Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 068


__ADS_3

Rahang Bryan mengeras saat benda pipih itu menempel di telinganya, laporan Jerry membuat darahnya mendidih. Memutuskan sambungan telepon, Bryan mengacak rambutnya kasar. Pandangannya memandang liar pemandagan luar yang tidak bisa ia nikmati.


Belum selesai urusan hatinya disini, kini ia akan menghadapi masalah yang baru. Tanpa banyak pikir lagi ia segera melesat keluar dari kamar hotelnya.


Kini ia telah berada didepan perusahaan Cleo, ia memarkir mobilnya sedemikian rupa dan keluar menunggu Cleo. Cukup lama menunggu saat dilihatnya wanita itu yang terlihat lelah dengan wajah sedikit pucat.


Bryan bergerak cepat mendekati Cleo tanpa wanita itu sadari dan saat Cleo memasuki mobilnya, secepat kilat Bryan pun ikut masuk ke kursi penumpang membuat Cleo memekik kaget.


Bryan berusaha memeluk wanita itu meski Cleo menolak namun berhasil juga ia memeluk wanita itu lagi.


"Maaf Cle, maaf banget. Aku nyesal pernah nyakitin kamu. Aku sadar kalau kamu berarti buat kamu !" Bryan menikmati aroma tubuh Cleo yang menenangkan.


Cukup lama berpelukan hingga Bryan melepaskan pelukannya.


"Bisa kita pergi dari sini ?"


"Kemana ?"


"Pantai !"


Bryan tersenyum menatap Cleo yang menurut padanya.


Setelah sampai, panas terik matahari menyengat permukaan laut menyambut keduanya. Bryan segera menghampiri dahan pohon yang tergeletak dibawah pohon rindang, duduk disana dan menatap ombak-ombak kecil disiang yang terik ini.


Bryan membaringkan kepalanya dibahu Cleo saat wanita itu ikut duduk disampingnya dan keduanya terlibat obrolan serius.


"Aku sadar aku mencintaimu Cle. Apa kita tidak memulai lagi Cle ? Apa kamu sudah lupain aku ?" Tanya Bryan penuh harap seraya menatap manik mata Cleo.


Pria itu sadar, mimik wajah dan bahasa tubuh Cleo memperlihatkan bahwa wanita itu gamang, yang Bryan artikan kemungkinan Cleo masih mencintainya walau terbagi untuk pria lain. Wanita itu gelisah dan pikirannya menerawang jauh.


Konsentrasi keduanya buyar saat Hp Cleo berdering memunculkan nama Rizky membuat Bryan mendengus jengkel. Segera direbut benda itu dari tangan Cleo dan mereject panggilan itu dan menonaktifkan Hp Cleo membuat wanita itu menganga.


"Aku gak mau ada yang ganggu kita !" Bryan tidak peduli dengan ekspresi wajah Cleo dan kembali merebahkan kepalanya dibahu wanita itu.


"Apa kamu masih marah padaku ?" Tanya Cleo setelah sekian lama membisu dan kini ganti Bryan yang membisu mendengar pertanyaan itu. Ia menatap deburan ombak yang bersahutan memecah keheningan di siang terik itu.


Bryan mulai mengeluarkan isi hatinya tentang rasa bersalahnya dimana ia hampir mencelakai orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang yang justru banyak membantu keluarganya dan bahkan mempermainkan perasaan seorang wanita demi balas dendamnya namun justru ia jatuh ke perangkapnya sendiri yaitu ia benar-benar jatuh cinta pada Cleo.


"Kembalilah padaku Cle. Aku janji akan jadi pria terbaik untukmu !" Bryan menatap lekat wanita yang menatap kosong padanya, pikiran Cleo menerawang jauh dan berusaha untuk tidak menangis.


"Kamu bisa menjawabnya saat aku sudah kembali kesini ?" Bryan memberi solusi, menyadari kegelisahan wanita didepannya.


"Memang kamu mau kemana ?"


"Aku akan balik ke negara P dan setelah itu balik lagi kesini dan saat itu tiba aku bisa dengar jawabanmu !"


Bryan menatap Cleo yang kembali terdiam dengan pikiran kalut.

__ADS_1


"Ayo pulang !" Bryan meraih tangan Cleo menuntun wanita itu berdiri dan menggandeng tangannya menuju mobil.


Bryan minta berhenti didepan sebuah mall, Cleo terus menanyakan alamatnya namun Bryan enggan memberitahu dan sebelum wanita itu kembali membuka mulut, Bryan dengan cepat mencium bibir Cleo.


Bisa dia rasakan tubuh itu membeku, Bryan memejamkan mata menikmati tautan itu dan melepasnya. Raut wajah terkejut Cleo membuatnya tersenyum geli. Membelai lembut pipi didepannya dan segera keluar dari mobil.


Bryan segera hilang dibalik kerumunan orang-orang yang berjalan tapi ia bersembunyi dibalik tembok bangunan dan mengintip mobil Cleo yang belum berjalan. Bryan tersenyum, ia yakin Cleo masih mencintainya dan ia bertekad akan berusaha meraih Cleo kembali.


****


Ditempat lain.


Hubungan Aulia dengan Benki semakin mesra meski hanya lewat komunikasi Hp. Benki selalu mengirim pesan pada gadis itu kapanpun dia mau, berbeda dengan Aulia yang harus curi-curi waktu ditengah kesibukannya untuk membalas pesan itu.


Akhirnya waktu makan siang dimana Aulia bisa leluasa membalas chat dari Benki. Dia terlihat senyum, tertawa atau melongo kemudian tertawa lagi membuat yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


Benki : Ntar malam ke rumah aku lagi yuk. 3 bocah itu kangen sama kamu. Keluargaku juga kangen sama kamu.


Senyum Aulia memudar seketika, ia menatap lama pesan Benki itu. Rasa khawatir hinggap dalam dirinya, sepertinya ia mulai menyadari kalau ia sudah cukup terlena dengan Benki dan harus segera menyudahi semua sebelum ketahuan. Tapi belum juga ia mengetik saat pesan Benki datang lagi.


Benki : Jangan nolak, itu bocah-bocah merengek mau ketemu Tante Tiara. Mau main sama Tante Tiara. Datang ya, pleaseee.


Aulia menghela nafas panjang. Hatinya luluh jika berurusan dengan bocah-bocah lucu itu.


Aulia : Oke kak.


Aulia : Baiklah kak.


Aulia meletakkan Hp-nya dan mulai menikmati makan siangnya dengan tatapan horor membuat teman-teman yang semeja dengannya menatap bingung.


"Eh, kunyuk. Makan itu dinikmati !" Semprot Irma membuat tatapan horor Aulia berpindah kepadanya.


"Kamu kayak lagi ngutuk itu makanan dengan matamu !" Ucap Isa.


"Makanannya enak !" Ucap Aulia membuat yang lain saling menatap bingung.


"Memang enak !"


Malam hari, Aulia sudah stand by didepan pagar rumah Tiara dengan penampilan kasualnya, kaos biru longgar dan jeans biru serta rambut ekor kuda. Tak lama, mobil Benki terlihat mendekat. Cowok itu keluar mobil dengan senyum khasnya membuat Aulia sempat terpana dengan makhluk Tuhan yang paling seksi didepannya ini. Benki memakai pakaian santai, kaos putih dan celana pendek selutut hitam tapi meski begitu, Benki tetap terlihat mempesona.


"Kamu kok ada diluar, padahal aku mau ijin sama orang tua kamu lho !" Ucap Benki.


"Eum, aku udah ijin kok kak dan mereka selalu mengijinkan jika kakak yang ngajak keluar. Jadi gak perlu ijin lagi !"


"Hah ? bisa begitu ya ?" Benki bertanya bodoh. Ia mengerutkan alis mendengar jawaban Aulia.


"Iya kak, nih buktinya aku udah siap dari tadi. Tenang, mama sama papa mengijinkan kok !" Aulia meyakinkan meski jantungnya berdebar gugup.

__ADS_1


"Oh, begitu. Oke deh. Silahkan tuan putri !" Benki membuka pintu mobil untuk Aulia.


Aulia menuju kursi penumpang seraya celingak-celinguk kesana-kemari berharap tidak ada yang melihatnya, ia bersyukur satpam Tiara tidak terlihat jadi aman.


'Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba yang telah berbohong !' Doa Aulia dalam hati.


Selama perjalanan menuju rumah Benki, keduanya mengobrol ringan. Kadang tertawa kadang Aulia memukul pelan lengan Benki jika cowok itu bicara aneh hingga mereka sampai. Benki segera turun dari mobil dan memutari mobil.


"Ayo silahkan tuan putri !" Benki membungkuk selayaknya pangeran.


"Terima kasih pangeran, kau membuatku tersanjung !" Aulia menimpali kelakar Benki.


Keduanya tertawa bersama dan saat mulai melangkah, Benki meraih tangan Aulia dan menggandengnya masuk. Aulia terdiam seketika, menatap tangannya yang digenggam Benki kemudian menatap wajah cowok itu yang hanya tersenyum tanpa memperdulikan tatapannya.


"Tante tiaraaaaa !" Ali dan Andi berlari memeluk Aulia yang baru muncul di pintu.


"Oh, kangen ya sama Tante ?" Aulia berjongkok menyamakan tinggi mereka dan balas memeluk 2 bocah itu.


"Iya !" Jawab keduanya bersamaan.


"Tante, gendong !" Andi memutari tubuh Aulia dan mulai bergelayut di lehernya, berusaha naik ke punggung. Aulia segera menggendong Andi dipunggungnya.


"Ayo Ali kejar !" Aulia berdiri dan mulai berlari mengitari ruang tamu dimana Ali mengejarnya sedangkan Andi menjerit-jerit senang melihat kakaknya mengejarnya.


Suara ribut itu membuat Tasya keluar sambil menggendong Arka, saat melihat Tiara, bocah yang belum lancar berjalan itu segera mengulurkan tangan dengan Omelan tidak jelas. Ia sepertinya tidak terima hanya kakak-kakaknya yang diajak bermain.


Melihat itu, Aulia menurunkan Andi dan meraih Arka dari gendongan Tasya.


"Gantian dulu sama adek ya !" Andi hanya mengangguk.


Aulia pun segera berlari lagi dan ganti Arka berteriak-teriak senang melihat kedua kakaknya mengejarnya yang juga ingin gantian digendong. Mereka memutari sofa beberapa kali hingga Ali merengek minta gantian, Ia juga ingin digendong.


Saat Aulia ingin menyerahkan Arka pada Tasya, tapi bocah itu tidak mau dan terus memegang baju Aulia erat tanda ia masih ingin bermain namun kedua bocah lainnya masih terus merengek untuk gantian membuat Lala pusing.


Melihat itu, Benki yang sejak tadi duduk di sofa menonton kini beranjak dan mengambil alih Arka dengan cepat membuat bocah itu berteriak tidak terima.


"Gantian ya, gantian dulu sama kakak !" Aulia mencoba memberi pengertian namun bocah itu ngotot tidak mau dan meronta-ronta dipelukan Benki.


"Udah, kamu gendong Ali nanti aku ikut ngejar !" Benki memberi solusi yang diangguki Aulia.


Aulia mulai menggendong Ali dan mulai berlari mengitari ruang tamu dan dikejar oleh Andi juga Benki dimana sekarang Arka kembali berteriak histeris mengejar sang kakak. Kini ruang tamu penuh dengan teriakan histeris bocah-bocah ditambah 2 orang dewasa. Jika Benki berpura-pura akan menggapai Ali digendongan Lala maka bocah itu akan berteriak kencang dan memeluk leher Aulia dengan erat membuat Aulia sesak.


Kedua orang tua Benki yang melihat pemandangan itu dari lantai 2 menahan tawa, sungguh terhibur melihat semangat ketiga cucunya. Mereka menatap Benki begitu dalam, tampak mimik wajah anaknya begitu terlihat bahagia.


Bocah-bocah itu bergantian digendong Aulia, mengejar dan dikejar dengan semangat 45 dan tanpa lelah diiringi teriakan dan pekikan yang seolah mampu meledakkan ruang tamu itu.


Suasana itu seketika membuat Aulia seakan lupa atau memang ia lupa, bahwa tujuannya untuk membatalkan perjodohan Tiara, bukan malah masuk ke keluarga Benki dan membiarkan mereka mengenal orang yang salah, Aulia begitu terlena hingga ia lupa pintu dimana ia masuk dan mungkin ia tidak akan tahu dimana pintu keluar berada.

__ADS_1


__ADS_2