Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 077


__ADS_3

Bryan dan Jerry masih setia mendengarkan pembicaraan pemilik toko wine itu berbicara lewat alat penyadap yang sempat Bryan pasang. Berharap mendapatkan apa saja yang bisa jadi petunjuk tentang museum itu namun sampai 3 hari lewat mereka tidak juga mendengar apapun.


Bryan juga masih sering pura-pura berjalan-jalan disekitar bangunan itu sejenak untuk mencari sedikit saja celah yang dimana bisa ia pakai untuk memasuki bangunan megah itu. Sedangkan Jerry, ia juga berusaha keras memanfaatkan kehebatan hacker-nya untuk mencoba menerobos sistem keamanan museum itu namun gagal.


Hari berganti hari dimana Bryan dan Jerry yang meski bosan tapi tetap masih setia mendengarkan percakapan si pemilik toko wine itu dengan pelanggannya atau bahkan saat menerima pesanan lewat telepon.


Hingga akhirnya hari ke-8 saat mereka mendengarkan pemilik toko wine sedang berbicara ditelepon dimana ada pelanggan yang menelepon untuk memesan banyak wine berbagai macam. Bryan dan Jerry mendengar dengan jelas saat pemilik toko wine itu menyebutkan tempat dan waktu pengiriman ke alamat museum megah itu membuat jantung Bryan dan Jerry berdebar kencang. Setelah terdengar pemilik toko wine itu mengakhiri teleponnya, Bryan dan Jerry pun melakukan hal yang sama.


"Apa "itu" sudah ada ?" Tanya Bryan pada adiknya.


"Ya, tersimpan dengan aman di brankas kita !" Jerry menyebut brankas penyimpanan milik ayah mereka yang terletak diruang kerja didekat kamar mereka.


"Baiklah, jadi begini rencananya......!" Bryan mencoba menjelaskan apa yang ada dipikirannya yang didengarkan oleh Jerry yang akhirnya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan sang kakak.


"Baiklah !" Angguknya.


Dan hari eksekusi tiba, begitu mereka berdua menyebutnya dan juga berharap berjalan lancar. Pagi-pagi buta, Bryan dan Jerry menggunakan mobil menuju toko wine itu namun tanpa diduga ternyata mobil box telah siap memasukkan semua pesanan kedalam mobil dan bersiap untuk melakukan pengiriman.


Bryan dan Jerry sedikit panik, segera saja Bryan memutar balik mobilnya dan memacunya sedikit kencang.


"Bersiaplah !" Perintah Bryan pada Jerry disampingnya dengan suara bergetar yang langsung dituruti Jerry. Cowok itu melepas jaketnya dan mempersiapkan segala sesuatunya.


Jujur saja, jantung keduanya berdetak tidak karuan. Tangan Bryan bahkan bergetar pada pegangan kemudi saat memikirkan apa yang akan mereka lakukan nanti.


Mobil Bryan berhenti disebuah jalur yang cukup luas tanpa bangunan dan hanya banyak tanaman liar tumbuh dimana ia yakin bahwa mobil box itu akan melewati jalan ini. Segera saja Bryan memarkir mobilnya agak jauh dibalik pohon kemudian ia bersiap sejenak sebelum turun dan berlari bersembunyi menanti mobil box itu lewat. Keduanya bersebrangan bersembunyi dibalik tanaman tinggi.


Tepat dugaan Bryan, Beberapa menit kemudian terdengar suara deru mobil yang akan lewat dan semakin lama semakin jelas, kakak adik itu bertatapan dengan wajah tegang hingga Bryan mengangguk pada Jerry.


Jerry segera melumuri wajahnya agar ia sulit dikenali juga pelipis hingga bahu dengan darah palsu kemudian muncul dijalanan sesaat sebelum mobil itu melintas dan ia pura-pura berjalan terseok-seok seolah-olah membutuhkan pertolongan dan benar saja melihat seorang pria dengan keadaan terluka, mobil box itu sontak berhenti dan kompak 2 orang pria tinggi dan pendek yang berada didalamnya keluar untuk melihat keadaan Jerry.


"Tolong !" Ucap Jerry seolah sangat kesakitan saat kedua pria itu mendekatinya.


"Apa yang terjadi ?" Tanya salah satu yang bertubuh tinggi.


"Saya dirampok !" Ucap Jerry.


Kedua pria itu masih berusaha memegang tubuh Jerry tanpa menyadari Bryan mengendap-endap dari belakang mendekati mereka seperti singa yang sedang mengincar mangsanya.


Saat hendak berusaha menyentuh Jerry untuk menolongnya saat sebuah sapu tangan dengan erat membekap mulut si tinggi membuatnya melotot sejenak kemudian tumbang tak sadarkan diri sedangkan temannya yang terkejut refleks berbalik namun dengan cepat Jerry meraih tangannya dan ikut membekap erat hidung dan mulutnya membuatnya juga langsung tak sadarkan diri.


"Ayo !" Ucap Bryan kemudian menarik kaki pria itu kebelakang dan memasukkannya ke mobil box.


Keduanya memacu mobil box itu menuju ke sebuah gudang yang cukup jauh dari tempat itu dimana tak ada seorang pun yang melihat mereka.


Mobil box berhenti didepan sebuah gudang lusuh tak terawat yang ditemukan tidak sengaja oleh Jerry saat tersesat waktu camping dulu.


Jerry membuka lebar pintu gudang itu hingga mobil box masuk seluruhnya kedalam. Dengan cepat menutup pintu setelah memastikan tidak ada siapa-siapa disana selain mereka.


Bryan juga turun dengan cepat dan membuka pintu belakang mobil box. Setelah menurunkan 2 pria pingsan itu, mereka juga menurunkan semua kotak kayu yang berisi macam jenis wine berbagai merek tahun lama yang berjumlah 20 kotak itu. Setelah terbuka terlihat 1 kotak berisi 6 botol wine.


"Sepertinya mereka akan berpesta lagi !" Jerry berkomentar melihat wine-wine berkualitas tinggi itu.


"Sudah, cepatlah. Waktu kita hanya sedikit ?" Ucap Bryan sambil melemparkan pembuka tutup botol wine kepada Jerry.


Keduanya membuka semua tutup botol itu dengan cepat, berpacu dengan waktu keduanya terengah-engah saat berhasil membuka semua tutup botol itu. Bryan kembali melemparkan kepada Jerry sebuah kotak berukuran tidak terlalu kecil yang langsung saja dibuka pria itu.


Racun Novichok, racun yang telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka yang juga mereka dapatkan dengan susah payah. Jerry memasang sarung tangan sebelum menyentuh racun itu dan mencampurnya kedalam botol wine yang kemudian ia tutup lagi dengan tutup botol wine yang baru yang telah mereka siapkan dengan baik. Begitu seterusnya, setelah mencampur akan langsung ditutup hingga tidak membuatnya bingung pada botol mana saja yang telah ia campur atau belum.


Keduanya sangat fokus dengan apa yang mereka kerjakan dan setelah itu menaruh kembali dalam kotak kayu dengan sangat hati-hati.


Saat membuka pintu gudang, matahari sudah tinggi membuat keduanya panik. Meninggalkan 2 orang pingsan itu setelah menukar pakaian mereka dan membungkus tubuh mereka dengan selimut tebal lusuh yang ditemukan disana, kakak beradik itu segera memacu mobil menuju museum.


Saat sampai bisa keduanya lihat wajah ketiga keamanan itu sontak berubah bengis dan menatap nyalang pada keduanya yang turun dari mobil.


"Maaf kami terlambat !"


"Berani sekali kalian terlambat, kalian pikir kalian siapa ?" Teriak salah satu dari mereka yang berbadan paling gempal dengan wajah super menyebalkan.


Tangan Jerry mengepal, ingin sekali dia meninju satpam rendahan didepannya itu.


"Maaf, kami tadi menolong orang yang dirampok jadinya kami terlambat !" Ucap Bryan saat Jerry hampir hilang kendali.


"Maaf, maaf. Dasar sampah, orang rendahan seperti kalian sangat berani membuat bos kami menunggu !" Si gempal songong sekali membuat Bryan pun hampir meninju wajah menyebalkan itu.


"Sekali lagi kami minta maaf, kami benar-benar tidak bermaksud seperti ini !"

__ADS_1


"Diam kau pegawai hina, berani sekali kau membalas ucapanku. Sekarang juga kalian masukkan semua itu kedalam !" Perintahnya lagi dengan sombong.


"Baik !" Ucap Bryan menahan sabar dimana ia ingin sekali meledakkan pria menyebalkan didepannya itu.


Bryan menarik lengan Jerry yang semakin terlihat emosi menuju belakang dan membuka box itu serta membawa kotak kayu itu satu persatu memasuki bangunan. Tubuh Bryan bergetar saat memasuki bangunan mewah itu untuk pertama kali.


Ruangan luas dimana banyak barang-barang antik terpajang diberbagai sudut dan dilindungi kotak kaca. Bryan dan Jerry mengikuti langkah pria gempal nan sombong itu beberapa meter kedalam dan berhenti disebuah kamar kecil dan meletakkan kotak wine itu disana.


Saat berjalan keluar mata keduanya menatap liar ke seisi ruangan dan nampak meja-meja dan kursi telah tertata rapi pada bagian ruangan yang terlihat sangat luas di sisi kiri dan kemungkinan besar pesta akan diadakan disana.


Mengangkut kembali untuk dimasukkan kedalam, Jerry menatap sebal kepada ketiga keamanan itu yang terlihat tak berniat membantu mereka dan malah menatap sinis padanya.


'Cih, mentang-mentang tidak ada atasannya mereka malah seenaknya !' Maki Jerry dalam hati.


Kakak beradik itu bolak-balik mengangkat kotak kayu itu menuju kamar kecil itu seraya mata mereka menelisik ruangan berusaha mencari celah untuk bertindak, seperti Jerry yang menyadari letak cctv diruangan itu membuatnya berpikir keras bagaimana memasang kamera tersembunyi yang berada di kantongnya sekarang.


Detik-detik saat kotak wine itu akan berpindah seluruhnya Jerry tiba-tiba menghampiri sebuah kotak kaca dan memperhatikan sebuah pisau dengan pegangan yang terbuat dari kayu dengan motif yang aneh nan abstrak yang membuat Jerry pura-pura antusias dan tanpa kentara ia menempel kamera tersembunyi dan microphone kecil dibawah meja dengan ekspresi senang yang dibuat-buat.


Bryan kemudian menariknya keluar juga pura-pura tidak enak dengan kelakuan adiknya. Mereka mengangkat kotak kayu itu lagi dan kini Jerry pura-pura antusias pada sebuah gelang yang menurut sejarah di negara itu adalah milik seorang ratu yang sangat dicintai oleh raja namun cinta mereka harus sirna karena sang istri melindungi sang suami dari musuh yang berniat membunuh raja hingga dia sendiri yang meninggal saat sebuah pedang menghunus perutnya karena melindungi suaminya.


"Oke kan kak kisahnya !" Jerry menjelaskan pada Bryan dimana tangannya menempelkan kamera tersembunyi dibawah meja tersebut.


"Bagus kalau kakak ambil ini trus kasih ke Cleo !" Ucap Jerry membuat Bryan melotot.


"Sudah ayo angkat kotak terakhir !" Bryan kembali menarik Jerry keluar sebelum pria berbadan gempal itu kembali menghina mereka.


Dan saat membawa kotak terakhir, tatapan Jerry tertuju pada lukisan yang menempel di dinding dengan posisi yang benar-benar mengarah ke arah ruangan luas itu.


Selesai meletakkan kotak kayu itu Jerry segera meraih kursi yang berada disana dan menjadikan pijakan untuk menyentuh lukisan dengan nuansa warna yang sangat pekat dan gelap. Dengan mimik seolah-olah begitu mengagumi lukisan itu dan ingin menyentuh lukisan itu hingga tanpa kentara Jerry menempelkan kamera tersembunyi di bagian gambar rambut yang memang sangat hitam sempurna, Jerry tersenyum puas saat melihat kamera kecil benar-benar tidak terlihat akibat hitamnya tinta lukisan rambut itu.


"Heh, sampah. Apa yang kamu lakukan pada benda berharga itu !" Si gempal berteriak melihat tingkah Jerry yang menurutnya kampungan.


"Maaf, adikku suka lukisan itu !"


"Segera keluar manusia hina, tempat berharga ini jadi kotor karena kalian !" Bentaknya membuat emosi Jerry naik ke level maksimal.


"Saya minta maaf, saya akan bawa dia keluar dari sini !"


Bryan segera memegang Jerry sebelum cowok itu meledak didalam sini dan menariknya keluar dan saat pintu telah ditutup si gempal melemparkan amplop uang tepat mengenai wajah Jerry. Kemarahan cowok itu pun melewati level maksimal.


BUKKKK


"Kurang ajar !" Si gempal berusaha bangun namun tendangan maut Jerry kembali mengenai rahanganya dan saat ia kembali bangkit dengan amarah tinggi, Jerry kembali menendangnya dengan kekuatan super hingga si gempal langsung tergeletak tak sadarkan diri.


"Cih, begitu aja pingsan. Dasar lemah !" Maki Jerry.


2 keamana yang lain mulai mendekat namun wajah garang Jerry yang penuh emosi ditambah tatapan tajam Bryan yang menatap mereka membuat mereka menciut juga.


"Kami minta maaf, kalau begitu kami permisi !" Bryan kembali memegang tubuh Jerry dan memaksanya masuk ke mobil setelah memungut amplop uang yang terjatuh.


"Kamu itu harusnya menahan diri. Kalau begini kita bisa-bisa ketahuan !" Omel Bryan seraya mengemudikan mobil itu menjauh.


"Kakak dengar sendiri kan omongannya seperti apa tadi, bagaimana bisa menahan diri !" Wajah Jerry masih memerah emosi.


"Sudah, sudah. Yang penting kita tidak ketahuan. Bagaimana kameranya ?"


"Sepertinya aman !"


Mobil melaju menuju gudang tadi, kedua pria tadi masih terlelap saat kakak beradik itu kembali mengenakan pakaian mereka.


"Kapan mereka sadar ?" Tanya Bryan.


"Tengah malam atau subuh !" Jawab Jerry membuat Bryan melongo.


Keduanya menggendong pria itu kembali ke dalam mobil dan memutuskan membawa mobil menuju sebuah rumah kosong yang telah dipersiapkan oleh kakak beradik itu, memarkir mobil dengan baik dan kembali membawa mereka menuju sebuah kamar, membaringkan dan menyelimuti mereka serta menyalakan pemanas agar tidur kedua pria itu nyaman. Setelah itu Bryan dan Jerry bergegas pulang.


****


Malam harinya, Bryan kembali memakai teropongnya untuk memantau museum itu dan tepat seperti dugaannya, banyak orang-orang berdatangan yang entah siapa namun terlihat penting karena para keamanan disana menunduk hormat.


Cukup banyak tamu malam itu yang datang dengan stelan hitam dan gaya klimis hingga tatapan Bryan tertuju pada orang terakhir yang datang bersama pengawal pribadinya, Perdana Mentri dengan senyum ramahnya keluar dari mobil dengan begitu elegan. Sepertinya dia adalah orang terakhir yang datang, terbukti saat ia memasuki bangunan maka pintu langsung ditutup dan dikunci rapat


Meletakkan teropongnya, Bryan menuju kamar Jerry yang tepat berada didepan kamarnya. Terlihat Jerry sudah stand by bersama komputernya yang sudah terhubung dengan kamera tersembunyi yang berada didalam museum itu bahkan suara disana terdengar jelas.


Beberapa pelayan wanita berlalu lalang menyiapkan aneka makanan lezat juga minuman ringan yang tersusun dimeja khusus yang disediakan sehingga para tamu bisa memilih dan menikmatinya dengan leluasa sambil bercengkrama satu sama lain.

__ADS_1


Terlihat Pak Perdana Mentri disambut dengan begitu ramah oleh pria-pria berpakaian hitam itu dan menyalami tangan pria itu dengan hormat.


"Keanu, keluarkan wine-nya !" Perintah Perdana Menteri kepada pengawal pribadinya yang langsung diangguki pria itu.


"Terima kasih kalian bersedia meluangkan waktu untuk datang memenuhi undanganku !"


Semua bertepuk tangan mendengar itu. Tak lama terlihat beberapa pelayan membawa nampan gelas wine dan memberikannya kepada semua tamu.


"Kalian tahu, pemilihan umum untuk Perdana Menteri selanjutnya akan segera berlangsung akan lebih baik jika aku bisa tetap terus berada di posisi ini maka kalian akan mudah melakukan apa saja ?" Kembali terdengar sorak tepuk tangan lagi.


"Hufft, tapi yang menjadi masalah orang-orang yang ingin menggantikanku adalah orang-orang hebat juga memiliki imej bagus dalam masyarakat juga politik dan itu benar-benar ancaman berbahaya, jadi......!" Perdana Menteri menjeda ucapannya memerhatikan semua yang ada disitu satu demi satu.


"Apa kalian bisa menolongku agar posisiku bisa tetap aman tak tergantikan ?"


"Tentu saja !" Salah seorang pria tua berambut pirang yang terlihat seperti ketua berbicara.


"Jangan khawatir, selama anda memuluskan bisnisku maka aku pun akan selalu membantu anda !" Ucap seseorang berambut ikal sebahu.


"Benar, aku pun akan melakukan hal demikian juga. Katakan saja seperti apa yang anda inginkan ?" Tambah seorang pria dengan kepala plontos.


"Tentu saja dia ingin menyingkirkan lawannya. Benar kan ?" Si ikal menebak yang langsung membuat Perdana Menteri tersenyum.


"Anda benar tuan Shane !" Ucap Perdana Menteri kepada si ikal yang langsung membuat mereka tertawa.


"Baiklah, katakan saja padaku bantuan apapun yang kau inginkan dan akan kupastikan akan mempermudah niatmu dan kau akan mendapat yang anda mau selama bisnis narkotikaku bisa melakukan pengiriman darat maupun laut dengan mulus !" Ucap si ikal Shane.


"Begitu juga saya, bantuan apapun yang anda inginkan, katakan saja dan aku harap aku selalu bisa mendapatkan lebih banyak gadis muda dan cantik. Hahaha !" Si botak tertawa menggelegar diikuti semua yang berada disana.


"Pasti, aku akan selalu memuluskan keinginan kalian selama aku masih terus menjadi Perdana Menteri. Jadi tolong bantu aku mempertahankan posisiku !" Perdana Menteri tersenyum sinis sambil mengangkat gelas wine-nya.


"Baik !" Semuanya mengangkat gelas wine dan bersiap meminumnya.


"Cheeerrrss !" Semuanya mengangkat gelas masing-masing dan meminumnya.


Tubuh Bryan dan Jerry menegang, saat detik-detik minuman beracun itu hendak diminum.


Saat sang Perdana Menteri baru ingin menenggak wine itu, dering ponselnya mengagetkannya membuat gerakannya terhenti, pengawal pribadinya juga urung meminum minuman itu. Perdana Menteri menyerahkan minuman itu kepada pengawalnya dan meraih HP-ny, baru saja ia hendak mengangkat panggilan itu saat didengarnya suara erangan disertai gelas-gelas kaca jatuh dilantai.


Perdana Menteri menoleh dan melihat semua yang berada didepannya tumbang dengan mata melotot serta memegangi tenggorokan juga perut. Terbatuk-batuk dengan mimik menyakitkan.


Para pelayan berteriak histeris melihat pemandangan itu, orang-orang yang hampir berjumlah 60 orang itu mulai kejang-kejang serta tubuh menggelepar jatuh ke lantai. Saat tubuh-tubuh itu terdiam dengan kulit mulai membiru, para pelayan berlari keluar ketakutan.


Perdana Menteri dan juga pengawal pribadinya tak kalah kagetnya melihat pemandangan itu dan serta merta membuang gelas wine yang berada ditangan.


3 ketua yang sangat hebat dalam memimpin geng mafia terkuat kini tergeletak mengenaskan dilantai dimana mereka telah mencapai kesepakatan yang bagus tapi malah menemui ajal.


Sontak saja Keanu membawa tubuh perdana Menteri meninggalkan tempat itu membiarkan tubuh-tubuh itu tergeletak. Membuka pintu mobil untuk atasan seraya celingak-celinguk kesana kemari waspada setelah itu mengemudikan mobil dengan kencang dan terus waspada.


"Apa yang terjadi ?" Perdana Menteri bertanya dengan suara bergetar masih terkejut.


"Sabotase, sepertinya ada pengkhianat tuan !" Ucap Keanu melirik kaca spion.


"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan itu ? Sialan. Rencanaku jadi kacau sekarang. Bagaimana aku bisa mempertahankan posisiku jika mereka telah mati. Aaaarrrghh !" Sang Perdana Menteri frustasi sebab 3 ketua tadi adalah yang terkuat dan sangat bagus dalam memuluskan keinginannya tapi sekarang mereka sudah tidak bisa diharapkan.


"Cari tahu siapa dalang dari semua ini dan habisi dia !" Perintahnya dengan gigi bergemeletuk.


"Baik tuan !"


Keduanya terdiam dengan Perdana Menteri yang berpikir keras bagaimana agar rencananya bisa tetap berjalan mulus meski 3 ketua mafia itu telah mati.


*****


Tubuh Bryan dan Jerry gemetar melihat detik demi detik saat tubuh-tubuh itu mulai tumbang dengan kejang-kejang serta menggelepar dilantai hingga diam tak bergerak serta perlahan kulit mereka membiru diiringi teriakan histeris para pelayan.


"Mereka pantas mendapatkan itu, karena keserakahan mereka orang tua kita mati !" Bryan menyentuh pundak Jerry yang terlihat sulit bernafas melihat pemandangan itu, sekarang dia merasa menjadi pembunuh.


Jerry menoleh dengan pandangan kacau pada kakaknya.


"Bisnis yang mereka sebutkan tadi yang menyebabkan orang tua kita mati. Jadi jangan takut, mereka pantas mendapatkan itu !" Bryan berusaha menghibur Jerry yang masih terlihat gelisah.


"Oke !" Jerry mulai bisa menguasai diri.


Tatapan Bryan dan Jerry menajam saat melihat Perdana Menteri belum menenggak minuman itu hingga ia masih baik-baik saja bersama pengawal pribadinya yang terlihat angkuh itu dan tak lama sang pengawal membawa Perdana Menteri meninggalkan tempat itu membuat Bryan dan Jerry emosi.


"Sial, dia malah bebas !" Semprot Jerry membuat Bryan menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Sabar, kita pasti bisa menemukan cara untuk menghancurkan dia !" Bryan menghibur membuat Jerry terdiam dengan emosi yang terlihat.


"Arman Joseph. Tunggulah kau !" Batin Bryan bicara dengan tangan terkepal erat.


__ADS_2