Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 081


__ADS_3

Rencana kepulangan Bryan dan Jerry ke Indonesia harus batal saat Jerry memberi laporan ia tidak sengaja melihat Keanu, pengawal pribadi Perdana Menteri disebuah toko roti dan mengikutinya keluar diam-diam.


Keanu memakai mobil biasa bukan mobil mewah yang biasa membawa sang Perdana Menteri dan saat berhasil mengikutinya, mobil itu menuju sebuah daerah pinggiran. Mobil itu berhenti didepan sebuah rumah kayu di sebuah perumahan yang ditinggalkan para penduduknya dan menjadikannya sebagai kota hantu. Jerry menghentikan mobilnya dan memarkirnya dibalik sebuah rumah kumuh nan gelap kemudian Jerry berjalan kaki dengan waspada ke rumah yang berjarak 150 meter itu.


Terlihat Perdana Menteri memasuki rumah itu diikuti pengawal pribadinya. Jerry yang mengikutinya mengurutkan kening melihat kondisi rumah kayu yang sangat sederhana bahkan terkesan mulai lapuk.


Jerry terperanjat dan segera sembunyi saat mendengar suara kendaraan lain datang mendekat dan sebuah mobil rongsokan dengan cat terkelupas sana sini berhenti dan keluarlah seseorang dengan wajah gelisah kemudian memasuki rumah itu.


Jerry bersembunyi di sisi kiri rumah, berjalan sangat berhati-hati sebab bisa saja ia ketahuan melihat kondisi rumah yang rapuh serta terdapat beberapa lubang di beberapa bagian. Hingga Jerry sampai pada bagian belakang rumah yang terdengar suara orang berbicara dan ia pun mengintip pada lubang yang berada disana dan terlihat ruangan bawah tanah dimana Perdana Menteri sedang duduk berhadapan dengan orang yang baru datang tadi sambil minum dengan pengawasan Keanu yang berdiri tak jauh dari keduanya.


"Seharusnya kemarin kami mengirim narkotika itu ke negara V tapi sialnya Shane malah mati, menghancurkan semua rencana yang telah disusun rapi dan membuatku rugi jutaan dollar !" Sentak pria baru datang ini.


"Tenanglah Rex. Kita semua juga terkejut dengan kejadian itu padahal semua bisnis bisa berjalan dengan lancar !" Kata Perdana Menteri. Mendengar itu Rex menatap nyalang pria didepannya.


"Sudah kau temukan siapa pelakunya ?"


"Belum. Masih kuselidiki !"


"SIALAN. Kenapa kau menghentikan penyelidikan polisi. Pasti sekarang mereka tahu siapa pelakunya jika saja kau tidak ikut campur !" Teriak pria bernama Rex itu.


"Aku terpaksa melakukannya karena jika polisi menyelidiki pasti akan menemukan keterkaitan antara aku dengan mereka dan juga bisnis narkoba itu. Apa kau tahu artinya ? Aku akan hancur dan jika itu terjadi maka semua yang terlibat denganku pasti akan hancur juga termasuk kau !" Perdana Menteri bicara tak kalah tingginya.


Keduanya terdiam dengan dada naik turun menahan emosi. Rex tak bisa membantah karena semua itu benar adanya.


"Lalu kau akan biarkan semua ini terhenti begitu saja ? Tanpa tahu siapa dalang dari semua ini ?" Rex bicara dengan gigi gemeletuk.


"Tenang saja, aku sudah meminta seorang detektif untuk menyelidiki ini semua. Siapa dan bagaimana dia melakukan ini ?" Perdana Menteri meyakinkan.


"Baiklah. Temukan dan hancurkan tulang-tulangnya !" Mata Rex memerah.


"Lalu, ada apa kau ingin bertemu denganku ?" Tanya Perdana Menteri.


Rex terdiam, menghabiskan isi gelasnya dan berjalan beberapa langkah disamping mereka menuju sebuah lemari perkakas dapur dan mendorongnya kesamping.


Mata Jerry membulat saat melihat timbunan berbagai jenis narkotika begitu rapi tersimpan disana.


"Semua ini siap dikirim. Aku butuh bantuanmu untuk mengirimnya ke negara A. Aku benar-benar membutuhkan Shane sekarang ini tapi itu mustahil jadi hanya kau harapanku !" Ucap Rex dengan mimik putus asa.


Sang Perdana Menteri pun memasang wajah datar meski ia juga terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mengirim barang-barang berbahaya itu amat tinggi resikonya, butuh rencana super matang untuk memberi ijin dalam melintasi negara.


"Semua ini bernilai 700 juta dollar !" Tambah Rex membuat siapapun yang mendengarnya menganga.


Sang Perdana Menteri terlihat berpikir keras, sesekali memberi perintah pada Keanu yang membuat pria angkuh itu sibuk dengan ponselnya bahkan sang Perdana Menteri pun sibuk dengan ponselnya sendiri.


Cukup lama berpikir, menatap lekat layar ponselnya atau berkonsultasi dengan Keanu akhirnya sang Perdana Menteri berkata.


"Jum'at malam jam 11, barang itu akan dikirim melalui kapal. Jadi bawa barang-barang itu ke dermaga X. Disana akan ada kapal dengan motif warna biru hijau pink menunggumu !"


Mendengar itu wajah Rex yang sejak tadi gelisah kini senyum sumringah.


"Apa bisa lewat tanpa pemeriksaan laut !"


"Tentu saja tidak bisa, pasti keamanan laut akan memeriksa !" Mendengar itu wajah Rex berubah emosi.


"Lalu bagaimana ?" Rex mencoba sabar.


"Jadi begini rencananya, kita akan mengirim mayat tapi ini mayat palsu dan barang-barang itu akan disimpan dalam peti mati yang nanti akan ditutupi mayat palsu itu jadi saat pemeriksaan aku pastikan akan aman !"


"Kau yakin ?"


"Sangat yakin, aku akan mengatakan jika ini atas persetujuan dariku, jadi kau jangan khawatir. Sembunyikan saja dengan baik !"


"Baiklah, Jum'at malam aku akan membawanya ke dermaga X !" Rex kini tersenyum puas.


"Arman, sekarang ini hanya kau satu-satunya yang aku percayai !" Tambahnya.


"Aku tahu itu !"


Setelah kesepakatan terjalin, ketiga orang itu memutuskan pergi. Jerry bersembunyi saat ketiga orang itu menuju mobil masing-masing dengan Hp menempel di telinga masing-masing.


Kedua mobil telah berlalu dan Jerry keluar dari tempat persembunyiannya, otaknya berputar memikirkan langkah apa yang harus ia ambil.


Wajah Bryan merah kuning hijau saat mendengar penuturan Jerry tanpa menyelanya sedikitpun.


"Jum'at malam jam 11 di dermaga X !" Bryan memastikan.


"Iya kak. Semua narkotika itu akan menuju negara A !"


Bryan bangkit dan menuju jendela besar, menatap museum yang masih dipenuhi garis polisi.

__ADS_1


"Kita punya beberapa hari untuk memikirkan rencana baru kak !"


"Aku rasa, aku tahu kita harus apa ?" Bryan berbalik tersenyum smirk pada adiknya.


*****


Jum'at malam..


Senja telah lewat, saat Bryan dan Jerry muncul di dermaga X. Suasana tampak ramai, beberapa orang yang entah pekerja disana atau pendatang yang ingin mencari hiburan sekedar berfoto atau bersantai. Beberapa terlihat merokok sambil mengobrol atau ada juga yang sedang menikmati riak air yang disebabkan angin laut yang juga menyebabkan semakin dinginnya suasana meski salju telah berhenti turun.


Bryan dan Jerry berusaha sebisa mungkin tidak memperlihatkan diri mereka ke orang-orang yang berada disana dan bertahan didalam mobil yang terparkir aman seraya memperhatikan dengan seksama suasana sekitar juga kemungkinan tempat dimana kapal akan bersandar dan mengangkut muatan.


Memandang suasana itu membuat ingatan tentang kejadian di dermaga Indonesia kembali hinggap dipikiran Bryan dimana ia hampir membawa Cleo pergi, hampir dipenjara atau mungkin hampir mati akibat pertolongan Jerry yang terbilang ekstrim. Mengingat itu membuat Bryan merindukan sang mantan kekasih.


Bryan mendongak menatap langit bertanya-tanya sedang apa Cleo sekarang ? Bagaimana dia sekarang ? saat sebuah niat ingin dia utarakan pada Cleo, membuatnya tidak sabar ingin pulang ke Indonesia.


Jerry memerhatikan dengan kening berkerut melihat ekspresi wajah Bryan.


"Kita lagi melakukan misi jadi tolong jangan berpikir yang jorok - jorok !" Ucap Jerry. Bryan terkejut kemudian mendelik pada sang adik.


"Setelah semua ini selesai. Bagaimana selanjutnya ?" Tanya Jerry tanpa memperdulikan mimik wajah Bryan.


"Kita langsung pindah ke Indonesia. Menutup perusahaan disini dan membuka cabang baru disana. Kita akan mulai hidup baru disana !" Bryan menatap lekat adiknya.


"Yakin ?"


"Yakin. Atau ada alasan yang membuat kamu mau tinggal disini ?" Bryan menatap lekat sang adik.


"Tidak ada !"


"Jadi kita pindah ke Indonesia ?"


"Baiklah !"


Beberapa jam menunggu sambil mempersiapkan segala sesuatunya. Keduanya keluar mobil dan merapatkan jaket masing-masing menghalau angin laut yang mulai menggigit dan bersembunyi diantara peti kemas seraya memasukkan topeng yang telah dipersiapkan ke saku jaket. Detik berganti menit berganti jam hingga perlahan semua orang yang tadinya betah berada disana mulai menghilang.


Tak lama kemudian, sebuah kapal cukup besar dengan motif abstrak antara warna biru hijau pink mendekat dan bersandar tepat di jembatan dermaga dan perlahan pintu masuk kapal itu terbuka. Bryan dan Jerry menahan nafas sejenak menunggu pergerakan yang ada dikapal itu. Saat tak melihat siapapun keluar, Bryan memberi kode pada Jerry untuk memakai topeng dan mengikutinya.


Keduanya mengendap-endap sangat hati-hati seraya waspada dengan keadaan sekitar yang memungkinkan siapa saja bisa melihat mereka. Saat tubuh mereka telah memasuki kapal dengan penuh kewaspadaan bersamaan sebuah mobil box terdengar berhenti membuat Bryan dan Jerry segera bersembunyi dibalik dinding kapal apalagi terdengar suara orang berbicara dari dalam kapal dan semakin mendekat kearah mereka.


Saat orang itu keluar, Bryan dan Jerry menatap liar kesekitar untuk mencari tempat persembunyian yang bagus hingga mereka berbelok kearah kanan terlihat sebuah ayunan tali yang lebar seperti kasur tergantung rendah disisi kanan jalan masuk dengan selimut membentang lebar sedangkan disisi kiri terdapat sebuah kamar.


Keduanya melepas topeng dan mengintip sedikit dan melihat 6 orang sedang mengangkat 3 kardus sangat besar dengan merek makanan bayi dan diletakkan dikamar tepat didepan mereka. Tak lama 4 orang datang lagi membawa 2 kotak besar lagi. Setelah itu semuanya segera keluar.


Dan tak lama, 5 peti mati beserta jasad palsu yang sudah didandani sedemikian rupa dan diletakkan tepat dipintu masuk sebab kamar sudah dipenuhi dengan kardus-kardus besar.


"Ingat, langsung masukkan kedalam peti supaya saat pemeriksaan semuanya sudah rapi !" Seorang pria berambut pirang berkata.


"Oke ?"


"Ini perintah langsung dari bos jadi segera lakukan !"


"Iya.. iya.. apa kalian akan ikut ?"


"Tidak, masih ada pekerjaan lain !"


"Kalau begitu aku pergi dulu !"


Pria tadi pergi meninggalkan beberapa pria yang bertugas untuk mengawal benda-benda berbahaya itu hingga tujuan.


"Apa mau langsung dimulai ?" Tanya seseorang.


"Nanti saja, aku mau makan dulu. Lagipula lokasi pemeriksaan juga masih sangat jauh !" Sahut lainnya seraya melangkah menjauh diikuti yang lainnya.


Cukup lama dan yakin tak ada seorangpun berada disana. Bryan diikuti Jerry keluar dari tempat persembunyian dan mengintip kearah sisi lain. Saat yakin tidak ada siapapun dan hanya terdengar suara televisi, keduanya secepat kilat memasuki kamar didepan mereka dan menguncinya.


Bryan menatap liar ke seisi kamar berharap menemukan sesuatu dan matanya tertuju pada pintu pada sisi kamar yang mengarah pada balkon dimana terlihat 2 kursi yang mulai berlumut dan bersamaan dengan itu kapal terasa mulai berjalan membuat kakak adik itu saling pandang.


"Ayo, kita harus cepat !"


"Apa ? Apa ?" Jerry bertanya panik.


Bryan menuju pintu menuju pintu balkon kapal itu, berusaha membukanya. Nampak 2 gembok usang berkarat dengan mengunci rapat pintu yang sengaja sejak lama tidak dibuka.


Kakak beradik itu menatap liar seisi kamar mencari kunci atau bahkan sesuatu yang bisa dipakai untuk membuka gembok itu. Tak menemukan apa-apa, keduanya memutuskan keluar kamar mencari sesuatu. Keduanya celingak celinguk dan saat merasa suasana aman, mereka keluar kamar dengan kewaspadaan tinggi. Suara televisi dari arah sisi kiri memenuhi pendengaran mereka.


Keduanya menatap liar keadaan kapal. Jerry berhasil menemukan tabung pemadam kebakaran kemudian memasuki kamar kembali sedangkan Bryan masih terus mencari hingga menemukan teko air.


Jerry ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat hasil buruan sang kakak namun ditahannya. Dengan kuat ia memukul satu gembok itu hingga menimbulkan suara berisik membuat keduanya terkejut dan terdiam seketika. Saat merasa suasana aman, Jerry kembali memukul gembok itu dengan keras hingga suara berisik kembali terdengar namun berhasil membuka gembok itu.

__ADS_1


Bryan mengambil alih dan memukul sekuat tenaga gembok yang tersisa, hampir lepas dan sekali lagi Bryan memukul keras gembok itu hingga terlepas. Terdiam sejenak akibat suara bising yang timbul.


Saat Bryan berusaha membuka pintu balkon itu, Jerry mengeluarkan pisau dari balik tubuhnya dan menusukkannya pada semua sisi kardus.


Bryan menendang pintu itu hingga terbuka dan langsung disambut angin laut yang kencang nan dingin.


"Ayo, bawa ke balkon dan buang ke laut !" Perintah Bryan.


"Ini semua harganya 700 juta dollar lho ?" Kata Jerry.


"Lalu ? Bodo amat berapa harganya, angkat trus buang. Ayo cepat !" Bryan menatap tajam adiknya.


Kakak beradik itu mengangkat kardus pertama dengan tubuh yang berusaha mengimbangi kapal yang bergelombang itu serta berjalan pelan menuju balkon yang ternyata sangat licin membuat Bryan yang berjalan didepan seketika kehilangan keseimbangan dan jatuh membuat kardus yang keduanya angkat terlempar kelaut bersamaan Jerry yang memegang lengan Bryan. Keduanya melongo melihat kardus yang tenggelam dengan cepat itu.


"Ayo lagi !" Keduanya mengangkat kardus kedua dan sekuat tenaga melemparnya keluar tanpa menginjak balkon.


Saat mengangkat kardus ketiga, dari arah pintu terdengar gedoran keras karena pintu terkunci dari dalam.


"Wooiii.. siapa didalam ?" Teriaknya membuat Bryan dan Jerry saling pandang dan segera mengangkat kardus ketiga untuk kembali dilempar keluar dengan sukses.


Kardus keempat bersamaan gedoran pintu yang semakin kuat dan tak sabaran.


"BUKA WOOIII.. BUKAAAA... JANGAN MAIN-MAIN !" Bentaknya menggelegar.


"Pakai topengmu Jer !" Perintah Bryan yang langsung dipatuhi Jerry dan bersama kembali mengangkat kardus terakhir.


Mau tidak mau Keduanya menginjak lantai balkon dan berusaha menyeimbangi diri di balkon yang licin serta memegang kuat kardus besar itu bersamaan pintu kamar terbuka akibat tendangan maut seseorang yang terlihat jengkel sekali dan langsung terbelalak melihat pemandangan didepannya. 2 orang memakai topeng sedang memegang kardus kemudian menatap keseisi kamar dan saat tidak didapati kardus lainnya membuatnya panik dan emosi.


"Kalian siapa ? Letakkan kardus dibawah. SEKARANG !" Perintahnya pada 2 maling didepannya bersamaan beberapa orang terdengar mendekat mendengar keributan itu dan ekspresi mereka Sama Kaget.


Bryan dan Jerry saling pandang.


"Setelah jatuhin kardus ini, ayo nyebur sebelum kapal semakin jauh dan berenang kembali ke tepi !" Jantung Bryan bertalu-talu mengatakan itu.


"Oke kak ?" Jawab Jerry tak kalah kalutnya. Apalagi melihat Laut gelap itu yang diterangi sinar rembulan membuatnya cukup ketakutan.


"Woooiiiiii... LETAKKAN KARDUS ITU !"


"Buang !" Ucap Bryan pelan.


PLUNG.


Kardus terakhir tenggelam dilautan membuat semua yang disana terbelalak tidak percaya.


"Sekarang !" Kode Bryan yang langsung lompat ke air diikuti Jerry membuat yang lain semakin kaget.


Bryan yang terjatuh di air yang beriak kencang akibat sapuan kapal membuatnya sulit bernafas sejenak apalagi rasa dingin mulai terasa menggigit kulitnya. Saat kepalanya muncul dipermukaan bisa dilihat beberapa pria menatapnya dengan tatapan nyalang penuh emosi namun itu tidak penting.


"JER... JERRRYYYYYYY !" Teriaknya histeris saat tak dilihatnya sang adik dan kapal semakin menjauh.


"JERRRRRRYYYYYYYY !" Teriaknya sekuat tenaga. Air matanya sudah mengalir dengan pikirannya yang kacau.


Sebuah tangan memegang pundaknya dari belakang membuatnya berbalik cepat dan disambut wajah bertopeng Jerry. Bryan langsung memeluk adiknya dengan hati lega.


"Ayo berenang cepat !" Keduanya melepas topeng masing-masing dan berusaha menjadi perenang profesional mengarungi laut gelap menuju tepi yang terlihat cukup jauh itu apalagi dinginnya air sudah membuat keduanya menggigil.


"Ayo jangan menyerah !" Jerry memberi semangat melihat Bryan yang terlihat sudah kepayahan.


"Iya.. iya !" Bryan menjawab lemah sambil berusaha berenang ke tepian namun semakin lama gerakannya semakin lambat membuat Jerry khawatir meski ia sendiri sudah sangat kedinginan.


Diraihnya tangan Bryan dan membantu untuk menambah kecepatan mereka. Jujur saja, tangan mereka pun cukup sakit akibat mengangkat kardus besar tadi sehingga sedikit menghambat gerakan mereka. Keduanya berusaha keras berenang dengan mengerahkan sisa tenaga yang ada hingga beberapa meter sebelum tepi Bryan sudah K.O. gerakannya semakin lemah membuat Jerry menariknya dengan sisa kekuatan karena ia sendiri pun mulai melemas.


Dengan penuh perjuangan akhirnya mereka berhasil sampai ketepian dengan tenaga yang nyaris habis. Keduanya langsung tertidur dipasir dengan nafas ngos-ngosan serta menggigil hebat.


Jerry berusaha dengan kuat untuk beranjak, mempertahankan kesadaran yang hampir hilang, menarik sang kakak yang hampir terlelap sehingga memaksanya membuka mata kembali.


"Aku capek !" Keluh Bryan dengan suara gemetar.


"Iya, ayo pulang. Istirahat dirumah !" Jerry menarik Bryan dan memapahnya menuju mobil mereka yang berjarak 200 meter.


Berjalan dengan terseok-seok akibat tubuh menggigil dan kembali berusaha keras menggapai mobil mereka. Cukup lama berjalan, akhirnya dengan penuh perjuangan mereka sampai juga.


Jerry melepaskan pakaiannya dan pakaian sang kakak kemudian meletakkannya di bagasi dan meraih jaket serta 2 selimut. Memakaikan ke tubuh Bryan kemudian membuka pintu mobil untuk pria itu dan ia juga memakai jaket serta selimut itu dan masuk dipintu kemudi.


Terdiam sejenak meminimalisir rasa dingin pada tubuh dengan memeluk erat selimut masing-masing.


"Ayo pulang !" Ucap Bryan menggigil.


"Oke. Let's go !" Jerry memacu mobil mereka meninggalkan dermaga itu dengan rasa dingin penuh kepuasan.

__ADS_1


__ADS_2