Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 080


__ADS_3

Keesokan harinya Tiara pergi menemui Rafly di hotel tepi pantai dimana pertemuan rahasia mereka terjadi. Selama perjalanan pikiran Tiara terarah antara Benki dan Rafly.


Dia mencintai Rafly, maka dari itu dia melanggar aturan agensi dimana melarangnya menjalin hubungan percintaan, apalagi Rafly begitu pengertian dan selalu menuruti keinginannya. Tapi sekarang pertemuannya dengan Benki seketika merubah haluan, keinginan untuk mendapatkan pria itu begitu kuat dalam dirinya yang artinya dia harus melepaskan Rafly.


Sekarang dia sadar, bahwa untuk menggapai cita-citanya maka cinta saja tidak cukup, butuh dukungan moril dan materil yang pastinya tidak bisa ia dapatkan dari Rafly, tapi dari Ben, ia yakin sangat mudah baginya menggapai keinginannya.


Tiara mengacak rambutnya, pusing bagaimana caranya mengakhiri hubungan dengan Rafly dan mulai pendekatan dengan Ben ?


Sibuk berpikir, Tiara akhirnya sampai ditempat tujuan di sore hari. Rafly berencana mengajaknya menikmati matahari tenggelam dipinggir pantai. Tiara melirik jam tangannya, masih menunjukkan pukul 5 sore.


Setelah memarkir mobilnya dihalaman hotel, Tiara mengenakan topi dan masker kemudian turun celingak celinguk mencari keberadaan Rafly, sampai dilihatnya pria itu berada dibawah pohon tak jauh darinya seraya melambaikan tangan padanya.


"Kamu udah lama ?" Sapa Tiara.


"Iya tapi gak masalah. Aku udah pesan 2 kamar untuk kita !" Ucap Rafly tersenyum. Tiara terdiam, sejujurnya setelah ini dia ingin sekali pulang tapi mau bagaimana lagi karena ia sudah berjanji pada pria ini.


"Oke, kita mau apa sekarang ?" Tanya Tiara.


"Jalan-jalan dipinggir pantai tunggu matahari terbenam !" Rafly.


"Oke, ayo !" Tiara pura-pura semangat.


Tiara berjalan lebih dulu yang diikuti Rafly dari belakang, pria itu tersenyum smirk dan menoleh ke sekelompok pria yang juga tersenyum smirk melihatnya bersama Tiara.


Tiara memakai jaketnya saat angin laut begitu kencang menerpa tubuhnya. Rafly segera meraih jemari Tiara dan menggenggamnya membuat Tiara tertegun. Keduanya berjalan menyusuri oinggir pantai, sesekali ombak kecil menghantam kaki mereka.


Tiara jadi berpikir alangkah lebih baiknya jika yang sedang menggandengnya adalah Benki. Menyusuri tepi pantai, bermain air dan juga menikmati pemandangan matahari terbenam dengan ia yang merebahkan kepalanya di bahu Benki membuatnya senyum-senyum tidak jelas.


"Kamu kenapa Ra ?" Tanya Rafly melihat reaksi aneh Tiara.


"Nggak kok, aku cuma ingat yang lucu-lucu !" Kilah Tiara.


"Andai kita bisa sering-sering seperti ini ?"


"Maksudnya ?"


"Ya, kita bisa jalan kapanpun kamu kita mau !" Rafly memulai.


"Yank...!" Tiara mulai merengek.


Aku sudah melihat iklanmu. Kamu cantik banget disitu ?" Rafly menoleh seraya tersenyum pada Tiara.


"Oh ya ?" Tiara tersipu juga mendengar itu.


"Apa penghasilanmu besar ?" Tanya Rafly.


"Maksudnya ?"


"Penghasilanmu sebagai model ? Apa gajimu besar ?"


"Iya lumayan !"


"Sebesar apa ?"


"Kemarin saat pembuatan iklan itu honornya mampu beli rumah !"


"Apa ?" Rafly tampak terkejut.


"Kalau model pakaian ?" Tanya Rafly lagi.


"Hampir sama !"


Mendengar itu mata Rafly membola seketika, senyum smirk-nya semakin aneh.


"Bagaimana pekerjaanmu yank ?" Pertanyaan Tiara membuyarkan lamunan Rafly.


"Eh... Ng... Baik-baik aja yank !" Rafly gugup.

__ADS_1


"Oh, oke !"


Keduanya kemudian berhenti disatu titik kemudian bermain air bersama terkadang saling kejar-kejaran juga lomba lari dengan ombak yang datang menuju daratan hingga bola dunia itu semakin lama semakin rendah menuju balik lautan.


Rafly membawa Tiara duduk didahan pohon yang tergeletak pasrah diatas pasir kemudian duduk disana menunggu detik-detik bola dunia itu terbenam.


"Ra, lalu posisimu di hotel keluargamu bagaimana ?" Rafly membuka percakapan.


"Aku lepas tangan, semuanya aku serahin ke kak Toni !" Jawab Tiara dengan kening berkerut, tumben sekali Rafly bertanya tentang ini.


"Kok gitu !" Sentak Rafly tanpa sadar seraya menatap tajam kearah Tiara.


"Maksudnya ?" Tiara kaget melihat reaksi Rafly.


"Gak gitu yank maksudnya cuma kamu jangan lepas tanganlah, nanti hakmu itu akan kita gunakan dengan baik kalau kita udah nikah !"


"Hah ? Aku gak ngerti ?"


"Nanti kalau kita udah nikah, aku mau hakmu itu aku yang jalanin jadinya semua terbagi rata antara kamu dan kakakmu. Kalau kamu nanti sibuk kerja modelling biar aku yang urus hakmu di hotel itu !"


Mata Tiara memicing mendengar itu, ditatapnya Rafly tidak percaya saat sebuah kesimpulan muncul dipikirannya.


"Nanti aku akan ikut denganmu yank, aku juga akan hidup dari nafkah pemberianmu. Masalah hotel sepenuhnya milik kak Toni !"


"Gak bisa gitu dong, pokoknya aku mau hakmu di hotel itu dan aku yang harus ikut jalanin juga. Mungkin lebih cepat lebih baik jadi kalau kita nikah nanti semua jadi gampang. Oke Ra, jadi aku mau terjun langsung ke hotel keluargamu dan aku butuh bantuanmu untuk itu !" Entah Rafly sadar atau tidak dengan perkataannya.


Perasaan Tiara langsung tidak enak, pemandangan matahari terbenam didepannya pun tidak bisa ia nikmati. Diliriknya Rafly yang seolah tidak merasa berdosa setelah mengatakan hal barusan dan rasa ingin berpisah semakin bulat.


Setelah kegelapan mulai menyelimuti barulah keduanya beranjak dari sana dan langsung menuju restoran bergaya outdor itu. Keduanya kembali duduk dikursi beratapkan langit dan berlantaikan pasir disertai pemandangan laut dan mulai memesan beberapa makan.


3 orang pria duduk di meja tak jauh dari mereka dan 3 pria itu tersenyum penuh arti kepada Tiara yang dibalas senyum ramah oleh Tiara. Perasaannya kembali tidak enak saat tatapan ketiga pria itu menelisik dirinya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bahkan saat melirik kearah Rafly, pria itu juga ikut tersenyum kearah 3 pria itu.


"Aku ke toilet dulu yah ?" Tiara risih dengan tatapan 3 pria itu memutuskan menghindar sejenak. Melangkah menuju toilet.


Tiara memasuki sebuah bilik, menarik nafas mencoba menetralisir perasaan tidak enaknya. Setalah menyelesaikan hajatnya ia menuju wastafel mencuci tangan serta menatap wajahnya di cermin, sedikit pucat.


Saat berbelok, langkahnya terhenti seketika. Matanya terbelalak tidak percaya saat melihat dengan jelas Rafly meraih minumannya dan menoleh kesana-kemari melihat keadaan, saat cowok itu berpikir suasana aman dia memasukkan sebuah serbuk kedalam minuman Tiara dan mengembalikan ke tempatnya disertai senyum aneh.


Tiara segera membalik tubuhnya dengan tubuh gemetar, memeriksa bawaannya saat melihat tas dan jaketnya melekat padanya, ia segera menuju mobilnya dengan langkah cepat sesekali menoleh kebelakang berharap Rafly tidak melihatnya. Bahkan untuk membuka kunci mobil saja tangan Tiara gemetaran hingga kunci itu jatuh.


Tiara meraihnya dan membuka kunci mobil hingga terbuka, secepatnya ia mengemudikan mobilnya jauh dari sana. Ia ketakutan dan gemetaran tanpa sadar kecepatan mobilnya semakin tinggi hingga sebuah cahaya lampu mobil dari arah berlawanan membuatnya kaget dan mengerem seketika. Tiara menutup mata seraya menetralkan tubuhnya yang gemetar, diraihnya botol air yang selalu ia sediakan di dashboard mobil dan menenggaknya dengan tegukan besar. Terdiam sejenak menetralkan perasaanya hingga suara klakson mobil dibelakangnya membuatnya kembali menjalankan mobilnya.


Hp Tiara berdering memunculkan nama Rafly. Tiara mengabaikan panggilan itu hingga mati sendiri dan terus fokus pada kemudinya, mengabaikan setiap HP-nya berbunyi.


"Rafly brengsek !" Umpat Tiara.


*****


Keesokan harinya, Tiara berjalan-jalan ke hotel. Membuka sebuah kamar untuk dirinya sendiri dan mengirim pesan pada Aulia untuk datang ke kamar itu saat jam istirahat.


Tiara menonton televisi sesekali menatap keluar jendela. Hp-nya kembali berdering memunculkan nama Rafly, Aulia hanya menatapnya dengan benci. Pikirannya berkelana, entah apa yang terjadi jika saja dia meminum minuman itu. Dia juga tidak menyangka kalau Rafly, pria yang dia pikir mencintainya punya maksud tersembunyi padanya.


Panggilan itu mati dan Tiara dengan cepat menonaktifkan ponselnya. Pintu kamar terbuka, memunculkan Aulia dan makanan pesanan Tiara.


"Ayo makan dulu ?" Ucap Tiara sebelum Aulia bertanya. Keduanya menikmati makan siang itu hingga tandas.


"Kamu kenapa Ra ?" Akhirnya Aulia bertanya setelah keduanya selesai makan. Melihat wajah Tiara yang berbeda dari biasanya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Benki ?" Tiara balik tanya membuat Aulia membeku.


"Ng.. kami.. biasa aja !"


"Belum memutuskan hubungan ?" Tiara melotot.


"Ng.. belum Ra. Aku masih cari waktu yang tepat buat mutusin hubungan kalian !"


"Memangnya Benki itu orangnya seperti apa ?"

__ADS_1


Aulia membeku, salah satu ketakutannya terjadi. Tiara ingin tahu seperti apa sosok Benki.


"Ng.. dia tinggi juga tam...pan !" Ucap Aulia hati-hati membuat Tiara mengerutkan kening.


"Kamu suka padanya !" Tembak Tiara tepat sasaran, Aulia terbelalak menatap Tiara.


"Nggak kok Ra, ini gak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelasin !" Aulia panik.


"Stop ! Aku gak peduli. Kalau kamu suka sama Benki ya ambil aja !" Sahut Tiara enteng membuat Aulia melongo.


"Lagipula sekarang aku naksir sama seseorang, seorang direktur utama salah satu perusahaan terbesar di Indonesia !" Pandangan Aulia menerawang.


"Eh siapa ?" Aulia antusias.


"Namanya Benya... Eh panggil aja Ben. Dia tampan, kaya dan pastinya dia gampang bantu aku buat menembus modeling internasional !"


"Trus aturan kalau kamu gak boleh punya pacar tuh gimana ?"


"Kalau aku berhasil dapatkan tuan Ben, aku gak perlu khawatir apapun karena dengan kekuasaannya aku pasti bisa jadi model internasional !"


"Wow. Jadi bagaimana tuan Ben ? Kalian sudah mulai kencan atau bagaimana ?"


"Belum, baru pedekate !"


"Ya ampun, kirain udah lampu ijo. Ckckckck !" Aulia geleng-geleng kepala seraya merebahkan diri dan memainkan HP-nya.


Tiara menatap Aulia sejenak. Berpikir apa harus menceritakan tentang Rafly.


"Ul ?"


"Hmm ?"


"Kamu ingat kak Rafly gak ? Senior kita di universitas kemarin ?"


"Ingat. Kak Rafly yang cakep plus keren itu trus kuliah hukum ?"


"Iya, kami....!"


"Sayang banget ia malah jadi DJ, harusnya kan dia bisa jadi jaksa atau hakim !" Mendengar itu kening Tiara berkerut.


"Maksudnya bagaimana ?"


"Aku dengar juga dari teman-teman kuliah kita yang pernah datang kesini untuk seminar kalau mereka sering lihat kak Rafly di club' malam gitu. Jadi dia tidak pernah kerja jalur hukum !"


"Kamu yakin ?"


"Entahlah, toh aku juga dengar dari orang lain. Tumben tanya kak Rafly ? Kenapa ?" Pertanyaan Aulia membuat Tiara terdiam sejenak.


"Sebenarnya aku pacaran sama kak Rafly. Udah 2 tahun ini !"


"What ?" Aulia langsung menoleh kearah Tiara dengan mimik kaget, sontak langsung duduk.


Tiara mulai menceritakan tentang hubungannya dengan Rafly yang dimulai 2 tahun lalu dan bagaimana Rafly selalu mendukung karirnya juga tidak protes setiap pertemuan mereka berkurang juga hubungan mereka yang tidak boleh diketahui siapapun, hingga kejadian kemarin yang membuat mata Aulia melotot tidak percaya.


"Ya ampun, syukurlah kamu gak minum minuman itu. Mungkin aja itu obat tidur jadi kalau nanti kamu tidur dia bisa seenaknya lakuin ini dan itu !" Aulia bergidik saat mengatakan itu membuat Tiara ikut bergidik.


"Mulai sekarang jangan pernah ketemu dia lagi. Putusin dia trus blokir kontaknya. Oke !" Kata Aulia yang diangguki Tiara.


"Apa dia pinjam uang ? Berapa ?"


"Tidak ada !" Tiara menggeleng.


"Oh syukurlah, karena kudengar juga kak Rafly terlilit utang dari rentenir, eh atau jangan-jangan dia berniat kasih kamu obat supaya bisa ambil untung dari kamu. Contohnya, dia bakal foto kamu dengan pose bugil trus dia pake foto itu buat memeras kamu Ra atau jual foto-foto itu. Astaghfirullah. Apalagi kamu model ngetop jadi pasti dia bisa dapat uang banyak dengan foto-foto itu !" Aulia menutup mulut tidak percaya dengan kesimpulannya sendiri.


Tiara menganga mendengar itu walaupun belum jelas kebenarannya namun sukses membuatnya gemetar. Ia juga mencoba mengaitkan ucapan Aulia dengan keinginan Rafly yang ingin masuk dalam hotel keluarganya.


"Mulai sekarang jauhi dia, mungkin sekarang dia bukan kak Rafly yang kamu kenal dulu dan fokus aja dengan Tuan Ben yang lebih menjanjikan. Aku akan terus bantu kamu Ra jadi tolong jangan pernah berhubungan dengan kak Rafly lagi !"

__ADS_1


"Oke !" Tiara mengangguk tersenyum.


__ADS_2