
Sejak saat itu hubungan keduanya kacau, Melati sebisa mungkin menghindari Fajar karena semakin lama pandangan Melati terhadap Fajar perlahan berubah, ada sebuah rasa yang masih belum ia mengerti. Kini ada perasaan senang pada diri Melati saat bisa menatap Fajar walau hanya datang untuk menemui kakaknya.
Begitu juga dengan Fajar, perasaanya rasanya telah terkunci. Sepanjang pekerjaannya, Melati selalu memenuhi pikirannya apalagi bibirnya. Buaya buntung itu benar-benar tidak dapat melupakan saat itu saat dimana Melati menciumnya membuat ia malu sendiri.
Sore ini setelah pulang bekerja, seperti biasa Fajar bersantai menikmati pemandangan sore di balkon kamarnya.
Warung mang Ujang seperti biasa dipenuhi gadis-gadis cantik penghuni kos sebelah untuk berbelanja atau ghibah. Fajar menatap lekat gadis-gadis cantik disana dan hanya senyum-senyum tidak jelas pada mereka.
"Kamu baik-baik aja ?" Fitri bertanya melihat keadaan Fajar yang tidak biasa.
"Eh, kamu khawatir sama aku, kenapa gak bilang dari dulu. Aku kan bisa kenalin kamu ke orangtuaku untuk jadi istri pertama !" Sifat genit Fajar yang sempat hilang kini secara ajaib muncul kembali.
Fitri menganga mendengar itu sementara yang lain terkikik.
"Heh, aku tanya keadaanmu bukan mau jadi istri pertamamu !" Semprot Fitri melotot seraya berkacak pinggang.
"Ya kali, sebenarnya dirimu menyimpan rasa padaku tapi malu buat ungkapin. Apalagi ternyata kamu perhatian padaku. Tidak apa-apa, aku mengerti kok !" Ucap Fajar tersipu membuat Fitri semakin melongo.
"Huft, aku nyesal tanyain dia !" Fitri balik badan.
"Aku baik-baik aja, gak usah khawatir !" Fajar mengedipkan sebelah matanya.
Fitri melengos membuat fajar tertawa keras namun tak berapa lama bayangan Melati kembali melintas membuat fokus Fajar lurus pada bola dunia yang sebentar lagi tenggelam dimana sesekali gadis-gadis itu melirik penuh tanya padanya.
*****
Suatu hari, Benki mengetahui jati diri kekasihnya yang sebenarnya membuatnya amat marah. Saat Fajar mengantar sampai dirumah sang bos dan memarkir mobil, dengan langkah gusar Benki segera menuju kamarnya. Fajar mengikuti masuk dan terdiam sejenak disana sambil matanya mencari Melati.
Ia bertahan disana dan baru bertemu gadis itu saat waktu makan malam, jelas terlihat Melati salah tingkah dengan kehadiran Fajar. Ia segera duduk namun fajar langsung menyusul disampingnya membuatnya terkejut.
"Benki kenapa Jar ?" Tanya sang mama.
"Ng, dia bertengkar dengan Aulia Tante !"
Sebelah tangan Fajar meraih dan menggenggam tangan Melati dibawah meja membuat gadis itu terkejut. Melati Berusaha melepaskan pegangan itu namun Fajar memegangnya cukup kuat.
Alhasil Melati tidak bisa beranjak dari duduknya meski telah selesai dengan makanannya, Fajar sama sekali tidak ingin melepaskan genggamannya. Papa dan mama pun meninggalkan meja makan setelah selesai meninggalkan 2 orang yang mematung dikursi masing-masing seraya menikmati jus jeruk.
"Kak, lepas !" Melati menggoyangkan tangannya.
"Aku kangen padamu !" Ucap Fajar seraya melepaskan genggamannya.
Melati hampir tersedak mendengar itu. Ia menatap Fajar dengan kening berkerut.
"Maksudnya bagaimana ?"
"Karena kamu selalu menguasai hati dan pikiranku. Jadi mulai sekarang, jangan berhubungan dengan laki-laki manapun !" Fajar membelai rambut panjang Melati.
Melati menganga mendengar itu, ia rasa Fajar semakin aneh dan tidak jelas.
"Kak Jar, sebenarnya kakak ini kenapa ?"
"Ingat aja itu baik-baik !"
******
Hari demi hari berlalu, Melati dan Fajar masih malu-malu kucing jika berpapasan namun dihati masing-masing ada rasa senang.
Hingga saat Benki kembali lagi ke Bali menyusul Aulia untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
Saat bekerja, Fajar membuka akun WhatsApp-nya dan langsung melihat status Melati sedang berada di mall bersama teman-temannya yang terdiri 5 cewek dan 5 cowok dengan caption "Kencan Buta". Fajar membulatkan mata melihat itu namun detik berikutnya status itu telah terhapus.
Fajar langsung menelepon Melati tapi gadis itu menolaknya dan saat Fajar menelepon lagi Hp gadis itu sudah tidak aktif membuatnya mendesah jengkel.
Sementara itu, Melati tersenyum smirk saat melihat nama Fajar telah melihat statusnya kemudian segera menghapusnya dan menolak panggilan cowok itu serta menonaktifkan Hp-nya
Dan jeng... jeng... jeng...
Kejadian berikutnya, Fajar menyusul Melati ke mall dengan sangat gusar.
Melati yang mengobrol dengan teman-temannya tentang ia yang salah alamat datang ke club' waktu itu membuatnya melongo dan detik berikutnya ia melotot tidak percaya saat Fajar telah berdiri didepannya dengan berkacak pinggang.
"Kamu masih dihukum tapi berani melanggar. Bagusnya kamu diapakan ya ?" Fajar menggeram.
Semua teman-teman Melati saling pandang kemudian menatap Melati penuh tanya.
"Ini kak Fajar, asisten kak Benki !" Teman-teman Melati tersenyum menyapa Fajar. Mereka tidak begitu kaget karena pernah melihat Fajar beberapa kali menjemput Melati di sekolah.
"Kak Jar, ini semua teman-temanku !" Melati memperkenalkan mereka satu persatu hingga akhirnya Fajar bergabung dengan mereka mengobrol ringan sekaligus makan siang.
__ADS_1
Malamnya, Fajar kembali mengunjungi rumah Melati.
"Ibu sama bapak mana mbok ?" Tanya Fajar kepada wanita tua pembantu disana.
"Oh, mereka lagi ke acara kondangan !"
Fajar menahan senyum, sebenarnya ia tahu itu makanya ia sudah merencanakan malam ini. Fajar mengangguk dan langsung menuju kamar melati. Diketuknya pintu itu hingga si pemilik kamar membuka pintu dengan mimik terkejut.
"Ayo jalan-jalan keluar !" Ajaknya.
"Kemana ?"
"Tempat yang indah. Ayo cepat, aku tunggu dibawah !" Ucap Fajar seraya meninggalkan gadis itu tanpa mendengar ucapan selanjutnya.
Melati melongo sebentar kemudian menutup pintu kamarnya. Tidak lama, Melati sudah berganti pakaian. Tanpa berkata lagi, Fajar menuju mobil Benki setelah mengamankan motor matic-nya, dengan gentle serta senyum manis ia membukakan pintu untuk Melati.
Didalam mobil, keduanya terdiam. Melati melotot saat mobil mereka memasuki pekarangan hotel mewah milik Tiara.
"Kita mau ngapain disini kak ?" Tanyanya tapi yang dilihat Fajar hanya tersenyum tanpa menoleh kearahnya.
Melati takut, debar jantungnya semakin cepat. Pikirannya langsung kemana-kemana. Setelah memarkir mobil, Fajar membukakan pintu tapi Melati bergeming membuat Fajar menahan tawa melihat reaksi gadis itu.
"Ayo turun !" Fajar meraih lengan melati dan menggandeng gadis itu memasuki hotel.
Perasaan Melati semakin tidak menentu, jantungnya berdebar kencang, wajahnya pucat, ia menoleh kesana-kemari.
"Kak Jar, bisa kita pergi dari sini ? Kita pergi nonton atau keliling mall gitu ?" Tawarnya.
Fajar hanya tertawa kecil seraya menoleh sebentar kearah Melati tanpa berniat menjawab gadis itu yang semakin panik. Cukup lama mereka berada di lift hingga pintu besi itu terbuka, Melati melongo dan detik berikutnya ia terpukau.
Mereka berada di rooftop, pemandangan lampu kerlap-kerlip pemukiman kota membentuk pola-pola abstrak dengan lampu warna-warni menyambut pandangan Melati yang langsung membuatnya terpana.
"Ya ampun, cantiknya !" Melati benar-benar kagum. Bulan purnama disertai bintang-bintang kecil pada hamparan langit hitam menambah kesan cantik, seksi dan mistis pemandangan didepannya.
Fajar memberi jaket dibahu Melati membuat gadis itu menoleh kearahnya.
"Suka ?" Tanya Fajar yang langsung dijawab anggukan gadis cantik itu.
Fajar tersenyum, tidak menyangka jika rencana untuk memberikan kejutan pemandangan ini pada Melati berjalan sukses yang ternyata jauh lebih indah dari dugaannya.
Tak lama, makanan mereka datang yang hanya untuk mereka berdua. Fajar menarik kursi untuk Melati. Gadis itu duduk dengan tersipu apalagi saat Fajar merapatkan jaketnya saat angin malam terasa berhembus kuat.
"Aku suka kamu !" Ucap Fajar membuat gerakan Melati ingin minum air jadi urung. Ia membeku mendengar itu.
"Maksudnya kak ?"
"Kamu dengar dengan jelas kan !"
"Tapi...!"
"Kamu gak ngerasain hal sama ?"
"Bukan gitu !"
"Kamu suka aku juga ?"
Melati terdiam seraya mengalihkan pandangan kearah kerlap-kerlip lampu pemukiman penduduk itu. Ia masih bingung dengan perasaannya.
Fajar beranjak dari duduknya dan berlutut seraya meraih kedua tangan gadis itu membuat Melati terhenyak.
"Sejak malam itu, kamu udah hantuin pikiranku juga hatiku. Selama ini, aku banyak menggoda cewek-cewek tapi tidak ada yang bisa buat aku terus kepikiran tapi sama kamu semua berbeda dan aku yakin aku cinta sama kamu !" Fajar menatap dalam mata Melati.
"Aku mencintaimu Melati dan aku mau kamu jadi pacarku !"
"Bagaimana dengan kak Benki ?"
Fajar terdiam, ia lupa pada atasannya yang baik namun lumayan galak itu. Ia bisa bayangkan seperti apa mimik wajah Benki jika tahu apa yang ia lakukan sekarang.
"Aku akan berjuang untukmu !" Fajar menggenggam kedua tangan Melati.
"Jadi bagiamana ?"
Melati diam, ia gugup dan hanya menetap tangannya yang digenggam Fajar, apalagi cowok itu terus menatapnya lekat, hingga akhirnya ia mengangguk.
Fajar tersenyum seraya berdiri dan menarik Melati berdiri dan memeluk gadis itu erat. Rasa bahagia amat membuncah didadanya.
*****
Tapi sekembalinya Benki, bersamaan dengan itu Fajar berubah. Ia memandang Melati dengan datar membuat gadis itu bingung. Bahkan saat Fajar menjemput Benki dan mengantarnya pulang, cowok itu nampak biasa padanya saat mereka berpapasan membuat Melati menghela nafas.
__ADS_1
Interaksi keduanya kini hanya di HP, Fajar menjelaskan agar sebisa mungkin tidak ada yang curiga pada hubungan mereka membuat Melati menghela nafas berat.
Hari demi hari berlalu, Fajar tetap seperti itu. Bahkan saat mereka mengantar Benki melamar pujaan hatinya, Fajar tetap terlihat dingin dan cuek padanya. Melati berusaha untuk tidak terlalu fokus padanya lagi meski ia berharap, Fajar mencuri kesempatan untuk menggenggam tangannya.
Hingga akhirnya, tibalah pernikahan Benki. Melati mematut penampilannya di cermin. Ia nampak sangat cantik seperti princess, perlahan ia menuju tempat acara. Sesaat kemudian seorang pria rekan bisnis kakaknya menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Nampak sekali lelaki ini tertarik padanya. Ia mengobrol dengan pria itu sambil sesekali melirik Fajar namun sia-sia, cowok itu nampak tidak peduli.
"Magic Jar !" Sapa seseorang membuat Fajar melirik malas.
Lala menghampirinya dan langsung memukul lengannya.
"Aku kangen padamu !" Lala mengedipkan matanya genit.
"Ya ampun, aku mau yang kangen sama aku itu cewek cantik bukan dinasaurus !" Ejek Fajar membuat Lala mengeram padanya.
"Gandenganmu mana ? Masih jomblo ?" Ledek Lala membuat Fajar medelik padanya.
"Ya ampun, ternyata benar. Hahahaha !" Lala tertawa namun detik berikutnya ia terdiam saat tatapannya terarah pada Melati yang menatap nanar kearah mereka membuat Lala bertanya-tanya ada apa gerangan. Ia melirik Fajar dan Melati bergantian.
"Melati melototin kamu tuh !" Lapor Lala membuat Fajar mengedikkan bahu tidak peduli.
"Sekedar info, malam ini aku gak akan jomblo lagi !" Ucap Fajar seraya menatap ke sekumpulan gadis-gadis cantik yang berlawanan arah dari Melati cs.
Lala mengikuti arah pandang itu dengan kening berkerut, saat hendak bertanya lebih lanjut, suaminya memanggilnya.
Acara berlangsung dengan lancar hingga sampailah mereka pada acara melempar bunga. Para gadis dengan antusias berkumpul diikuti beberapa pria juga.
Aulia mulai berbalik dan mengayunkan bunga ditanganya dan akhirnya melemparnya kearah kerumunan. Semuanya berusaha mendapatkan itu. Saat bunga itu mengarah kebelakang, Fajar berusaha menangkapnya dan ia berhasil.
Semua orang bertepuk tangan melihat itu. Fajar tersenyum kepada mereka seraya menghampiri seorang gadis yang sejak tadi menatapnya nanar.
"Maukah kau menikah denganku !" Fajar berlutut didepan Melati seraya mengulurkan bunga itu padanya.
Suasana hening, semua mata menatap kearah mereka. Melati bahkan menutup mulutnya tidak percaya dan perlahan ia mengangguk membuat orang-orang bertepuk tangan. Fajar bangkit dan hanya tersenyum, tidak berani memeluk, takut kepada keluarga Benki.
Lala dan Benki menganga melihat adegan itu. Seketika keduanya berpandangan bertanya-tanya.
Pesta telah usai, para tamu sebagian sebesar sudah pulang tinggal pihak keluarga saja yang masih bercengkrama. Aulia pun sudah menuju kamar pengantinnya.
Benki berdiri sambil berkacak pinggang didepan Fajar yang terduduk lesu bersama Melati yang juga menunduk malu. Bukan hanya Benki, juga ada orang tua mereka dan Lala yang penasaran dengan keduanya.
"Apa maksudnya tadi ? Kalian sejak kapan pacaran ?" Benki melotot.
2 orang didepannya saling tatap malu.
"Kami gak pacaran kak !" Melati menjawab.
"Terus ?" Benki menuntut.
"Ng...!" Keduanya bingung sendiri.
"Aku gak nyangka malah adikku yang jatuh dalam jebakan playboy sepertimu !" Semprot Benki.
"Betul, dasar buaya buntung !" Semprot Lala membuat Fajar melotot ganas padanya.
"Ini takdir !" Fajar menatap Benki.
"Maksudnya !"
"Kali ini saya benar-benar serius bos, saya tidak main-main sama Melati. Kali ini cintaku suci, lebih suci dari cinta bos ke Aulia !"
Benki melotot namun yang lain malah terkikik.
"Jangan khawatir, saya akan menjaga dia dengan sepenuh jiwa !"
"Huh, playboy sepertimu ?"
"Sekarang saya sudah berubah bos, hanya Melati seorang yang ada dihati !"
Huekks.
Lala pura-pura muntah membuat semua mata melirik kearahnya. "Ya ampun buaya buntung ini !"
"Tapi....!"
"Oh ya bos, istri anda pasti sudah menunggu dikamar, kalau anda masih disini nanti dia ketiduran lho !" Fajar nekat membuat Lala terpingkal-pingkal.
Benki mendengus seraya memelototi Lala dan tanpa kata lagi berjalan menuju kamarnya. Begitu juga yang lain. Fajar dan Melati saling pandang dengan senyum bahagia dengan tangan yang saling genggam erat.
"Aku janji kamulah pelabuhan terakhirku !" Gombal si buaya buntung.
__ADS_1