Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 089


__ADS_3

Sehari sebelum acara pertunangan dimana Lala datang atas undangan Tante Chyntia, Syifa yang kebetulan berada disana untuk sedikit membantu, berpapasan dengan Lala.


Bisa ia rasakan betapa dinginnya gadis itu bahkan terlihat enggan untuk menatapnya. Syifa hanya tersenyum tipis melihat Lala yang berlalu begitu saja menuju kamar adik Evan.


Seharian ini, Lala mengabaikannya, gadis itu menyibukkan diri dengan mempersiapkan segala sesuatunya sperti membantu didapur atau menata bunga dalam vas agar terlihat mempercantik suasana.


Evan pun terlihat nelangsa saat Lala juga mengabaikannya, pura-pura tidak melihat atau langsung berbalik arah jika mereka berdua hendak berpapasan membuat Syifa tersenyum geli.


Seperti saat ini, Lala sedang mengisi vas bunga dengan bunga segar saat Evan muncul di tangga.


"Fa, bisa kekamarku sebentar ? Ada yang mau aku kasih lihat ke kamu ?" Ucap Evan lantang.


Semua orang yang berada disana terdiam sejenak dan menatap Evan dan Syifa bergantian. Syifa melirik pada Lala, meski terlihat tidak peduli namun ia bisa melihat bahwa gadis itu mematung.


"Boleh Syifa ke kamar kak Evan Tante ?" Tanya Syifa pada Tante Chyntia yang sedang memberikan arahan pada pekerja disana.


"Iya boleh nak, tapi jangan lama-lama ya, bahaya !" Setelah mengatakan itu, semua tertawa. Syifa pun hanya tersenyum malu.


Syifa memasuki kamar Evan, membiarkan pintu tetap terbuka.


"Bagaimana menurutmu ?" Evan menunjuk satu sisi dimana sebuah gaun berwarna pink tergantung disana.


Syifa mengerutkan kening melihat gaun itu.


"Itu punya siapa kak ?"


"Aku beli untuk Lala !"


"Oh bagus !" Syifa tersenyum.


"Kira-kira besok lancar gak ya Fa ?"


"Berdoa aja Kak !"


Keduanya larut dalam obrolan seru seputar rencana besok.


Keesokan harinya..


Syifa yang menuju rumah Evan bersama kedua orang tuanya tak dinyana sangat gugup, membayangkan reaksi kedua orang tuanya saat tahu pertunangannya tidak akan terjadi.


Sementara itu, Bryan juga menuju rumah Evan ingin melihat bagaimana pertunangan Evan. Mobil Bryan datang bersama mobil tamu yang lain kemudian saat tak ada yang memerhatikan, Bryan menuju samping mencari spot dimana ia bisa menonton acara dilaksanakan.


Dan keberuntungan memihak Bryan, sebuah jendela kaca yang lumayan besar dengan semua tirai tersingkap membuat Bryan dengan leluasa melihat aktifitas yang terjadi didalam rumah.


Bryan bersembunyi didekat pot bunga besar yang cukup gelap agar tak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya.


Para tamu mulai berdatangan dan meramaikan tempat itu. Orang tua Evan terlihat ramah menyambut para tamu. Cleo tiba tak lama kemudian bersama orang tuanya dan disambut hangat orang tua Evan. Bryan menatap lekat wanita yang kemarin membuatnya patah hati namun sekarang entah mengapa perasaan kecewa yang kemarin Cleo torehkan kini tidak lagi ia rasakan apalagi saat Rizky menghampiri wanita itu dan menatapnya mesra, perasaan Bryan kini biasa aja membuatnya tersenyum.


Syifa sudah hadir bersama keluarganya, gadis itu terlihat sangat cantik membuat Bryan yang sedang bersembunyi seketika menahan nafas. Gadis itu melangkah bersama orang tuanya yang disambut suka cita oleh orang tua Evan.


1 menjadi perhatian Bryan, yaitu kalung yang dikenakan gadis itu. Kalung matahari miliknya melingkar manis di leher gadis itu menambah daya pikatnya membuat Bryan terpana.


Syifa dan Evan terlihat berpandangan gelisah membuat Bryan mengerutkan kening, tak lama seorang gadis menuruni tangga dengan langkah yang sedikit kesulitan dengan gaun pinknya yang hampir seluruh mata terpesona padanya terutama Bryan.


Dan sesuatu yang membuat bola mata Bryan melotot maksimal, saat acara berubah haluan dimana gadis yang sedang memakai kalung miliknya kini menyerahkan Evan kepada gadis lain.


Bryan sudah tidak fokus dengan jalannya acara tapi ia menatap lekat gadis yang kini tersenyum melihat 2 sejoli yang baru saja memasang cincin. Gadis itu tersenyum haru melihat 2 orang yang bersatu.


Bisa Bryan lihat, wajah bahagia Evan diacara itu bersama gadis bergaun pink itu.

__ADS_1


Tatapan Bryan kembali kepada Syifa yang nampak berbicara serius pada kedua orang tuanya namun tak lama senyum terbit pada bibir gadis itu.


Sesuatu menyentak dada Bryan hingga tatapannya tak beralih dari gadis itu. Hal itu berlangsung hingga para tamu nampak ingin undur diri. Bryan keluar dari tempat persembunyiannya dan dengan waspada berjalan menuju mobilnya.


Satu persatu tamu meninggalkan rumah mewah itu, begitu juga gadis itu bersama orang tuanya juga memasuki mobil dan pergi dari sana.


Syifa yang lega setelah menjelaskan kepada orang tuanya meski diawali sedikit perdebatan, ia kini bisa bernafas lega setelah orang tuanya bersedia mengerti. Dipegangi kalung mataharinya dengan hati tenang tanpa sadar seseorang mengikutinya dari belakang dengan jarak aman.


Cukup lama berkendara, Syifa sampai dirumahnya. Sedangkan, Bryan yang tanpa tahu mengapa ia mengikuti gadis ini kini berhenti didepan rumah gadis itu. Menatap sejenak suasana rumah itu kemudian berlalu dari sana.


*****


Semenjak hari itu, entah mengapa Bryan begitu penasaran pada sosok Syifa. Ia datang kesana saat gadis itu bersiap berangkat kerja dan lagi Bryan mengikutinya dari jarak aman hingga tiba di rumah sakit.


Mengetahui rumah dan tempat kerja gadis itu membuat Bryan senang dan itu berlangsung selama 3 hari dimana ia "menjemput" dan "mengantar" Syifa pulang karena ia juga menunggui gadis itu hingga pulang bekerja.


Hingga hari keempat, saat Bryan melihat gadis itu selesai bekerja dan menuju mobilnya. Tiba-tiba kalung matahari miliknya jatuh di kaki gadis itu dan sontak membuat langkah Syifa terhenti dan memungut kalung mahal itu dengan wajah sendu.


"Ya ampun kalung Mahalku !" Desahnya frustasi melihat kalung yang sempat membentur aspal itu.


Pemandangan itu tak luput dari pandangan tiga pria yang sedang mangkal di pedagang pinggir jalan dan saat mendengar kata 'mahal' seketika membuat niat jelek mereka bangkit.


Saat Syifa sudah menjalankan mobilnya, ketiga pria tanggung itu segera mengikuti mobil Syifa. Bryan yang menyadari itu jadi panik dan segera mengikuti mereka.


Dan benar saja, disebuah jalan sepi. Ketiga pria itu mengepung mobil Syifa, terlihat mereka memukul badan mobil seraya berteriak mengancam si pengemudi. Bryan yakin bahwa gadis itu sekarang pasti ketakutan. Segera ia turun dari mobilnya meski jarak mereka jauh dan memungut batang kayu yang tergeletak penuh tanah yang berada disana.


Pintu kaca kursi kemudi dipecahkan menggunakan batu oleh salah satu dari mereka, Bryan bahkan bisa mendengar suara jeritan ketakutan Syifa bersatu dengan pecahan kaca akibat hantaman batu yang sangat keras.


Pria tadi langsung menarik Syifa keluar, gadis itu sudah menangis namun ketiga pria itu malah tertawa.


"Wah, Cantiknya !" Celetuk salah satu dari mereka yang berbaju kuning membuat Syifa semakin takut.


"Serahkan kalungmu !" Bentak pria yang masih mengcengkram lengan Syifa.


Pria itu hendak menyentuh kalung matahari di leher Syifa hingga...


BUK.


Sebuah batu melesat cepat menghantam hidungnya membuat tubuhnya terjatuh ke belakang dengan darah mengalir dari hidungnya.


Dua lainnya menoleh kearah datangnya batu tersebut dan sebuah kayu menyambut si baju kuning membuat pria itu terjatuh ke aspal. Sebuah pukulan kembali menghantam perutnya membuatnya langsung terduduk dengan mata melotot dan kesempatan itu membuat si pemukul kembali memberi pukulan keras kewajahnya membuatnya seketika pingsan.


Pria yang satu memakai baju ijo sontak terkejut seketika melayangkan tinjunya kearah Bryan namun dengan cepat Bryan berkelit dan dengan cepat menghantamkan batang kayu itu ke lengan baju ijo membuatnya berteriak histeris. Bryan kembali memukulkan batang kayu ke bawah perut pria itu membuat pria itu ikutan melotot dan refleks menunduk merapatkan kedua pahanya dan lagi Bryan dengan keras memukulkan batang kayu itu pada bagian punggung baju ijo membuatnya ambruk tak sadarkan diri.


Kini Bryan beralih pada si baju hitam yang menatapnya berapi-api penuh emosi dengan hidung berdarah. Tanpa ba-bi-bu, Bryan kembali menghantam wajah pria itu yang tak siap dan kembali terjatuh kebelakang kemudian memukul perut dan bawah perutnya dengan keras dan cepat membuat pria itu shock dan refleks terduduk dan sekali lagi Bryan memukul dengan keras wajah pria itu dan langsung pingsan.


Bryan beralih kearah Syifa yang sudah terduduk di aspal, shock melihat apa yang terjadi. Saat Bryan menghampirinya, wajah Syifa sudah pucat.


"Kamu baik-baik aja !" Seraut wajah tampan itu tampak khawatir.


Belum juga Syifa menjawab, gadis itu ikutan pingsan, jatuh begitu saja di dada Bryan.


*****


Jerry sedang berdandan keren, mematut dirinya didepan cermin dengan menggunakan pakaian kasual serta jaket merah bermerek mahal milik Michael yang diambilnya tanpa ijin.


Dia tadi melihat insta story' Tiara yang sedang melakukan pergelaran busana lagi digedung milik sang desainer itu sendiri dengan mengundang banyak desainer kondang juga pengamat fashion yang mendunia.


Setelah merasa sudah keren dan meyakinkan, Jerry menuju pintu keluar. Ia mengumpat saat tidak didapatinya mobil sang kakak, mobil Michael juga mobil om dan tantenya.

__ADS_1


"Masa orang sekeren ini naik taksi ?" Keluhnya namun tak dinyana cowok itu menghentikan taksi yang tepat lewat didepan rumah.


Setelah sampai ditempat acara, Jerry mengenakan kacamata hitamnya serta meraih buket bunga yang sempat dibelinya ketika melewati toko bunga dan juga singgah disebuah toko, membeli sesuatu untuk Tiara yang kini berada di kantong jaketnya.


Jerry melongo melihat banyak orang yang keluar dari gedung itu menuju parkiran dan tak lama hampir seluruh mobil disana pergi. Jerry kembali memeriksa insta story' Tiara.


"**** !" Umpatnya saat melihat insta story' itu dibuat 5 jam yang lalu.


Jerry menghela nafas dan mau tidak menunggu diluar sana. Setengah jam menunggu, pintu itu kembali terbuka memperlihatkan gadis-gadis cantik yang diyakini Jerry adalah para model.


Dan yang terakhir keluar adalah Tiara, gadis itu terlihat lesu dengan menarik nafas dalam. Dengan pandangan lurus menuju mobilnya dan saat membuka alarm mobil sebuah buket bunga muncul tepat didepan wajahnya membuat ia terkejut.


"Ya ampun, aku kaget !" Semprot Tiara seraya memukuli bahu Jerry.


"Maaf.. maaf.. ini untukmu cantik !" Tangan kanan Jerry menahan pukulan tangan Tiara yang masih memukulnya dan tangan lainnya menyodorkan buket bunga.


Tiara menerimanya dengan bibir cemberut seraya memperhatikan penampilan Jerry yang terlihat sangat tampan membuat Tiara tanpa sadar terpana.


"Mau jalan-jalan ? Aku sebentar lagi mau balik ke negara P ?" Tawar Jerry sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Maaf, tapi aku capek banget. Sekarang mau pulang untuk istirahat !" lirih Tiara. Jerry terdiam dengan menatap lekat wajah cantik didepannya. Memang terlihat gurat lelah diwajah itu.


"Ya udah, kita ngobrol-ngobrol aja menuju jalan pulang, sekalian antar aku pulang !" Ucap Jerry dan langsung masuk ke kursi penumpang meninggalkan Tiara yang melongo melihat itu.


"Aku gak bawa mobil, jadi fasilitas kendaraan aku bergantung padamu !" Ucap Jerry sambil membuka kaca pintu dan lagi Tiara dibuat melongo.


"Ayo jalan !" Jerry menutup kaca pintu itu dan mau gak mau Tiara menuju pintu kemudi dan menjalankan mobilnya.


Mobil itu pergi diiringi tatapan benci seseorang yang bersembunyi dibalik tanaman besar disana. Diremasnya dengan kuat daun-daun yang berada disana, niat ingin menemui Tiara tapi tidak menyangka akan lihat pemandangan seperti itu.


"Rumahku di perumahan C di Jalan X !" Setelah mengatakan itu, keduanya terdiam sejenak. Jerry yang menatap keluar jendela dan Tiara yang fokus menyetir namun sekali-kali melirik kesampingnya.


"Kapan kamu pulang ke negara P ?" Tiara memulai pembicaraan.


"Lusa atau lusanya lagi atau lusanya lagi !" Jerry menjawab sekenanya membuat Tiara melengos.


"Aku punya sesuatu untukmu !" Jerry tiba-tiba menoleh dan tersenyum kearah Tiara.


"Oh ya ? Apa tuh ?"


Pria itu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sesuatu dan menyimpannya di dasboard. Tiara mengerutkan kening melihat kaos kaki terbungkus berwarna orange menyala dengan gambar cupcake warna biru dan pink yang meramaikan kaos kaki itu. Tiara melirik Jerry yang tersenyum tanpa dosa.


"Kamu terlihat cantik dengan warna orange !" Ucap Jerry kembali mengedipkan sebelah matanya.


Tiara langsung fokus kedepan, menggelengkan kepala menghilangkan perasaan tersipu-nya.


"Sepertinya kamu sering berada di kota ini ?" Tanya Jerry.


"Ya, pekerjaanku sangat padat disini. Aku sering bolak-balik, meski jauh tapi demi cita-cita ya aku rela. Apalagi disini aku bisa membangun koneksi yang bagus !" Jelas Tiara.


"Hmm.. Jika butuh koneksi yang tajam dan terpercaya. Katakan saja padaku dan aku akan mengabulkannya !" Ucap Jerry membuat Tiara menaikan kedua alisnya meremehkan.


"Baiklah, dan aku harap saat menghubungimu aku bisa menjadi model ngetop internasional !" Tiara tertawa.


Mobil Tiara sudah sampai didepan alamat rumah Michael. Jerry turun dan menyandarkan tangannya pada kaca mobil yang terbuka.


"Mau singgah !" Tawarnya.


"Tidak, terima kasih !"

__ADS_1


"Kalau begitu, terima kasih sudah mengantarkan masa depanmu ini. Jangan merindukanku !" Ucap Jerry seraya memainkan kedua alisnya naik turun. Tiara menatap malas.


"Kalau begitu bye bye !" Tiara mulai menjalankan mobilnya dengan melirik spion mobil melihat Jerry melambaikan tangan dengan semangat padanya.


__ADS_2