Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 109


__ADS_3

Bryan terbangun dari tidurnya saat mendengar seseorang memasuki kamarnya dan melihat staf rumah sakit membawakan sarapan pagi. Bryan menatap makanan rumah sakit itu dengan enggan namun ia memaksakan memakan 3 sendok saja.


Tak lama seorang perawat memasuki kamar itu dan memberikan obat pada Bryan.


"Bagaimana perasaan anda ?" Tanya perawat itu.


"Sudah lebih baik !" Bryan tersenyum.


"Sebentar lagi dokter akan datang memeriksa kondisi anda !" Kata perawat itu sambil memeriksa tekanan darah Bryan yang hanya mengangguk.


Bryan bersandar pada sisi ranjangnya, pikirannya tertuju pada kondisi sang adik yang hingga saat ini masih belum memberi kabar.


"Dokter Syifa, selamat pagi !" Ucap perawat itu ramah membuat Bryan sadar dari lamunannya dan menoleh kearah pintu, seorang dokter cantik masuk.


"Selamat pagi !" Jawab dokter cantik itu ramah seraya masuk sambil membenahi jas dokternya.


Bryan terdiam menatap dokter cantik yang baru masuk ini, Bryan terpaku pada wajah yang nampak tidak asing baginya hingga matanya terbelalak saat melihat kalung gadis itu.


Bryan yakin itu adalah kalung titanium miliknya yang hilang dan sekarang benda itu melingkar dengan begitu manjanya pada leher gadis itu. Ia ingat, kejadian didepan toilet restoran saat ia mengikuti Cleo. Rupanya gadis ini yang ia tabrak waktu itu padahal gadis ini jugalah memiliki kalung mataharinya.


Bryan tersentak saat tangan lentik itu menyentuh perban lukanya dan membukanya.


Syifa menatap luka tembak sekaligus luka tusuk itu. Ia nampak berbicara serius dengan perawat kemudian menyuntik lengan Bryan. Kemudian si perawat mengambil alih dan mengganti perban Bryan.


Saat itulah Syifa menatap Bryan yang juga sedang menatapnya dan sama, ia juga merasa wajah pasien ini tidak asing baginya.


Pintu terbuka mengalihkan tatapan keduanya, Michael masuk seraya tersenyum pada dokter cantik itu.


"Kapan saya bisa pulang dokter ?" Tanya Bryan.


"3 atau 4 hari lagi ya, luka anda masih perlu perawatan khusus !" Syifa tersenyum membuat Bryan terpana.


"Kalung anda bagus !" Bryan beralih menatap kalung titanium itu.


Seketika Syifa menunduk, ia tidak sadar jika kalung itu masih ada diluar bajunya. Segera saja ia meraih benda itu dan memasukkannya ke balik baju.


Deg.


Syifa tersentak, ia ingat sekarang. Pasien ini adalah pemilik kalung ini juga kalung matahari miliknya. Gadis itu menatap Bryan yang tersenyum melihatnya.


Hatsyiiiiiii.


Michael pura-pura bersin membuat 2 orang yang sedang saling tatap itu menoleh kearahnya. Syifa beralih pada perawat yang juga sejak tadi menonton dirinya berinteraksi dengan sang pasien.


"Anda tidak boleh banyak bergerak dulu, harus banyak istirahat !" Ucap Syifa.


"Baik !"


"Kalau begitu permisi !"


Syifa dan perawat meninggalkan ruangan itu diikuti tatapan Bryan.


"Dokter itu cantik ya !" Michael.


"Iya betul !" Jawab Bryan tanpa sadar.


"Suka !"


"Suka !" Bryan menjawab lagi tanpa sadar.


"Ya udah, kejar !"


"Nanti !"


"Dokter, sepupuku naksir padamu !" Michael teriak membuat Bryan panik.

__ADS_1


"Eh kunyuk, gak begitu ceritanya kampret !" Bryan meraih bantalnya dan melemparnya kearah Michael.


"Aduh, aduh, adudududuh !" Bryan mengerang saat gerakannya itu membuat lukanya terasa nyut-nyut.


Michael malah tertawa kencang saat melihat mimik Bryan membuat sang pasien ingin sekali mengutuk sepupunya itu jadi monyet.


"Bagaimana Jerry ? Apa dia sudah bisa dihubungi ?" Tanya Bryan.


"Nomor Hp-nya masih belum aktif dan juga email yang kukirim belum dia balas !" Michael menggeleng.


Bryan menghela nafas, ia benar-benar khawatir tentang keadaan adiknya itu.


*****


Semakin hari perasaan Benki semakin tidak enak, menuju hari H pertunangannya ia merasa semakin tidak yakin dan tidak bisa, apalagi dihatinya ada gadis lain yang begitu ia rindukan.


"Ki, kamu pergi ambil gih cincin pertunanganmu yang mama pesan kemarin. Udah jadi katanya tinggal diambil aja !" Ucap sang mama lewat telepon.


"Iya ma, jam makan siang nanti Benki pergi ambil !" Benki menurut


Benki menutup telepon, ia merenggangkan tubuhnya kemudian bersandar pada kursinya seraya mengadahkan wajahnya menatap langit-langit ruangannya. Ia memejamkan mata dan yang yang ia lihat adalah wajah Aulia yang sedang tersenyum membuat cowok itu langsung membuka mata.


'Aku merindukanmu !' Batinnya membuat Benki mengacak rambutnya kasar.


Selesai makan siang, Benki bersama Fajar menuju toko perhiasan mengambil pesanan sang mama.


"Pesanan atas nama Ibu Della Kharisma !" Kata Benki.


"Tunggu sebentar ya kak !" Sang pramuniaga berbalik dan membuka brankas dan meraih sebuah kotak beludru yang tidak tidak terlalu kecil.


"Yang ini ya kak !" Pramuniaga itu membuka kotak itu dan meletakkannya didepan Benki.


Benki terdiam menatap 2 cincin dikotak itu, cantik dan mempesona dimana ia dan Aulia akan bertukar cincin membuat Benki tersenyum tapi detik berikutnya ia tersentak karena sedang memikirkan yang bukan tunangannya.


"Cantik cincinnya, sayang buat cewek yang salah kan ?" Komentar Fajar membuat Benki berdecak jengkel dan hanya cengiran yang Fajar tampilkan.


Tanpa ia tahu bahwa ternyata 3 hari sebelum acara, Tiara meminta sang kakak agar menugaskan Aulia ke Bali agar ia bisa tunangan dengan Benki dengan tenang.


Tok Tok Tok.


Aulia mengetuk dan memasuki ruangan direktur.


"Bapak memanggil saya !" Ucap Aulia sopan kepada sang direktur kak Toni. Meski mereka lumayan akrab tapi jika dilingkup tempat kerja Aulia berusaha profesional.


"Iya, sebenarnya hotel di Bali kembali meminta bantuan staf jadi saya merekomendasikan kamu kesana jadi sore ini juga kamu berangkat, sekarang kamu pulang dan siapkan keperluanmu disana selama 3 hari !" Kak Toni to the point.


Aulia terperangah, tidak percaya apa yang didengarnya


"Baik pak, saya mengerti. Saya permisi !" Aulial tersenyum sopan.


Ia keluar dari ruangan direktur utama tanpa bertanya lebih lanjut mengapa ia ditugaskan saat ini. Apa ia harus senang karena tidak akan menyaksikan peristiwa yang kemungkinan besar akan menghancurkan hatinya. Ia tahu jika ini disengaja supaya dia tidak mengacaukan pesta pertunangan Tiara. Memang sejak kejadian di pesta ulang tahun Tiara, ia dan gadis itu lebih banyak saling diam.


Karena tidak bisa lagi menahan perasaannya, pada saat jam pulang Benki datang ke hotel Tiara yang juga jam pulang karyawan disana. Beberapa saat menunggu, terlihat 4 orang gadis yang berjalan beriringan sambil tertawa-tawa yang ia tahu teman Aulia.


Benki mengerutkan kening saat tidak melihat Aulia, ia pun keluar dari mobil saat keempat gadis itu berjalan menuju kearahnya.


Sontak saja keempatnya terdiam saat melihat Benki berdiri menjulang didepan mereka.


"Kalau boleh tahu. Aulia mana ya ?" Tanya Benki, keempatnya saling pandang.


"Aulia pergi ke Bali, dia ditugaskan di hotel sana selama 3 hari !" Jawab Veni hati-hati.


Benki terdiam, menatap keempatnya bergantian.


"Ya udah kak, kami duluan !" Tambah Veni.

__ADS_1


"Oh iya, terima kasih ya tapi tolong jangan bilang ke Aulia kalau aku cari dia !" Kata Benki, keempatnya mengangguk dan segera menaiki angkot yang berhenti tak jauh dari mereka meninggalkan Benki yang merenung dipinggir jalan.


Benki sedang rebahan dikasurnya sambil menatap foto kebersamaannya dengan Aulia di Hp-nya, ia tersenyum melihat ekspresi gadis itu. Sedang asik-asik menatapi foto itu, Hp-nya berbunyi dan memunculkan nama Tiara.


Gadis itu menelpon meminta cowok itu untuk mengantarnya untuk melihat koleksi-koleksi gaun cantik milik temannya yang seorang desainer ternama.


"Jadi untuk malam ini kamu bisa temenin aku ? Sebentar lagi hari H lho dan aku belum punya gaun, jadi mau ya mau ya anterin aku kesana !" Rengek Tiara ditelepon. Benki terdiam dengan wajah datar.


"Oke, aku akan kerumah kamu sekarang !" Jawab Benki membuat Tiara terdengar memekik senang.


Telepon ditutup, Benki kembali duduk ditepi ranjang, memikirkan semua ini. Tinggal menghitung hari. Ia kembali menatap foto dilayar Hp-nya, menatap dalam pada wajah Aulia yang tersenyum. Ia menscroll layar Hp itu dan tak sengaja melihat foto dimana mereka 'tunangan' dipinggir pantai.


Benki menoleh dan berusaha mengingat dimana ia menyimpan benda itu, cukup lama berpikir ia membuka laci nakas dan mengobok-obok isinya dan akhirnya menemukan cincin couplenya.


Benki menatap lama cincin itu seraya berpikir bagaimana baiknya hatinya akan berlabuh.


Cukup lama berpikir, Benki beranjak dan langsung menuju rumah Tiara tanpa mengganti pakaiannya. Selama perjalanan menuju rumah gadis itu, Benki kembali memikirkan semua ini, berharap kalau keputusan yang ia ambil tidak salah.


Sesampainya disana, Benki menatap sejenak rumah Tiara yang pernah ia kira milik Aulia. Cowok itu mulai melangkah memasuki rumah.


Tiara dan Orang tuanya sedang menikmati teh sambil mengobrol saat pembantunya mempersilahkan Benki masuk. Cowok itu berjalan menuju tempat ketiga orang itu sedang duduk santai, bisa Benki lihat ketiganya menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut apalagi sandal jepit yang ia gunakan membuatnya terlihat seperti gembel.


"Akhirnya datang juga !" Tiara beranjak hendak menghampiri Benki namun cowok itu memberikan aba-aba dengan tangannya agar Tiara tetap duduk ditempatnya.


Semua yang ada disana bingung melihat tingkah dan ekspresi wajah Benki yang tak terbaca.


"Silahkan duduk Ki !" Ucap papa Tiara.


Benki duduk dengan gelisah, sesekali ia menatapi 3 orang didepannya bergantian seraya menarik nafas.


"Maaf, om Tante dan Tiara. Maksud kedatangan saya kali ini bermaksud untuk membatalkan perjodohan kami !" Benki to the point membuat 3 orang didepannya terkejut. Terutama Tiara, yang tidak percaya dengan pendengarannya.


"Ki, kenapa tiba-tiba ? acaranya 2 hari lagi lho ?" Sang mama panik.


"Maaf om, Tante. Saya benar-benar tidak bisa melanjutkan ini karena saya tidak mencintai Tiara !"


"Lalu siapa yang kamu cintai ?" Bentak Tiara keras membuat semua mata menoleh kepadanya.


Benki sekejap menatap tajam pada gadis itu yang balas menatap garang padanya.


"Sekali lagi saya minta maaf om, Tante. Saya tidak bisa tunangan ataupun menikah dengan Tiara karena saya mencintai orang lain. Saya hanya bisa menganggap dia adik !"


"Tapi Ki, kamu dan Tiara kan bisa saling mengenal dulu toh kalian juga belum menikah mungkin kalian nantinya bisa saling mencintai !" Mama Tiara berusaha memberi pengertian, ia tidak ingin batal jadi mertua konglomerat.


"Maaf Tante, saya tidak bisa. Kemarin saya sudah berusaha mencintai Tiara tapi tidak bisa jadi maaf, saya tidak mau melanjutkan pertunangan ini !"


Semuanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Kalau begitu saya permisi, saya harap ini tidak mempengaruhi hubungan baik keluarga kita !" Setelah mengucapkan itu Benki bangkit dan hendak berlalu keluar.


"Apa karena Aulia ? Dia kan yang kamu cintai ?" Ucapan Tiara membuat Benki menoleh kearahnya.


"Kenapa kamu gak bisa lupakan dia ? Aku lebih baik daripada dia !" Teriak Tiara frustasi.


"Kamu tidak lebih baik darinya !" Benki balas membentak dan mulai berlalu.


"Apa kurangnya aku ? Apa yang dia punya dan aku tidak ? Aku punya segalanya dan bisa jadi apapun seperti yang kamu mau !" Lirih Tiara hampir menangis membuat Benki menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis itu lama.


"Andai waktu itu kamu yang datang bukan Aulia, andai saja kamu tidak menyuruh dia menggantikan kamu, mungkin semua tidak seperti ini. Mungkin sekarang kamulah yang aku cintai, tapi kenyataannya, Aulia yang datang, dia yang aku kenal sebagai Tiara, kami menghabiskan waktu bersama sampai aku larut mencintai dia. Apa sekarang kamu mengerti ?" Tekan Benki.


"Jadi maaf, untukku cinta tidak bisa datang dengan mudah karena aku sulit ditaklukkan tapi Aulia, dia berhasil. Dia berhasil buat aku cinta sama dia !" Tambah Benki.


"Dan kamu, tidak akan bisa menggeser dia dengan mudah dari hatiku meski kamu lebih cantik darinya, tolong ingat itu baik-baik. Maaf !" Benki menatap nyalang pada Tiara yang mulai berkaca-kaca.


"Om, Tante. Sekali lagi maaf. Saya permisi !" Benki langsung bergegas keluar meninggalkan Tiara yang mulai menangis tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia tidak mungkin lagi bisa memiliki Benki.

__ADS_1


Benki memasuki mobilnya, ia merogoh kantong celananya meraih cincin couplenya dan memakainya. Ia tersenyum menatap benda yang melingkar dijarinya itu dan bergegas pergi dari disana.


__ADS_2