Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 091


__ADS_3

"Tuan Ben !" Panggil seseorang membuat Benki yang sedang fokus dengan Hp-nya seketika menoleh.


"Angel ?" Kata Benki.


Saat ini mereka sedang berada di parkiran hotel milik Tiara.


"Sedang apa disini ?" Tanya Tiara.


"Oh, aku ada undangan rapat disini. Kamu sendiri sedang apa disini ?"


"Oh, aku mau ketemu temanku, dia kerja disini !" Kata Tiara.


"Oh oke, kalau begitu kami duluan Angel !" Pamit Benki saat Fajar sudah berada disampingnya setelah mengambil dokumen di mobil.


"Bye Angel !" Ucap Fajar


"Baiklah !" Tiara tersenyum pada keduanya.


Benki dan Fajar berlalu. Tiara masih berdiri ditempatnya menatap hingga punggung Benki menghilang dibelokan. Gadis itu memegang dadanya, masih berdebar kencang untuk Benki.


Tiara berlalu, menuju kamar khusus untuk dirinya dan meminta Aulia datang saat makan siang.


Saat makan siang tiba, Aulia datang 10 menit setelah pesanan makanan Tiara tiba.


"Eh, Ibu Tiara. Bagaimana fashion show di kota J ?" Ucap Aulia berlagak seolah reporter sambil meraih botol air mineral dan menjadikannya mic.


"Ya, seperti itulah. Desainernya memang punya selera yang bagus jadinya semua rancangannya keren gila !" Tiara antusias.


"Oh seperti itu, apa desainernya tampan ?"


Dahi Tiara langsung berkerut mendengar itu.


"Dia gak tampan dan juga tampaknya tidak tertarik pada wanita !"


"Waduh, sayang banget Ra. Padahal pasti oke tuh kalau bisa dijadikan pacar !"


"Hah ?"


"Kalau baju rancangannya selalu oke dan pastinya desainer ngetop seperti dia pasti punya jaringan koneksi dunia permodelan dari nasional hingga internasional jadi pasti gampang buat kamu ke luar negeri sana !"


"Iya benar juga sih, tapi nggak deh. Tetap ayang Ben yang selalu dihati !" Tatapan Tiara menerawang pada Benki yang semakin mempesona menurutnya.


"Oh ya Ul, tadi aku ketemu Ben di parkiran. Oh my God, dia makin oke, makin sempurna !"


"Oh ya ? Aku pengen lihat seperti apa orangnya ?"


"Gak bisa, nanti kamu jatuh cinta sama dia lagi !"


"Heh, gak akan. Aku cuma penasaran aja gimana orangnya !"


"Dia lagi rapat, kalau mau lihat masuk aja ke ruang rapat sana !"


"Idih, ogah !"


"Huft, kapan ya ? Kami bisa punya waktu berdua untuk saling mengenal lebih dalam !" Harap Tiara.


"Ya, mulai aja langkahnya duluan. Ajak dia makan siang atau makan malam gitu atau ajak nonton trus main di Timezone !" Saran Aulia membuat Tiara mendelik mendengar saran yang terakhir.


"Yang benar aja cowok se-sempurna Ben main Timezone, yang ada dia turun imej !"


"Tapi aku yakin lho kalau si Ben itu bakal menikmati bermain di Timezone !" Aulia teringat kebersamaannya bersama Benki saat berada di Timezone.


"Heh, silahkan kamu kesana bersama orang yang kamu sukai !" Tiara memelototi Aulia.


Keduanya mengobrol sambil menikmati makan siang masing-masing. Membicarakan kekasih hati tanpa mereka tahu orang tua Benki dan orang tua Tiara tidak sengaja berpapasan di mall.


"Eh, ya ampun jeng. Apa kabar ?" Sapa mama Tiara.


"Eh jeng, kabar baik. Jeng sendiri gimana kabar ?" Tanya mama Benki balik. Keduanya cipika-cipiki.


"Kabar saya juga baik. Jeng kesini sama siapa ?" Tanya mama Tiara.


"Sama Melati, dia lagi di toilet. Jeng sendiri sama siapa ?"

__ADS_1


"Saya sendirian jeng. Oh ya bagiamana kalau kita duduk sambil minum sambil tungguin Melati juga. Kita ngobrol-ngobrol !"


"Oh boleh jeng, ayo !"


Keduanya duduk disebuah kedai minuman jus yang berada disana, menikmati jus alpukat sambil mengobrol. Mama Tiara menceritakan sebuah rencana yang telah ia susun sejak lama untuk bulan depan membuat mama Benki antusias mendengarnya.


"Bagaimana menurut jeng ?"


"Saya setuju jeng, apalagi anak-anak kita saling menerima, saling menyukai. Saya dan keluarga benar-benar suka sama Tiara. Dia berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan. Dia cantik dan rajin, saya benar-benar beruntung jika dia bisa jadi menantu saya !" Mama Benki tersenyum membuat mama Tiara terharu.


"Terima kasih jeng, Tiara itu masih butuh diberi arahan dan perlu lebih banyak belajar untuk jadi istri yang baik !" Ucap mama Tiara.


"Saya rasa dia sudah menguasai itu semua jeng, saya benar-benar bangga sama dia !" Ucap mama Benki membuat mama Tiara tersenyum senang.


"Saya belum pernah ketemu Benki lho jeng !" Ucap mama Tiara.


"Masa jeng ? Padahal Tiara sering main ke rumah lho. Aduh anak itu, masa gak pernah silaturahmi sama calon mertua !" Mama Benki geram.


"Sudah, gak apa-apa jeng. Cepat atau lambat pasti ketemu kok. Yang penting hubungan mereka sekarang baik-baik aja !"


"Iya jeng, mereka sepertinya cocok satu sama lain jadi nanti segera aja, jangan ditunda lebih lama lagi !"


Kedua wanita tua itu kembali fokus pada rencana mama Tiara, tak jarang mama Benki tampak memberi saran pada rencana calon besan agar semakin sempurna.


Melati tiba tak lama kemudian menghampiri sang mama, tak lupa menyapa mama Tiara dengan sopan.


"Kalau begitu jeng, kami pulang dulu ya lain kali kita lanjut !"


"Oke jeng !" Kedua wanita tua itu berpisah.


*****


Rapat barusan membuat kepala Benki pusing bahkan makanan lezat yang disediakan pihak hotel pun tidak menggugah seleranya, bahkan hanya bisa makan 2 sendok. Ia tiba-tiba merasa tidak enak pada tubuhnya.


"Anda baik-baik saja tuan ?" Fajar nampak menyadari keanehan Benki.


"Iya, rasanya aku gak enak badan. Bisa tolong antar aku pulang Jar ? Dan urusan kantor aku serahkan padamu !"


"Baik tuan !"


'Ra, lagi apa ? Aku tadinya mau ajak kamu makan siang bareng tapi tiba-tiba badanku gak enak. Sekarang aku diperjalanan pulang. Kalau bisa nanti kamu kerumah ya. Mungkin setelah ketemu kamu, aku bisa langsung sembuh' pesan sedikit genit itu terkirim.


Benki memejamkan mata sambil memijat pelan keningnya yang semakin terasa berat dan tak lama ia tertidur. Fajar menoleh ke belakang saat mendengar dengkuran halus Benki.


Sementara itu, Aulia yang sedang membersihkan sebuah kamar yang beberapa saat lalu ditinggalkan tamu menjeda pekerjaannya saat ponselnya berbunyi dan matanya terbelalak saat membaca pesan dari Benki. Rasa khawatir mulai merayap membuat Aulia gelisah.


*****


Kini Aulia sudah berada di rumah Benki. Ia berkutat didapur menyiapkan sesuatu untuk Benki. Mama Benki yang mengintip di pintu dapur tersenyum senang melihat sang calon menantu yang begitu cekatan layaknya seorang istri.


Aulia membuka kulkas dan terdiam menatap semua yang ada didalam sana. Tersenyum saat mendapat buah melon dan mengolahnya menjadi jus.


Mama Benki balik badan seraya tersenyum, ia jadi tidak sabar menunggu bulan depan.


Saat semua sudah siap, Aulia terdiam kebingungan. Apa ia harus masuk ke kamar Benki atau menitipkan kepada pembantu ?


Aulia membawa nampan makanan itu keluar dan dilihatnya mama Benki sedang membaca majalah di ruang keluarga. Aulia mendekati sang calon mertua.


"Mama ?"


"Iya nak ?"


"Boleh aku ke kamar kak Benki ?" Tanya Aulia hati-hati.


Mama Benki menatap sejenak Aulia beserta nampan makanan yang ada ditangannya.


"Boleh, masuk aja tapi ingat jangan macam-macam !" Titah sang calon mertua seraya tertawa membuat Aulia ikut tertawa.


"Terima kasih ma !" Aulia berbalik, berlalu menuju kamar Benki.


Sementara itu, Benki yang terbangun menatap langit-langit kamarnya dengan selimut menutupi tubuhnya hingga dada dan handuk kecil menutup dahinya.


Perasaannya sudah terasa enakan, baru saja ia hendak bangkit dari posisi rebahan saat pintu kamarnya terbuka dan Aulia masuk sambil membawa nampan makanan serta membiarkan pintu terbuka lebar.

__ADS_1


"Kamu disini !" Benki tersenyum senang dan tubuhnya terasa semakin enak setelah melihat kekasih hati.


"Iya, ini ayo dimakan buburnya !" Aulia duduk dipinggir kasur sambil memegang mangkuk bubur dan bersiap menyuapi Benki.


Benki mengerutkan kening melihat bubur yang terlihat warna warni itu, lebih banyak sayurnya dibanding nasinya.


"Nih, aaaaaaaa !" Sesendok bubur muncul didepan bibir Benki.


Benki membuka mulut dan menerima suapan pertama itu.


"Enak !" Kata Benki.


"Kalau begitu dikasih habis !"


Aulia terus menyuapi atau memaksa Benki memakannya hingga bubur itu habis tidak tersisa kemudian memberikan segelas air putih bersama dengan obat. Setelah itu, jus melon tadi diberikan pada Benki dan langsung dihabiskan cowok itu.


"Bagaimana sekarang ? Sudah enakan ?"


"Belum, aku mau dimanja-manja !" Benki merebahkan dahinya ke bahu Aulia.


"Ih, kayak anak kecil !"


"Aku ini lagi sakit lho !"


"Udah sembuh tuh !"


"Belum. Minta cium !" Benki mendongak dan langsung memonyongkan bibirnya membuat Aulia panik dan menoleh kearah pintu, takut-takut jika ada yang muncul disana.


Kemudian Aulia meraih kedua pipi Benki kemudian mengecup kening cowok itu. Benki merenggut, Aulia mencium kedua pipi Benki bergantian. Tapi Benki kembali memonyongkan bibirnya. Aulia melotot dan kembali menoleh kearah pintu yang terbuka lebar.


"Hmmmm !" Benki masih memonyongkan bibirnya menuntut.


Perlahan wajah Aulia mulai mendekat membuat Benki memejamkan matanya.


"Tiara !" Belum juga bibir itu bertemu saat sebuah suara menginterupsi membuat keduanya terkejut dan sontak membuat Aulia langsung berdiri dengan wajah memerah.


"I.. iya ma ?"


"Benki sudah selesai makan ? Yuk, kita makan malam !" Ajak mama Benki, matanya memicing melihat bibir Benki yang masih monyong.


"I.. iya ma !" Aulia segera mengangkat nampan berisi bekas makan Benki dan mengikuti calon mertua keluar.


Benki yang ditinggalkan hanya mendesah, kemudian saat merasa tubuhnya benar-benar enakan, ia menyusul ke meja makan.


"Lho, kamu kalau sakit. Tiduran aja dikasur !" Ucap sang mama saat melihat Benki duduk disamping kanan Aulia.


"Aku udah enakan ma !" Ucap Benki sambil merebahkan kepalanya di bahu Aulia.


Semua makan dengan lahap, Aulia nampak tidak terganggu dengan Benki yang rebahan padanya meski semua pandangan nyaris ke mereka. Papa dan Melati hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah manja Benki.


Setelah makan malam selesai, Benki mengajak Aulia menuju taman belakang.


"Kamu tu lagi sakit kak, gak baik kalau kena angin malam !"


"Makanya peluk !" Ucap Benki mengedipkan sebelah mata seraya menarik tangan Aulia.


Benki langsung memeluk Aulia saat mereka duduk dibangku taman.


"Kak, ih. Nanti ada yang lihat !" Kata Tiara memukul pelan punggung Benki.


"Biar aja, sapa tau kita bisa langsung dinikahkan !"


"Ih, dasar !" Aulia belas memeluk Benki erat mendengarkan detak jantung Benki yang menenangkan. Rasa hangat menjalar pada keduanya.


Tiara menyentuh dahi kemudian leher Benki saat dirasakannya suhu tubuh cowok itu sudah kembali normal. Ia kembali memeluk Benki.


"Terima kasih udah buatkan bubur, aku senang banget lihat kamu hari ini !"


"Sama-sama, lain kali jaga kesehatan ya kak. Kakak tuh orang sibuk jadinya gak boleh telat makan atau tidak makan sama sekali karena lebih mementingkan pekerjaan !" Titah kekasih hati.


"Iya.. iya !" Benki mengalah dan kembali memeluk Aulia dengan erat.


Menatap langit malam dengan taburan bintang-bintang yang melimpah membuat suasana malam itu tampak indah, syahdu dan romantis.

__ADS_1


"I Love You !"


"Love You too kak !"


__ADS_2