
"Kak Rio !" Ucap Lala tidak percaya.
"Aku kira kamu sudah lupa padaku !" Pria misterius itu bernama Rio.
"Apa-apaan ini kak ? Kenapa kakak menculikku ?" Tanya Lala dengan mata yang masih membulat.
"Hmmm... Kenapa yah ?" Rio tertawa aneh dan membelai rambut Lala membuat gadis itu merinding.
"Aku hanya ingin menghancurkan Evan !" Bisiknya membuat mata Lala melotot maksimal.
"Kenapa kak ? Memang kakak ada masalah apa dengan pak Evan ?" Tanya Lala.
Pria itu terdiam, memandang Lala dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan kemudian menghela nafas seraya memandang langit-langit ruangan, bingung bagaimana menjelaskan kepada gadis ini tentang apa yang ia inginkan.
"Oh ya, Tiwi apa kabar ?" Tanya Rio mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik aja !" Jawab Lala singkat.
"Jadi ingat waktu akan masih magang di perusahaan Evan, kamu dan Tiwi selalu baik padaku. Andai waktu bisa diulang, aku mau kembali ke masa-masa itu !" Rio tersenyum manis.
"Benar, masa-masa itu. Masa-masa dimana kita semua baik-baik aja dan sekarang pertemuan kita setelah sekian lama, tiba-tiba kakak justru culik aku ?" Semprot Lala.
"Kenapa kak ? Kenapa ? Ada apa ? Tidak bisakah kakak mengajakku bicara baik-baik? Harus kah dengan cara seperti ini ?"
"Kak, lepaskan ikatanku. Aku mau pulang !"
"KAMU TIDAK BOLEH PULANG SEBELUM EVAN HANCUR !" Bentak Rio menggelegar membuat Lala mematung seketika. Ia tidak menyangka pria didepannya ini adalah pria tampan yang ramah nan lembut jika bertutur kata serta menghargai orang lain.
Kak Rio yang tampan, mempesona, ramah dan baik hati membuat Lala dan Tiwi naksir pada pandangan pertama. Selanjutnya Lala dan Tiwi pun bersaing untuk bisa mendapatkan hati cowok itu, seperti membuatkan minuman atau berebut membawakan dokumen dari Evan hingga tak jarang ia dan Tiwi saling menarik baju atau bahkan rambut sekalipun dan berhenti saat mereka berdua kena omel oleh Evan.
Dan sekarang, entah siapa yang berdiri didepannya sekarang dengan tanduk dan taring tak kasat mata serta tatapan nyalang, Lala tidak mengenalinya. Kak Rio yang dulu dikaguminya hilang sudah. Lala menjadi takut pada pria asing didepannya ini.
"Maaf, maaf aku tidak bermaksud membentakmu !" Rio panik melihat mimik wajah Lala yang ketakutan.
"Kenapa kakak mau pak Evan hancur ?" Lala bertanya lirih. Rio menatap dalam gadis didepannya.
"Perkenalkan aku anaknya Edi Gunawan !" Ungkapnya membuat Lala mendongak dengan mulut menganga.
"Dulu aku bisa menjalani magang di perusahaan Evan berkat bantuan ayahku. Kau tahu ayahku sangat menyukai proyek pembangunan pabrik batubara itu dan apa yang dilakukan Evan ? Dia malah memecat ayahku begitu saja hingga tidak ada lagi orang yang mempercayainya dan dia jadi depresi dan mati kena serangan jantung. Bisa kamu bayangkan perasaanku kehilangan ayahku dan dari semua itu aku tidak akan pernah memaafkan Evan. Dia harus merasakan apa yang ayahku rasakan !" Tatapan mata Rio berkilat membuat Lala merinding.
"Apa kebakarannya pabrik itu juga perbuatanmu kak ?"
"Benar, karena pabrik itulah awal kehancuran ayahku. Andai Evan membiarkan ayahku yang tetap memegang tanggung jawab pembangunan pabrik itu. Pasti dia masih ada sekarang ini !"
"Kak, keinginan pak Edi dan pak Evan bertolak belakang. Itu kenapa pak Edi tidak lagi memegang tanggung jawab itu, karena terdapat perbedaan pendapat. Jadi wafatnya tuan Edi tidak ada sangkut pautnya dengan pak Evan. Semua ini sudah takdir !"
Mendengar itu tatapan Rio pada Lala berubah menjadi singa lapar.
"Lalu 4 begal yang berusaha merampok kami, apa itu juga perbuatanmu kak ?" Tanya Lala lagi.
__ADS_1
"Benar, aku mengirim mereka untuk sedikit memberi pelajaran pada Evan namun tidak tahunya aku malah mengirim orang-orang bodoh jadi ya begitu. Gagal !" Rio menyeringai ngeri.
"Tetaplah disini dan aku akan membiarkanmu ikut menyaksikan kehancuran pak bosmu itu ?" Rio tersenyum berbahaya dan berlalu keluar meninggalkan Lala yang mulai meneteskan air mata. Dia takut jika Rio benar-benar akan melakukan sesuatu yang buruk pada Evan.
*****
Setelah Rio keluar meninggalkan Lala yang termenung berusaha mengurai benang-benang kusut ini. Edi Gunawan yang dikenal lajang ternyata memiliki seorang putra dan sekarang berencana balas dendam atas kematian Edi. Itu artinya kini keadaan Evan semakin terancam.
Lala memutar otak, bagaimana caranya agar bisa memperingatkan Evan dengan kondisi yang terikat sedangkan Hp-nya entah berada dimana. Lala menoleh kesana-kemari berusaha mencari jalan keluar dan berusaha melepaskan diri tapi nihil.
Hingga si Ryan masuk lagi dan membawa obat nyamuk bakar ditangannya. Kemudian ia menyalakan dengan pematik api miliknya, saat Ryan berjongkok untuk meletakkan obat nyamuk itu saat Hp-nya nyaris jatuh dari kantong celana panjangnya. Mata Lala melotot saat benda itu malah bergeming didetik terakhir sehingga tidak jadi jatuh membuat gadis itu menghela nafas kasar.
Ryan berdiri bersiap keluar membuat Lala panik dan seketika berteriak.
"Aku mau ke toilet !" Ujar Lala dengan wajah memelas seperti kucing membuat Ryan menatapnya sejenak kemudian berdecak.
"Ya udah, Ayo !" Ryan menghampiri Lala dan melepaskan ikatannya kemudian mencengkram lengannya membawa ke toilet.
Didalam toilet, Lala berpikir keras bagaimana bisa mendapatkan Hp itu. Setelah Lala keluar, Ryan kembali mengcengkram lengannya dan membawanya kembali ke kamar.
"Bisa gak biarin aku tidur disana !" Tunjuknya pada bangku panjang. "Aku gak bisa tidur dengan keadaan terikat. Lagian aku juga gak bisa kabur dari tempat ini !" Lala memperhatikan keadaan kamar yang super berdebu dan kotor serta hanya memiliki ventilasi kayu sempit dimana tidak akan muat tubuhnya. Ryan terlihat berpikir.
"Kamu bisa kunci pintunya dari luar kalau gak percaya sama aku !" Lala kembali memelas.
"Oke, untuk malam ini saja !" Akhirnya Ryan mengijinkan.
"Tolong bawakan bantal dan selimut !" Lala mulai ngelunjak hingga Ryan menatapnya dengan tatapan garang yang dibalas tatapan kucing oleh Lala. Cowok itu keluar sambil berdecak dan kembali dengan membawa bantal dan selimut super buluk dengan bau apek yang cukup kuat. Ryan pun menahan tawa melihat reaksi tawanannya yang melotot ngeri menatap 2 benda dan langsung ia serahkan ke lengan Lala.
Berhasil, Hp Ryan langsung meluncur keluar dari kantong celana pria itu dan ditangkap oleh Lala setik-detik sebelum tubuhnya jatuh ke lantai. Secepat kilat ia menyembunyikan dibawah bantal apek itu saat ia posisi tengkurap.
"Aduh maaf !" Lala meringis benar-benar merasakan sakit pada siku, lutut dan perutnya yang sukses mendarat dilantai yang kotor. Ryan sudah menatap nyalang padanya dengan mengelus jidatnya yang memerah dan dengan keras menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Lala menghela nafas lega dan segera meraih Hp itu dan mengubah ke mode silent. Sebelum itu ia mencari sesuatu untuk menahan pintu agar para penculik itu tidak mudah masuk, mencari kesana-kemari Lala menemukan paku besar dan langsung menyimpan di lubang tempat gembok sebanyak 3 paku hingga sesak agar lubang yang cukup besar itu mampu mengunci dari dalam.
Lala ingin menghubungi Rizky karena hanya nomor Hp cowok itu satu-satunya yang ia hapal mati. Seketika membulatkan mata berharap Rizky belum mengganti nomor HP-nya sebab selama berpisah dan kembali magang di perusahaan, sekalipun ia belum pernah menghubungi cowok itu.
Lala mengirim pesan kepada Rizky, dia hampir berteriak saat laporan pesan itu mengatakan berhasil terkirim. Serta merta Lala menyalakan layanan lokasi. Setelah itu diletakkan Hp itu di meja dan berharap Rizky segera mengirim bantuan.
Lala berusaha membaringkan tubuhnya di bangku panjang dengan menggunakan bantal dan selimut apek itu. Sebelum itu berdoa kepada sang maha kuasa agar bantuan segera menghampirinya dan semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Evan.
"Ayo minum sampai mabuk. Kita minum semalaman !" Samar Lala mendengar kalimat itu yang entah suara siapa. Lala berusaha memejamkan matanya dengan suasana hati yang kacau.
****
Rizky yang masih bertahan dikantor menemami Evan yang tak kunjung pulang dan bahkan hanya berdiri menjadi patung seraya menatap pemandangan luar.
Hp Rizky bergetar menandakan pesan masuk, cowok itu tetap meraihnya meski sangat yakin bahwa yang mengirim pesan adalah operator kartu sim-nya namun mata Rizky membulat saat membaca itu.
"Bos, Lala mengirim pesan !" Teriak Rizky histeris membuat Evan terperanjat kaget seketika menghampiri Rizky dan ikut membaca pesan itu dari nomor tidak dikenal itu.
__ADS_1
"Rio ?" Gumam Evan dengan kening berkerut.
"Siapa Rio ?" Tanya Evan pada Rizky yang dimana cowok itu juga berusaha keras untuk mengingatnya.
"Oh, itu lho bos. Cowok ganteng yang sempat mengikuti magang di perusahaan kita, yang disukai Lala dan Tiwi dan waktu masa magang cowok itu selesai dia dibuatkan pesta sama 2 kuntilanak itu. Nah, pas pesta perpisahan itu dia malah ngasih undangan pernikahan !" Jelas Rizky membuat Evan mengangguk saat mengingat pria itu.
"Tunggu. Apa dia yang membakar pabrik ?"
Rizky tak menjawab dan kembali fokus pada pesan Lala yang tidak dibacanya hingga selesai, begitu juga Evan ia ikut membaca keseluruhan pesan itu yang hanya diakhiri dengan minta tolong untuk ditemukan tanpa menyebutkan tempat ia berada. Saat selesai membaca keduanya terhenyak.
"Rio adalah anak kandung Edi dan dia melakukan ini demi balas dendam dan dia juga yang membakar pabrik ?" Pekik Evan. "Kamu bilang Edi masih lajang Ky ?" Sentak Evan.
"Itu benar bos, semua orang tahu dia tidak tertarik dengan pernikahan !" Jawab Rizky.
"Lala !" Pekik Evan lagi, teringat gadis itu sekarang dalam bahaya
"Segera kirim bantuan pada Lala dan kita akan datang menyelamatkannya !" Tegas Evan.
"Baik bos !" Rizky segera menelepon seluruh detektif sewaannya dan memerintahkan mereka untuk menuju titik lokasi keberadaan Lala.
Rizky dan Evan segera menuju lift, setelah itu memasuki mobil dengan tergesa-gesa.
"Apa lokasinya jauh Ky ?"
"Iya bos, cukup jauh !"
Rizky mengemudikan mobil membelah jalanan gelap yang semakin lama semakin menuju tengah malam. Keduanya tampak lelah namun tidak mengurangi semangat mereka dalam menemukan Lala.
Namun semakin malam beranjak semakin tak tertahankan rasa kantuk yang dialami keduanya. Rizky yang menyetir beberapa kali menguap dan memutuskan singgah pada indoapril yang masih buka untuk membeli beberapa kopi kemasan dan cemilan lain.
Saat Rizky kembali ke mobil, Evan sudah terlelap dengan suara dengkurannya. Rizky meminum sebotol kopi kemasan sebelum ia melanjutkan perjalanan.
2 jam kemudian, Evan terbangun duluan setelah merasakan hawa yang aneh, masih mengumpulkan nyawa berusaha untuk connect dengan sekitar.
"Bos !" Sapa Rizky. Ia meraih kantong kresek berisi cemilan itu dan meraih air putih, memberikan pada Evan.
Evan menyadari kondisi Rizky yang juga ngantuk berat namun masih berusaha terjaga dengan bantuan minuman kopi kemasan.
"Sudah Ky, tepikan mobilnya. Ayo gantian, sekarang biar aku yang menyetir !" Titah Evan.
Rizky menurut, ditepikan mobil dibahu jalan dan bertukar tempat duduk. Evan mulai menjalankan mobil mengikuti google map lokasi keberadaan Lala bersamaan dengan Rizky yang sudah terlelap dengan mulut terbuka.
*****
Lala yang juga sempat terlelap seketika terbangun kaget saat merasakan seseorang berusaha membuka pintu kamar itu dan saat pintu itu sulit terbuka, ia mengedor-ngedor kuat agar pintu dibuka dari dalam.
Lala ketakutan, ia sangat yakin jika orang yang berada dibalik pintu itu sedang mabuk dan tak bisa ia bayangkan jika salah satu pria itu berhasil memasuki kamarnya.
Lala hanya bisa memejamkan mata tanpa mengeluarkan suara membiarkan suara pintu yang digedor kuat, mencoba menghilangkan rasa takutnya. Hingga akhirnya suara gedoran pintu itu berhenti dengan suara tubuh ambruk ke pintu menuju lantai terdengar nyaring. Lala menghembuskan nafas lega saat terdengar suara ngorok yang keras. Meraih Hp di meja namun belum ada balasan dari Rizky.
__ADS_1
"Aduh Ky, kamu lagi ngapain ?" Lala meremas Hp itu dengan mimik gusar. Ingin sekali dia menelepon polisi namun nantinya akan kesulitan menjawab pada alamat tempat ia ditawan. Sekarang ia hanya bisa berharap Evan dan Rizky menolongnya.
"Tolonglah, tolong bantuan segera datang !" Lala berdoa dengan mata terpejam.