
Rrrrrrrr... Rrrrrrrr...
Hp Evan bergetar, segera pria itu mengangkatnya.
"Halo pa !" Sapa Evan pada ayahnya.
"Oh ya kapan papa datang ?" Tanya Evan pada papanya yang kemarin pergi berlibur ke Amerika sekaligus menjenguk kedua adiknya yang meneruskan pendidikan disana.
"Oke pa, Evan segera kesana !" Evan mematika telepon. Kemudian Evan mengajak Rizky dan Lala untuk makan siang bersama.
"La, panggil Tiwi !" Perintah Evan.
"Nona Tiwi sedang menghadiri undangan di hotel Q. Jadi saya rasa sekarang dia belum kembali kekantor !" Ucap Rizky.
'Cih, palingan rapat bareng Jerry !' pikir Lala.
"Baiklah, ya sudah ayo berangkat !" Evan mulai berjalan diikuti dua bawahannya.
Di restoran S, Evan memasuki private room, disana sudah ada papanya dan juga mertuanya.
"Pa !" Sapa Evan pada keduanya.
"Oh Van, ayo sini duduk !" Ucap tuan Robby.
Evan menurut diikuti Rizky dan Lala.
"Tuan !" Sapa Rizky pada tuan Robby.
"Ky, bagaimana pekerjaanmu ? Apa Evan menyusahkan mu ?" Canda tuan Robby.
Rizky tertawa "semua baik tuan !" Ucap Rizky sopan.
"Baguslah seperti itu !" Tuan Robby tersenyum puas. Semua yang ada diruangan itu mulai memesan makanan.
"Van, bagaimana hubunganmu dengan Cleo ?" Tanya tuan Kevin.
"Kami baik pa !" Ucap Evan tersenyum. Tuan Kevin menarik nafas lega. Rizky terdiam kembali berpikir.
"Lalu, kapan kalian berencana punya anak ?" Tanya tuan Robby membuat Evan, Rizky dan Lala kaget.
"A..anak !" Ulang Evan, wajahnya memucat seketika. Wajah Lala menunduk.
"Cleo masih kuliah pa, untuk sekarang Evan biarkan dia fokus kependidikan dulu. Jadi dia tidak terlalu pusing dengan urusan anak !" Ucap Evan.
Cleo yang berada disemester akhir kuliah Pascasarjananya sangat disibukkan dengan persiapan tingkat akhirnya. Kadang jika wanita itu mumet dan butuh refreshing dari segala kesibukannya maka dia akan jalan-jalan dengan teman-temannya yang dimana membuat ia dan suaminya jarang bersama.
Tuan Kevin yang mendengar itu cukup lega, dugaannya Evan belum mengetahui penyelewengan Cleo dan dia berusaha agar putrinya akan tetap berada disisi Evan. Dia tidak ingin kehilangan menantu seperti Evan.
"Papa harap kamu dan Cleo bisa selalu bersama em maksud papa kalian bisa rukun dalam keadaan apapun. Papa harap kamu bisa menjaga Cleo selamanya !" Ucapan tuan Kevin sontak membuat Evan mematung. Tanpa kentara Evan menatap Lala didepannya yang duduk disamping Rizky.
Gadis itu menunduk dengan wajah sendu.
"Jujur saja, papa ingin segera menimang cucu. Pasti seru dengar suara bayi !" Tuan Kevin menerawang membuat Evan salah tingkah.
Bagaimanapun ia dan Cleo akan mengakhiri pernikahan ini dan masing-masing dari mereka akan bersama dengan orang yang dicintai.
"Lala, bagaimana denganmu ? Apa Evan memberikan banyak pekerjaan untukmu ?" Tuan Robby beralih pada satu-satunya wanita diruangan itu.
"Baik-baik saja pak, semua bisa saya atasi !" Ucap Lala sopan.
"Dia... ?" Tuan Kevin menatap sahabatnya.
"Oh kenalkan, dia Mirela sekertaris Evan !" Tuan Robby memperkenalkan. Lala menunduk hormat pada tua kevin yang dibalas anggukan kepala tuan Kevin.
"Mereka berdua sepertinya cocok !" Ucap tuan Kevin menunjuk Rizky dan Lala.
"Sepertinya begitu !" Tuan Robby menatap serius keduanya. Rizky dan Lala saling pandang.
HAHAHAHAHA' Rizky tertawa diikuti Lala. Benar-benar salah tingkah apalagi tatapan Evan tajam menusuk.
"Benar, kenapa kalian gak coba aja dulu, siapa tau....!" Ucapan tuan Robby terhenti saat Rizky dan Lala bersamaan menggelengkan kepala.
"Kalian udah pernah mencoba ?" Tanya tuan Robby pada Rizky dan Lala.
"Mencoba apa ?" Tanya Rizky dan Lala bersamaan.
"Kalian pernah mencoba pacaran. Siapa tau jodoh ?" Kata tuan Robby.
__ADS_1
Kembali Rizky dan Lala menggelengkan kepala bersamaan.
"Tidak tuan, kami lebih nyaman sebagai rekan kerja yang baik !" Ucap Rizky.
"Setuju !" Lala langsung menyahut. Tuan Robby dan tuan Kevin terkekeh melihat kelakuan keduanya. Sedangkan Evan, dia menatap aneh pada keduanya.
-----
Cleo baru saja keluar gerbang kampusnya saat melihat mobil Alphard hitam yang sangat dikenalinya, wanita itu terdiam sesaat bingung bagaimana bersikap. Kejadian terakhir saat Rizky datang dan mengacaukan pertemuan mereka membuat Cleo tidak enak.
Pengemudi mobil itu keluar dan membukakan pintu untuk Cleo. Perlahan wanita itu melangkah memasuki mobil. Didalam Bryan menatap datar padanya dan dibalas dengan tatapan nanar Cleo.
Cleo menggeser duduknya mendekat, memeluk erat tubuh pria itu, meluapkan air matanya atas perasaannya yang tak menentu.
"Maaf !"
"Maaf untuk apa ?"
"Papa meminta aku mengakhiri ini semua !"
"Cle !"
Tangisan Cleo semakin deras, rasa tidak ingin melepaskan pria ini. Cleo ingin terus memeluk tubuh kekar itu.
"Sudah, jangan menangis, kita pikirin bagaimana baiknya !" Bryan balas memeluk Cleo, membelai kepalanya menengkan wanita itu.
Sembari tangannya membelai, otak Bryan berputar cepat bagaimana agar rencananya bisa tetap berjalan.
Dan ditempat yang lain, wajah Rizky mengeras saat melihat pesan yang dikirimkan anak buahnya yang memata-matai Cleo. Obrolan antara tuan Robby dan tuan Kevin tidak dia dengarkan. Otaknya sibuk berpikir bagaimana mengatasi masalah ini.
Dia tidak rela jika Cleo bersama yang lain, apalagi orang yang belum jelas siapa dia. Rizky berpikir untuk lebih cepat mencari tahu jati diri Bryan Adijaya itu.
Direstoran yang sama dan di private room yang lain, Bryan dan Cleo baru saja duduk dan memesan makanan, melepaskan masker yang menutupi wajahnya pemberian Bryan agar terhindar dari kejadian terakhir kali.
Bryan menarik Cleo kedalam pelukannya.
"Kita pasti bisa lewatin ini semua. Aku akan cari cara untuk mengatas ini semua !" Bryan kembali membelai kepala wanita itu.
"Tapi bagaimana, papa pasti tau kita sering ketemu !" Wajah Cleo sendu.
"Kamu tenang aja, selama kamu bisa menjaga kepercayaanmu padaku. Aku akan cari jalan keluar !" Bryan merapatkan pelukannya.
"Jangan dulu. Tolong sabar !" Cleo melepaskan diri dari Bryan, tak berani menatap wajah Bryan. Terakhir kali Bryan berhasil kissmark dilehernya membuatnya waspada agar Bryan tak melewati batas karena dia pun sadar masih jadi istri sah Evan.
Wajah Bryan meradang, jujur saja penolakan Cleo barusan melukai harga dirinya. Ditatapnya tajam wanita itu.
'Tahan, sabar. Kalau tujuanmu sudah terpenuhi wanita ini bisa dengan mudah kamu bereskan' pikiran Bryan menari dikepalanya.
Makanan pesanan mereka datang, Bryan menarik nafas. Meraih jemari Cleo mendekat padanya.
"Ayo makan !" Ucapnya seraya membelai lembut pipi wanita itu. Cleo mengangguk dan menatap Bryan sekilas.
Perasaannya tak enak atas penolakan pada Bryan. Meski ia yakin mencintai Bryan namun tak pelak ia ingin benar-benar menyerahkan sepenuh hatinya saat tak menyandang status sebagai istri orang ditambah dengan perlakuan Rizky kepadanya membuat kepalanya ingin pecah.
Setelah menyelesaikan makannya, Cleo menatap Bryan.
Ingin sekali Cleo mengatakan pada Bryan bahwa dia dan Evan telah sepakat berpisah dan akhirnya mereka bisa bersama. Tapi Cleo menundanya berpikir akan memberikan Bryan kejutan atau saat ia bisa meyakinkan papanya.
"Ya udah kak, ayo pulang !" Cleo sudah mulai beranjak dari duduknya.
Bryan menghentikan langkah Cleo dan memeluk wanita itu dari belakang. Cleo mematung tak bereksi.
"Siapa laki-laki itu ?" Tanya Bryan menyimpan dagunya dibahu Cleo.
"Rizky, sekertaris Evan. Evan biasa menyuruh Rizky menjagaku kalau Evan pergi keluar kota !" Jelas Cleo.
"Apa kalian sering pergi berdua ?" Bryan menoleh pada wajah Cleo. Wanita itu mengangguk.
"Sering ?" Pertanyaan itu membuat Cleo ikut menoleh.
"Dia tidak akan berani macam-macam sama aku karna aku ini istri atasannya !" Cleo melepaskan pelukan Bryan dan menatap tajam pria didepannya. Bryan menghela nafas
"Jaga hatimu baik-baik. Kamu bilang kamu mencintaiku jadi tetap jaga seperti itu !" Bryan memberi peringatan memegang kedua bahu Cleo memaksa wanita itu menatapnya. Cleo mengangguk lagi. Bryan memeluknya berusaha meyakinkan Cleo bahwa dia pun merasakan hal yang sama. Jangan sampai rencana yang telah disusun rusak.
"Ya udah, Ayo pulang !" Cleo kembali melepas pelukan dan mulai melangkah keluar diikuti Bryan.
Bersamaan dengan itu Rizky dan Lala keluar dari ruangan yang lain, sesaat keempatnya mematung saling pandang.
__ADS_1
"Van, kemari dulu !" Evan yang juga hampir keluar seketika berbalik mendekat pada ayahnya yang kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Evan. Tuan Kevin pun keluar dan matanya melotot melihat putrinya yang juga kaget melihatnya.
Suara Evan, terdengar bersahutan dengan tuan Robby semakin dekat membuat empat orang lain panik seketika. Refleks Rizky bergerak cepat mendorong Cleo masuk kembali kedalam ruangan private tadi.
Bersamaan itu, Evan dan tuan Robby muncul. Keduanya terlihat bingung dengan ekspresi kaget tuan Kevin dan Lala. Sedangkan, Bryan membalikkan badan menghindari kontak mata dengan orang-orang didepannya dan pandangannya tertuju pada ruangan yang baru saja dimasuki dua orang tadi.
"Mana Rizky ?" Tanya Evan pandangannya kesana kemari.
"Dia... Di... Toilet !" Ucap Lala terbata. Dia berpandangan dengan tuan Kevin yang lega dengan jawabannya.
"Lebih baik kita tunggu diluar aja !" Ajak tuan Kevin dan membimbing semuanya keluar. Ia melirik Bryan dengan emosi tertahan, Jika saja tidak ada besan dan menantunya dipastikan tinjunya akan melayang lagi pada pria itu.
Didalam ruangan itu, Rizky memeluk erat Cleo seolah-olah melindungi gadis itu dari sesuatu yang akan menyakitinya. Pipi keduanya bersentuhan erat. Jantung Cleo terasa lompat-lompat ditempat. Pelukan Rizky semakin erat dan ia menolehkan wajahnya serta merta mencium pipi Cleo hangat dan dalam membuat Cleo mematung.
Wanita itu tersadar, ia berontak dan mendorong tubuh Rizky dengan keras. Secepatnya ia keluar mengabaikan Bryan yang masih berdiri diluar ruangan. Cleo menyelinap dipintu samping restoran dan segera menyetop taksi yang lewat.
Jantung Cleo tidak karuan, mengapa saat dia dilema dengan Evan dan Bryan malah kini muncul Rizky.
Sedangkan Rizky pun keluar ruangan itu, bertatapan dengan Bryan yang melongo melihat Cleo yang melewatinya begitu saja.
Keduanya bertatapan tajam, saling menembakkan sinar laser tak kasat mata.
Kesadaran Rizky kembali saat handphonenya berbunyi, pria itu segera keluar restoran menuju bosnya.
"Jauhi Cleo !" Rizky memberikan peringatan pada Bryan sebelum melangkah keluar.
Bryan emosi, tangannya terkepal kuat. Ingin sekali menghajar asisten rendahan itu. Ia pun kemudian keluar menuju mobilnya sendiri. Sepertinya dia perlu rencana cadangan sebab sudah muncul penghalang untuknya.
Sedangkan Cleo, taksi yang ditumpanginya dihadang sebuah mobil membuat supir menginjak rem mendadak. Cleo mengenali mobil itu dan seketika pucat saat papanya muncul dari dalam mobil dan mengetuk-ngetuk pintu taksi.
Saat Cleo membukanya, papanya segera menarik kasar dirinya setelah memberikan uang kepada supir.
"Pa, tangan Cleo sakit pa !" Keluh Cleo namun tuan Kevin seperti tak mendengar, wajahnya amat menyeramkan. Dilemparnya Cleo masuk dan mengemudikan mobil dengan kencang.
PLAKK.
Sesampainya di rumah, tuan kevin langsung menampar Cleo dengan seluruh kekuatan membuat wanita itu terlempar dan hidungnya berdarah. Tak puas melihat itu, tuan Kevin melepas tali pinggangnya.
"DASAR ANAK TIDAK TAU DIRI !" Teriak tuan Kevin langsung menyabet tubuh Cleo. Wanita itu menjerit seketika membuat semua pembantu keluar dan hanya menonton tanpa bisa membantu.
"KURANG AJAR !" Sabetan kedua lagi membuat Cleo menjerit.
"MAS !" Teriak Bu Nadia, ia menahan tangan tuan Kevin yang kembali ingin menyabet Cleo. Nafas suaminya naik turun akibat amarah. Cleo menangis menahan sakit dikulitnya yang lecet, memar maupun berdarah.
Bu Nadia meraih Cleo yang terlihat sulit bernafas gara-gara tangisan. Wajahnya memerah merasakan sakit.
"KENAPA KAMU MASIH MENEMUI DIA ?" Tuan Kevin masih sanggup teriak. Cleo memeluk mamanya erat. Dia sangat takut pada amarah papanya.
"Bisa kamu bayangkan jika Evan dan mertua kamu melihat kamu disana dengan laki-laki lain. HAH ?" Nafas tuan Kevin ngos-ngosan benar-benar emosi.
"Mas, sudah.. sudah. Jangan marah lagi !" Istrinya memelas apalagi melihat keadaan anaknya.
"Sepertinya anakmu ini benar-benar sudah tak mau menganggap aku papanya lagi. Beraninya dia menemui laki-laki itu !" Tuan Kevin masih emosi.
"Pa, Cleo minta maaf pa !" Ucap Cleo ditengah tangisnya.
Tuan Kevin membalikkan tubuhnya, berusaha meredam amarahnya. Jika tidak, bisa dipastikan Cleo akan terluka parah akibat menerima amarahnya. Diraihnya handphonenya.
"Halo Van, Cleo ada dirumah papa, untuk sementara dia disini dulu karena papa ada perlu dengan dia !" Ucap tuan Kevin ramah.
"Oke Van, maaf ganggu kerajaanmu. Oke !" Tuan Kevin menutup telepon. Berbalik kearah anak istrinya dan menatap sinis pada Cleo. Meninggalkan keduanya begitu saja.
Bu Nadia membawa Cleo kekamarnya setelah meminta salah satu pembantunya membawakan air putih.
"Ini minum dulu !" Bu Nadia menawarkan air pada Cleo yang langsung diteguk wanita itu.
"Aduh ma, sakit !" Keluh Cleo saat mamanya mengoleskan obat pada lukanya.
"Makanya Cle, mama kan sudah bilang turuti papamu. Kenapa kamu ngeyel ?" Bu Nadia ikut menyalahkan Cleo membuat putrinya kembali menangis.
"Cleo mencintainya ma !" Ucap Cleo pelan. Mamanya hanya bisa menghela nafas.
"Cle, lepaskan laki-laki itu. Kembali ke Evan. Dimana lagi kamu mendapat suami sebaik Evan !" Bu Nadia mencoba menasehati. Cleo hanya tertunduk.
Setelah lukanya dibalut obat, Bu Nadia membaringkan Cleo ditempat tidurnya. Cleo memejamkan mata. Berpikir Cleo telah terlelap, Bu Nadia beranjak keluar.
Saat itulah Cleo membuka matanya kembali menangis. Berpikir bagaimana baiknya. Dia benar-benar takut pada papanya, ia sudah tidak yakin bisa mengatasi papanya.
__ADS_1
Segera ia duduk dengan menahan sakit, meraih HP-nya dan menghubungi seseorang.
"Halo Bryan. Sayang ?"