Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 079


__ADS_3

Hari ini pihak Benki mengundang Tiara untuk makan malam bersama disebuh hotel bintang 5 yang dimana adalah milik Tiara sendiri. Iklan yang mereka garap bersama ternyata sangat bagus dan mendapat respon positif sehingga produk Snack yang mereka luncurkan langsung banyak peminat dan ludes dalam waktu singkat.


Tiara terkekeh dalam hati saat memasuki hotelnya sendiri dan semua karyawan menunduk hormat padanya. Ia penasaran seperti apa reaksi Benki jika tahu bahwa hotel ini miliknya.


Sejak awal saat perjodohan, Benki meminta orang tuanya untuk merahasiakan pekerjaannya dari calon pilihan orang tuanya dan saat disampaikan kepada orang tua Tiara mereka juga meminta agar Benki tidak mengetahui latar belakang keluarga Tiara selain pekerjaannya yang seorang model.


Saat Tiara sampai disusul manajernya, Benki sudah menunggu sambil bercengkrama bersama Fajar.


"Maaf anda sudah lama menunggu ?" Ucap sang manajer menyapa.


"Kami juga baru datang, silahkan !" Benki tersenyum ramah mempersilahkan keduanya duduk.


Fajar segera memesan beberapa makanan mewah.


"Hasil iklan sangat bagus, itu semua tidak luput dari kemampuan anda yang bagus !" Benki membuka suara seraya tersenyum kepada Tiara yang membuat gadis itu tersipu malu.


"Anda bisa saja, ini semua juga berkat bantuan anda yang memberikan saya banyak motivasi !" Mendengar itu keempatnya tertawa.


"Kamu memang berbakat Angel !" Tambah Fajar tersenyum ramah.


Benki mengangkat kedua alisnya saat merasakan Fajar kali ini tidak memperlihatkan sifat genitnya, malah cowok itu terkesan sedang memikirkan hal lain.


"Terima kasih, Fajar. Ini juga berkat dukungan dari kamu. Hehehe !" Ucap Tiara lembut.


Makanan datang dan keempatnya memilih menikmati dalam diam dan setelah selesai mereka kembali menikmati dessert yang disiapkan pihak hotel berupa cake atau es buah nikmat.


Fajar dan manajer Tiara tampak fokus dengan Ponsel masing-masing, sedangkan Tiara, ia berpikir saatnya memulai pedekate dengan pria tampan nan kaya raya ini.


"Ben. Apa yang biasa kamu lakukan di akhir pekan ?" Tanya Tiara.


"Aku biasanya rebahan aja dikamar atau bermain-main bersama 3 keponakanku jika mereka berkunjung !" Benki tersenyum.


"Eh, 3 keponakan ? Umur mereka berapa ?"


"5 tahun, 3 tahun dan setahun. Mereka semua laki-laki dan sedang aktif-aktifnya !" Benki.


"Wow, kalau aku mungkin tidak kuat hadapi anak-anak seperti itu !" Wajah Tiara mengernyit membayangkan 3 bocah aktif yang suka berlari-lari serta berteriak keras.


"Kenapa ?" Benki bertanya.


"Ya, akhir pekan atau Weekend, lebih baik dipakai untuk bersantai setelah lelah bekerja berhari-hari atau tidak jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran. Kalau kita malah mengurusi bocah bukankah itu merepotkan ?"


Benki tertegun mendengar itu.


"Kamu benar, kebanyakan orang tidak ingin dipusingi dengan kenakalan anak-anak. Lalu kamu sendiri ? Apa yang kamu lakukan akhir pekan ?" Benki balik bertanya.


"Hmm, sama seperti kamu rebahan juga atau kumpul sama teman-teman refreshing atau shopping !" Tiara tersenyum.


"Lalu seumpama kamu memiliki 3 keponakan yang datang kerumahmu diakhir pekan. Apa yang kamu lakukan ?"


"Yang pasti baby sitter-nya harus ikut juga, jadi mereka ada yang menjaga jadinya aku bisa santai-santai !"


Benki tersenyum mendengar itu dan seketika teringat Aulia. Interaksi gadis itu terhadap 3 keponakannya menjadi salah satu alasan ia menerima perjodohan ini dan bersedia mengenalinya lebih dalam. Benki melirik kearah Tiara yang sedang menyendokkan es buahnya. Pria itu pikir andai saja gadis ini yang dijodohkan dengannya mungkin saja mereka akan sering berkonflik karena perbedaan pendapat dalam hal sepele.


"Ada apa ?" Tanya Tiara saat melihat Benki yang sedang menatapnya. Benki yang ditanya gelagapan menatap Tiara, meraih serbet dimeja dan menyeka bibir Tiara yang sedikit belepotan membuat gadis itu terpaku.


Sementara itu, seseorang yang tidak sengaja melihat interaksi keduanya seketika mematung. Aulia yang jam kerjanya telah berakhir dan bersiap pulang tak sengaja melihat keduanya apalagi sekarang mereka terlihat tertawa akrab.


Aulia mengalihkan pandangannya saat hatinya terasa nyut-nyut sakit. Ia sadar seharusnya 2 orang itulah yang menjadi peran utama dan ia hanya seorang figuran tapi saat melihat keduanya yang terlihat akrab, Aulia tidak terima. Segera ia meraih HP-nya.


Ponsel Benki berdering dan cowok itu tersenyum melihat siapa yang menelepon.


"Halo ?" Sapanya lembut.


"Kamu dimana ?" Tanya Tiara langsung.


"Aku lagi makan malam di hotel. Kamu sendiri dimana ?"


"Aku kangen !" Tanpa menjawab pertanyaan Benki, Aulia tanpa sadar melontarkan perasannya.


Keduanya terdiam, Benki yang tersenyum sedangkan Aulia ingin sekali menghantamkan jidatnya ke tembok saat sadar apa yang dikatakannya.


"Kamu dimana ?" Benki mengulang pertanyaannya.


"Aku ditempat kerja !"


"Udah selesai kerja ?"

__ADS_1


"Udah ?"


"Mau ketemu ?"


Hening sejenak. Benki setia menunggu jawaban Aulia.


"Boleh ?"


"Mau aku jemput ?"


"Gak usah, kita ketemu aja nanti ?"


"Dimana ?"


Hening lagi....


"Di mall S aja bagaimana ?"


"Boleh, 20 menit lagi aku sampai !"


Benki mengakhiri teleponnya, ini pertama kalinya Tiara mengambil langkah karena biasanya gadis itu selalu mengikuti apapun keinginannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Lain kali kita mungkin bisa makan malam bersama lagi !"


Semua yang ada disana tertegun mendengar itu.


"Baiklah tuan Ben. Terima kasih undangan makan malamnya dan semoga kedepannya kita bisa menjalin kerjasama lagi !" Ucap sang manajer.


"Tentu saja, kalau begitu saya permisi dulu. Saya duluan Angel. Mari !" Ucap Benki pada Tiara dan manajernya.


"Oke, hati-hati dijalan !" Tiara tersenyum manis yang dibalas senyum manis juga oleh Benki.


Benki menuju keluar dengan Fajar yang mengikutinya disertai tatapan tidak rela Tiara yang masih ingin mengobrol dengannya.


"Ada apa ? Ada sesuatu yang penting ?" Fajar mensejajari langkah Benki yang terlihat buru-buru.


"Tiara bilang dia rindu padaku jadi aku harus cepat-cepat supaya dia tidak menanggungnya terlalu lama karena rindu itu berat !"


Fajar mengangga dengan kening berkerut serta mata melotot mendengar alasan Benki, dia pikir tadinya sesuatu yang penting taunya sang bos yang mulai bucin. Oh my God. Fajar frustasi.


"Yakin ?" Benki menerima kunci itu.


"Yakin tuan. Saya akan pulang naik taksi atau taksi online !"


"Baiklah, kalau begitu aku duluan !" Benki memasuki mobil dan memacunya pergi meninggalkan Fajar yang menatap mobil itu dengan tatapan dalam kemudian segera menghentikan taksi yang lewat.


Sementara itu, Tiara yang juga bersiap pulang dan berada dalam mobil bersama manajernya saat Hp-nya berbunyi, sambilk menghela nafas Tiara mengangkatnya.


"Halo !"


"Halo yank, kamu ingat kan janji kamu ?" Rafly to the point.


"Janji ? Janji apa ?" Tiara mengerutkan kening berusaha mengingat.


"Itu lho, kamu bilang kalau 2 Minggu lagi bisa meluangkan waktu seharian buat aku !" Ucap Rafly.


Hening sejenak dengan Tiara yang berpikir, tadinya ia berharap bisa mengajak Benki menikmati weekend bersama. Ia bahkan lupa dengan pacarnya Rafly karena begitu terpesona pada sosok Benki.


"Baiklah, besok kita ketemu ditempat kemarin ya ?" Putus Tiara akhirnya.


"Oke yank !" Rafly langsung menutup telepon. Tiara menatap layar HP-nya, sadar jika ini pertama kali Rafly meneleponnya setelah 2 Minggu membuatnya menghela nafas.


"Siapa Ra ?" Tanya sang manajer.


"Bukan siapa-siapa kok Bun ?" Tiara tersenyum kearah manajernya yang menyetir dan memalingkan wajahnya menatap gelapnya langit.


*****


Setelah memarkirkan mobilnya, Benki segera menuju pintu masuk mall, ia tersenyum saat melihat Aulia sudah berdiri disana dan menatapnya dengan tatapan sukar.


"Kamu sudah lama ?" Sapa benki saat berdiri didepan gadis itu.


Alih-alih menjawab, Aulia malah mengulurkan tangan dan memeluk Benki berharap kegundahan hatinya bisa berkurang.


Benki terkejut melihat reaksi Aulia, matanya melirik kearah pintu masuk mall yang nyaris semua mata menoleh kearah mereka.


"Ra, malu dilihat orang !" Benki menepuk punggung Aulia untuk melepas pelukannya.

__ADS_1


Aulia melepaskan pelukannya sambil menatap dalam mata Benki. Ia tidak ingin Benki memanggilnya dengan nama orang lain.


"Kamu kenapa sih ?" Benki membelai kepala Aulia lembut, bingung dengan tingkah gadis itu.


"Nggak apa-apa, cuma kangen !" Aulia tersenyum manis.


"Ya udah, ayo masuk !" Benki meraih tangan Aulia dan menggandengnya memasuki mall.


"Kamu sudah makan ?" Tanya Benki.


"Sudah, kalau kakak ?"


"Aku juga sudah. Lalu kita kemana sekarang ?"


"Nonton aja gimana ?"


"Boleh !"


Keduanya menuju bioskop yang tampak ramai. Seperti biasa, Benki langsung jadi pusat perhatian dari kalangan ABG hingga sekelompok ibu-ibu membuat aulia kepanasan. Keduanya mengantri membeli tiket masih dengan bergandengan tangan. Setelah mendapatkan tiket dan membeli cemilan keduanya memasuki teater dengan pilihan film romantis.


"Hai kakak ganteng !" Sapa seorang ABG saat keduanya melintas hendak memasuki room teater.


"Hai juga adik cantik !" Balas Benki sambil tersenyum membuat sekelompok ABG itu heboh seketika hingga menjadi pusat perhatian.


Aulia menarik tangan Benki segera memasuki room teater.


"Kakak ganteng i love you !" Pekik ABG itu lagi sebelum tubuh Benki memasuki room teater.


"I love you too !" Balas Benki sedetik sebelum tubuhnya masuk kedalam room. Bisa dia dengar sekelompok ABG tadi lebih heboh dan super ribut membuat Benki terkekeh dan segera menuju tempat duduknya.


"Dasar cowok genit !" Aulia mendaratkan cubitan maut di bahu, pinggang serta perut Benki tak lupa pipi cowok itu membuat benki mengerang sakit sekaligus geli.


"Maaf, maaf. Sayangkan adik cantik begitu dianggurin !" Ucap Benki melihat wajah memberenggut Aulia.


Sedetik kemudian cubitan maut kembali didapatkan Benki membuat cowok itu terkesiap dan menghalangi jari-jari Aulia kemudian merangkul bahu gadis itu.


"Hanya dikau yang cantik dihatiku !" Bisik Benki.


"Idih, dasar tukang gombal !" Meski begitu Aulia tersipu juga mendengarnya.


Melihat wajah Aulia yang memerah Benki terkekeh. "Resiko pria tampan sepertiku !" Tambah Benki yang kembali terkekeh melihat Aulia mencebik kearahnya.


Hingga beberapa menit kemudian film diputar, keduanya menikmati film dengan menikmati cemilan yang dibeli.


Adegan demi adegan berputar, Aulia merebahkan kepalanya dibahu Benki dimana cowok itu meraih tangan kirinya untuk dia genggam, sampailah ke adegan cium yang membuat seisi bioskop langsung heboh. Aulia pun tertawa melihat kehebohan itu dan sebuah tangan meraih pipi kanannya dan membuatnya menoleh kearah Benki dan detik berikutnya bibir mereka bertemu. Aulia tersentak dan membeku seketika, dalam penerangan minim ia melihat mata Benki yang terpejam. Saat dia rasakan Benki ******* lembut bibirnya, mata Aulia ikut terpejam belum bisa membalas perlakuan Benki.


Benki melepaskan tautannya dan bisa Aulia lihat cowok itu tersenyum padanya membuatnya seketika malu dan kembali merebahkan kepalanya dibahu Benki kembali, Benki terkekeh kemudian ikut merebahkan kepalanya pada kepala Aulia dengan tangan saling bergenggam erat.


Setelah film usai, keduanya memutuskan untuk menghampiri Timezone. Memainkan beberapa permainan yang membuat mereka tertawa apalagi saat permainan capit mengambil beberapa coklat bengbeng, Benki terlihat lucu saat fokus mendapatkannya.


Kemudian beralih ke permainan basket dimana Benki terlihat lihat dalam permainan ini membuat Aulia terpana melihat betapa kerennya cowok ini.


"Hei kakak keren !" Aulia jongkok didekat Benki sambil bertopang kedua tangannya menatap genit pada cowok itu membuat Benki senyum tertahan.


Setelah memainkan banyak permainan, keduanya memutuskan pulang. Tapi sebelum itu mereka menukarkan semua tiket yang berhasil didapatkan. Sebuah bantal berwarna pink berbentuk love yang sangat cantik Benki dapatkan dan diserahkan pada Aulia.


"Terima kasih kak !" Senangnya Aulia sekarang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat menerima bantal itu dan memeluknya erat.


"Sama-sama cinta. Ya udah, ayo pulang !" Benki merangkul Aulia membawanya pulang diiringi tatapan iri gadis-gadis disana.


Mobil Benki berhenti tepat didepan rumah Tiara.


"Terima kasih kak, aku duluan yah !" Aulia hendak turun dari mobil saat Benki menariknya dan memeluknya.


"Kak, jangan bikin kaget !" Aulia memukul pelan punggung Benki namun kemudian ia balas memeluk cowok itu.


"Aku sayang kamu Ra !" Ucap Benki membuat Aulia terdiam.


Benki melepas pelukannya saat tak mendapat respon dari Aulia. Menatap gadis itu sejenak yang juga terpaku menatapnya. Benki mendekatkan wajahnya dan kembali mencium lembut bibir Aulia. Memagutnya dengan keseluruhan jiwanya.


Aulia yang awalnya terkejut ikut memejamkan mata bahkan sekarang mencoba membalas meski sangat amatir, Benki tersenyum dibalik kecupannya. Cukup lama saling bertautan, Benki melepaskan kecupannya, tersenyum pada Aulia yang terlihat malu dan segera turun dari mobil Benki. Terdiam didepan pagar menunggu Benki berlalu.


"Terima kasih dan hati-hati kak !" Aulia melambaikan tangan sedangkan tangannya yang lain memeluk bantalnya seraya menunduk tak ingin menatap Benki yang masih tersenyum kepadanya.


Benki memacu mobilnya meninggalkan rumah Tiara disertai tatapan Aulia.


"Aku juga sayang kamu kak !" Ucap Tiara tersenyum memeluk erat bantalnya kemudian berlalu menuju rumahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2