
Benki dan Fajar pergi ke kota J untuk menghadiri pernikahan Lala. Diperjalanan, pikiran Benki penuh dengan acara ulang tahun Tiara. Ia pun senyum-senyum tidak jelas membayangkan wajah kekasih hati. Ia memikirkan saran mamanya tempo hari yang sukses mengacaukan pikiran serta hatinya.
Suasana pesta pernikahan sekertarisnya itu pun terlihat mewah dan penuh kebahagiaan. Senyum cantik tidak pernah luntur dari bibir Lala saat ini. Benki yang melihat itu turut bahagia dan membayangkan dirinya juga bersanding dengan kekasih hati membuatnya semakin tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Benki dan Fajar terlibat pembicaraan serius dengan Rizky setelah beberapa saat lalu berinteraksi dengan kedua mempelai serta menyapa ramah beberapa kolega mereka dan mengobrol ringan sejenak.
"Benki !" Sapa seseorang, Benki menoleh.
"Syifa !"
"Aku nggak nyangka ketemu kamu disini !"
"Eh iya, aku juga. Kamu apa kabar ?"
"Aku baik. Kamu sendiri apa kabar ?"
"Aku juga baik !"
"Halo Fajar, apa kabar ?"
"Aku baik, terima kasih sudah bertanya !" Jawab Fajar membuat Syifa tertawa kecil.
Keempatnya terlibat obrolan ringan seputar rencana yang masing-masing akan lakukan kedepannya.
Acara berjalan dengan sangat lancar. Benki dan Fajar berpamitan dengan Syifa untuk kembali ke hotel mereka.
Keesokan harinya, Benki ditemani Fajar berjalan-jalan di salah satu mall terbesar di kota itu dan langsung mencari toko perhiasan.
"Anda yakin ?" Tanya Fajar saat Benki menceritakan rencananya yang akan melamar kekasih hati di hari ulang tahun gadis itu.
"Yakin, mungkin ini sudah saatnya aku menikah apalagi kami sama-sama suka dan keluarga sama-sama mendukung jadinya aku gak mau tunda lebih lama lagi !" Benki tersenyum.
"Baiklah tuan bos, saya akan membantu menyiapkan segala sesuatunya yang anda inginkan !"
"Thank you Jar !" Keduanya memasuki toko perhiasan itu saat seseorang menyapa.
"Benki !" Yang dipanggi menoleh.
"Lho Syifa ? Kita ketemu lagi disini !" Benki tersenyum melihat gadis dengan beberapa paperbag ditangannya itu.
"Iya, aku dari belanja eh lihat kamu disini !"
"Hai !" Syifa menyapa Fajar.
"Hai juga !" Fajar tersenyum ramah membuat alis Benki terangkat. Tidak lagi terlihat sifat genit cowok itu seperti saat bertemu Syifa terakhir kali.
"Iya, kamu mau apa disini ? Hmm, untuk pacar ya !" Syifa tersenyum menggoda.
"Iya, seperti itulah. Mungkin aku juga mau segera menyusul Lala !"
"Oh ya ! Wah, selamat. Jangan lupa undang yah !" Syifa antusias.
"Oke, pasti itu !"
"Ya udah, ayo pilih !"
Ketiganya mulai memerhatikan cincin cantik nan mempesona itu. Saat Benki mencari cincin yang diinginkan, Syifa bergeser pada tempat dimana cincin favoritnya diletakkan. Senyumnya langsung luntur bersamaan matanya dengan liar menatap seluruh cincin yang ada di etalase itu.
"Permisi, cincin berlian putih trus disekelilingnya ada berlian kecil warna-warni itu mana ya ? Perasaan selalu ada disini ?" Tanyanya sambil menunjuk tempat didepan wajahnya.
"Yang itu sudah laku kak !" Jawab sang pramuniaga sopan.
Wajah Syifa murung seketika, menatap nanar cincin-cincin mewah didepannya.
"Ya udah, terima kasih !" Syifa berjalan lesu kearah Benki.
"Bagaimana menurutmu ?" Benki menunjukkan cincin dengan berlian merah muda yang cukup besar nan indah plus cantik.
"Wah, cantik. Aku yakin dia pasti senang menerima itu !" Syifa terpesona dengan cincin itu.
Benki mengiyakan ucapan Syifa, ia pun tidak sabar melihat reaksi Tiara melihat cincin ini.
Benki membayar cincin itu kemudian mengajak Syifa makan siang bersama.
*****
__ADS_1
Suasana di ballroom hotel milik Tiara sudah terlihat 90 % rampung untuk pesta ulang tahun Tiara. Sang mama sengaja memilih konsep mewah karena acara ini sekaligus mengumumkan pertunangan Tiara atau pernikahannya yang mungkin segera terlaksana.
Calon besannya sudah mengatakan Benki akan berusaha datang setelah menghadiri pernikahan bawahannya dan bersedia memenuhi saran sang mama. Maka dari itu mama Benki meminta kepada mama Tiara untuk tidak memberitahukan ini kepada siapapun yang tentu saja langsung disetujui oleh mama Tiara sebab ia ingin semua kejutan ini berjalan lancar. Mama Tiara tidak sabar melihat acara lamaran yang akan ia umumkan setelah mama Benki memberitahu siapa Benki sebenarnya.
Aulia juga terlihat sedang membantu staf lain menyiapkan dan menata segala sesuatunya dengan perasaan riang, ia bahagia membantu mendekorasi acara ulang tahun temannya. Cukup lama akhirnya ruangan itu selesai juga dan siap untuk acara kejutan.
Semua staf sangat puas melihat ruangan itu sekarang dan tak sabar melihat ekspresi Tiara saat diberikan kejutan seperti ini. Kue yang katanya dibuat oleh chef handal kini sudah berada disana, memang terlihat luar biasa kue ulangtahun bernuansa berwarna putih yang kaya akan buah-buahan 2 tingkat.
Satu persatu tamu undangan datang, dari keluarga, kerabat dekat, teman-teman orang tua Tiara serta kolega mereka dan juga teman-teman seprofesi Tiara yang tampak luar biasa malam itu. Semua orang mulai bersiap karena sebentar lagi acara akan dimulai. Sang mama yang akan membawa Tiara.
Hingga mama Tiara menghubungi Aulia jika mereka sudah berada di hotel dan sedang menuju kesana, Aulia langsung meminta salah satu temannya untuk mematikan lampu dan mengatakan jika sang pemilik hotel sedang menuju kesini.
Lampu dipadamkan menyisakan gelap gulita yang hanya terdengar hembusan nafas orang-orang yang berada diruangan itu.
Perlahan pintu terdengar terbuka membuat siapapun yang ada disana menahan nafas. Pintu terbuka lebar dan seketika hening.
"Kok gelap ma ?" Suara Tiara terdengar memecah kesunyian.
Tiba-tiba lampu dinyalakan.
"SURPRISE".
Semua yang ada didalam ruangan itu berteriak bersamaan membuat Tiara terkejut dan seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya, terharu dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Selamat ulang tahun sayang, doa terbaik untukmu !" Sang mama memeluk Tiara dengan perasaan sayang.
"Terima kasih ma. Ini semua rencana mama ?" Tanya Tiara yang diangguki sang mama. Tiara memeluk mamanya dengan perasaan bahagia.
"Selamat ulang tahun sayang !" Terdengar suara dibelakang mereka dan sang papa muncul disana bersama sang kakak.
"Terima kasih pa !" Tiara beralih memeluk papanya dengan erat yang dibalas ayahnya dengan mencium puncak kepalanya.
"Happy birthday adik !" Kini kak Toni yang memeluk Tiara.
"Kadonya mana ? Harus mahal lho !" Tiara memelototi kakaknya.
"Bocah tengik !" Toni balas melotot.
"Sudah.. sudah ayo kita masuk potong kuenya !"
Semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun sebelum Tiara meniup lilin kemudian memberikan potongan pertama pada sang mama kemudian papa dan kakaknya disertai tepuk tangan meriah tamu undangan.
Kemudian banyak orang mendekati Tiara untuk memberikan ucapan selamat serta doa harapan untuk gadis itu yang diamini gadis itu kemudian mempersilahkan para tamu menikmati hidangan yang disiapkan.
Aulia juga ikut mendekat dan memeluk sahabatnya itu dan memberikan sebuah kado kotak kecil dan saat Tiara membukanya sebuah mug berwarna pink dengan gambar dirinya disana.
Hehehehe.
Aulia cengengesan melihat wajah bingung Tiara.
"Semoga acara minum tehmu bisa nikmat dengan gelas itu. Hehehehe !"
"Terima kasih !" Ucap Tiara dengan wajah datar nan tajam pada temannya itu.
"Aulia !" Seseorang memanggil dan Irma dkk berada disana memberi kode pada Aulia untuk mendekat.
Tiara menghampiri teman-temannya.
"Kenapa guys !" Tanya Aulia melihat wajah-wajah malu itu.
"Kita titip ini dong buat nona Tiara !" Irma menyodorkan sebuah kado bingkai segiempat yang lumayan lebar namun agak tipis.
"Ini apa ?" Tanya Tiara.
"Itu bingkai foto karikatur nona Tiara !" Jawab Ana.
"Ya udah, yuk serahin langsung aja. Pasti Tiara senang !" Aulia sudah menarik tangan Ana.
"Eh, jangan. Titip sama kamu aja, kita malu lho !"
"Nggak perlu malu, Tiara itu baik kok. Ayok !" Aulia menarik tangan Ana dan diikuti 3 lainnya.
"Selamat ulang tahun ya nona Tiara, semoga panjang umur dan sehat selalu. Ini kado dari kami semoga nona Tiara suka !" Ucap Irma yang diangguki Ana, Veni dan Isa.
"Terima kasih ya, aku pasti suka kok !" Tiara tersenyum ramah membuat gadis-gadis itu senang dan bergantian menyalami gadis itu.
__ADS_1
Kelima gadis itu menjauhi Tiara saat sang mama mendekati sang anak dan membisikkan sesuatu hingga membuat kening Tiara berkerut.
"Mahal gak tu bingkai ?" Tanya Aulia.
"Mahal dong, tapi kan kita patungan !" Jawab Isa yang diangguki yang lain.
"Orang kaya memang beda ya. Coba rakyat jelata seperti kita ulang tahun pasti gampang dilupakan !" Ucap Veni yang diangguki yang lain diiringi tawa kecil.
Kelimanya asik berbicara hingga tidak sadar seseorang memasuki ruangan itu dengan tatapan tertuju kepada Aulia.
"Oh, Benki. Sudah datang !" Suara mama Tiara itu yang jelas terdengar oleh Aulia seketika membuat gadis itu menoleh kearah pintu masuk.
Disana, Benki menatap sangat tajam dengan rahang mengatup rapat sekali. Pria itu menatap kekasih hatinya dari ujung kaki hingga ujung rambut kemudian beralih kearah gadis yang berdiri didepan kue ulang tahun yang juga menatapnya dengan mata terbelalak kaget.
Aulia mematung, menatap tidak percaya kalau yang sedang berdiri disana adalah Benki, perasaannya seketika gemetar panik, kacau balau. Nafasnya terasa sesak saat tatapan tajam Benki menghujamnya. Tidak ada lagi tatapan lembut nan teduh dari cowok itu.
Aulia dan Tiara saling pandang, kedua gadis itu gugup tidak menyangka hari ini akan datang. Tatapan Tiara kembali kearah pria yang ia sukai namun mamanya memanggil dengan nama Benki, berarti pria ini orang yang dijodohkan dengannya. Sedangkan Aulia, gadis itu bergetar saat Benki kembali menatapnya dengan tatapan tajam menusuk membuatnya ingin sekali menangis.
"Apa maksudnya ini ?" Benki menatap lurus kekasih hatinya namun gadis itu membisu dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Tiara ?" Tanya Benki dengan pandangan beralih lurus kedepan.
"Benki, kamu kenapa ? Kok kalian seperti pertama kali bertemu. Iya ini Tiara, calon istri kamu, hehehe !" Sang mama menjelaskan dengan perasaan ringan namun detik berikutnya ia terlihat bingung melihat tatapan tajam Benki tertuju pada anaknya yang terlihat gugup.
"Lalu dia siapa ?" Benki menunjuk kekasih hatinya yang sudah gemetar hebat.
"Oh itu Aulia, temannya Tiara. Jadi bagaimana Ki ? Mau diumumkan sekarang ?" Tanya mama Tiara. Sebab calon besan sudah mengatakan jika Benki menyetujui rencana mereka seraya mengirim foto Benki padanya agar ia lebih mudah mengenalinya.
"Apanya yang mau diumumkan Tante ?" Bentak Benki membuat sang mama terkejut bersama dengan papa dan kakak Tiara yang juga terkejut melihat tingkah Benki seketika emosi dan hendak mendamprat pria itu tapi keburu disela sang mama.
"Benki, kamu kenapa ?" Mama Tiara bingung dengan sikap calon menantu.
"Saya tidak kenal dengan anak Tante !" Ucap Benki membuat mama Tiara shock.
"Apa maksud kamu nak, bukannya mama kamu bilang kalau kalian itu cocok dan Tiara sering main ke rumah kamu ?" Tanya sang mama sambil melirik Tiara yang terdiam dengan tubuh gemetar.
"Bukan Tante, anak Tante itu tidak pernah ke rumahku !" Benki menatap tajam pada Tiara.
"Kak, aku bisa jelaskan !" Aulia bicara penuh keberanian.
"Memang apa yang mau kamu jelaskan !" Bentak Benki membuat suasana hening seketika dan semua menoleh kearahnya.
"Kak, ayo kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini !" Aulia mulai menangis. Ia merinding saat Benki membentaknya. Perasaannya sakit melihat mimik emosi Benki.
"Bicaralah !" Benki melotot ngeri membuat tangis Aulia semakin deras.
"Kak, jangan seperti ini !" Aulia terisak.
"Seperti apa ? Apa sekarang kamu senang ? Karena membuatku seperti orang bodoh. Apa sekarang kamu senang ?" Benki berteriak, matanya memerah menatap nyalang pada Aulia.
"Kak !"
"Aku nggak nyangka ya, selama ini kamu bohong. Sekarang kamu sudah senang ? Sudah puas ?" Teriak Benki.
Dengan emosi memuncak, diraihnya sesuatu dikantongnya dan melemparkannya dengan keras kepada Aulia membuat gadis itu mundur kebelakang karena kaget. Rasa sakit menjalar di tubuh Aulia saat kotak beludru merah kecil itu menghantam keras dadanya tapi sakitnya tidak sebanding sakit di hatinya.
"Benki !" Mama Tiara terkejut.
Benki menoleh dan menatap nyalang semua yang ada disitu dengan dada naik turun menahan amarah.
"Maaf Tante, saya tidak akan menikah dengan anak Tante. Saya cuma mau bilang perjodohan ini batal karena saya tidak mencintai anak Tante. Permisi !" Dengan amarah memuncak, Benki meninggalkan tempat itu.
"Kak, tunggu kak. Aku bisa jelaskan !" Aulia memungut kotak beludru kecil itu dan mengejar Benki diiringi tatapan penuh tanya orang-orang yang berada disana.
Cowok itu berjalan dengan cepat dan berhenti diluar hotel. Dengan cepat Aulia memeluk Benki dari belakang.
"Kak, aku minta maaf. Aku bisa jelaskan, aku gak bermaksud bohong sama kakak. Tolong jangan marah, tolong jangan salah paham !" Pelukan Aulia semakin erat disertai isakannya yang semakin deras.
Benki diam tidak bereaksi, hanya dadanya yang naik turun menandakan cowok itu menahan amarah. Saat mobil telah berada didepannya, dengan cepat cowok itu melepaskan belitan tangan Aulia yang terus berusaha memegangnya dan segera memasuki mobil, Aulia berusaha mengejar mobil itu.
"Kak, aku bisa jelasin. Tolong keluar kak. Kak Benki !" Aulia mengetuk-ngetuk kaca mobil tempat dimana Benki duduk.
Fajar pun tidak berani melaju dengan cepat melihat gadis itu menangis diluar sana seraya mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan telapak tangannya.
"Ayo segera pulang !" Perintah Benki dengan dada naik turun membuat Fajar menambah laju mobil dan meninggalkan Aulia yang tidak berhenti menangis seraya menatap mobil mewah itu hingga hilang dari pandangan.
__ADS_1