Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
050


__ADS_3

Subuh telah datang saat Rizky kembali mengambil alih kemudi dimana Evan yang nyaris tumbang karena kantuk yang datang dengan cepat. Setelah merasa segar setelah tidur beberapa jam, Rizky kembali meminum kopi kemasan setelah itu fokus menyetir dengan memerhatikan Google Drive di Hp-nya.


Matahari sudah menyingsing di ufuk timur saat mobil yang dikendarai Rizky masih belum sampai, beberapa kali ia melirik Hp-nya yang menyatakan bahwa tujuan hampir sampai membuat Rizky semakin fokus mengabaikan Evan yang terlelap begitu nyenyak disampingnya.


Sampai disebuah tempat yang cukup lapang, dimana banyak pohon rimbun tumbuh hampir menyerupai hutan. Rizky melihat 2 mobil para detektif yang berbaris rapi membuat Rizky mengerutkan kening karena tidak melihat satupun orang disana. Memutuskan keluar Rizky mendekati mobil itu dan langsung menghela nafas melihat para detektif yang berjumlah 9 orang itu sedang terlelap dengan kaca mobil yang terbuka cukup lebar. Suara ngorok mereka pun saling bersahutan.


"Bangun !" Rizky memukul badan mobil hingga pria-pria itu terkejut dan seketika membuka mata.


"Eh, ya ampun. Sudah pagi !" Sahut salah satu dari mereka. Para pria itu pun merenggangkan tubuhnya kemudian menuruni mobil.


"Apa kalian sudah menemukan keberadaan Lala ? Nyenyak sekali tidurmu !" Sindir Rizky.


"Bangunan yang itu bos !" Tunjuk detektif itu.


"Yang mana ?" Rizky menoleh kearah yang ditunjuk seketika membuatnya mengerutkan dahi.


"Itu, yang warna putih-putih, bangunan itu adalah gudang terbengkalai yang dulu digunakan untuk penyimpanan tembakau !"


Rizky memicingkan mata menatap kearah yang ditunjuk itu, sejauh 200 meter dibalik pohon rimbun terlihat sebuah tembok nyelip disana jadi Rizky harus ekstra fokus untuk melihat jika tidak ingin kecele.


Sedangkan, Evan yang masih tertidur di mobil perlahan membuka mata, berusaha menyesuaikan sekitar, merenggangkan tubuhnya dan saat sudah merasa enakan, ia melirik kekanan kekiri memerhatikan suasana sekitar yang nyaris seperti hutan itu. Ia kemudian turun dari mobil.


"Hah ? Ini dimana ?" Tanya Evan saat berjalan mendekat. Matanya menelisik kesana-kemari.


"Itu bos !" Tunjuk si detektif.


Seperti Rizky, Evan harus memicingkan matanya untuk melihat tembok putih tak terawat itu nyempil disekitar pohon.


"Lala ada di bangunan itu ?" Tanya Evan pada bangunan yang nyaris tak terlihat akibat tertutup beberapa pohon.


"Benar bos !"


"Kita harus waspada bos, kita tidak tahu apa didalam sana ada penembak itu lagi !" Ujar salah satu detektif itu membuat Evan dan Rizky saling pandang.


*****


Matahari semakin meninggi, Lala terbangun dengan keadaan terbatuk-batuk. Tidurnya yang sulit lelap ditambah keadaan kamar yang berdebu membuatnya tidak nyaman.


Merasa kebelet, Lala memilih menuju toilet yang berada dikamar itu. Ya ampun, gadis itu langsung menutup hidung saat melihat kondisi toilet yang sangat kotor dan bau itu. Kemarin penculik selalu membawanya ke toilet luar kamar yang bersih dan terawat dan sekarang ia harus menahan diri sebab 3 penculik itu kemungkinan besar masih mabuk dan dia tidak mau mengambil resiko dengan membangunkan salah satu.

__ADS_1


Lala keluar toilet dengan bernafas lega setelah sempat semedi di toilet kotor itu. Kemudian ia menarik kursi dan berdiri sambil mengintip di ventilasi kayu itu, memerhatikan keadaan sekitar yang sebagian besar dikuasai oleh pepohonan dan tidak terlihat bangunan lain disana. Lala menghela nafas, yakin tidak yakin bantuan yang akan datang.


Sedangkan tim Evan diluar sana sedang menyusun strategi saat dari kejauhan terdengar suara mobil yang semakin lama semakin mendekat. Semuanya panik dan langsung memasuki mobil masing-masing. Mereka panik, belum juga membawa mobil masing-masing untuk sembunyi, mobil tadi sudah terlihat. Evan dan Rizky menatap lekat pada mobil yang mulai terlihat dan mendekat itu. Mobil itu pun tampak menginjak rem dan berhenti sejenak saat melihat beberapa mobil terlihat di tanah lapang yang biasanya selalu kosong itu. Kemudian mobil itu berjalan lagi dan dengan perlahan melintas diantara mobil Evan dan para detektif. Meski kaca masing-masing mobil amat gelap, yakin para pengemudi saling menatap tajam satu sama lain.


"Itu mobil Edi Gunawan bos !" Ucap Rizky.


Mobil itu berlalu dengan kecepatan normal yang diyakini bahwa pengemudinya sedang waspada meninggalkan mobil-mobil lain yang juga menatapnya lekat.


Rio yang sudah berada didepan gudang langsung menuruni mobil dengan cepat, ia sangat yakin bahwa mobil-mobil yang barusan dilewatinya adalah suruhan Evan.


"Sial, bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini ?" Gumamnya gusar.


Saat memasuki gudang itu, rasanya emosinya memuncak saat melihat tiga anak buahnya tergeletak dilantai dengan beberapa botol minuman kosong di meja atau lantai bahkan Rio melihat Hendra tertidur didepan kamar Lala. Suara ngorok ketiganya menguasai ruangan membuat Rio ingin sekali menaruh racun di minuman mereka. Segera ia tarik dengan kasar tubuh Hendra agar menjauh dari pintu kamar dan saat akan membuka pintu itu, ia semakin kesal saat pintu itu terkunci.


Menoleh kesana-kemari dan memeriksa kantong para pria itu namun tak ditemukannya. Rio tak melihat bahwa kunci itu digantung tepat disamping atas pintu itu. Karena sudah jengkel, Rio menendang pintu itu keras membuat Lala yang sedang memeriksa Hp Ryan seketika terlonjak kaget dan langsung menyembunyikan Hp itu dibawah meja.


Rio menendang lagi, lagi dan lagi hingga pada tendangan ke-11 dia menendanganya dengan mengerahkan kekuatannya pintu akhirnya terbuka dengan engsel yang rusak. Rio memasuki kamar dengan wajah memerah karena marah dan langsung menarik tangan Lala untuk keluar. Diseretnya gadis itu dengan langkah yang besar membuat Lala beberapa kali tersandung dan nyaris jatuh.


Mendorong gadis itu memasuki mobilnya dan dengan kecepatan tinggi, Rio meninggalkan tempat itu. Mata Lala membulat saat dari kejauhan ia melihat mobil Evan. Ia berusaha membuka kaca mobil namun Rio malah mencengkram lengannya.


"Sakit !" Lala berusaha melepaskan cengkraman Rio.


"Makanya jangan macam-macam !" Sentaknya.


Evan, Rizky dan para detektif terkejut dan tersadar bahwa Rio telah mengetahui rencananya. Seketika mobil Evan dan beberapa detektif mengejarnya. Saking paniknya, Rio tanpa sadar tidak melewati jalur yang biasa ia lewati namun berbelok kearah lain. Kejar-kejaran terjadi dalam kondisi tempat yang cukup sempit.


Rizky berusaha keras dan fokus mengikuti mobil didepannya karena Rio amat cerdik dan cekatan dalam menghindari berbagai rintangan dan akhirnya mobil Evan tertinggal jauh.


Salah satu mobil detektif memutar jalan mencoba mencari jalan pintas. Rio yang cukup panik sampai lupa jalan dimana seharusnya dia keluar tapi kini ia malah semakin memasuki hutan. Ia membuka dashboard dan mengeluarkan senjata membuat Lala melotot kaget.


"Kak, itu pistol mainan kan ?" Tanya Lala panik.


"Kita akan mencobanya nanti !" Rio menoleh seraya tersenyum sinis membuat Lala menganga.


Sesaat mobil Rio menginjak akar pohon membuat mobil itu sedikit limbung dan akhirnya berhenti tidak bergerak membuat Rio jengkel amat sangat dan memukul setir kemudi. Rio pun keluar setelah meraih senjatanya dan memutari mobil menarik tangan Lala turun dan membawa gadis itu menjauh.


Lala yang ditarik Rio hanya terdiam harap-harap cemas melirik ke belakang dimana mobil Evan tidak terlihat dan Rio semakin menariknya menjauh dengan langkah tergesa-gesa.


Sedangkan mobil Evan yang melihat mobil Rio berhenti langsung turun dan memeriksa mobil itu. Evan mengikuti turun.

__ADS_1


"Kosong bos, mereka sudah kabur !" Lapor Rizky.


Evan menarik nafas kasar, ia sangat yakin bahwa tadi Lala ikut di mobil ini dan sekarang Rio hilang. Ia menoleh kesana-kemari, menelisik setiap tempat saat menemukan sebuah jalan setapak kecil yang nyaris tak terlihat jika tak diperhatikan baik-baik.


"Itu Ky, itu Ky !" Tunjuk Evan seraya melangkah cepat kearah jalan setapak itu.


Rizky mengikuti seraya mengeluarkan walkie-talkie yang sempat diberikan detektif padanya. Menyalakannya dan mulai berbicara berbagi informasi tentang keberadaannya sekarang.


Evan dan Rizky mengikut jalan setapak itu dengan waspada takut banyak hal-hal muncul seperti hewan liar.


Rio menatap sekeliling dengan waspada tetap dengan mengikuti jalan setapak sambil menggandeng tangan Lala dengan sesekali memerhatikan kebelakang takut kalau Evan dan Rizky berhasil mengejar mereka.


"Jangan mengeluarkan suara atau aku akan menembak Evan !" Ancam Rio membuat Lala langsung mengangguk.


Hingga mereka sampai pada sebuah tempat dimana 50 meter kebawah adalah sungai yang terlihat dalam. Rio celingak-celinguk, melihat jalan keluar dari sini namun sungai itu memutus perjalanannya hingga ia harus jalan memutar. Ia meraih HP-nya dan menghubungi seseorang. Lala menatap was-was pada sungai itu, berpikir apakah ada buaya disitu yang mungkin sedang mengintainya.


Suara langkah kaki itu semakin jelas, Rio semakin panik. Matanya liar menatap ke segala dan memungut sebuah batang kayu seraya memberi peringatan pada Lala agar tidak berteriak. Rio menuntun Lala untuk bersembunyi dibalik pohon, tak lama Evan dan Rizky tiba dan sekian detik sebuah hantaman kayu mengenai wajah Rizky membuat cowok itu ambruk seraya mengerang kesakitan.


Evan yang terkejut juga tidak siap kini mendapat giliran, Rio dengan cepat memukul pipi Evan dengan keras hingga berdarah, melihat itu Lala teriak histeris ingin menghampiri namun dicekal oleh Rio. Saat Evan juga ambruk, Rio kembali mengambil ancang-ancang untuk menghantamkan batang kayu itu ke kepala Rizky namun dengan cepat Lala pasang badan di depan Evan.


"Minggir !" Bentak Rio.


"Nggak !" Lala menggeleng tegas.


"Minggir !" Kali ini Rio menjambak rambut Lala dan melempar gadis itu ke samping.


Evan dan Rizky masih terkapar dengan rasa sakit diwajah mereka. Rio kembali akan menghantamkan batang kayu ditangannya dengan tatapan mata penuh kebencian saat Lala menghampirinya dan memeluk dadanya berusaha keras melindungi Evan namun perlakuannya itu membuat Rio naik pitam. Seketika melepaskan pelukan Lala dengan kasar dan menampar gadis itu hingga jatuh terjerembab di tanah.


Melihat itu, emosi Evan meledak. Sakit di wajahnya hilang. Dengan cepat ia bangkit dan langsung menerjang Rio. Keduanya berguling berusaha melumpuhkan yang lainnya saat Evan berhasil duduk diperut Rio dan memukulinya.


Evan memukuli Rio membabi buta yang sekuat tenaga dihindari oleh Rio. Dengan cepat Rio merubah posisi. Rio memukuli Evan dengan penuh kemarahan membuat Evan kewalahan dan Rio berhasil kembali memukul wajahnya.


Hingga Rio merasakan tubuhnya ditarik dan dilempar begitu saja, Rio menggeram jengkel melihat Rizky membantu Evan yang sudah lebam wajahnya berdiri dan ganti menatap nyalang padanya.


Keduanya mendekat dengan amarah masing-masing. Rio langsung melayangkan tendangannya di perut Rizky membuat cowok itu tertunduk sakit. Saat Rio akan melayangkan tendangan kedua, Rizky menahan kaki itu dipinggangnya dan memberikan bogeman ke perut Rio yang membuat Rio mengerang sakit.


Rio bangkit, meraih kerah Rizky dan meninju pipi cowok itu. Tidak sempat menghindar ganti Rizky yang menonjok wajah Rio. Keduanya berusah memukul dan menghindari pukulan lawan. Beberapa kali tinju Rio mendarat di perut Rizky membuat Rizky kadang mengerang kesakitan dan jika Rizky berhasil meninju perut Rio maka pria itu terlihat meringis dan langsung membalas memukul Rizky tak kalah kerasnya.


Setelah baku hantam yang cukup lama, Rizky sudah tergeletak di tanah dengan dada naik turun serta mata yang terpejam, wajahnya lebam dan juga merasakan sakit di sekujur tubuhnya sedangkan Rio, pria itu masih berdiri tegak menatap sinis didepannya.

__ADS_1


Pandangan mata Rio tertuju pada Evan. Mencabik-cabiknya pria itu dengan tatapannya.


"Lama tidak berjumpa pak Evan !" Sapa Rio dengan senyum sinis. "Anda pasti bahagia diatas penderitaan ayahku !" Tambahnya dengan gigi gemeletuk.


__ADS_2