
Rizky fokus menatap layar laptopnya saat HP-nya berdering.
"Halo !"
"Bos, saya berhasil menemukan mobil mencurigakan yang mengikuti mobil kalian saat hari dimana pabrik terbakar !" Ucap seorang detektif yang kemudian membuat mata Rizky menajam.
"Lalu !"
"Setelah memeriksa cctv sekitar dan menemukan itu saya segera mencari tahu mobil siapa itu saat mendapatkan nomor mobilnya dan mobil itu tercatat atas nama Edi Gunawan !"
Tanpa sadar Rizky beranjak dari duduknya dengan mata melotot.
"Edi Gunawan ?" Tanyanya mengulang.
"Betul, bisa saya pastikan dia yang mengikuti mobil bos hingga pabrik dan kemungkinan besar adalah orang yang membakar pabrik anda !"
Rizky tidak menyangka mendengar itu, ia bahkan sudah melupakan pria serakah itu dan sekarang dia muncul dengan membuat kekacauan. Tangan Rizky mengepal emosi.
"Baik, terima kasih. Cari sampai ketemu dimana Edi sekarang berada !"
"Baik bos !"
Rizky memutuskan sambungan telepon dengan dada naik turun menahan emosi, matanya terpejam berusaha menetralkan amarah di hatinya.
Rizky memasuki ruangan Evan dan menatap keluar jendela menatap pemandangan luar berpikir apa yang harus ia lakukan pada pria sialan itu.
Hp Rizky berdering lagi, kali ini telepon dari detektif lain.
"Halo !"
"Maaf bos, tapi kami tidak menemukan siapapun ditempat yang bos katakan. Sepertinya mereka sudah kabur karena kami hanya menemukan beberapa pecahan kaca, tongkat bisbol dan juga tetesan darah di tanah !" Lapornya.
Mendengar itu, Rizky berdecak kesal. Dia kalah selangkah dimana para penjahat itu berhasil kabur.
"Dan juga nomor hp yang ada berikan adalah milik seseorang bernama Madi Sahputra, seorang pekerja proyek dan menurut daftar teleponnya, dia rutin berhubungan dengan seseorang bernama Edi dan juga dengan beberapa pria lainnya yang kemungkinan besar adalah para penjahat itu. Kemungkinan para penjahat itu adalah suruhan dari Madi, jadi Edi dan Madi bekerjasama untuk menyerang anda !" Tambah sang detektif.
"Sekarang para penjahat itu bisa kabur kemungkinan besar pergi bertemu Madi dan Edi !"
Rizky tak tahu harus berkata apa, ia benar-benar tidak kepikiran hal ini. Pria serakah itu benar-benar cari masalah dengannya dan Evan.
"Kalau begitu, mulai sekarang temukan keberadaan Edi. Jika kamu berhasil membawanya padaku maka aku akan memberi bonus 5 kali lipat !"
"Baik bos !" Balas sang detektif tegas, ia amat senang mendengar ucapan Rizky yang membuatnya antusias.
Rizky memutus sambungan telepon, ia benar-benar suka pada detektif satu ini melihat cara kerjanya yang lumayan cepat dan cekatan. Berharap detektif bisa memberikannya titik terang.
Rizky kembali berpikir apa kehadiran Edi ini akan mengancam keluarga Evan tapi sampai sekarang semua baik-baik saja, Edi sepertinya hanya mengincar Evan membuat Rizky berpikir ekstra keras apa yang harus ia lakukan sebelum kembali mendapat serangan dari pria serakah itu.
*****
Rizky tersenyum kearah Cleo yang terlihat keluar dari kantornya. Siang itu, Cleo terlihat cantik membuat Rizky tersenyum.
"Silahkan nona !" Ucap Rizky membukakan pintu mobil untuk Cleo yang membuat wanita itu memukul lengan Rizky kemudian memasuki mobil.
Mobil berlalu pergi dengan diiringi tatapan datar papa Cleo yang melihat keduanya dari kaca ruangannya, membuatnya menghela nafas melihat keadaan ini. Mobil menuju sebuah restoran Jepang, memilih private room dengan model lesehan. Setelah memesan makanan, Rizky merebahkan tubuhnya menjadikan paha Cleo sebagai bantal membuat wanita itu gugup.
"Kamu kenapa Ky ?" Tanya Cleo saat cowok itu memejamkan matanya, tangan Cleo terulur membelai lembut rambutnya.
Rizky terdiam sejenak menikmati belaian tangan Cleo yang hampir membuatnya tertidur.
"Cle, Lala masuk rumah sakit !" Ucap Rizky membuat Cleo terkejut.
"Eh, dia kenapa ?"
"Kemarin mobil kami hampir dibegal tapi aku dan bos bisa melawan nah ada salah satu penjahat yang mencoba mencelakai bos tapi Lala langsung pasang badan gitu lindungin bos jadinya Lala yang masuk rumah sakit !"
__ADS_1
"Kayak adegan film-film, peran utama wanita mengorbankan diri untuk peran utama pria !" Rizky terkekeh.
"Kamu baik-baik aja. Ada yang luka ?" Tanya Cleo menelisik tubuh Rizky.
"Aku baik-baik aja, justru kasihan para penjahat itu ketemu dengan aku yang hebat ini !" Rizky terkekeh.
"Memang dibegal dimana ?"
"Agak jauh dari pabrik dan pas ditempat sepi. Kamu tahu, waktu bos lagi pukulin salah satu ada satu orang yang mau pukul bos dari belakang dan langsung Lala lari trus peluk bos dari belakang. Ya udah, Lala pingsan !"
"Bagaimana keadaannya sekarang ?"
"Sudah dioperasi dan masih belum sadar. Ada bos yang jagain !"
Cleo yang mendengar itu terdiam, jika saja dia yang berada di posisi Lala apa dia mau mengorbankan diri untuk Evan ? Dan dia yakin ia mungkin hanya akan meringkuk ketakutan daripada mengorbankan diri untuk Evan. Cleo menghela nafas, memikirkan jika keputusan untuk mengakhiri rumah tangganya memang sudah tepat merelakan Evan bersama orang yang benar-benar mencintainya.
"Kamu kenapa diam Cle ?" Ucap Rizky menyadarkan Cleo dari lamunannya.
"Kalau seumpama aku yang ada diposisi Lala dan kamu ada diposisi Evan, mungkin aku hanya meringkuk ketakutan tidak berani menolongmu !" Cleo membelai rahang Rizky membuat cowok itu bangun dari rebahannya.
Rizky menatap dalam manik mata Cleo, tersenyum seraya meraih tangan Cleo.
"Tidak masalah, biar aku yang pasang badan untuk menolongmu, selama kamu baik-baik aja, aku rela kena pukul !" Ganti Rizky membelai lembut pipi Cleo.
Mendengar itu Cleo jadi tertegun kemudian rasa haru singgah di hatinya, dengan cepat meraih wajah Rizky dan menciumnya. Rizky yang awalnya terkejut pun kini terpejam menikmati apa yang mereka lakukan hingga sebuah suara orang yang hendak memasuki ruangan membuat keduanya dengan cepat melepaskan tautan mereka dengan wajah memerah.
Tangan keduanya saling menggenggam dengan wajah malu dan mulai menikmati makanan yang telah tersedia dengan senyum yang tersungging dibibir Rizky.
*****
Evan masih setia duduk disamping ranjang Lala, baru saja suster datang mengganti botol infus. Evan meraih tangan yang tertusuk jarum infus itu dan membelainya lembut.
Perlahan Lala membuka matanya dan berusaha menormalkan penglihatannya yang terasa silau kemudian menelisik ruangan yang asing baginya.
"La, kamu sudah sadar !" Suara Evan membuatnya langsung menoleh.
Evan segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Lala.
Setelah diperiksa dan mengatakan keadaan Lala jauh lebih baik dan masih perlu dirawat inap beberapa hari lagi hingga dia benar-benar fit untuk meninggalkan rumah sakit.
"Mau minum ?" Tawar Evan membuat Lala mengangguk. Membantu Lala untuk berbaring setengah duduk yang terlihat menahan sakit pada punggungnya, Evan membantu Lala minum.
"Kamu makan ya. Ini makanan kamu sudah datang !" Lala hanya mengangguk.
"Saya bisa sendiri bos !" Lala sudah mengangkat tangannya hendak meraih mangkuk dari tangan Evan saat punggungnya terasa nyut-nyut.
"Sudah biar aku suap !" Ucap Evan melihat mimik nyeri Lala.
Evan menyuapi Lala perlahan yang diterima gadis itu malu, mengunyah makanannya menunduk tanpa menatap wajah Evan. Saat itulah matanya menatap tangan kanannya terlihat cincin hitamnya di jari manisnya membuat Lala tertegun dan melirik ke jari Evan dimana pria itu juga mengenakan di jari yang sama.
Lala jadi salah tingkah melihat itu, ia jadi menyesal. Seharusnya ia menyimpan kedua cincin itu di kotak beludrunya bukan malah menjadikannya bandul kalung. Evan yang menangkap pandangan Lala itu kini menelisik ekspresi Lala setelah melihat 2 cincin itu.
Saat suapan keempat, Lala menggeleng dan meminta air minum.
"Kamu makannya sedikit banget La, tambah lagi ya !" Tawar Evan.
"Sudah kenyang !" Lala menggeleng.
"Atau mau makan yang lain, biar aku pesan dari luar !" Evan masih menawarkan dan Lala tetap menggeleng.
"Nanti aja, sekarang masih kenyang !" Ucap Lala masih menunduk tidak berani menatap Evan.
"Ya udah, ini obatnya diminum !" Evan menyodorkan obat pada Lala beserta air putih yang langsung diterima gadis itu.
Suasana hening dengan keduanya yang terdiam dengan saling lirik.
__ADS_1
"Terima kasih !" Evan memecah kesunyian.
"Untuk !"
"Melindungiku !" Ucapan Evan membuat Lala salah tingkah.
"Sama-sama !" Jawabnya singkat.
Suasana kembali hening.
"La, aku minta maaf. Maaf dulu aku sempat kasar padamu !" Ucap Evan membuat Lala menatapnya seraya mengerutkan kening.
"Dulu kapan ?" Tanyanya bingung.
"Pertemuan terakhir kita !" Ucap Evan.
Ingatan Lala, tertuju saat Evan menciumnya dengan paksa serta hampir menjamahnya diakhiri dengan amarah Evan hingga keputusan Lala untuk mengundurkan diri, membuat wajah gadis itu seketika memerah.
"Sudahlah, tolong lupakan itu !" Ucap Lala tanpa menatap Evan yang terlihat sudut bibirnya terangkat.
"Aku menyesal tidak menuntaskan itu !" Perkataan Evan itu seketika membuat Lala menoleh kearahnya dan menatapnya ngeri.
"Maksudnya ?" Sentak Lala masih melotot ngeri.
"Ya mungkin setelah itu, kita bisa menikah dan hidup bahagia selamanya !"
"Sinting !" Umpat Lala nyaring.
"Benar, aku sinting karenamu !" Ucap Evan dengan tatapan anehnya membuat Lala merinding.
"Kita tidak akan bahagia karena aku pasti dihujat pelakor oleh orang-orang jadi bagaimana bisa bahagia dengan suami orang ?" Lala menatap Evan dengan menaikkan kedua alisnya.
"Jadi keputusanku udah tepat dengan pergi dari kehidupanmu !" Tambah Lala membuat Evan menatap tidak suka padanya.
Menyadari itu Lala mengalihkan tatapannya dari Evan. Seketika ia gugup takut jikalau Evan kembali menyentuhnya dengan paksa.
"Laki-laki atau perempuan !" Tanya Lala mengalihkan fokus Evan.
"Apanya ?" Tanya Evan bingung.
"Anak anda !" Jawab Lala. Mendengar itu Evan menghela nafas.
"La, Cleo membohongimu. Dia tidak hamil, saat itu keadaan memaksa dia berbohong !" Jelas Evan membuat Lala menatapnya kaget.
Evan meraih tangan Lala dan menggenggamnya membuat si pemilik tangan terperanjat.
"Aku masih mencintaimu !" Ucap Evan menatap dalam manik mata Lala membuat gadis itu serasa sesak dadanya.
"Disaat kamu pergi, aku benar-benar seperti orang gila. Kamu tahu aku seperti tubuh tanpa jiwa yang sulit untuk fokus !"
"Aku sudah bercerai dari Cleo. Kami berpisah baik-baik seperti rencana awal !"
"Maaf !"
Evan tersenyum berbanding terbalik dengan Lala yang menatapnya nanar.
"Dan selamat atas hubunganmu yang baru bersama Syifa !"
Evan terperanjat tidak menyangka Lala akan mengatakan itu, ia bangun dari duduknya dan berjalan kesana kemari dengan menyugar rambutnya kasar. Melihat itu Lala hanya tersenyum getir.
"Aku juga mencintaimu !" Lirih Lala tanpa sadar namun Evan masih bisa mendengarnya. Sebuah senyum terbit di bibirnya, dengan membelakangi Lala, Evan memikirkan bagaimana menghadapi ini. Apa yang harus ia lakukan ?
Evan berbalik melangkah kearah Lala dan duduk ditempat semula kemudian meraih tangan Lala menautkan jari manisnya dan jari manis Lala dimana cincin hitam itu bertengker.
"Kembalilah padaku La !" Ucap Evan tersenyum membuat Lala terbelalak.
__ADS_1
"Tapi....!"
"Ayo bersama lagi !" Evan memotong ucapan Lala dengan tatapan tajam membuat gadis itu terdiam seketika.