Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
038


__ADS_3

Fajar mengirim pesan kepada Rizky untuk mengijinkannya datang kapanpun mereka mau dan ia juga memberitahu jadwal kegiatan perusahaan mereka.


Rizky yang membaca itu pun berpikir dan berusaha menyesuaikan dengan kegiatan mereka hingga akhirnya setelah sekian lama berpikir, Rizky mengirim waktu mereka akan berkunjung yaitu lusa yang dibalas oke oleh Fajar.


Fajar tidak menyangka gadis pecicilan itu memiliki kisah cinta yang rumit, mencintai suami orang namun memilih mengalah. pembawaannya yang tengil dan ceria ternyata menutupi lubang besar dihatinya. Fajar beranjak memasuki ruangan Benki membawa berkas juga menyampaikan keinginan pihak PT. Samudera Api.


Keesokan harinya, Lala baru saja duduk dikursinya saat Fajar dengan cepat menghampirinya.


"La, model yang akan membintangi iklan produk baru akan datang dan menerima arahan dari pak direktur !" Ucap Fajar.


"Eh, kok tiba-tiba ?" Lala protes.


'Tuan Benki juga tiba-tiba kasih berita kalau ia mengundang model itu hari ini sebab kita akan segera mempersiapkan proses syuting !" Jelas Fajar.


"Jadi gimana dong ? Apa yang mau disuguhkan tiba-tiba seperti ini ?" Tanya Lala.


"Hmm.. pesan aja sama Fitri dan Tika !" Jawab Fajar.


"Baiklah !" Lala menghela nafas dan menelpon toko roti. Setelah menyampaikan maksudnya kemudian terdengar suara Fitri yang ngomel-ngomel padanya setelah mengorder dalam jumlah banyak diwaktu mepet.


Lala menutup telepon setelah Fitri menyanggupi walau harus mendengar omelan gadis itu karena permintaan Lala di waktu sibuknya.


Sekian waktu berlalu, Fitri dan Tika akhirnya datang mengirim pesanan Lala. Lala keluar menemui Fitri dan Tika dengan wajah nyengir saat melihat wajah Fitri dengan mimik sangar dan Tika yang menahan tawa.


"Eh, itu muka santai aja dong, jangan pasang wajah gitu !" Ucap Lala.


"Grrrrrrrrrrrr !" Fitri menggeram menatap Lala.


"Eh, dia kenapa ?" Lala beralih pada Tika.


"Tadi setelah di ngomelin kamu di telepon ganti dia diomeli bos !" Tika tertawa.


Teringat saat Fitri mengomel ditelepon, semua karyawan yang menoleh kearah Fitri dengan tidak percaya. Bahkan sang bos yang kebetulan lewat malah melotot dengan mulut terbuka lebar bahkan bosnya langsung merasa sesak nafas mendengar umpatan Fitri membuat beberapa karyawan langsung menolong sang bos dan membantunya duduk di kursi.


"Tenang bos, itu yang telpon teman kami, jadi aman !" Bela Tika.


"Fitri, pelanggan itu adalah raja. Meski temanmu tapi dia tetap pelanggan yang harus diperlakukan seperti raja !" Semprot sang bos saat Fitri mendekati mereka.


"Baik bos !" Ucap Lala pelan.


"PT. EndoFood memajukan pesanannya agar datang sejam lebih awal jadi tolong dibuat sekarang karena sejam lagi akan dikirim !" Ucap Fitri pada karyawan lain


"Apa ? Kamu mengomeli pelanggan dari PT. EndoFood. Fitriiiiii... Kau tau tidak mereka itu pelanggan terhormat ?" Ucap sang bos menggelegar membuat semua yang ada disitu segera ngacir membuat pesanan Lala.


Fitri hanya tertawa kemudian kabur memasuki dapur membantu teman-temannya menghindari tatapan membunuh sang bos.


Mendengar itu Lala juga ikut tertawa, wajah Fitri masih sangar.


"Maaf.. maaf.. nanti aku traktir deh. Pesan apa aja aku yang bayar !" Ucap Lala menghilangkan mimik sangar Fitri.


"Oke. Ini tagihannya !" Sambutnya antusias sambil menyerahkan struk pembayaran pada Lala.


"Terima kasih telah mengorder dari toko kami, selanjutnya kami menunggu orderan anda selanjutnya !" Ucap Fitri. Lala tersenyum seraya mengangguk.


"Iya oke, tapi selanjutnya aku dapat diskon kan ?"


"Heh !" Fitri dan Tika memekik bersamaan membuat Lala tertawa.


"Lain kali beli yang banyak ya, pasti kantor besar begini orangnya banyak !" Ucap Tika.


"Oke deh !"


Bersamaan itu Fajar melintas, Lala langsung meminta bantuannya untuk membantu membawa 2 kotak kue. Fajar mendekat pada mereka.


"Bayar dulu ya, uanganya ketinggalan di meja !" Lala menyerahkan struk pembayaran pada Fajar saat meraba kantongnya yang kosong.


Tanpa banyak kata, Fajar membuka dompet dan menyerahkan uang pada Tika.


"Terima kasih sudah mengantarkan pesanan kami. Kami sangat menghargainya, maaf jika pesanan kami tiba-tiba karena kondisi yang tiba-tiba juga !" Ekspresi datar Fajar membuat ketiga gadis itu melongo tidak percaya. Fajar bersikap 180 derajat amat berbeda, sekarang dia terlihat gentle abis.


"Apa ini sudah semuanya ?" Tanya Fajar pada Lala yang hanya mengangguk.


"Kalau begitu permisi dan terima kasih !" Ucap Fajar kemudian berlalu masuk begitu saja.


Tiga gadis yang ditinggalkan masih terdiam mematung, saling lirik melongo tidak percaya. Apalagi Tika dan Fitri yang sering menjadi objek gombalan si playboy ini, tak yakin kalau pria yang baru saja bicara dengan mereka adalah tetangga mereka yang playboy cap macan.


"LA......!" Panggil Fajar dengan keras membuat 3 gadis itu terperanjat.


"Oke guys, sekali lagi terima thank you banget !" Lala berlari memasuki lift menyusul Fajar.


"Wow kok bisa biasa aja lihat pesona Fitri dan Tika ?" Lala bertanya pada Rizky membuat cowok itu hanya mengangkat bahu.

__ADS_1


"Keajaiban dunia ke-8 !" Tambah Lala membuat Fajar melotot kearahnya.


Tamu yang ditunggu sudah berada menaiki lift dan Lala sudah berada didepan lift menyambut tamu mereka dan saat lift terbuka, sang manajer model langsung tersenyum ramah padanya.


"Selamat siang !" Sapanya ramah.


"Selamat siang. Silahkan !" Lala membimbing 6 orang itu untuk mengikutinya menuju ruangan direktur.


Gadis yang bernama Angel Mutiara itulah yang terpilih menilai dari acting yang cukup memukau dan natural serta penampilan dan tinggi badannya yang sesuai kriteria mereka.


Sekarang semua sudah duduk di sofa ruangan Evan.


"Baiklah, pertama kami berterima kasih karena anda sudah memberikan kabar baik kepada agensi kami dan memakai model kami untuk mengiklankan produk anda. Kami berjanji akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan anda !" Ungkap sang manajer wanita yang berkisaran berusia 50 tahun itu.


"Baiklah, kami serahkan pada kalian. Tolong beri kami hasil yang terbaik !" Ucap Benki.


Fajar sejak tadi hanya memandangi sang model dengan wajah datar dan senyum tertahan namun kilat matanya memperlihatkan kekaguman yang nyata.


"Baiklah, pemotretan akan dilakukan Minggu depan dan selama itu tolong jaga kondisi tubuh anda. Bagaimanapun anda harus tampil maksimal !" Ucap Fajar tegas.


"Baik !" Sang model tersenyum manis membuat Fajar ingin pingsan.


Benki dan Lala benar-benar ingin mengurung Fajar dikamar mandi, bisa dilihat jelas sifat genit cowok itu yang tersembunyi pada wajah coolnya.


Namun yang mereka bertiga tidak tau bahwa sang model hanya fokus pada sang direktur utama. Saat melihat rupa orang itu serta perusahaannya yang besar sekejap membuatnya menginginkan pria itu.


Setelah dicapai kesepakatan, agensi itu pun undur diri dengan tatapan model yang menatap intens Benki.


Waktu pulang kantor tiba, Fajar menatap Benki kemudian menatap Lala.


"La, besok ada kunjungan kerja dari perusahaan kota J. Ntah dari perusahaan mana, kita bisa tau saat mereka tiba nanti. Jadi tolong siapkan lagi konsumsi untuk tamu 2 orang !" Ucap Fajar.


"Baiklah !" Lala menganggukkan kepala dan bersama menuju lift membelakangi Benki dan Fajar yang saling lirik.


*****


Hari ini, Evan dan Rizky akan ke kota B, pura-pura melakukan kunjungan kerja pada perusahaan Benki yang sebenarnya hanya Evan yang ingin menemui Lala.


Perjalanan yang diyakini akan berlangsung selama 7 jam membuat Evan yang tidak sabar memerintahkan Rizky untuk menyewa helikopter.


Keduanya berangkat jam 9 pagi menggunakan helikopter dan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam.


Menaiki sebuah taksi dan menuju PT. EndoFood membuat jantung Evan berdetak tidak karuan. Tak lama lagi ia akan kembali bertemu dengan pemilik hatinya, selama perjalanan lagu Armada pemilik hati yang mengalun dalam taksi mengoyak jiwa Evan.


Kini taksi telah berhenti didepan kantor Benki. Evan berdiri mematung menatap tinggi kantor itu.


Lala yang mendapat telepon dari resepsionis yang mengabarkan kedatangan tamu dari kota J langsung bersiap. Memeriksa wajahnya dari kaca kecilnya. Rambut coklatnya yang terus di pertahankan warnanya sejak masuk ke perusahaan ini tergerai indah.


Setelah itu Lala menuju lift dan berdiri didepannya bersiap menyambut sang tamu.


Sedangkan itu Benki dan Fajar mengintip, ingin tahu seperti apa pertemuan yang akan terjadi pada keduanya.


Evan yang sudah berada di lift, menatap layar angka yang berubah setiap menaiki satu lantai demi lantai, dadanya bergemuruh hebat apalagi saat detik-detik menuju lantai direktur membuatnya terasa sulit bernafas. Rizky hanya bisa menepuk bahu sang bos untuk menenangkannya.


Saat angka berhenti bergerak yang menandakan telah sampai di lantai direktur, Evan menarik nafas.


TING..


Suara pintu lift yang terbuka, mempertemukan 2 insan yang masih saling mencintai namun harus berpisah disaat waktu tidak memihak kepada mereka namun sekarang waktu pula yang mempertemukan mereka.


Lala terperangah amat sangat, menatap tidak percaya pada sosok yang baru saja muncul dari balik lift. Jantungnya terasa mau meledak saat pria yang selama ini dirindukannya kini berdiri tepat didepannya. Begitu pula Evan, meski memandang Lala dengan datar tapi sorot matanya sarat penuh kerinduan. Menatap gadis ini sekarang membuat jantungnya berdebar kencang. Mata keduanya saling menatap, menautkan rindu yang selama ini terpendam.


Evan menelisik gadis didepannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lala yang dulu yang sederhana namun tetap anggun dan modis kini sudah tidak ada lagi dan telah berubah menjadi gadis cantik nan seksi serta modis.


Rambut coklatnya, makeup-nya dan kemeja tanpa lengannya serta rok diatas lututnya benar-benar hampir membuat Evan pangling. Pandangan Evan tertuju pada tangan kanan gadis itu yang memperlihatkan 2 cincin hitamnya membuat hati Evan menyeringai.


Lala berusaha sangat keras menahan air matanya agar tidak jatuh, tubuhnya mematung tidak bisa bergerak. Pikirannya kosong seketika tidak tahu harus berbuat apa.


"Selamat datang di PT. EndoFood. Apa perjalanan kalian menyenangkan ?" Sambut Benki memecah kesunyian.


"Terima kasih atas sambutannya !" Evan menoleh kearah Benki dan melewati Lala begitu saja. Rizky yang tadinya berniat ingin memiting leher gadis itu seketika mengurungkan niatnya saat dilihatnya Lala ingin menangis.


"Mari, silahkan masuk !" Ajak Benki memasuki ruangannya. Keempat pria itu memasuki ruang direktur meninggalkan Lala seorang diri.


Saat itulah air mata Lala tak tertahankan lagi, jatuh begitu saja ikut menumpahkan sesak hatinya. Kakinya pun terasa tak mampu menahan bobot tubuhnya hingga merosot duduk.


Segera tersadar, Lala beranjak, menghapus air mata dan menelepon bagian pantry meminta mereka untuk membawakan minuman dan cemilan yang sejak pagi sudah diantar Fitri dan Tika.


Tak lama kemudian lift terbuka memunculkan 2 OB membawa nampan berisi teh dan juga roti serta kue.


Lala membimbing keduanya untuk masuk keruangan Benki dan menyajikan didepan masing-masing orang. Setelah itu Lala duduk disamping Fajar yang berhadapan dengan kedua tamu.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati !" Ucap Lala pada kedua tamunya kemudian menunduk.


Selama pembicaraan antara Evan dan Benki, Lala benar-benar tidak fokus. Sesekali dia melirik Evan, sekian lama tidak bertemu, Evan terlihat lebih kurus, wajahnya semakin tirus dan ia terlihat sedikit pucat dan Rizky, Lala rasa tidak ada yang berubah dari cowok itu.


Waktu berlalu tak terasa sudah waktunya makan siang.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama ?" Ajak Benki. Evan dan Rizky saling pandang.


"Eum, kami.......!


"Ayolah, saya sudah mereservasi tempat di restoran seafood !" Ucap Fajar memotong perkataan Rizky. Lala menoleh kearah Fajar dengan kening berkerut.


"Baiklah !" Akhirnya Evan menyetujui.


"Mari !" Kelimanya beranjak menuju lift.


Saat mobil sudah tersedia, Fajar langsung masuk dikursi kemudi dan Benki disebelahnya. Kemudian Rizky langsung naik dikursi belakang merapat ke pintu, mau tidak mau Evan duduk disamping Rizky diikuti Lala.


Jarak yang begitu dekat, membuat jantung Lala berdebar tak karuan, apalagi aroma parfum Evan yang menyeruak memenuhi penciumannya. Dia tidak menyangka hari ini akan datang, saat dia berada didekat Evan, amat dekat. Mendengar hembusan nafas pria itu membuat Lala sedikit salah tingkah dan memutuskan mengalihkan pandangannya pada pemandangan luar. Hal yang sama pun dirasakan Evan, ia melirik gadis yang berada tepat disampingnya.


Mobil sudah berada di restoran seafood dan kelimanya memasuki restoran itu dan menuju private room yang telah direservasi oleh Fajar.


"Silahkan pesan apa saja !" Ucap Benki kepada kedua tamunya.


"Kami ikut saja apapun yang dihidangkan !" Jawab Evan.


"Oke, La, pesan makanan !" Benki menyerahkan buku menu pada Lala dan tak lama gadis itu terlihat berbicara pada pelayan, Evan menatap dalam pada gadis itu.


Sambil menunggu pesanan, Evan dan Benki kembali terlibat pembicaraan terkait bisnis. Lala hanya menunduk tak berani menatap sekeliling.


Akhirnya makanan pesanan datang, udang, cumi-cumi dan kepiting mendominasi meja, kelimanya menikmati makanannya dalam diam.


Selesai makan, Lala pamit ke toilet yang diikuti tatapan mata Evan.


"Jadi, apa bisa anda mengabulkan permintaanku ?" Tanya Evan beralih pada Benki.


"Akan saya pikirkan !" Jawab Benki.


"Permisi !" Evan pun berjalan menuju toilet.


Saat Lala keluar dari toilet dan merapikan pakaiannya saat sebuah tangan menariknya dan mengurungnya di tembok membuatnya terpekik kaget.


"Rindu padaku ?" Tanya Evan membuat Lala melotot.


"Bagaimana kabarmu ? Apa kau bahagia diatas penderitaanku ?" Evan berkata tajam membuat Lala meneteskan air matanya.


"Bos !"


"Berhenti panggil aku seperti itu. Aku bukan atasanmu lagi !" Bentak Evan membuat Lala terkejut.


"Van, maaf !" Lala menangis.


"Maaf ? Maaf untuk apa ?" Wajah Evan mendekat membuat Lala bisa merasakan hembusan nafas pria itu.


"Aku memilih agar keluargamu tetap utuh dan bahagia !" Ucap Lala pelan.


Evan menatap nyalang gadis didepannya dan serta merta meninggalkannya tanpa berkata apa-apa lagi.


Lala menghapus air matanya, hatinya terasa perih melihat reaksi Evan tadi. Sejenak terdiam memperbaiki suasana hatinya. Setelah dirasa baik, Lala kembali.


"Baiklah, kita berpisah disini !" Kelimanya sudah berada diluar restoran.


"Eh, anda menginap dimana ?" Tanya Benki.


"Kami tidak menginap setelah ini kami akan langsung kembali ke kota J !" Jawab Evan.


"Anda pasti kelelahan menempuh jarak selama itu kan ?" Ucap Benki.


"Tenang saja, kami menggunakan helikopter !" Jawab Rizky.


"Wow !" Ucap Benki dan Fajar bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati saja dijalan. Sampai jumpa lagi !" Ucap Benki.


Evan menyalami Benki kemudian Fajar dan terakhir Lala.


"Senang bertemu denganmu !" Ucap Evan tajam seraya jempolnya meraba cincin hitam dijari Lala.


"Sama-sama pak !"


Setelah itu Rizky mendapatkan taksi dan membukakan pintu untuk Evan dan segera pergi dari tempat itu. Lala menatap nanar taksi itu hingga hilang dari pandangan membuat Benki dan Fajar saling tatap dengan penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2