !" Tambah Dara.
"Aduh, kalian cemburu berjamaah. Jangan khawatir, kalian tetap dihati !" Fajar memberi 3 kecupan jauh yang disambut dengan decihan ketiga gadis itu yang kemudian berlalu ke kamar masing-masing.
Fajar kemudian terdiam menatap matahari yang semakin rendah hingga tenggelam, sesuatu yang sering dilakukan Lala dan kini menjadi kebiasaannya.
Setalah makan malam, Fajar rebahan sambil menonton televisi hingga beberapa jam kemudian Hp-nya berdering, ia mengerutkan kening saat melihat nama Melati tertera disana.
"Halo !"
"Halo kak Jar, bisa jemput aku gak ? Aku gak sengaja minum alkohol 1 gelas !"
"What ? Eh, kamu dimana sekarang ?"
"Di club' x kak !"
Fajar semakin panik mendengar nama tempat itu, membuatnya langsung keluar menuju motornya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
Ia gusar sekali, mengapa Melati bisa masuk ke tempat yang masuk kategori berbahaya itu. Tempat pria hidung belang berkumpul juga pria berbahaya lainnya.
Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan tinggi, Fajar tiba di club' itu dan kembali menelepon Melati.
"Halo kak, tadi ada yang mau bawa aku pergi jadinya aku sembunyi !"
"Apa ? Kamu dimana sekarang ?"
"Di.. gak tau, aku pusing sekali, kepalaku rasa putar-putar !" Keluhnya.
"Kamu dimana ? Lihat baik-baik kamu dimana ?" Tanpa sadar Fajar teriak saking paniknya.
Namun Melati tidak menjawab hanya gerutuan pelan yang didengar Fajar juga terdengar suara gedoran pintu yang cukup keras.
__ADS_1
Dengan cepat Fajar masuk kedalam club', matanya liar mencari ke segala arah. Suasana club' malam yang sangat ramai serta pencahayaan terbatas membuatnya sulit mencari keberadaan Melati membuatnya semakin panik.
Ia melirik ke Hp-nya yang ternyata masih tersambung dengan gadis itu.
"Halo, halo MEL ?" Teriaknya namun suara dentuman musik disko yang memekakan telinga menganggu pendengarannya.
Mata Fajar kembali menatap liar ke segala arah mencoba mencari tempat yang memiliki pintu. Ia berjalan tidak tentu arah. Dengan jantung berdetak kencang, ia mematikan sambungan teleponnya kemudian menuju tempat sepi untuk kembali menelepon Melati.
Fajar menuju toilet namun langkahnya terhenti saat mendengar deringan telepon yang sangat ia kenali. Ya, dering Hp lagu Korea itu milik Melati. Bukan hanya itu, ia juga mendengar suara gedoran pintu.
"Hei buka, ayo aku antar kamu pulang !" Seorang pria matang terus mengedor pintu toilet wanita itu.
"Maaf, ini toilet wanita. Anda tidak boleh berada disini !" Tegur Fajar.
"Pacar saya ada didalam, saya mau bawa dia pulang !" Jawab pria itu.
"Saya polisi, bisa kamu tunjukkan bukti kalau yang ada didalam sana itu pacarmu ?" Tantang Fajar.
"Apa kamu juga bisa tunjukkan bukti kalau kamu itu polisi !" Tantang pria itu seraya menelisik penampilan Fajar.
"Pergilah pak, jangan ganggu gadis itu !" Ucap Fajar namun pria itu malah sinis padanya.
"Kamu jangan ikut campur urusan saya !" Bentak pria itu membuat Fajar geram.
Langsung saja bogem mentahnya mendarat mulus di wajah pria itu hingga hidungnya? berdarah. Pria itu kaget dan sontak hendak membalas memukul namun dengan cepat Fajar menendang area pahanya dengan keras membuatnya mengerang kencang hingga cewek-cewek yang ingin masuk ke toilet sontak batal.
"PERGIIIIIIIIIIII !" Teriak Fajar menggelegar membuat pria itu geram dan akhirnya pergi dari sana.
Saat pria itu telah pergi dengan masih dikuasai emosi Fajar menendang pintu toilet itu dengan kuat hingga kuncinya rusak dan melihat Melati sudah tidak sadarkan diri disana.
"Mel, bangun. Ayo pulang !" Fajar cepat menghampiri dan membimbing gadis itu berdiri. Ia kesal sekali melihat gaun hitam polos diatas lutut tanpa lengan yang melekat ditubuh Melati membuat laki-laki normal manapun pasti akan meneteskan liur melihat seksinya gadis ini.
Fajar memungut tas dan Hp Melati kemudian menggendong gadis itu keluar dengan cepat. Saat tiba diluar, Fajar membuka tas Melati dan menemukan kunci mobil Benki.
Cukup lama mencari, akhirnya ia menemukan letak mobil atasannya itu dan langsung meletakkan Melati dikursi penumpang dan segera mengitari mobil dan mengemudikan mobil itu pulang.
Perlahan Fajar meletakkan Melati ditempat tidur kemudian menyelimutinya namun dengan cepat tangan Melati melingkar dileher Fajar dengan mata yang mengerjap-ngerjap, ia menatap seraya membelai lembut rahang Fajar dengan kening berkerut.
Cukup lama hingga Melati menarik kepala Fajar mendekat padanya dan menciumnya membuat cowok itu melotot seketika.
Segera tersadar, Fajar bermaksud melepaskan diri tapi Melati malah mempererat pelukannya pada leher cowok itu hingga tubuh keduanya menempel erat. Tanpa sadar Fajar memejamkan mata larut dalam ciuman itu.
Fajar menyibak selimut Melati dan naik keatas tubuh gadis itu, keduanya saling mengecup membuat keduanya terlena. Tangan Fajar berusaha membuka resleting gaun Melati hingga pinggang. Ia berusaha melepas gaun yang agak ketat itu sampai perut memperlihatkan dalaman putih Melati.
Tangan Fajar kembali menyelinap membuka pengait bra gadis itu dengan bibir yang masih ******* gadis itu. Setelah itu melepas dan melempar bra itu ke sembarang arah. Fajar membeku melihat 2 bongkahan kenyal itu. Perlahan sebelah tangan Benki meraba lembut sebelah bongkahan kenyal itu dan tanpa sadar mulutnya mulai bermain disana membuat Melati mengeluarkan suara aneh dimana Fajar juga mulai lupa diri.
Fajar mendongak menatap wajah Melati saat didengarnya dengkuran halus gadis itu yang seketika membuat Fajar melotot, kesadarannya kembali dan langsung bangkit dan duduk diujung ranjang seraya meremas kuat rambutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Fajar kembali menyelimuti Melati kemudian memasuki kamar mandi, melepas seluruh pakaiannya dan berdiri dibawah shower berharap tetesan air itu membuat gairahnya yang bangkit segera mereda. Setengah jam berdiri disana membuat Fajar menyudahi mandinya dan mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan handuk Melati.
Setelah mengenakan kembali pakaiannya, ia menghampiri Melati yang tidur begitu lelap. Fajar menatap wajah gadis itu yang baru ia sadari gadis ini tumbuh begitu cepat dengan cantiknya. Begitu terpukau dengan wajah melati membuatnya tanpa sadar atau efek lelah ia rebah disamping Melati masih dengan menatap lekat wajah gadis itu hingga ia pun terlelap.
Pagi harinya, Melati terbangun dengan perasaan tidak enak juga kepala yang masih terasa pusing. Perlahan ia membuka mata saat merasakan sesuatu yang aneh, ia merasakan sesuatu memeluknya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya hingga terlihat jelas Fajar yang tidur sambil memeluknya.
"KYAAAAAAAAAAA !" Melati menjerit kaget membuat Fajar terbangun.
"Kakak ngapain disini ?" Semprot Melati refleks terduduk.
Namun pandangan Fajar terpaku pada dada Melati yang membuat gadis itu sontak menunduk dan seketika melotot saat kedua gundukan miliknya terpampang jelas didepan Fajar.
"KYAAAAAAAAAAA !" Jeritnya lagi seraya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Mesum. Kakak ngapain disini ? Ngapain ? Apa yang udah kakak lakuin ke aku ?" Ia meraih bantal dan memukuli Fajar yang masih terpaku.
"Semalam kamu mabuk dan hampir dibawa pria hidung belang, lupa ?"
__ADS_1
Melati terdiam, berusaha mengingat terakhir kali dia sadar. Semalam ia datang kesana karena undangan ulang tahun temannya namun saat datang tak ada satupun yang dia kenali disana dan akhirnya memutuskan menunggu. Setelah itu, ia meminum sesuatu yang dikiranya air putih namun terasa pahit membuat reaksi tubuhnya aneh seketika, tiba-tiba kepalanya pusing. Saat ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya, seorang pria menghampirinya dengan wajah bak malaikat dengan senyum manis dan menawarkan untuk mengantar pulang. Melati sudah menolak namun pria itu memaksa bahkan memegang tangan Melati yang semakin tidak bisa menjaga keseimbangannya sendiri sedangkan teman-temannya belum terlihat. Pria itu mulai menuntunnya ke jalan keluar namun dengan gerakan cepat dan terhuyung serta sisa kesadaran Melati ia melepaskan diri dari pria itu, segera menuju toilet dan mengunci pintu sebelum pria itu menggapainya.
Berusaha untuk tetap sadar, ia membuka kontak Hp-nya melihat siapa yang bisa menolongnya, ia tiba-tiba teringat Fajar dan akhirnya menelepon cowok itu sebelum kesadarannya hilang total.
"Berapa umurmu sampai kau berani pergi ke tempat seperti itu ?" Bentak Fajar membuat Melati terjengkit kaget. Seketika tersadar dari lamunannya seraya memandang cowok itu tidak percaya.
"Kamu tahu, disana berbahaya. Banyak laki-laki berbahaya dan mereka pintar memanipulasi keadaan !" wajah Fajar mengeras.
"Aku rencananya mau ke acara ulang tahun temanku kak, tapi mereka belum datang !" Melati membela diri membuat Fajar menarik nafas kasar.
"Mulai sekarang, kamu dilarang kemana-mana kecuali sekolah !"
"Eh, kok gitu !"
"Mau aku laporkan ke bos ?"
"Ya jangan kak, masa aku gak boleh kemana-mana !"
"Pokoknya gak boleh, kesalahan kamu ini sangat fatal. Kami bisa aja celaka atau.. atau... Bisa kamu bayangkan kalau ada pria hidung belang berhasil bawa kamu pergi trus ambil kesempatan ?"
"Seperti kakak !" Melati nekat membuat mata Fajar melotot maksimal hingga cowok itu terlihat menyeramkan.
"Ya trus kenapa bajuku bisa lepas begini ? Apa yang kakak bisa jelaskan ?"
"Semalam kamu hampir memperkosaku. Aku sudah menolongmu dan sebagai tanda terima kasih kamu malah melecehkanku !" Ucap Fajar membuat Melati menganga lebar.
"Ya bener aja !" Bentak Melati.
"Itu benar. Dan untunglah aku bisa menahan dari dari godaanmu yang terkutuk !" Ejek Fajar membuat Melati geram sekali.
"Pokoknya mulai sekarang menurutlah atau aku laporkan ini semua ke kakakmu ?"
"Ya jangan gak boleh kemana-mana juga kak. Aku juga mau jalan-jalan sama teman-teman !"
"Kamu dihukum dan kamu gak boleh membantah !"
"Tapi kak.....!"
CUP.
Melati melotot, Fajar menangkup pipinya dan menciumnya lembut. Sangat jelas terlihat wajah Fajar yang sangat dekat serta terpejam.
"Menurutlah atau aku akan sering menciummu !" Bisik Fajar.
*****
Sejak hari itu, Melati benar-benar didalam pengawasan Fajar. Ia akan rela meninggalkan pekerjaannya saat gadis itu pulang sekolah dan mengantar hingga kerumah dan mewanti-wanti untuk tidak lagi kemana-mana atau ia akan melaporkan kepada Benki dan uang jajannya akan berkurang.
Melati yang diperlakukan seperti itu kesal bukan main dan sejak saat itu ia selalu sinis terhadap Fajar dan melengos setiap kali tatapan mereka bertemu tanda ia marah atas perlakuan Fajar.
Sifat Melati yang seperti itu pun mulai menganggu pikiran Fajar. Apalagi sejak ciuman itu membuat pikiran Fajar dipenuhi kejadian itu. Kini ia sudah tidak bisa lagi menganggap gadis itu sebagai anak kecil atau adik, sebab apa yang sudah terjadi tanpa sadar meninggalkan jejak dihati masing-masing dan akan menghuni pikiran keduanya dalam waktu yang lama.
Kini setiap pulang kantor, ia akan melamun di balkon kamarnya sambil menatap bola dunia yang hendak tenggelam. Ia juga bahkan tidak lagi menggoda gadis-gadis kos sebelah karena sekarang pikirannya dipenuhi Melati membuat siapapun yang melihatnya jadi bertanya-tanya ada apa dengannya ?
Hingga sebuah sebuah pesta pernikahan yang diadakan salah seorang paman Benki membuat satu keluarga itu plus Fajar ikut menghadiri pesta itu.
Mereka menikmati pesta, tak sedikit pria muda nan tampan mendekati Melati untuk mengajaknya berkenalan. Mata Fajar yang selalu tertuju pada gadis itu seketika berkilat marah. Ia menghampiri gadis itu dan langsung menarik tangannya hingga Melati hampir berteriak. Apalagi saat melihat gadis itu tersenyum manis membuat hatinya terasa panas.
Fajar membawa Melati ke halaman samping yang gelap dan menahannya ditembok apalagi tatapan tajamnya membuat gadis itu takut.
"Kak Jar, apa sih. Aku mau masuk !" Melati mendorong dada Fajar yang menguncinya.
"Jangan meladeni laki-laki lain. Kalau ada yang mengajakmu bicara atau kenalan, Tolak dan bilang kamu sudah punya pacar !"
"Hah ? Maksudnya ?"
__ADS_1
Fajar tak menjawab dan langsung saja meraih pipi gadis itu dan menciumnya dalam. Melati melotot, tubunya membeku. Cukup lama kedua bibir itu menempel, saat Fajar melepaskan tautan mereka, Melati menatapnya tidak percaya dalam kegelapan kemudian mendorong cowok itu dan berlari masuk kedalam.
"Aku pikir aku jatuh cinta !" Batin Fajar.