
Cleo sudah menuju pintu keluar untuk jalan-jalan bareng Rizky, belum juga sampai pintu keluar saat suara papanya terdengar.
"Kamu mau kemana ?"
"Mau jalan sama Rizky pa !" Jawab Cleo jujur.
"Kamu suka padanya !" Cleo tidak menjawab hanya tersenyum.
"Sudah sejak kapan ?"
"Apanya ?"
"Hubungan kalian ?"
"Kami gak pacaran pa, cuma dekat aja !"
"Hm, bagus kalau begitu !"
"Maksud papa ?"
"Menurutmu Heru bagaimana orangnya ?"
"Maksud papa ?"
"Ya, kamu sama dia saling mengenal dulu jadi kedepannya kalian bisa.....!"
Cleo terkejut refleks memelototi papanya.
"Papa mau jodohin aku sama Heru ? Maaf pa, Cleo gak mau. Cleo cuma anggap dia teman baik !" Sanggah Cleo.
"Kamu tidak perlu menolak secepat ini kan. Kalian bisa jalan-jalan berdua, ngobrol atau apapun yang bisa buat kalian saling mengenal !"
"Cleo gak mau pa ?"
"Apa karena Rizky ? Kamu bilang cuma dekat gak pacaran jadinya Heru punya peluang buat kenal kamu lebih dalam. Atau kamu sudah jatuh cinta pada Rizky ?" Cecar sang papa.
"Iya pa, Cleo suka sama Rizky jadi tolong jangan pernah jodohin Cleo sama Heru !"
Tuan Kevin terdiam, pikirannya berjalan sampai Hp Cleo berbunyi menandakan bahwa Rizky telah sampai.
"Kalau gitu Cleo pergi dulu pa !" Pamit Cleo langsung berlalu dari depan papanya. Cleo sedikit berlari saat melihat Rizky melambaikan tangan padanya, cowok itu terlihat membuka pintu samping kemudi untuk Cleo membuat Cleo berlari lebih cepat dan langsung memeluk Rizky erat. Rizky yang terkejut tidak bertanya dan hanya balas memeluk Cleo. Dia bisa merasakan bibir Cleo ada di bahunya.
Pemandangan itu terlihat jelas oleh tuan Kevin yang menatap keduanya datar.
"Ya udah yuk kita jalan !" Cleo melepaskan pelukannya dan memasuki mobil Rizky.
Selama diperjalanan Cleo hanya diam menatap keluar jendela mengabaikan Rizky yang sering meliriknya hingga keduanya sampai di mall Cleo tetap diam.
Keduanya memasuki bioskop, membeli tiket dan memasuki teater. Cleo jelas terlihat menatap layar tak fokus, ia tidak menikmati jalan cerita yang sedang berputar membuat Rizky pun ikut-ikutan tak menikmati cerita hingga film itu berakhir.
Saat keluar teater ia mengajak Cleo ke tempat lain yang hanya diangguki Cleo. Rizky memutuskan memesan pizza untuk dibawa pulang setelah itu keluar mall dan menjalankan mobilnya. Rizky menuju bukit dimana ia bisa melihat kerlap-kerlip lampu perumahan yang indah serta pemdangan langit yang membuat itu terlihat semakin memukau namun lagi Cleo nampak tidak fokus.
"Kamu kenapa Cle ?" Rizky yang hilang kesabaran memegang kedua bahu wanita itu dan memaksa wanita itu untuk menatap dirinya.
"Aku gak suka lihat kamu seperti gak semangat gini sama aku !"
"Maaf, aku gak bermaksud seperti itu !"lirih Cleo.
"Kami kenapa Cle ? Kamu kenapa. Tolong cerita ke aku !" Rizky menarik wanita itu kedalam pelukannya.
"Papa mau jodohin aku !" Lirih Cleo yang terdengar jelas ditelinga Rizky.
"Hah ? Jangan bilang sama kusir delman yang tadi pagi !" Pekik Rizky seraya melepaskan pelukannya membuat Cleo mengerutkan kening.
"Kusir delman ?"
"Iya, itu yang tadi siang sapa papa kamu dikantor !" Mendengar itu Cleo tertawa.
"Namanya Heru bukan kusir delman !"
"Aku gak peduli namanya siapa !"
__ADS_1
Rizky kalang kabut, bagaimana jika tuan Kevin memaksa Cleo menerima Heru untuk menjadi suaminya. Jika dipikir-pikir dari segi pekerjaan juga latar belakang keluarga, Rizky memang kalau jauh tapi jika ditanya tentang perasaannya terhadap Cleo maka tak akan ada yang bisa menandinginya bahkan luasnya lautan pun tak mampu menandingi perasaan Rizky.
"Ayo kita segera menikah !" Cicit Rizky membuat Cleo melotot kearahnya.
"Kamu pikir itu gampang !" Semprot Cleo masih memelototi cowok itu.
"Gampanglah kalau gak gampang kita kawin lari aja !" Cleo menganga mendengar itu. Wanita itu keluar mobil dan menutup pintu dengan keras. Rizky segera keluar menyusul Cleo yang terlihat memberenggut menatap pemandangan indah didepannya.
Rizky mendekat dan memeluk wanita itu dari belakang berusaha meredam emosi Cleo yang sempat naik.
"Maaf, aku cuma gak mau kehilangan kamu !" Ucap Rizky memeluk erat wanita itu menyimpan dagunya dibahu Cleo namun wanita itu hanya diam.
"Aku akan datang pada papamu dan memintamu baik-baik, aku pasti akan lakuin itu jadi aku harap kamu mau menjaga semuanya untukku !" Lanjutnya.
Cleo menghela nafas dan berbalik menghadap Rizky. Wanita itu kehilangan kata-kata dan hanya mengangguk. Rizky kembali memeluknya berusaha berbagi perasaannya sekarang ini.
"Ya udah ayo makan Cle, aku pesan pizza tadi. Kamu belum makan kan ?" Tanya Rizky yang diangguki Cleo.
Keduanya menikmati pizza didalam mobil sambil menikmati pemandangan.
*****
Keesokan harinya...
Lala membuka mata perlahan saat merasakan pipinya menempel pada dada bidang tak berbalut kain itu membuat ia mendongak dan segera ia menyadari sesosok yang sangat dia kenal terlihat jelas didepan matanya membuat ia melotot dan refleks duduk melepaskan tangan Evan yang entah sejak kapan memeluk pinggangnya. Ia memperhatikan dirinya sendiri, pakaiannya masih utuh seperti kemarin membuatnya bernafas lega. Ia juga memerhatikan sekitar dan menyadari masih berada di kamar hotel Evan.
Lala menoleh kearah Evan yang masih terlelap dengan selimut yang menutupi hingga pinggang sedangkan perut keatas tak berbalut apapun memperlihatkan betapa seksinya seorang Evan Setyawan membuat Lala menelan ludah dengan susah. Segera ia memalingkan wajah sebelum pikirannya Travelling kemana-mana.
Lala mencoba mengingat bagaimana bisa ia malah stay dikamar ini.
Malam kemarin...
Saat merasa cukup Evan mengajak Lala jalan-jalan dipasir merasakan ombak-ombak kecil menghantam kaki mereka. Keduanya berbicara seru terkadang tersenyum atau tertawa dan tanpa sadar berjalan sampai ke hotel tempat Evan menginap.
Keduanya memasuki lift dan menuju kamar Evan. Lala tersadar saat pria itu membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
"Ayo masuk !" Ucap Evan dan dibalas gelengan oleh Lala.
"Tenang aja, aku gak akan macam-macam kok !" Evan mengerti kegundahan hati gadis itu.
"Tidak masalah, ayo masuk. Aku janji gak akan macam-macam !" Evan meyakinkan namun masih dijawab dengan gelengan kepala.
Tangan Evan terulur menarik paksa Lala untuk masuk ke kamarnya. Saat berada didalam kamar, Lala terpukau betapa mewahnya kamar hotel itu dengan nuansa putih cream, dengan furniture mewah dan juga pemandangan laut membuat siapapun yang menempati kamar itu akan bahagia. sepertinya ini kamar terbaik hotel tersebut.
"Sultan memang beda !" Ucap Lala seraya melirik Evan yang sedang membuka kulkas dan hanya dibalas senyum oleh pria itu.
Lala menuju balkon duduk dikursi yang tersedia merasakan hembusan angin laut dan melihat kerlap-kerlip lampu kapal yang berada dikejauhan.
Evan datang meletakkan jaket ditubuh Lala.
"Pake, disini dingin !" Ucap Evan kemudian kembali masuk kedalam. Lala sudah merapatkan jaketnya saat Evan kembali dengan membawa makanan ringan dan juga minuman ringan kemasan berbagai rasa dan ia juga sudah memakai jaket.
"Silahkan dinikmati cinta !" Ucap Evan seraya mengedipkan sebelah matanya. Lala meraih Snack kentang dan mengunyahnya dengan berisik.
"Disini keren !" Ucap Lala.
"Ya, makanya mahal !" Sahut Evan membuat Lala memasang mimik malas.
"Sampai kapan berada di kota ini ?"
"Besok aku sudah balik ke kota J !"
"Eh, kok cepat banget ?" Lala terdengar kecewa.
"Kenapa ? Kamu masih mau lama-lama denganku ?" Tanya Evan dengan lirikan mata menggoda.
"Itu tidak benar !" Bantah Lala langsung.
Keduanya terdiam dengan Evan yang menatap intens pada Lala.
"Jadi gimana ?"
__ADS_1
"Gimana apanya ?"
"Keputusanmu ?"
"Keputusanku apa ?"
Evan menghela nafas kesal dan menatap Lala dengan tatapan menghunus.
"Mengundurkan diri dari perusahaan Benki dan kembali ke perusahaanku atau kita langsung menikah aja !"
Lala terdiam dan mengalihkan tatapannya pada lautan. Kembali memakan snack-nya berpikir seperti apa menjawab pertanyaan Evan.
"Aku belum mikirin itu, aku masih butuh waktu !" Ucapnya tanpa menatap Evan.
"Kamu butuh waktu sampai kapan ?" Suara Evan terdengar berbeda membuat Lala waspada.
"Tunggu sebentar lagi, aku akan bicara pada Benki dan lihat bagaimana kedepannya. Bisa tolong bersabar !" Lala meraih tangan Evan dan menggenggamnya.
"Baiklah !" Putus Evan akhirnya karena baginya percuma berdebat dengan gadis ini dan itu berhasil membuat suasana kembali normal.
Keduanya mulai terlibat obrolan seru dengan disertai canda tawa entah sampai jam berapa dan itulah terakhir yang diingat Lala.
Sekarang ia terbangun dikasur yang sama dengan Evan. Lala hendak beringsut turun dari kasur saat tangannya ditarik membuatnya kembali tertidur dipelukan Evan. Jantung Lala berdetak kencang saat wajahnya hanya berjarak sesenti dari dada Evan membuatnya salah tingkah, saat akan melepaskan diri justru membuat pelukan Evan semakin erat.
"Bangun ih, udah berhenti pura-pura tidur !" Lala berontak dari pelukan Evan namun cowok itu tetap memejamkan mata.
"Bangun !" Lala mengelitik bawah ketiak Evan membuat pria itu refleks membuka mata dan tertawa geli.
"Udah, udah, Ampun !" Evan menghalangi jari Lala menyentuh kulitnya.
"Masih mau pura-pura tidur !" Sungut Lala beringsut dari kasur dan menuju kamar mandi.
"Kenapa bisa aku nginap disini ?" Tanya Lala saat Evan keluar dari kamar mandi.
"Kamu ketiduran dan juga udah tengah malam jadinya aku gak tega bangunin kamu trus antar kamu pulang !" Jelas Evan.
"Ish !" Lala kehabisan kata-kata membuat Evan menahan senyum.
"Jam berapa balik ke kota J ?" Tanya Lala saat melihat Evan telah berpakaian rapi.
"Sebentar lagi !" Jawaban Evan membuat hati Lala tidak rela dan Evan menyadari mimik wajah itu. Ia menghampiri gadis itu dan merangkul lehernya.
"Makanya cepatlah susul aku supaya kita bisa terus sama-sama, oke !" Ujar Evan seraya membelai lembut kepala Lala.
"Iya !" Lala mengangguk lemah. Evan memeluk gadis itu yang dibalas juga pelukan erat oleh Lala.
"Ayo, udah waktunya. Aku akan antar kamu pulang !" Evan mengulurkan tangan kiri pada Lala sedangkan tangan kanannya menenteng tas pakaian kecil yang hanya memuat beberapa helai pakaiannya.
Keduanya meninggalkan kamar hotel dan menuju lift, wajah Lala jadi murung dan terus menggenggam erat tangan Evan. Sampai di lobi, supir taksi meraih tas Evan menyimpannya di bagasi. Evan membuka pintu dan mempersilahkan Lala masuk duluan.
"Ke jalan x pak !" Ucap Evan menyebutkan alamat kost Lala. Selama perjalanan Lala terus merebahkan kepalanya di bahu Evan dan menggenggam erat tangan pria itu yang dimana Evan mengelus kepala Lala dengan tangan lainnya yang bebas.
Taksi sudah sampai didepan jalan masuk kost Lala namun gadis itu enggan turun dan terus memeluk lengan Evan.
"Udah sampai tuh !" Ucap Evan.
"Nggak mau, jangan pergi !" Lala mulai menangis.
"Ayolah, aku harus balik. Pekerjaanku banyak menumpuk !" Evan mencoba memberi pengertian namun gadis itu menggeleng dengan air mata semakin deras.
"Aku janji kalau ada waktu luang, aku akan datang lagi ngunjungin kamu disini oke. Atau kamu yang datang ke kota J, kalau bisa cepat-cepat pindah malah lebih bagus lagi !" Ucap Evan. Lala menghapus air matanya dan menatap Evan dalam.
"Jangan sedih lagi, kita pasti akan segera bertemu lagi, oke !" Evan tersenyum meski perasaannya sama seperti Lala yang juga tidak rela.
Gadis itu mengangguk dan memeluk Evan erat kemudian bersiap keluar mobil. Saat akan meraih handel pintu, Evan menarik lengan Lala dan mencium lama keningnya.
"Aku mencintaimu La !" Lirih Evan.
"Aku juga !" Balas Lala yang kemudian turun dari taksi. Mobil itu segera berlalu memisahkan 2 anak manusia yang saling melambaikan tangan dengan perasaan tidak rela. Air mata Lala mengalir lagi saat taksi itu hilang dibelokan.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju rumah kost-nya seraya menghapus air matanya. Ia bahkan tak menyadari saat melewati Fajar yang berada di warung mang Ujang dan menatap aneh padanya walau cowok itu tahu Lala kemarin bersama siapa.
__ADS_1
Fajar menatap Lala yang seperti kehilangan setengah nyawanya dan cowok itu langsung tertawa terbahak-bahak saat kening Lala menabrak tiang pagar hingga gadis itu jatuh kebelakang.
"Jangan ketawa, gak lucu tau !" Semprot Lala menatap bengis pada Fajar yang justru semakin keras tertawanya.