Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 088


__ADS_3

Aulia dan Lala sedang membantu mama Benki untuk menyiapkan makan malam diselingi obrolan seru tentang kegiatan masing-masing. Kemudian menata makanan itu di meja makan.


Benki dan Aulia saling pandang dengan senyum terukir dibibir masing-masing. Makan malam dimulai saat semua sudah berada di meja makan dan makan dengan khidmat saat Melati buka suara.


"Oh ya ma, pa. Ada pr dari kampus yang bertanya tentang arti nama kami masing-masing ?"


"Arti nama ?" Sang papa bertanya bingung.


"Iya pa, begini lho. Istri salah satu dosen baru aja melahirkan jadi itu bayi mungkin belum ada namanya jadinya kami semua disuruh tanya arti nama masing-masing. Mungkin kalau bagus dia mau kasih nama itu ke anaknya !" Jelas Melati.


Kedua orang tua itu saling pandang.


"Ng, arti nama kamu itu Ng... Oh ya.. Suci dan harum seperti bunga Melati !" Jelas sang papa membuat sang mama tersenyum malu.


"Nama kamu diambil dari nama kapal pesiar yang pernah papa dan mama naiki waktu kamu belum lahir, namanya Harum Melati jadi nama kamu papa mama ambil dari sana !" Tambah sang mama.


"Oh, oke !" Melati mengerti.


"Kalau namaku apa artinya ?" Benki menimpali.


Mendengar itu sontak wajah kedua orang tua Benki memerah dan saling memandang dengan malu serta gugup.


"Pa, ma. Benyamin Qitela Shine itu apa artinya ?" Benki bingung melihat reaksi kedua orang tuanya.


Mama Benki menunduk malu, tidak berani menatap siapapun di meja.


"Hmmmm... Dulu itu..... !" Sang mama memukul pelan lengan suaminya sebelum pria tua itu menyelesaikan perkataannya.


Semua menunggu apa yang akan diucapkan sang papa.


"Aduh, papa malu nih ngomongnya ?"


"Eh, memang arti namaku itu malu-maluin ya pa ?" Benki melotot.


"Bukan, bukan begitu !".


"Terus ?"


Sang papa menatap satu persatu orang yang berada di meja makan itu dan meyakinkan diri kalau semua yang berada disitu adalah orang-orang dewasa. Papa Benki menarik nafas sebelum mengatakan sesuatu.


"Kamu ingat kebun singkong kita yang menjadi legenda ? Itu warisan yang papa dapat !"


"Iya pa, papa kan sering cerita semenjak kita punya kebun singkong itu perekonomian keluarga kita membaik dan sampai kapanpun papa tidak akan menjual kebun singkong itu !" Ucap Benki.


"Benar, selain menghasilkan banyak singkong yang meningkatkan perekonomian keluarga kita, kebun singkong itu juga membantu papa dapat keturunan !" Ucap papa Benki ambigu.


"Maksudnya ?" Benki dan Melati bertanya bersamaan. Papa dan mama kembali saling pandang malu-malu.


"Dulu, saat mama dan papa baru saja menikah. Hidup kami sangat sederhana dan pas-pasan tapi kami bahagia, ya kan ma ? Terus kami ingin segera memiliki anak hanya saja belum rejeki bahkan sampai tahun ketiga pernikahan kami, hingga papa dapat warisan kebun singkong itu dari kakekmu dan ya setelah menggarapnya dan memiliki hasil yang banyak dan sukses merubah perekonomian keluarga kita !" Papa Benki menerawang mengingat setiap kali panen maka kebun itu akan menghasilkan singkong yang melimpah.


Semua terdiam mendengar kata apa lagi yang akan keluar dari papa Benki.


"Sebenarnya, kamu dibuat di kebun singkong itu ?" Sang papa memberanikan diri mengatakan itu.

__ADS_1


"Hah ?" Benki, Lala dan Aulia memekik bersamaan.


"Maksudnya bagaimana ?" Benki bertanya lagi.


Wajah mama Benki sudah seperti kepiting rebus sedangkan wajah sang papa juga tak kalah merahnya.


"Ya waktu itu situasi dan kondisi mendukung jadi ya.. ya.. yah gitu lah !"


"Gitu lah !" Benki membeo.


"Setelah itu akhirnya mamamu positif hamil. Alhamdulillah, kebun singkong itu banyak manfaatnya !"


Aulia dan Lala saling tatap serta kompak menahan tawa yang ingin menyembur keluar saat mengerti arah pembicaraan ini.


"Kebun singkong ? Jadi maksudnya waktu itu papa dan mama gak punya kasur jadinya buat di kebun singkong !" Benki menyalak. Ia juga mulai mengerti arah pembicaraan dan seketika tidak terima dibuat di kebun singkong.


"Bukan begitu !" Sela sang mama.


"Buat di kasur kek, malah di kebun singkong. Papa dan mama ini gak modal banget sih !" Omel Benki sedangkan yang lain hanya mati-matian menahan tawa.


"Ya papa udah coba 3 tahun di kasur tapi gak jadi-jadi baru waktu di kebun singkong wah langsung jadi !" Bela sang papa.


Tawa melati langsung menyembur keluar mendengar itu membuat sang kakak menatap horor padanya tapi justru membuat tawa Melati semakin kencang.


"Saat kamu sudah lahir dan perekonomian keluarga kita semakin baik jadi papa ajak kalian liburan di kapal pesiar karena semenjak menikah papa tidak pernah ajak mama jalan-jalan nah setelah pulang dari kapal pesiar itu mamamu hamil lagi, makanya papa kasih nama Melati pakai nama kapal pesiar itu !" Jelas sang papa.


Wajah Benki tidak enak dilihat, ia membandingkan dibuat di kapal pesiar dan kebun membuatnya tidak terima. Ia kembali menatap horor adiknya.


"Jadi arti namaku apa ?" Benki curiga berkaitan dengan kebun singkong itu.


"Arti namamu itu adalah........!"


"Apa ?"


"Singkong yang bersinar !" Ucap sang papa mantap.


DOENG.


Suasana meja makan riuh seketika. Aulia dan Lala tidak bisa lagi menahan tawa mereka setelah mendengar itu. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal tanpa bisa berhenti meski wajah Benki sudah ibarat petir yang siap menyambar keduanya.


Lala bahkan terjungkal dari kursi membuat tawa diruangan itu semakin keras. Lala bangkit dan kembali duduk di kursi dengan tawa yang sulit berhenti.


Cukup lama sesi tertawa berlangsung, sangat sulit berhenti ketawa apalagi melihat wajah Benki yang merah kuning hijau, ia nampak terluka setelah tahu proses terjadinya dirinya itu.


"Kebun singkong itu, Sampai kapanpun jangan pernah dijual ya. Apapun yang terjadi, pertahankan dan warisan ke generasi kita selanjutnya. Kebun itu berpengaruh sangat besar pada kesuksesan kita dan semoga untuk kalian dan anak-anakmu nanti. !" Ucap sang papa serius setelah semua orang menghentikan tawanya.


Semua yang mendengar mengangguk tersenyum.


"Kalau kalian sudah menikah nanti, coba deh ke kebun singkong kita. Siapa tahu langsung jadi !" Tambah sang papa menatap Benki dan Aulia bergantian.


Mendengar itu semua melongo dan ikut menatap objek yang dimaksud.


"Langsung jadi apanya ?" Benki menatap ngeri pada papanya.

__ADS_1


"Ya, Melakukan ditempat terbuka itu, memacu adrenalin dan penuh tantangan. Coba kalau kalian udah nikah nanti sekali-kali dicoba pasti ketagihan !"


Semua kembali tertawa sedangkan Aulia tertunduk sangat malu mendengar itu dan Benki jangan ditanya, wajahnya semakin tidak enak dilihat. Pandangan Benki dan Aulia bertemu dan sontak keduanya tertunduk malu.


"Kalau sekarang udah nggak bisa om, karena kamera satelit semakin canggih. Semut berbaris aja dia bisa dapat gambar dengan jelas dan jernih apalagi badan Segede ini pasti jadi tontonan asik untuk orang-orang yang tersambung langsung dengan kamera satelit itu !" Ucap Lala.


"Bayangkan, salah satu direktur ternama sebuah perusahaan besar Indonesia kedapatan melakukan enak-enak di kebun singkong, kan hancur reputasi. Hahahaha !" Lala kembali tertawa geli dengan omongannya sendiri diikuti Melati.


"Belum lagi, digigit semut atau hewan-hewan kecil lain yang ada di kebun pasti kan merusak suasana !" Tambah Lala.


"Hmmm... begitu ya ? Sayang sekali, padahal tempat terbuka sungguh menantang plus full AC !"


Lala dan Melati kembali tertawa geli. Sedangkan Benki dan Aulia malu abisss. Meski begitu, Benki cukup lega melihat Lala yang kembali ceria dan tertawa seperti itu.


*****


Setelah sesi makan malam spektakuler itu, Lala memutuskan menginap dan langsung menuju kamar tamu untuk menonton televisi sedangkan Benki mengajak Aulia ke taman belakang.


2 sejoli itu menatap langit malam yang tanpa bintang-bintang itu dengan angin yang cukup kencang berhembus menerpa tubuh keduanya.


"Aku punya sesuatu buat kamu !" Ucap Benki.


"Apa kak ?"


Benki meraba kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana dan memperlihatkan pada Aulia.


Aulia awalnya terpaku melihat benda itu kemudian tersenyum melihat cincin couple di telapak tangan Benki. Cowok itu meraih tangan Aulia dan memasangkan cincin itu di jari gadis itu membuat Aulia terharu.


Tanpa dikomando, Aulia meraih cincin lainnya dan memasangkan cincin itu di jari Benki. Setelah itu keduanya saling tatap dengan senyum bahagia.


Aulia mengulurkan tangan dan memeluk Benki, mendengar irama detak jantung pria itu dan menikmati aroma parfum Benki yang sangat enak itu. Benki balas memeluk tubuh Aulia seraya mengecup puncak kepala gadis itu.


Rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata membuat keduanya menikmati pelukan yang meminimalisir rasa dingin akibat angin yang cukup kencang.


"Maaf, aku kasih kamu cincin murah ini !" Ucap Benki membuat Syifa memukul punggungnya.


"Jangan bicara begitu kak, ini bagus kok. Aku suka banget !" Syifa mendongak menatap Benki.


Syifa kembali menelusupkan kepalanya di dada Benki menikmati irama derak jantung Benki yang agak cepat.


"Terima kasih !" Ucap Syifa.


"Terima kasih juga untukmu !" Benki mengeratkan pelukannya setelah mencium lama kening gadis itu.


"I Love You !" Ucap Benki diatas kepala Aulia.


"I Love You too kak !" Jawab Aulia masih menikmati detak jantung Benki.


Lala dan Melati yang melihat adegan itu dari balkon lantai atas, ikut tersenyum melihat adegan romantis itu.


"Semoga mereka bisa segera menikah, kelihatannya udah gak tahan tuh !" Ucap Lala.


"Gara-gara kebun singkong ?" Ucap Melati.

__ADS_1


Keduanya refleks menutup mulut saat akan tertawa keras lagi dan buru-buru menuju kamar masing-masing sebelum sejoli itu menyadari kehadiran mereka.


__ADS_2