
Semua orang membeku, terperangah tidak percaya serta refleks menutup mata saat suara letusan senjata si penembak jitu terdengar memekakkan telinga. Lala memeluk Evan dengan erat seraya menangis kencang, ketakutan dengan situasi ini.
Saat suara itu hanya terdengar sekali dan tidak merasakan apa-apa, Lala membuka matanya mengintip sekeliling. Ia heran melihat wajah para detektif yang menganga dengan mata melotot. Melepaskan pelukan Evan seraya menghapus air matanya, Lala pun melirik arah pandangan para detektif itu.
Seketika Lala menutup mulutnya menganga tidak percaya melihat Rio yang terluka di perut dengan penembak jitu itu masih menodongkan senjata padanya. Rio pun terlihat amat terkejut dengan kondisinya sekarang ini. Pria itu jatuh berlutut dengan mata melotot dengan menekan perutnya yang terus mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lakukan ? Seharusnya kau menembak mereka !" Bentaknya dengan wajah pucat.
"Aku mengikutimu bukan karena tergiur uangmu. Tapi semua sebatas membalas dendam atas apa yang telah ayahmu lakukan pada keluargaku. Demi sebuah proyek, ia merampas sawah milik keluargaku dan membuat hidup kami terlunta-lunta sekejap tanpa pergantian uang yang sudah ia janjikan. Ayahku jadi stres dan terkena stroke. Sejak saat itu aku bersumpah akan menghabisi Edi Gunawan dengan tanganku sendiri. Tapi laki-laki sialan itu malah mati dengan mudah !" Ujar penembak jitu itu dengan suara berat.
"Kurang ajar, berani kau mengkhianatiku. Kau tidak akan pernah mendapatkan bayaran apapun !" Teriak Rio, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung sudah memenuhi keningnya.
"Aku tidak butuh itu semua, aku hanya ingin keluarga Edi hancur seperti yang kurasakan dan kau adalah satu paket dari semua itu !"
"Beraninya kau, aku tidak akan membuat hidupmu tenang !" Teriak Rio, nafasnya sudah terdengar sesak.
'DOR'
Tembakan kedua tepat di jantung Rio seketika membuat pria itu jatuh tersungkur dan tewas seketika dengan darah yang mengalir banyak.
Lala berteriak histeris melihat pemandangan itu. Semua menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Inikah disebut senjata makan tuan ?
Penembak jitu itu masih menatap tubuh tak bernyawa Rio, dibalik topengnya air matanya mengalir saat merasakan sesak di dadanya tak kunjung hilang. Dendam kesumat yang telah lama menghuni hatinya kini luruh bersama air matanya yang tidak bisa ia tahan. Membiarkan tumpah membasahi topeng dan bajunya.
Melirik kearah Evan dkk, para detektif kembali menodongkan pistol takut-takut kalau mereka berikutnya. Namun yang terjadi penembak jitu malah dengan cepat berlari menerobos semak belukar diantara pepohonan, meninggalkan mereka yang mematung masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Lala hampir limbung saat Evan kembali meraih tubuhnya dan memeluknya erat membiarkan ia menumpahkan air matanya.
"Sudah, semua sudah berakhir !" Evan mengelus punggung Lala berusaha menenangkan gadis itu.
Tak lama, banyak polisi memenuhi tempat itu. Membawa jasad Rio menuju rumah sakit serta membawa 3 penculik yang sudah diamankan oleh 4 detektif. Serta mewawancarai saksi yang melihat kejadian itu.
Cukup lama, akhirnya mereka bubar dengan membawa tubuh Rio dalam ambulance. Lala terdiam duduk dibelakang mobil Evan. Teringat kembali saat kebersamaan mereka dulu saat Rio masih magang. Ia, Rio dan Tiwi mengikuti Evan dan Rizky untuk meninjau lokasi yang berada di pinggir hutan dan saat itu ia dan Tiwi berusaha menarik perhatian Rio bahkan keduanya tak segan-segan saling menjambak dan menarik baju. Saking asyiknya ngobrol ketiganya tidak sadar memasuki hutan dan tersesat. Ia dan Tiwi panik dan serta merta menangis di bahu Rio meski tak lama bantuan datang dan ia dan Tiwi terkena omelan Evan.
Mengingat itu Lala kembali menangis. Masih tidak menyangka kak Rio yang dulu baik hati, ramah dan tampan kini bernasib seperti ini.
Pintu terbuka dan Evan memasuki mobil, duduk disamping Lala. Kembali meraih gadis itu dan memeluknya untuk kesekian kalinya dan membiarkannya menumpahkan air mata di dadanya.
"Aku gak nyangka kak Rio akan berubah seperti ini !" Ucapnya pelan.
"Sudah lupakan, jangan memikirkan ini lagi atau kamu akan stres nantinya !" Evan membelai kepala Lala.
Tak lama Rizky masuk dan duduk dikursi kemudi dan menjalankan mobil.
"Jasad Rio sudah menuju rumah sakit S dan saya sudah meminta Cleo untuk menghubungi istri Rio !"
__ADS_1
"Istri Rio ?"
"Iya bos, dia teman Cleo. Namanya Ayu. Ingat kita dulu pernah menghadiri pernikahan Rio !"
"Aku lupa Ky. Tapi baguslah jika dia memiliki istri !" Ucap Evan membuat Rizky mengerutkan kening.
Suasana hening selama perjalanan pulang. Evan melirik kearah Lala saat nafas teratur gadis itu terdengar. Dia tidur dibahu Evan setelah kelelahan menangis membuat Evan tersenyum dan merebahkan kepalanya di kepala Lala dan tak lama ikut terlelap. Rizky yang memerhatikan itu dari kaca spion hanya geleng-geleng kepala.
Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu kini diisi dengan keheningan.
*****
Cleo yang sudah memarkir mobilnya, kini turun dan memasuki rumah sakit. Melewati lorong demi lorong serta bertanya ke beberapa petugas rumah sakit akhirnya ia melihat Ayu yang sedang menangis sesegukan di kursi tunggu. Menunggu kedatangan jasad Rio yang masih dalam perjalanan.
Sesaat setelah menerima telepon dari Rizky, Cleo langsung mengabari Ayu yang dimana wanita itu langsung histeris menangis tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Cleo dan sekarang wanita itu sudah berada di rumah sakit meski dikabarkan ambulance yang membawa Rio akan tiba beberapa jam lagi.
"Ayu !" Sapa Cleo. Ayu mengangkat wajahnya dan langsung berdiri memeluk Cleo.
"Kenapa tiba-tiba kejadian kayak gini Cle ? Saat hubungan kami belum baik, kenapa dia tega pergi tinggalin aku !" Ayu menangis kencang.
"Sabar ya Yu, tolong ikhlasin suamimu !" Cleo mengelus punggung Ayu.
Cleo menuntun Ayu kembali duduk, membuka tasnya dan mengeluarkan plastik yang berisi cemilan. Cleo menyodorkan air putih pada Ayu. Setelah cukup tenang, Cleo menyodorkan roti kepada Ayu yang ditolak wanita itu. Cleo masih terus membujuk dan memberi pengertian.
"Yang pertama memakamkan Rio lalu mungkin aku akan balik dulu ke negara B tuk lanjutin bisnis dia disana atau membuka cabangnya disini. Entahlah !"
"Sabar ya Yu, Ini takdir. Tolong jangan sedih berlarut-larut !" Cleo kembali memeluk temannya.
"Iya Cle !" Ayu kembali menangis. Tidak menyangka hal ini akan terjadi padahal kemarin-kemarin suaminya baik-baik saja.
Keduanya berpelukan, berusaha menenangkan satu sama lain dan Cleo memutuskan menemani Ayu hingga jasad Rio tiba.
*****
Keesokan harinya.
Hp Rizky berdering dan memunculkan nama Cleo. Cowok itu hanya tersenyum tanpa berniat mengangkatnya. Saat melihat nama Cleo, perasaannya saat ini sulit diungkapkan. Bergetar bahagia, pikiran Rizky sudah kemana-mana dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya.
Ketiganya sedang sarapan bersama, karena tadi malam Rizky ikut menginap di rumah Evan. Mau tidak mau Lala tidur di kamar Evan karena Rizky akan menghuni kamar tamu sedangkan Evan tidur diruang kerjanya.
"Apa yang lucu Ky ?" Tanya Evan melihat Rizky yang senyum-senyum sendiri. Lala yang duduk didepan Rizky ikut menoleh.
"Oh, tidak apa-apa bos. Saya hanya mengingat hal lucu !"
Sedangan ditempat lain, Cleo menggeram kesal saat Rizky tidak mengangkat telponnya. Sejak telepon terakhir mengabarkan tentang keadaan Rio, Cleo sudah tidak tahu seperti apa kabar cowok itu karena Rizky tidak pernah mengangkat teleponnya.
__ADS_1
Saat jam makan siang, Cleo keluar kantornya menuju mobilnya dan melihat Rizky telah bergaya didepan mobilnya sendiri, cowok itu tersenyum cool membuat Cleo kesal sendiri. Saat ditelepon tidak dijawab dan sekarang dia muncul seperti jelangkung.
"Selamat siang calon istriku !" Sapa Rizky dengan senyum tertahannya.
Mendengar itu wajah Cleo memerah, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengar ucapan Rizky itu.
"Udah deh, jangan ngomong kayak gitu. Nanti didengar orang mereka salah paham !" Cleo menghampiri Rizky dan memukuli lengan cowok itu.
"Lho, malah bagus kan. Mereka jadi tahu kalau dirimu telah termiliki !" Rizky menahan tangan Cleo yang kembali ingin memukulnya.
"Idih !" Cleo mencibir.
"Kamu sudah makan ? Ayo kita pergi makan ?"
"Aku udah makan !" Bohong Cleo.
"Kalau begitu, temani aku makan yah !" Tanpa meminta persetujuan wanita itu, Rizky meraih pinggang Cleo dan menuntunnya memasuki mobil. Setelah itu mobil berlalu pergi disertai tatapan yang sulit diartikan oleh tuan Kevin yang melihat kedekatan keduanya dari lantai atas ruangannya.
*****
Evan dan Lala juga kini berada direstoran makanan cepat saji duduk dengan saling terdiam sambil menikmati ayam kentucky, kentang goreng, burger dan minuman bersoda.
"Hmm.. masa magangku sudah selesai dan aku akan segera balik ke kota S !" Ucap Lala memecah keheningan.
Evan terdiam menatap Lala. Benar, masa magang gadis itu telah selesai bahkan melewati batas hari akibat penculikan itu. Dan sekarang hari ini tiba juga, saat gadis itu akan pergi lagi.
"Jangan pergi !" Pinta Evan.
Lala melotot menatap Evan yang menurutnya seenaknya sendiri.
"Aku harus kembali, Benki pasti mencariku !"
"Aku gak mau kamu pergi La. Aku sudah pernah kehilangan kamu dan aku gak mau kehilangan kamu lagi. Jadi mengundurkan dirilah dari sana dan balik kesini. Kembali jadi sekertarisku atau lebih baik kita menikah aja !" Ujar Evan. Lala yang hampir minum seketika menjauhkan gelas softdrink dari mulutnya dan menganga menatap Evan.
"Maksudnya ?"
"Jangan tinggalin aku lagi La, apa kamu tahu seperti apa kemarin aku saat kamu tinggalkan. Aku seperti orang gila, aku seperti kehilangan arah hidup dan sekarang kamu bilang apa ? Kamu mau pergi lagi !"
'Andai kamu tahu aku lebih gila saat memutuskan meninggalkan kamu !' Lala membatin.
Satu tahun lebih mereka berpisah membuat Lala berusaha keras mempertahankan kewarasannya agar tidak larut dalam kerinduan pada Evan. Meninggalkan pria yang sangat dicintainya ini bukanlah perkara mudah, hatinya pun berontak tapi keputusan itu tetap diambilnya dan dijalani dengan linangan air mata.
Dan pertemuan pertama setelah satu tahun lebih, perasaan Lala kembali membuncah berusaha mendobrak pertahanannya untuk melupakan Evan, menghadirkan kembali perasaan yang telah dikuncinya rapat-rapat.
"Jangan pergi !" Evan menggenggam erat tangan Lala. "Menikahlah denganku !" Tambahnya membuat Lala mematung tak tahu harus berkata apa.
__ADS_1