Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 087


__ADS_3

Tepat dugaan Syifa. Evan shock mendengar kabar yang disampaikan oleh sang mama. Pria itu baru saja datang dari luar kota saat makan siang tiba dan langsung kaget dengar berita dari sang mama.


Syifa memberinya kode untuk tidak berekspresi berlebihan, nampaknya Evan mengerti dan menyetujui saja apa yang dikatakan sang mama.


"Tante, boleh Syifa bicara sama kak Evan ?" Syifa menginterupsi.


"Oh boleh nak, kalian bicarakan aja apa kalian butuhkan untuk pertunangan nanti baru kasih tau Tante !"


"Iya Tante !" Syifa kembali memberi kode pada Evan agar bisa bicara berdua yang langsung diangguki pria itu.


Evan segera menuju lantai 2 diikuti Syifa, keduanya menuju balkon dan memastikan tidak ada yang mengikuti, kemudian Evan menutup pintu dan duduk di kursi yang tersedia disana.


"Ada ini Fa ? Pertunangan ? Kenapa tiba-tiba ?"


"Ya, aku juga kaget kak. Orang tua kita tiba-tiba rencanain kayak gini !"


"Trus bagaimana ?" Tanya Evan, kepalanya terasa semakin pusing setelah mendengar berita ini. Syifa terdiam sejenak kemudian tersenyum.


"Begini deh, aku punya ide, biarin aja ini acara berlanjut tapi.... Ini akan jadi pesta pertunangan kakak dengan Lala. Jadi nanti hari H, kakak lamar dia didepan banyak orang !" Syifa menatap tepat di manik mata Evan.


Evan terkejut mendengar itu, balas menatap lekat gadis didekatnya.


"Tapi Fa ?"


"Jangan ditunda lagi kak, atau kita yang akan menikah. Ini bagus kan, mengumumkan semua didepan keluarga besar kakak !"


Evan terdiam mencerna perkataan Syifa.


"Nanti pertunangannya, undang keluarga sama sahabat dekat aja supaya gak terlalu heboh !"


Evan masih terdiam. Syifa menyentuh tangan Evan.


"Mungkin ini saatnya kak, kakak harus memperkenalkan Lala ke keluarga kakak. Lihat kan, pertunangan kita aja tiba-tiba. Jangan sampai pernikahan kita juga tiba-tiba nantinya tanpa sepengetahuan kita !"


Mimik wajah Evan terlihat sedikit terkejut dan menatap Syifa dengan pikiran kalut.


"Jangan ditunda lagi kak, percaya deh atau kakak akan nyesal lagi !"


"Jadi ?" Tanya Syifa menunggu reaksi Evan.


"Baiklah Fa, aku akan ikutin saranmu !"


"Oke kak, oh ya. Tante kemarin tawarin beli cincin tapi aku bilang belinya sama kakak nanti. Jadi bagaimana nanti malam kita pergi beli cincin untuk pertunangan kakak !"


"Cincin pertunangan ?"


"Iya kak, tunangan nanti, cincin yang penting !"


Evan terlihat berpikir lagi membuat Syifa gemas sekali.


"Bagaimana kalau nanti malam kita ke mall lihat-lihat cincin pertunangan sekalian jalan-jalan ?" Tawar Syifa.


Evan kembali menatap lekat gadis didekat ya itu. Sedikit bingung karena begitu semangat membantunya menyiapkan segala sesuatunya.


"Baiklah, nanti malam kita pergi berdua !"


"Oke !"


Keduanya larut obrolan seru seputar rencana bagaimana cara memberikan kejutan pada Lala. Keduanya tidak sabar melihat reaksi Lala nantinya.


Malam harinya, Evan dan Syifa menuju mall untuk membeli cincin pertunangan untuk Evan. Syifa sangat antusias begitu juga Evan.

__ADS_1


Keduanya telah berada di toko perhiasan yang cantik nan mahal.


"Menurutmu yang mana bagus Fa ?" Tanya Evan saat pegawai toko itu memperlihatkan deretan cincin tunangan yang memukau.


"Eh, jangan tanya aku kak. Harus kakak yang pilih sendiri. Kan buat kekasih hati harus dari hati. Hehehehe !" Ucap Syifa membuat pramuniaganya ikut tersenyum.


"Hmm, yang mana yah ?" Evan memilah dari satu cincin ke cincin yang lain.


Hingga tatapannya terarah pada sebuah cincin dengan berlian putih yang cukup besar dengan ukiran batang yang sedikit bergelombang disertai 3 berlian kecil disisi kanan membuat cincin itu terlihat mewah.


Syifa berjalan kearah lain saat Evan bertanya tentang harga pada pramuniaganya, ia menuju sisi etalase lain untuk melihat cincin kemarin yang sangat ia taksir. Cincin berlian putih yang dikelilingi berlian kecil warna-warni membuatnya senyum-senyum tidak jelas.


Tanpa sadar seseorang menatapnya dari luar toko, dia adalah Bryan. Pria itu yang tadinya hendak pulang mendadak menghentikan langkah saat melihat Syifa, gadis yang kemarin menabrak tubuhnya.


Bryan terpaku menatap Syifa yang tersenyum pada 1 titik, gadis itu terlihat sangat manis dengan tersenyum seperti itu.


"Boleh lihat cincin yang itu ?" Kata Syifa pada pramuniaga yang langsung diambilkan.


Syifa menyentuh cincin itu dan memakainya, wajahnya seketika berseri-seri saat cincin cantik itu bertengker manis di jarinya, melihat itu Bryan terpana dan terus menatap gadis itu.


"Kak, lihat apa ?" Jerry muncul dan menepuk bahu Bryan hingga pria itu terkejut.


Jerry melihat arah pandang sang kakak dan seketika ia melotot dan hampir memekik. Secepat kilat ia menarik bahu Bryan untuk berbalik.


"Itu Evan !" Bisik Jerry.


"Hah ?" Bryan melongo dan berbalik mengintip sedikit.


Benar saja, terlihat Evan menghampiri Syifa dan gadis itu buru-buru mengembalikan cincin yang ia pakai kemudian menarik lengan Evan keluar toko.


"Udah cocok sama cincin pertunangannya ?" Tanya Syifa.


"Iya, bagaimana menurutmu !" Evan memperlihatkan cincin couple dalam sebuah kotak beludru hitam.


Bryan dan Jerry yang bisa mendengar itu sontak saling pandang. Mereka yang tadinya baru saja berbelanja baju baru tidak menyangka akan mendapatkan berita seperti ini.


"Oh ya ampun, mereka mau tunangan. Ku kira Evan sudah punya Cleo ? Trus itu siapa ?" Jerry mengerutkan kening.


"Evan sudah bercerai dari istrinya dan mungkin saja itu calon istrinya !" Jelas Bryan ragu dengan perkataannya sendiri.


"Oh begitu, cantik juga !" Komentar Jerry.


"Oke, sekarang ayo pergi makan. Kamu boleh makan apa aja uang kamu mau !" Kata Bryan membuat mimik wajah Syifa girang seketika.


"Oke, Let's go !" Syifa menggandeng lengan Evan dan berjalan menuju tempat makan.


Bisa Bryan lihat, gadis yang sedang berjalan disamping Evan itu menoleh ke belakang kearah spot tadi dia berdiri dan mencoba sebuah cincin tadi.


Saat kedua sejoli itu menghilang, Bryan menghampiri toko perhiasan itu dan berdiri tepat dimana gadis tadi berada.


"Cincin yang tadi dicoba cewek itu kelihatan bagus. Bisa saya lihat ?" Tanya Bryan pada pramuniaga.


"Yang ini kak !" Sang pramuniaga memberikan yang yang tadi Syifa coba didepan Bryan.


Bryan meraih dan menelisik cincin itu. Memang cantik nan indah, pantas saja gadis tadi berseri-seri saat memakainya.


"Kakak kan jomblo. Untuk apa lihat-lihat yang seperti itu !" Ucap Jerry lantang membuat beberapa orang menoleh kearah mereka seraya tersenyum.


Bryan hanya mendelik pada sang adik, malu karena menjadi bahan perhatian. Tidak menjawab omongan usil Jerry dan fokus pada cincin ditangannya.


*****

__ADS_1


Benki membuka situs penjualan cincin couple, dimana saat terakhir ia bertemu Evan dan Lala yang sedang kencang dan tidak sengaja melihat cincin kembar di jari keduanya membuatnya ingin melakukan hal yang sama.


Saat sedang asik menatap cincin-cincin bagus itu saat pintu terbuka dan memunculkan Lala.


"Ini dokumen yang harus bapak tanda tangani !" Ucap Lala lesu. Wajahnya laksana mendung hitam nan pekat.


Benki tahu alasan mengapa gadis didepannya tampak tidak bersemangat. Evan sudah meneleponnya dan menceritakan apa yang terjadi bahkan memberitahu tentang rencana acara kejutan untuk Lala.


"Tuan Charlie meminta agar pertemuan dengannya diundur karena ada kepentingan mendadak. Jika anda bersedia, tuan Charlie mengundang anda untuk datang ke perusahaannya besok. Bagaimana pak ?"


Benki nampak kurang fokus dengan perkataan Lala sebab ia berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak menyembur keluar namun ia juga kasihan karena melihat wajah yang seperti kehilangan gairah hidup itu karena di prank kekasih hati.


"Pak bos !" Panggil Lala karena Benki nampak melamun.


"Eh, iya. Baiklah. Ayo besok kesana !" Ucap Benki seraya menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani.


"Baik pak !" Lala berbalik untuk keluar dari ruangan Benki dan berpapasan dengan Fajar.


"Ya ampun, kenapa dia mukanya asem gitu ?" Tanya Fajar pada Benki.


Benki melirik kearah Fajar dan mulailah ia menceritakan rencana Evan pada Fajar membuat cowok itu terbelalak mendengarnya.


"Semoga aja dia gak bunuh diri sebelum hari H !" Harap Fajar membuat Benki geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Ada apa kamu kemari ?"


"Oh ya, tuan Charlie baru saja menghubungi jika besok waktu pertemuannya saat makan siang sebab paginya ia masih ada urusan pribadi !"


"Baiklah !" Fajar langsung keluar meninggalkan Benki yang masih memilah-milah cincin di layar ponselnya hingga sebuah cincin menarik perhatiannya.


*****


Tak ingin menunggu lama, setelah selesai pertemuan dengan Tuan Charlie, Benki langsung menuju toko untuk membeli cincin couple itu. Meski tak jauh beda dengan cincin milik Lala namun ia cukup senang.


Benki meraih Hp-nya dan menghubungi Aulia.


"Halo !"


"Iya kak ?"


"Nanti malam bagaimana kalau kita jalan ?"


"Eh, jalan kemana ?"


"Kemana aja, mau ?"


"Ng.. Boleh !"


"Ya udah nanti aku jemput ?"


"Eh, gak usah kak. Nanti aku datangin kakak aja. Kasih tau aja dimana tempatnya !"


"Oke deh !"


Benki memutuskan telepon, meski bukan cincin mahal tapi tak luput membuatnya selalu tersenyum. Senyum itu luntur saat melewati jalan kantornya. Ia melihat Lala sedang duduk di halte sendirian dengan tatapan kosong mengadah ke langit, jam kantor selesai satu jam yang lalu dan gadis galau itu masih berada disana.


Benki menghela nafas melihat pemandangan itu, ia merutuki Evan yang mengerjai Lala seperti ini. Ia jadi teringat perkataan Fajar tentang bunuh diri yang membuatnya jadi khawatir.


Benki terdiam sejenak kemudian meraih HP-nya.


"Halo Ra, bagaimana kalau nanti malam kamu datang ke rumah, makan malam disana. Ada Lala juga. Oke ? Oke, aku tunggu ya !"

__ADS_1


Benki keluar dari mobil dan tanpa kata, meraih tangan gadis itu memasuki mobilnya, Lala hanya mengikuti tanpa bertanya tanpa protes saat melihat Benki yang datang.


__ADS_2