Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 071


__ADS_3

Sesaat setelah melewati perjalanan udara belasan jam dan kini telah berada dikamarnya, Bryan melepas pakaiannya hendak membersihkan diri dan saat tubuh itu tanpa atasan, ia menghela nafas lesu saat melihat sesuatu yang hilang di lehernya.


Kalung titanium itu edisi terbatas karena harus dipesan dahulu, entah mengapa Bryan tiba-tiba menginginkan kalung seperti itu dan ia pun memesannya. Hampir sebulan barulah barang itu datang dan saat Bryan membuka paketnya, ia langsung jatuh cinta melihat wujud benda itu dan akhirnya memakainya selalu.


Kini kalung mahal itu lenyap dari lehernya membuat Bryan menghela nafas tidak rela. Ia memasuki kamar mandi dan segera membersihkan diri setelah itu memakai pakaian santai, berdiri sejenak didepan jendela kaca menatap lekat bangunan mewah yang berada agak jauh didepannya.


Bryan menuju meja makan dimana Jerry sudah berada disana, menikmati makan malamnya sambil menonton televisi .


"Bagaimana sekarang ?" Tanya Bryan.


"Mereka terlihat sering berkumpul bahkan si perdana Mentri pun terlihat sering datang dan sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu !"


"Tapi tetap saja banyak bodyguard yang selalu menjaga dan mengawal mereka. Itu yang membuatku sampai sekarang belum dan masih terus mencari celah. Maaf !" Ucap Jerry lesu. Bryan terdiam berpikir.


"Apa kita benar-benar tidak punya cara lain untuk masuk ke museum itu ?" Tanya Bryan.


"Sulit, sangat sulit. Bangunan itu dijaga ketat sangat ketat karena mungkin penuh rahasia kelam. Aku pernah melihat mereka tengah malam buta membawa masuk banyak kotak kayu dari ukuran kecil hingga seukuran peti mati !" Jawab Jerry.


"Itu pasti senjata !" Tebak Bryan.


"Juga mungkin racun !" Tambah Jerry.


"Tak lama lagi akan ada pemilu untuk menentukan apakah si bangsat itu akan diganti atau tetap dia yang terus menduduki posisi itu. Jadi mungkin saja salah satu rencananya adalah menyingkirkan semua saingannya !" Jerry.


"Justru kita harus mencegah dia untuk terpilih dalam pemilu ini, orang tamak seperti dia tidak pantas menjabat dengan jabatan terhormat seperti itu !"


"Baiklah, aku akan terus mencari cara. Maaf !"


"Tidak masalah, yang penting jangan pernah lengah mengawasi mereka karena kesempatan sering muncul tiba-tiba !" Ucap Bryan.


"Oke kak !"


Keduanya terdiam sambil menikmati makanan masing-masing, hanya suara tv yang menguasai ruangan hingga saluran itu berubah menjadi film romantis.

__ADS_1


Kedua pria jomblo itu menahan nafas saat adegan cium diperlihatkan membuat pikiran Bryan kembali saat dicium gadis asing didepan toilet. Wajahnya seketika memerah dan refleks memegang pipinya.


Pikiran Bryan kembali menerawang mengingat gadis itu, cantik dan senyumnya manis yang tidak bisa Bryan lupakan. Namun selanjutnya Bryan menggelengkan kepala, meyakinkan diri bahwa dia mencintai Cleo dan ia pun yakin wanita itu juga masih mencintainya. Bryan yakin masih ada kesempatan mereka untuk kembali bersama.


Tapi tetap saja, gadis yang mencium pipinya tanpa ijin itu masih berada dipikirannya dan susah dienyahkan.


Sementara itu Syifa yang berada di rumah sakit dan baru saja selesai melakukan operasi segera melepaskan atribut operasi dan memasuki kamar mandi membersihkan diri. Saat meraih kalung titanium itu dan memakainya, hal itu teringat lagi dan membuat pipinya memerah.


Setelah beganti pakaian dan hendak pulang, Syifa memutuskan menengok sebentar pasien wanita yang baru saja ia operasi yang sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Langkah kaki Syifa berhenti saat melihat suami pasiennya memegang tangan istrinya seraya membelai lembut kepalanya.


Rupanya yang dilakukan suaminya membuat wanita itu terbangun. Dengan telaten ia membantu istrinya duduk dan memberikannya minum, serta memijat pelan kemudian memeluk dan mencium kening istrinya.


Melihat itu, hati Syifa menghangat. Ia tersenyum dan berdoa dalam hati.


'Semoga suatu hari nanti aku bertemu laki-laki yang mencintaiku sepenuh hati dan membangun rumah tangga yang bahagia seperti pasangan itu'.


Syifa pun berlalu ingin pulang, syaifa berjalan pelan dengan terus memegangi kalung itu dan menatapnya sambil senyum-senyum sendiri dengan terus berjalan lurus.


'Semoga bisa ketemu lagi sama cowok itu !' Syifa membatin mengingat pria depan toilet membuatnya senyum-senyum dengan wajah memerah.


"Dokter Syifa, ada perlu apa kemari ?" Tanya pria muda itu sopan.


"Eh, perlu. Perlu apa ?" Syifa balik tanya bingung.


"Ini kamar mayat. Jadi ada perlu apa Anda kemari ?" Ucap si pria muda itu hati-hati.


Syifa langsung melotot, dia tidak sadar berjalan kesini dan jika saja pria itu tidak keluar maka dipastikan ia akan masuk kedalam dengan sukarela.


"Eh, saya gak ada perlu. Kalau begitu saya permisi !" Setelah mengatakan itu, secepat kilat ia pergi menuju tempat parkir.


"Dokter Syifa. Anda kenapa ?" Sebuah suara kembali membuat Syifa berhenti dan menoleh.


"Oh, dokter Rizal. Nggak, saya lapar, jadi gak sabar mau sampai di rumah !" Syifa.

__ADS_1


"Oh begitu. Ng. . kapan-kapan, apa anda mau makan malam bersamaku !" Ajak dokter Rizal langsung.


Sejenak, Syifa menatap dokter Rizal. Laki-laki didepannya ini adalah playboy, karena ia tampan dan banyak memiliki penggemar di rumah sakit, karena itulah dia populer dengan sebutan playboy dan kini ia menargetkan Syifa untuk menjadi berikutnya. Oh, tidak bisa.


"Maaf dokter, saya hanya diijinkan keluar bersama tunangan saya. Jadi maaf dan terima kasih atas tawarannya !" Syifa tersenyum membuat dokter Rizal terdiam.


"Kalau begitu saya permisi dokter Rizal. Mari !" Tanpa mendengar lagi kata yang akan keluar dari dokter Rizal, Syifa melesat menuju mobilnya dan berlalu dari sana.


*****


Bryan sedang berjalan-jalan pagi dibawah indahnya salju disekitar rumahnya, memakai jaket tebal dan masker menutup sebagian wajahnya, ia berjalan mendekati bangunan itu dengan mata tajam menelisik seluruh bangunan itu.


Dan benar, terlihat 3 orang penjaga dengan tubuh yang sangat kekar menjaga pintu masuk dan saat Bryan lewat disana, ketiga pria itu menatapnya tajam yang dimana Bryan berusaha terlihat cuek. Beruntungnya, segerombolan anak-anak bermain disekitar membuat Bryan membaur pada mereka.


Bryan berhenti dan berolahraga kecil tapi matanya dengan tajam menelisik bangunan itu hingga sebuah mobil box berhenti didepan bangunan itu, sontak saja ketiga bodyguard itu mengepungnya ingin memeriksa bawaan mobil itu.


2 orang yang membawa mobil itu kemudian turun dan mengeluarkan semua bawaan yang berjumlah 10 kotak kayu itu dan memeriksa apakah ada sesuatu yang janggal. Saat terbuka, Bryan bisa melihat botol-botol wine itu dari berbagai merek dan tahun, apalagi setelah diperiksa, bodyguard itu menyuruh si pengantar untuk membawa masuk semua kotak itu kedalam.


Bryan membalikkan badan saat bodyguard itu kembali menatap tajam padanya. Bryan mengeluarkan Hp-nya dan tanpa kentara memotret mobil box itu dan segera pergi dari sana sebelum para bodyguard itu menyemprotnya.


Sebuah senyum muncul di bibir Bryan dan ide melintas dikepalanya membuatnya segera menangkap ide itu dan berusaha merealisasikannya dengan menyusun rencana yang matang.


Bryan segera berjalan pulang ke rumah mencari sang adik namun batang hidung Jerry tidak terlihat.


"Kemana perginya bocah kunyuk itu !" Gerutu Bryan.


Ia segera menuju kamarnya, meraih teropong dari atas lemari dan melihat aktivitas yang terjadi didepan bangunan itu. Terlihat jelas semua kotak wine telah dibawa masuk dan seseorang keluar dari gedung, seorang yang tampan dengan tubuh tinggi dan setelan jas yang mahal, tatapan matanya sangat tajam dan angkuh, para bodyguard memberi hormat kepada orang yang baru keluar itu, pria itu memberikan amplop uang kepada si pengantar setelah itu kembali memasuki bangunan dengan begitu angkuhnya.


Bryan meletakkan teropongnya saat suasana kembali lenggang, hanya para bodyguard yang kembali menjaga. Bryan ingat beberapa kali melihat pria itu di tivi, berdiri tegak dibelakang sang perdana Mentri jika memberi pidato.


Bryan menyimpulkan antara wine dengan orang tadi, kemungkinan besar perdana Mentri akan datang kesana dan melakukan pesta bersama orang-orangnya atau seperti kata Jerry, orang itu sedang merencanakan sesuatu.


Bryan mengepalkan tangan, dadanya bergemuruh dengan wajah menatap langit-langit kamarnya. Nafasnya sedikit sesak.

__ADS_1


"Nikmati, nikmatilah saat-saat terakhir kalian. Nikmatilah pesta sebanyak apapun sampai aku dan amarah dendamku menghampiri kalian !" Ucapnya dengan gigi gemeletuk dan mata memerah.


__ADS_2