Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 106


__ADS_3

Jerry mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyesuaikan silau lampu, keping-keping ingatannya perlahan kembali dan...


"KAKAKKKKKKKKKKKKK !" Teriaknya histeris, dokter dan suster yang berada diruangan itu sontak terperanjat kaget begitu juga Bryan, ia langsung melotot mendengar teriakan Jerry.


Jerry beranjak duduk dan menatap liar sekitar ruangan dan melihat Bryan yang dikelilingi oleh dokter dan suster yang memeriksa keadaannya.


Jerry segera menghampiri kakaknya.


"Bagaimana keadaanya ?" Cecar Bryan pada dokter.


"Kami sudah melakukan berbagai tes. Keadaannya baik-baik saja !" Ucap sang dokter membuat Jerry bernafas lega.


"Lalu ? Kemana perginya ketiga penjahat itu ?" Tanya Jerry.


"Dia sudah ditangkap pihak kepolisian !" Jawab seorang suster cantik.


"Oh ya, terima kasih !"


Jerry menoleh kearah kakaknya, menatap lekat Bryan yang nampak tidak berdaya disana. Melihat kondisinya itu, pikiran Jerry berputar, mencari cara bagaimana baiknya mengatasi keadaan ini. Nampaknya mereka berdua tidak aman untuk tetap berada di negara ini, karena Perdana Menteri itu pasti akan selalu mengincar mereka.


Sebuah ide muncul dikepalanya. Setelah semua petugas medis itu keluar dari kamar itu, Jerry mendekati Bryan.


"Aku akan pindahkan perawatan kakak ke Indonesia. Lebih cepat kita pergi lebih baik !"


Bryan yang mendengar itu awalnya terkejut lalu kemudian mengangguk.


"Perdana Menteri itu kebal hukum, ia dengan mudah lepas dari tuntutan !" Lirih Bryan.


"Oh ya, bagaimana bisa ?"


"Kemarin pria yang tidak memakai topi itu menceritakan semua padaku karena dia pikir akan berhasil membunuhku. Perdana Menteri sekarang berada di sel mewah karena dengan kedudukannya sekarang ia mampu memanipulasi keadaan jadinya ia bebas dari jeratan hukum !"


"Hmmm, sepertinya kemarin kita tidak membabatnya hingga ke akar jadinya seperti ini dan lagi dia berhasil menemukan kita itu artinya kita masih tidak bisa merasakan aman !" Jerry geram.


"Aku yakin, 3 penjahat itu pasti dengan mudah bebas dengan bantuan Perdana Menteri itu !" Bryan.


"Itu betul dan mungkin akan ada penjahat selanjutnya yang mendatangi kita dimanapun kita sembunyi !"


"Secepatnya kita pulang ke Indonesia, aku akan cari pesawat jet yang bisa disewa !" Tambah Jerry.


Kemudian cowok itu, membuka laptopnya dan fokus melihat semua yang tampil dilayar. Kadang kening Jerry berkerut, kadang cowok itu mengadah keatas sambil berpikir.


*****


Suasana kediaman Benki cukup ramai, acara ulang tahun Melati diadakan amat sederhana karena permintaan gadis itu sendiri jadi hanya mengundang keluarga juga sahabatnya.


Keluarga Tiara juga tak luput kehadirannya yang disambut hangat. Tiara pun terlihat sangat cantik, senyum manis tidak luput dari bibirnya apalagi saat menatap Benki yang meskipun murung namun tetap terlihat tampan.


Acara dimulai dengan meriah, Melati terlihat sangat senang. Meski sederhana namun ia dibanjiri dengan kado yang banyak juga doa harapan untuknya dari keluarga dan teman-temannya.


Keluarga Benki dan Tiara mengambil tempat sendiri sedikit menjauh dari Melati yang sedang mengobrol seru dengan teman-temannya dalam pengawasan Fajar yang menatap kerumunan yang mayoritas diisi gadis-gadis cantik itu.


Setelah berbasa-basi sejenak, dua keluarga mulai memasuki pembicaraan inti.


"Jadi jeng, mungkin lebih baik jika pertunangan anak-anak kita segera dilakukan dan kalau mereka sudah siap nanti baru kita nikahkan !" Ucap Rasti, mama Tiara.

__ADS_1


Mama Benki tertegun lalu menatap suami dan anaknya bergantian.


"Saya sih bagaimana bagusnya jeng, kalau memang itu bagus untuk anak-anak kita ya saya pasti setuju !" Jawab Tante Della, mama Benki.


"Jadi kapan baiknya kita mengadakan cara pertunangan anak-anak kita ?" Tanya tuan John, papa Tiara.


"Saya sih terserah kalian karena bagaimanapun ini menyesuaikan pekerjaan Tiara yang sangat sibuk, kalau Benki bisa diatur !" Jawab tuan Andi, papa Benki.


Orang tua Tiara saling pandang sambil berbisik-bisik.


"Bagaimana kalau Minggu depan aja !" Saran Tante Rasti.


"Hah ? Minggu depan ?" Orang tua Benki memekik bersamaan.


"Eh, kenapa ? ada masalah jeng ?" Tante Rasti terkejut melihat reaksi keduanya.


"Oh bukan begitu jeng, apa tidak terlalu cepat ?" Tanya Tante Della.


"Bukannya lebih cepat lebih baik ya !" Tante Rasti menatap pasangan itu bergantian.


Mama Benki melirik anaknya yang sejak tadi hanya diam menatap lantai tak bereaksi apapun pada pembicaraan didekatnya. Sang mama menghela nafas melihat mimik Benki.


"Baiklah jeng, kami setuju. Apapun yang baik pasti kami setuju !" Ucap Tante Della seraya melirik suaminya yang tersenyum namun tak bisa diartikan.


Kemudian ditentukanlah tanggal, tempat akan dilangsungkannya acara serta jumlah undangan yang akan dihadiri sahabat dan keluarga terdekat saja mengingat acara sepakat diadakan sederhana saja dan pesta baru akan diadakan besar-besaran saat keduanya menikah nanti


Tiara sangat senang, akhirnya sebentar lagi ia akan menikah dengan Benki. Gadis itu melirik kearah Benki yang sejak tadi mematung tidak bereaksi. Tiara tersenyum, ia sudah membayangkan hal-hal apa saja yang akan dia lakukan jika sudah menyandang status nyonya Benki.


'Aku akan buat kamu bertekuk lutut padaku !' Batin Tiara.


Tak lama 2 keponakan Benki datang mendekat.


"Mau main gendong-gendong !" Sahut Andi.


Benki terdiam tidak menjawab, hanya menatap 2 bocah polos itu yang masih menanti jawaban darinya. Tak hanya Benki, mama dan papa pun hanya diam mendengar pertanyaan 2 bocah itu. Kedua bocah itu melirik sekilas pada Tiara yang menatap datar pada mereka.


Tadinya mereka sangat senang saat orang tua mereka mengajaknya ke rumah opa dan Oma karena pasti ketemu Tante Tiala kesayangan mereka namun sejak tadi celingak-celinguk mencari sosok itu tapi tidak terlihat sama sekali.


Tasya yang mendengar pertanyaan itu seketika menghampiri kedua anaknya dan membawanya menjauh dari sana.


*****


Keesokan harinya, rasanya Benki malas bankit dari posisi tidurnya. Meski sudah bangun awal namun ia bermalas-malasan ditempat tidurnya. Saat ia menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran menerawang, lagi-lagi Aulia datang sesuka hati ke pikirannya, saat gadis itu tersenyum, tertawa atau memeluknya benar-benar menguasai pikirannya sekarang.


Sejam kemudian barulah Benki bersiap ke kantor. Matanya terarah pada paperbag yang ia beli kemarin. Setelah berpikir panjang ia meraih paperbag itu ikut bersamanya.


Benki tiba disambut Fajar yang kemudian mengikuti sang bos ke ruangannya dengan setumpuk dokumen.


"Ini yang harus tuan tanda tangani !" Ucap Fajar seraya meletakkan setumpuk dokumen itu didepan Benki.


"Duduklah !" Perintah Benki yang langsung dituruti Fajar.


Keheningan melanda ruangan itu, hanya suara lembar kertas yang dibalik memenuhi pendengaran keduanya.


"Anda yakin seminggu lagi bertunangan ?" Tanya Fajar tiba-tiba membuat kegiatan Benki terhenti dan menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Anda yakin move on dari Tiara palsu dan memutuskan untuk menerima dan mengenal Tiara asli lebih dalam ?"


"Aku tidak tahu !" Benki menatap langit-langit ruangannya.


"Anda mencintai Aulia ?"


"Bisa melupakan dia ?"


Benki terdiam mendengar semua pertanyaan itu.


"Kalau cinta, jangan lepaskan dia. Kalau cinta pertahankan dia. Saya khawatir anda mencintai yang ini tapi tunangan dengan wanita lain. Anda hanya akan menyesal dan akan galau sepanjang waktu !" Oceh Fajar.


Sudut bibir Benki terangkat seraya menatap remeh pada Fajar.


"Wow, nasehat dari seorang pria mata keranjang, hahahaha !" Benki tertawa membuat Fajar menatap sebal padanya.


"Aku sangat penasaran, gadis sepeti apa yang bisa menaklukkan playboy sepertimu !" Tantang Benki.


"Seseorang dimana saat dia tersenyum bisa membuatku terpesona !" Jawab Fajar.


Benki geleng-geleng kepala mendengar itu, pikirnya Fajar ini korban sinetron.


"Tiara eh Aulia, kalau dibandingkan dengan Tiara memang beda jauh meski sama-sama cantik tapi Aulia tidak semodis Tiara tapi dia baik, pengertian dan pintar masak. Dia juga sopan terus kalau tersenyum, dia semakin manis !" Mata Fajar menerawang membuat Benki memicingkan mata kearahnya.


"Apa itu artinya kau jatuh cinta padanya ?" Tanya Benki tajam, tatapan matanya seolah menghunus jantung Fajar.


"Tentu saja tidak, hanya saja dia mengagumkan, anda beruntung jika dia menjadi istri anda !" Fajar menyadari tatapan bahaya Benki.


"Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana !" Ucap Benki membuat Fajar menghela nafas kasar.


"Terserah, pikirkan semuanya baik-baik sebelum terlambat !"


"Hanya ada 2 pilihan : maafkan atau lepaskan !"


*****


Aulia baru saja selesai merapikan sebuah kamar saat bagian resepsionis meneleponnya dan mengatakan paketnya telah datang. Keningnya berkerut dan bertanya-tanya, paket apa yang datang. Perasaan ia tidak memesan online apapun.


Saat menuju meja resepsionis bisa Aulia lihat seorang ojol berdiri disana seraya menatap Hp-nya. Sang resepsionis pun memberi kode bahwa memang ojol itu yang membawa pesanannya.


"Iya pak, saya Aulia !" Ucap Aulia saat berada didepan pria tua itu.


"Oh, Ini ada kiriman untuk anda !" Ucap pak tua itu sopan.


"Dari siapa ya pak ?"


"Saya juga tidak tau nak, maaf. Oh ya, saya mau foto ya !" Ojol itu mulai mengarahkan lensa kameranya menghadap Aulia.


"Oke, kalau begitu saya permisi !" Dengan cepat ojol itu pergi dari sana.


Aulia menatap bingung paperbag yang tertutup rapat itu dan memutuskan menyimpannya di loker saja dan melanjutkan pekerjaannya.


Barulah saat sudah berada dirumahnya, Aulia membuka paperbag yang sejak tadi pagi membuatnya penasaran. Aulia terbelalak kaget saat melihat gaun peach itu, sangat cantik dan indah dan mungkin mahal.


Aulia menangis seraya memeluk gaun itu penuh haru, ia sangat yakin jika ini adalah pemberian Benki. Apa ini artinya Benki masih peduli padanya ? Apa Benki sudah memaafkannya ?

__ADS_1


Aulia mulai melepas pakaiannya dan mengenakan gaun itu kemudian menuju cermin lemari dan memperhatikan pantulan dirinya. Sangat cantik, gaun itu terasa lembut ditubuhnya dan membuatnya tak bosan menatap cermin.


"Terima kasih kak !" Ucap Aulia seraya menatap bahagia gaun itu.


__ADS_2