
Hari yang yang ditunggu datang juga, keluarga Benki datang ke rumah Tiara untuk memenuhi undangan makan malam. Awalnya Benki tidak mau ikut tapi sang mama mendesak dengan alasan tidak enak pada keluarga Tiara.
"Selamat datang jeng !" Sambut mama Tiara sambil cipika-cipiki pada mama Benki.
"Ayo, silahkan masuk !" Mama Tiara tersenyum manis mempersikahkan keluarga calon besan masuk.
Keempatnya memasuki rumah mewah itu dan langsung menuju meja makan dimana banyak makanan lezat telah tersedia.
Tampak Tiara terlihat menuruni tangga dengan gaun pink selutut tanpa lengan, membuatnya terlihat sangat cantik. Gadis itu tersenyum manis pada Benki yang menatap datar padanya.
Semua orang sudah memposisikan diri mereka di meja makan dan mulai menyantap makanan masing-masing disertai obrolan ringan. Para papa membicarakan tentang kegiatan masing-masing.
"Jeng Della, Pak Andi. Sebelumnya keluarga kami minta maaf atas kelakuan anak-anak kami. Kami sadar apa yang dilakukan oleh Tiara dan Aulia memang keterlaluan jadi kami benar-benar minta maaf !" Wajah mama Tiara terlihat memelas.
"Ini sudah terjadi, mau bagaimana lagi !" Mama Benki tersenyum.
Orang tua Benki menatap Tiara yang tersenyum manis. Memang berbeda dari Aulia yang cantik sederhana sedangkan Tiara dari ujung kaki hingga ujung rambut, gadis ini amat modis sangat sesuai dengan profesinya sebagai seorang model.
"Kamu cantik nak !" Puji mama Benki.
"Terima kasih Tante !" Tiara tersipu.
Tiara berpikir sepertinya keluarga Benki bisa memaafkannya juga menerimanya, jadi tinggal mengambil hati Benki. Jika berhasil, maka selangkah lagi ia akan menjadi istri konglomerat dan memuluskan jalannya untuk menjadi model terkenal.
Benki sejak tadi hanya diam dengan wajah murung, pikirannya terarah pada gadis lain yang terlanjur ia suruh pergi. Sedangkan papa Benki dan Melati hanya tersenyum saja.
"Jeng, kami harap kejadian ini tidak mempengaruhi hubungan kita dan juga kalian masih bersedia melanjutkan perjodohan ini !" Ucap mama Tiara.
Mendengar itu orang tua Benki sedikit terkejut dan sontak melirik sang anak tapi nampaknya Benki hanya diam saja, cowok itu terlihat seperti mayat hidup.
"Semuanya terserah anak-anak saja bagaimana baiknya !" Ucap Della, mama Benki.
Mama Tiara melirik sang anak dan memberi kode padanya.
"Resti !"
"Iya jeng !"
"Lebih baik mereka mulai dari awal untuk saling mengenal jadi kedepannya kita tinggal ikuti kemauan anak-anak kita tanpa paksa. Kalau Tiara dan Benki sudah cocok, kami pasti merestui !" Ucap Mama Benki meski rasanya bertolak belakang dengan hatinya. Sedangkan suami dan anaknya hanya diam mendengar itu.
"Tentu saja Jeng, saya pastikan, Tiara pasti jadi menantu terbaik untuk jeng !" Mama Tiara tersenyum. Tatapannya beralih pada pria tampan salah satu konglomerat di negara ini. Bagaimanapun juga Tiara harus menikah dengan pria itu agar nama baik keluarganya semakin terpandang.
*****
__ADS_1
Aulia memasuki hotel dengan menggunakan kacamata menyembunyikan wajah sembabnya. Mau tidak mau ia harus bekerja karena hotel ini bukan miliknya yang membuatnya tidak bisa malas-malasan atau sesuka hati seperti Tiara.
Tanpa banyak bicara, ia mengganti pakaiannya di loker dan langsung bekerja tanpa banyak bicara. Isa, Irma, Ana dan Veni hanya menatapnya sendu melihat keadaan gadis itu. Meski banyak pertanyaan bermunculan tentang pesta ulang tahun bos mereka tapi mereka menahan diri untuk tidak bertanya dulu kepada Aulia hingga gadis itu sendiri yang bicara.
Pun juga bisik-bisik dan gosip aneh dari staf lain yang juga menyaksikan drama penuh air mata itu membuat Aulia cuek saja.
Gadis itu fokus bekerja dan bekerja, membersihkan 1 tempat ke tempat lainnya, menghindari obrolan dari siapapun meski dari teman-temannya sendiri hingga tak terasa jam makan siang telah datang.
Aulia sekarang berada di rooftop hotel, ia memutusakan menghabiskan jam istirahat disana menikmati pemandangan hamparan kota seraya membiarkan angin kencang menerpa tubuhnya berharap sesak dadanya ikut pergi bersama angin namun perasaan itu tetap disana mengganjal dengan erat dan malah menciptakan rindu yang baru untuk Benki membuat matanya kembali berkaca-kaca.
"Ul !" Aulia menoleh dan melihat keempat temannya membawa makanan. Aulia hanya terdiam melihat teman-temannya bergabung dengannya.
"Ini makan !" Sebuah nasi kotak hinggap di pangkuan Aulia dari Irma.
"Terima kasih guys !" Aulia mencoba tersenyum meski tidak menghilangkan wajah sendunya.
Keempatnya menatap lekat wajah gadis itu, Aulia tahu jika mereka ingin menanyakan tentang kejadian dipesta itu dan ia pun memutuskan menceritakan kepada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang Benki yang sebenarnya dijodohkan dengan Tiara namun malah dia yang menggantikan, selalu menunda untuk jujur hingga akhirnya ketahuan dengan cara seperti ini.
Keempat gadis itu sontak menganga, melotot tidak percaya dengan cerita Aulia.
"Kamu bersedia gantikan karena dia kaya ?" Tanya Veni tajam.
"Tidak, semua semata-mata demi menolong Tiara, aku gak nyangka dia kaya !" Kilah Aulia.
"Tapi dia itu tuan Benyamin Qitela Shine, direktur utama PT. Endofood. Masa kamu gak tahu kalau dia itu salah satu pemilik perusahaan terbesar di Indonesia. Kalian ingat Snack keju yang dibintangi sama nona Tiara ? Itu perusahaan tuan Benki !" Jelas Veni membuat yang lainnya kembali menatap menganga.
"Aku dan Tiara gak tau kalau kak Benki sekaya itu dan aku juga gak punya niat jelek kok ke dia tapi ya sekarang dia benci sama aku karena aku udah bohongin dia dengan pura-pura jadi Tiara !" Mata Aulia kembali berkaca-kaca membuat keempatnya kembali menatap lekat padanya.
"Kamu jatuh cinta sama dia ?" Tanya Isa.
"Kalian pacaran ?" Tambah Irma.
Dan Aulia pun mengangguk dengan air mata yang sudah jatuh.
"Aku nyesal gak langsung putusin pertunangan Tiara, andai aja waktu itu aku langsung putusin mungkin kami gak terjebak situasi kayak gini. Rasanya sakit, sakit sekali !" Aulia terisak membuat empat lainnya memeluknya di kanan-kiri.
"Sudah, kalian tahu aku pernah dengar waktu SMP. Janganlah kamu sedih jika menghadapi kegagalan, apalagi dalam percintaan. Tuhan sengaja mempertemukanmu dengan orang yang salah sebelum mempertemukanmu dengan orang yang tepat agar kamu bisa belajar arti menghargai. Jadi saat kamu sudah tak bersama maka akan ada banyak kenangan yang bisa jadi pelajaran untuk memperbaiki diri kedepannya, juga rasa sakit yang kamu rasa pasti sedikit banyaknya meninggalkan banyak pelajaran untuk bisa melangkah kedepannya !" Jelas Veni bijak.
Semua saling pandang sambil tersenyum.
"Jadi jangan terlalu bersedih, selama kamu tidak menyakiti atau berniat jelek pasti kamu bisa dapat hal-hal yang baik juga !" Tambah Veni membuat Aulia tersenyum tipis.
"Ya udah Ul, jodoh nggak akan kemana kok. Meski kamu sembunyi di kolong jembatan pasti kalian ketemu juga sama bos besar itu didepan penghulu !" Kata Isa.
__ADS_1
"Benar, yang baik pasti ketemu yang baik juga kok !" Tambah Irma.
"Walau susah dan sulit tapi relakanlah semua, kamu jangan terus larut dalam kesedihan !" Kata Ana yang disetujui yang lain. Aulia hanya mengangguk.
"Ya udah ayo makan, kasih habis semuanya !" Titah Irma.
Sementara itu, Benki yang juga mau tidak mau harus berangkat ke kantor, berkas-berkas yang menumpuk memaksnya untuk kembali bekerja meski hatinya masih terasa ada batu besar mengganjal hingga terasa sesak.
Benki berusaha fokus pada pekerjaannya dan terus bekerja dari satu dokumen ke dokumen yang lain. Mungkin ini salah satu cara efektif untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak terus tertuju pada Aulia membuat Benki terus bekerja hingga tak terasa jam makan siang telah datang.
Pintu ruangan Benki terbuka dan sesosok gadis cantik dengan senyum manis masuk kesana.
"Hai !" Sapa gadis itu riang.
Benki tertegun, menatap dalam sejenak sebelum menjawab "Hai juga !"
"Aku kesini mau ajakin kamu makan siang bareng. Kamu mau nggak ?"
Benki terdiam, tidak taukah gadis ini jika sekarang hatinya dilanda kecewa dan amarah atas apa yang sudah ia lakukan dan sekarang ia datang dengan begitu mudahnya dan mengajaknya makan siang.
"Oke, ayo !" Benki beranjak dari duduknya, memutuskan meladeni gadis itu. Tiara senang sekali saat Benki menerima ajakannya, langkah pertama dalam memulai dari awal nampaknya berjalan lancar, keduanya melangkah keluar bersama.
"Jar, kami mau makan siang bareng. Kamu mau ikut ?" Tanya Benki pada Fajar yang sedang duduk di meja Lala.
Fajar yang diajak menatap sejenak pada 2 orang itu.
"Tidak tuan, pekerjaan saya masih sangat banyak jadi mungkin saya akan memesan saja !" Ucap Fajar sopan.
"Baiklah, kami pergi dulu !" Benki melangkah menuju lift bersama Tiara yang melempar senyum sejenak pada Fajar yang menatap tubuh keduanya hingga hilang ditelan lift.
Direstoran steak, keduanya telah duduk manis menunggu pesanan mereka.
"Ben, sebelumnya aku minta maaf soal aku ganti peran dengan Aulia. Waktu itu aku benar-benar gak bisa punya pacar atau suami karena pekerjaanku, itu kenapa kamu malah ketemu dengan Aulia !" Jelas Tiara.
Benki terdiam hanya mendengarkan ungkapan gadis cantik itu.
"Aku nyesal banget ngelakuin itu, aku harap kamu bisa berlapang dada maafin aku !"
'Enak sekali gadis ini bicara, tidak taukah dia seperti apa perasaanya sekarang setelah semua yang ia lakukan. Tak taukah dia, dirinya tega menyakiti perasaan Aulia akibat kecewa yang berat akibat dibohongi dan apa katanya tadi berlapang dada memaafkan ? Bisakah dia ?' Batin Benki.
"Aku harap kamu bisa lupain semua dan kita bisa memulai awal yang baru !" Tiara tersenyum manis.
Sudut bibir Benki terangkat mendengar kata-kata itu. Bisakah dia melupakan semua itu dengan mudah ?
__ADS_1
"Jadi, kamu mau kan kita mulai dari awal dan saling mengenal lebih dalam, buat keluarga kita juga kedepannya !" Tiara tersenyum manis seraya menggenggam tangan Benki.
Benki hanya terdiam sambil menatap tangannya yang digenggam. Adegan itu kemudian terjeda saat pesanan mereka datang. Keduanya menikmati makanan masing-masing dengan pikiran yang bertolak belakang.