Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
009


__ADS_3

Terbangun di pagi hari, Evan menyibak gorden dan membiarkan sinar matahari menerobos menerpa tubuhnya. Merenggangkan ototnya sejenak dan dengan mata terpejam merasakan panas menyerap dalam tubuhnya. Membuka mata, ia menikmati pemandangan Pohon-pohon dan juga rerumputan liar yang memberikan pemandangan hijau alami. Asik menikmati pemandangan luar jendela saat HP-nya berbunyi segera ia meraihnya dan membuka pesan.


Lala : *pak sudah bangun ?*


Evan : iya, sudah


Lala : Anda ingin sarapan sekarang ? Sarapannya ingin diantar ke kamar atau bapak ingin turun kebawah ?


Evan menimbang-nimbang dan akhirnya sambil membalas pesan Lala ia berjalan keluar kamar.


Evan : saya mau sarapan dibawah aja. Ayo turun sekarang.


Evan sudah berada diluar kamarnya menunggu Lala, beberapa detik kemudian yang ditunggu pun muncul dengan wajah polos tanpa make up namun justru terlihat manis


"Ayo pak !" Ucap Lala meyadarkan Evan. Keduanya menuju lift. Saat keduanya telah sampai dilantai dasar tempat prasmanan hotel.


"Silahkan ambil makananmu La, saya akan memilih sendiri !" Ucap Evan saat melihat gerak gerik Lala yang ingin mengambilkan makanan untuknya. Lala terdiam menatap Evan kemudian mengangguk dan pergi ke meja lain.


Evan sedang menikmati nasi gorengnya, saat Lala menghampirinya dengan nasi putih menggunung dengan sayur dan ayam goreng tepung. Setelah meletakkannya didepan Evan, Lala kembali berkelana. Evan menatap takjub piring Lala, bertanya pada diri sendiri apakah Lala mampu menghabiskan semua itu.


Tak lama Lala kembali, di piring kanannya ada beberapa sosis besar dan tangan kirinya memegang piring pempek. Setelah diletakkan di meja Lala berbalik lagi membuat Evan bengong dan tak lama Lala kembali membawa 2 piring kecil buah-buahan dan lagi kembali berkelana mengitari meja satu ke meja yang lain.


Makanan Evan telah habis saat Lala kembali sambil memegang cangkir khusus sereal dicampur susu dan akhirnya sereal itulah hal terakhir yang diambilnya dan duduk manis didepan Evan. Sedangkan Evan, ia masih tertegun dengan yang ada didepannya.


"Ayo pak dimakan !" Ucap Lala seraya menggeser buah kedepan Evan.


"Ini semua juga ayo dimakan pak ?" Ajaknya membuat Evan melotot.


"Kalau sarapan saya tidak makan banyak !" Ucap Evan mencomot buah didepannya. Lala hanya mengangguk sambil menikmati serealnya lebih dulu.


Saat Evan makan dengan begitu elegannya maka Lala makan dengan begitu bar-barnya. Sereal tersebut ludes hanya semenit kemudian melahap nasinya, Lala benar-benar lupa keadaan membuat Evan takjub dan malu diwaktu bersamaan, matanya menoleh kesana kemari memastikan tidak ada yang memerhatikan Lala tapi beberapa tamu lain menatap kearah mereka.


"La, pelan-pelan aja makannya. Gak bakal ada yang rebut makananmu ?" Ucap Evan melihat Lala makan seperti orang kesetanan. Gadis itu mengunyah dengan mata melotot, ia seperti takut ada yang akan mencuri makanannya.


Dalam waktu yang tak lama, makanan dimeja mereka ludes tak bersisa. Membuat Evan tercengang menatap gadis dengan tubuh langsing didepannya, tak percaya jika Lala bisa makan sebanyak itu.


"Pak, saya mau tambah coto Makassar ya !" Ucapnya tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya dan menatap Evan yang menganga.


"La, udah nanti aja. Kamu gak kenyang makan sebanyak ini ?" Evan menahan tangan Lala saat gadis itu hendak beranjak dari duduknya.


"Mau tambah lagi pak !" Lala merengek.


"Gak boleh, udah, nanti lagi. Ayo kembali !" Evan beranjak tetap menggenggam tangan Lala. Ia sudah malu menjadi perhatian sekitar.


Masih menggandeng tangan Lala memasuki lift menuju kamar masing-masing.


"Nanti ayo jalan-jalan !" Ajak Evan melihat wajah cemberut Lala.


"Kemana pak ?" Lala langsung antusias.


"Kemana aja !" Ucap Evan membuat wajah Lala menjadi cerah. Saking senangnya tanpa sadar ia ikut menggenggam tangan Evan. Baru saat sudah tiba didepan kamar masing- masing, keduanya menyadari tangan mereka saling bertaut. Dengan cepat Lala melepaskan tangannya dan pamit masuk ke kamarnya dan Evan melakukan hal sama.


 


Sesuai kesepakatan keduanya keluar dalam suasana yang masih pagi. Evan mengajak Lala ke Waterboom. Sesampainya disana, Lala tampak antusias melihat sekeliling.


"Wow keren. Belum terlalu ramai !" Lala mengagumi interior Waterboom itu.


"Eum, ya udah bos, ayo ganti baju. Gak sabar mau berenang !" Lala langsung meleset ke arah ruang ganti wanita tanpa menunggu jawaban Evan.


Ingin ia coba semuanya mulai dari waterboom, kolam arus dan kolam ombak. Lala tampak menikmati sekali. Evan hanya berenang biasa. Ia mengenakan kacamata hitam sebab para wanita mulai dari ABG hingga emak-emak menatapnya penuh minat.


Dan sekarang Lala bermain wahana seluncuran yang memiliki ketinggian 30 meter. Evan sudah menunggunya dibawah saat tubuh Lala meluncur dengan mulusnya. Namun saat terakhir tubuhnya terhempas keras kedalam air seketika membuat tubuhnya berada didalam air. Melihat Lala yang tak muncul dipermukaan, Evan meraih tubuh itu, terlihat wajah Lala memerah. Gadis itu terbatuk-batuk serta berusaha mengeluarkan air dari hidungnya.


Evan menatap Lala yang masih terpejam menetralkan rasa sakit dikepalanya, membantu menepuk punggungnya. Berdiri di kolam dengan kedalaman sebatas perut Evan itu. Perlahan Lala membuka matanya, Evan masih menatapnya.


"Udah enakan ?" Tanya Evan. Lala hanya mengangguk, kepalanya pening .


Beberapa detik Evan menatap dalam gadis didepannya, saat mata Lala terbuka tanpa sadar Evan mendorong bahunya masuk kedalam air, Lala kembali memejamkan matanya saat tenggelam, sedetik kemudian matanya terbuka melotot saat merasakan bibirnya dikecup. Dengan tangan Evan masih menggenggam bahunya, pria itu terdiam menikmati bibir mereka menempel. Lala tersadar saat rasa sesak melanda, ia berontak memukul dan mendorong dada Evan. Evan yang tersadar bangkit seraya membantu Lala berdiri.

__ADS_1


Lala menatap Evan tak percaya, Refleks tangan Lala menampar Evan, namun Evan menahan tangan Lala, menarik serta memutar tubuh Lala hingga posisi Evan yang memeluk Lala dari belakang.


"Lepas, anda jahat !" Lala berontak, ia mulai menangis. Dia merasa terhina atas perlakuan atasannya.


"Maaf !" Satu kata itu yang diucapkan Evan masih memeluk Lala dengan erat.


"Lepas.. lepas.. !" Sentak Lala masih berusaha lepas dari Evan. Terus berusaha melepaskan dekapan Evan yang terasa kuat. Akhirnya ia terdiam dengan air mata mengalir deras. Berusaha tidak menarik perhatian.


"Lepas !" Lala berucap lemah berharap Evan melepaskannya.


"Maaf La, maaf !" Evan semakin erat memeluknya, kepalanya ia simpan dibahu Lala. Mendengar dengan jelas tangisan itu.


Memberi waktu Lala mengeluarkan semua tangisannya.


"Tolong jangan pernah lakuin ini lagi !" Lala tiba-tiba bersuara setelah tangisnya mereda.


"Tidak !" Jawab Evan tegas. Lala terperangah amat sangat ia kembali berontak melepaskan tangan Evan.


"Aku mencintaimu La !" Kalimat itu sukses membuat Lala mematung seketika. Mereka bahkan tidak tau menjadi bahan perhatian karna membelakangi pengunjung lainnya.


Kali ini Evan melepaskan dekapannya, Lala berbalik perlahan menatap tak percaya padanya.


"Sejak pertama kali melihatmu, pertama kali bicara denganmu, aku sudah suka padamu !" Evan tertunduk, Lala menatapnya nanar.


"Andai kita ketemu lebih dulu sebelum Cleo !" Wajah Evan sendu.


"Benar, sudah ada nyonya Cleo pak. Jadi setialah pada istri anda !" Sambar Lala, namun setelah mengatakan itu hati Lala nyut-nyut.


Evan langsung menatap Lala yang menatapnya terluka.


"La.... !" Belum selesai Evan, Lala memotongnya.


"Saya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang karna saya pun tidak ingin ada yang menghancurkan rumah tangga saya nanti. Saya menghargai Anda selain sebagai atasan juga sebagai suami orang jadi tolong jangan lakukan ini pada saya !" Lala kembali menangis. Ia beranjak naik dari kolam saat Evan kembali mencekal tangannya.


"Semudah itu ?"


"Maksudnya ?" Lala tidak mengerti.


"Ti... !" Belum sempat menyelesaikan dipotong Evan.


"Apa karna Cleo ?" Tanyanya telak. Lala tidak menjawab hanya melepaskan tangan Evan dan segera ke ruang ganti.


Evan sudah menunggu Lala diluar, lama menunggu namun gadis itu belum keluar juga dari ruang ganti. Tak berapa lama kemudian akhirnya Lala keluar juga. Mata sembabnya terlihat jelas.


"Ayo !" Ucap Evan melangkah lebih dulu. Lala hanya mengikuti.


Didalam taksi, keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Evan melirik Lala yang menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Cukup lama taksi akhirnya berhenti.


"Ayo turun !" Suara Evan membuat Lala terkejut. Ikut turun Lala menatap sekeliling, Evan membawanya ke kebun binatang. Dengan langkah gontai, Lala berkeliling melihat-lihat beberapa binatang langka yang berada disana tanpa minat.


Hingga ia sampai pada kandang koala. Salah satu hewan menggemaskan itu sedang berpelukan, terlihat mesra dan tidur bersama dengan begitu damai. Evan yang melihat itu hanya terdiam memandangi punggung Lala. Evan mendekat.


"La, bisa kamu buka hatimu untukku ?" Tanya Evan, tangannya memegang bahu Lala dari belakang.


"Pak.. tolong.. !" Belum selesai Evan kembali memotong.


"Jika masalahnya ada pada Cleo, maka aku akan bicara baik-baik padanya. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikan ini baik-baik pada Cleo !" Ucap Evan. Lala menepis tangan Evan dan menatap tajam pria itu. Ingin ia berteriak saat itu jika tak dilihatnya pengunjung lain mulai ramai ditempat itu. Lala segera pergi diikuti Evan.


Sesampainya di lapangan yang cukup lapang yang sebagian digunakan lahan parkir. Lala kembali menatap tajam atasannya.


"Pak, saya janji akan berusaha melupakan kejadian hari ini. Jadi tolong jangan lakukan itu. Mari kita kembali diawal menjadi atasan dan sekertaris. Saya benar-benar tidak ingin ini berubah !" Tegas Lala. Evan kembali menatap datar.


"Yakin ?" Tantang Evan, entah mengapa ia begitu yakin jika Lala memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa anda jadikan mainan. Jadi jangan berpikir semua ini gampang !" Ketus Lala.


"Jujurlah, kamu juga suka padaku kan. aku bisa lepaskan Cleo demi kamu ?" Todong Evan mengabaikan keluhan gadis itu.


PLAKK. Lala menampar atasannya. Berharap laki-laki itu sadar atas ucapannya. Evan tertegun.

__ADS_1


"Pak, tolonglah. Jangan seperti ini !" Lala memelas. Evan meraih kedua tangannya.


"La, selama hidupku aku hanya belajar, belajar dan bekerja keras, aku tidak sempat menjalin hubungan dengan perempuan manapun, jadi aku tidak mengerti cinta itu seperti apa ? Dan saat aku dipertemukan dengan Cleo, aku langsung menerima karna aku berpikir aku bisa mencintai Cleo. Mungkin iya aku mencintai dia, tapi semakin lama aku semakin sadar kalau ternyata aku mencintai orang lain !" Evan terdiam menarik nafas.


"Aku mau selalu bisa melihatmu, dengar suaramu, kita bisa ketawa sama-sama dan jika bisa akupun mau memelukmu. Memang terlambat banget, tapi aku yakin dan sadar aku mencintaimu La. Perasaanku lebih besar padamu dibanding Cleo !" Evan menatap manik mata Lala yang mulai merebak.


"Aku gak suka kamu dipandang laki-laki lain, aku kesal kalau melihat kamu tertawa-tawa dengan laki-laki lain !" Evan gusar


"Aku mau memulai kita dengan cara yang baik. Aku akan berusaha tidak akan mengkhianati Cleo dengan tidak melewati batas. Tapi beri aku waktu untuk selesaikan semua. Aku akan bicara baik-baik pada Cleo !" Evan menggenggam kedua tangan Lala.


Lala terhenyak, tidak menyangka Evan berpikir seperti itu. Lala menatap Evan dalam, air matanya mulai menetes.


"Ta.... !"


"La, please. Aku udah gak bisa tekan perasaanku lebih lama lagi. Ayo jalani sampai aku benar-benar berpisah dari Cleo dan aku akan menikahimu, sampai saat itu aku harap kamu mau bersabar. Maukah kau bersamaku ?" Tatapan Evan penuh harapan.


Hening cukup lama, keduanya saling menatap dalam. Berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. Masih berusaha menyelam hati masing-masing. Perkataan Evan mengena dalam hati Lala, terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang diperutnya hingga perlahan Lala mengangguk.


"Kamu serius La ?" Tanya Evan meyakinkan, Lala kembali mengangguk. Evan membulatkan mata tak percaya, diraihnya tubuh gadis itu dan dipeluknya erat.


"Aku janji La, aku akan buat kamu bahagia. Jadi tolong bersabarlah sedikit. Aku cinta kamu La !" Evan memejamkan mata, rasa bahagia menyerap kedalam hatinya.


'aku janji nggak akan ngelewatin batas dan menunggu mereka berpisah'. tekad Lala dalam hati. Ia pun membalas pelukan Evan. Merasakan sejenak rasa baru yang membuat dua orang tak berhenti tersenyum


Kini keduanya telah berada di pantai, duduk dipasir sambil menatap deburan ombak. Lala dan Evan terdiam dengan tangan saling menggenggam. Sebentar lagi sunset, Lala menoleh pada Evan saat mendengar suara dengkuran pelan pria itu. Evan tertidur dengan menjadikan lengannya bantal diatas pasir. Lala menghela nafas dan menikmati sunset sendirian.


Saat bola dunia itu tenggelam sepenuhnya, Lala beralih pada Evan. Ditatapnya wajah yang tertidur pulas itu.


Teringat Satu setengah tahun yang lalu..


Pertama kali Rizky membawanya ke ruangan Direktur Utama, Lala langsung terpana menatap pria didepannya. Senyumnya yang membuat ia semakin tampan dan tatapan matanya teduh membuat Lala terpikat.


Caranya berbicara, tersenyum dan tertawa. Caranya memberi arahan serta teguran amat keren membuat Lala betah berlama-lama ada didekat Evan.


Dan keduanya sering keluar bersama entah menghadiri rapat atau undangan dari kolega membuat Evan tak jarang memberikan perhatian kecil pada Lala seperti mengajak sekertarisnya jalan-jalan jika kebetulan mereka berada ditempat yang bagus serta penuh dengan berbagai penjual makanan ringan atau saat Evan keluar negeri, ia selalu tak lupa membawakan Lala oleh-oleh.


Perhatian kecil seperti itu tanpa sadar menumbuhkan benih cinta di hati Lala, entah ia yang salah paham terhadap kebaikan Evan yang hanya menganggapnya bawahan semata namun ia yakin ia mencintai atasannya itu.


Namun lambat laun Lala menyadari harus menyingkirkan perasaannya yang semakin lama semakin besar kepada Evan sebab nama Cleo kini terpatri kuat pada pria itu. Evan telah menikah dan sudah tidak boleh diharapkan.


Dan kini, tanpa diduga Evan menyatakan perasaannya yang artinya perasaannya bersambut. Meski mengingat Cleo namun Lala membujuk hatinya agar tidak terlena terlalu dalam hingga Evan menepati janjinya berpisah dari Cleo.


Evan terbangun dari tidurnya, keningnya berkerut saat langit gelap menyambut pandangannya. Kini suasana pantai hanya diterangi lampu lampu kecil berwarna warni serta pantulan cahaya dari tempat penjual makanan sehingga pantai tetap terang dimalam hari. Dia menoleh kesamping, dilihatnya Lala tersenyum padanya.


"Ya ampun sudah malam, padahal kan tadi mau lihat sunset !" Evan mengucek matanya.


"Nggak apa-apa. Bos kelihatan capek jadi aku saya gak berani bangunin !" Kata Lala.


Gerakan Evan yang kini mengusap wajahnya terhenti, ia melirik Lala yang tadi mengucap kata formal padanya.


"Tadi kamu bilang apa ?" Evan mendekat dan secepat kilat mengelitik tubuh Lala membuat gadis itu tersungkur memekik geli. Ia berontak kemudian bangkit berdiri dan berlari kencang menghindari Evan yang mengejarnya.


Hingga Evan berhasil menangkap pinggang gadis itu, memeluk seraya memutarnya membuat Lala kembali memekik.


"Udah, ampun. Hahahaha !" Lala tertawa geli.


Evan menurunkan tubuh Lala dan memeluknya dari belakang. Bersama menikmati suara deru ombak dari kejauhan. Lala yang memejamkan mata menikmati pelukan Evan saat pria itu meraih jemarinya dan memasang sesuatu disana.


Lala tertegun saat cincin berlian nomor 3 nan mahal yang disukainya kini melingkar manis dijarinya. Ia melirik Evan tak percaya.


"Sejak awal aku mendapatkan cincin ini memang untuk kamu !" Ucap Evan.


"Aku memang suka cincin ini tapi ini mahal sekali !" Lala tidak enak dan hendak melepasnya.


"Itu tidak penting, cincin ini melingkar dijari ini sebagai bukti kalau kau milikku !" Bisik Evan. Lala terharu melepaskan diri dari Evan dan berbalik memeluk pria itu.


"Terima kasih !" Ucap Lala terisak. Evan tersenyum sembari membalas pelukan Lala. Pria itu memejamkan mata sambil membelai rambut Lala.


"Ya udah ayo balik ke hotel. Aku udah lapar. Besok kita naik pesawat siang !" Cukup Lama berpelukan, Evan melepas pelukannya, menghapus sisa air mata Lala. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum.

__ADS_1


Keduanya berjalan meninggalkan pantai sambil bergandengan tangan. Lala nampak terus mengagumi cincin barunya, Evan hanya tersenyum melihat wajah bahagia Lala. Dua hati yang baru bersambut mengambil resiko untuk bisa mengukir gambar bahagia pada luasnya langit. Lupa jika badai bisa datang kapan saja memporak-porandakkan semuanya.


__ADS_2