
Saat semua polisi menuju rumah ujung itu, Jerry dengan cepat berjalan menuju mobilnya, rasanya tubuhnya sudah tidak kuat namun ia terus berusaha membawa Bryan yang semakin lemah ke mobil mereka. Mati-matian Jerry mempertahankan fokus dan kekuatannya sebab ia juga sudah sangat kelelahan serta kedua lengannya sudah ngilu.
Akhirnya, ia sampai di mobil mereka dan lagi Jerry berusaha untuk bisa membuka pintu dan memasukkan tubuh Bryan ke jok belakang. Cowok itu menarik nafas sebelum memacu mobilnya lumayan kencang, tidak dipedulikannya beberapa pengendara membunyikan klaksonnya yang memekakkan telinga saat Jerry menyalip dan membuat mobil lain mengerem mendadak.
Jerry tidak peduli semua itu, yang ada dipikirannya fokus untuk membawa sang kakak ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan, untunglah ia tidak mendapat lampu merah sehingga ia selalu melajukan mobilnya dengan kecepatan nyaris penuh disertai pekikan keras klakson lain yang kesal dengan caranya mengemudi.
Kini Jerry telah berada dihalaman rumah sakit dan dengan cepat meraih tubuh Bryan dan membawanya masuk.
"Tolong.. kakakku terluka !" Teriaknya hingga beberapa perawat berlari kearah sambil membawa brangkar. Jerry meletakkan Bryan di brangkar itu dan membantu para perawat untuk membawanya ke UGD.
"Maaf, anda tidak boleh masuk. Silahkan menunggu diluar !" Ucap perawat wanita saat Jerry hendak ikut masuk ke UGD.
"Tolong selamatkan kakakku !" Jerry hampir menangis saat mengatakan itu dan tangisnya benar-benar luruh saat pintu UGD itu tertutup rapat. Dia benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada Bryan.
Cowok itu mondar-mandir didepan ruangan yang masih tertutup rapat dengan jantung berdebar kencang, berusaha mengintip kedalam tidak peduli dengan tatapan pengunjung lain yang menatap darah yang banyak dibajunya.
Cukup lama, pintu akhirnya terbuka membuat Jerry langsung menghampiri dokter yang keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan kakak saya dok ?"
"Kondisi pasien tidak baik karena kehilangan banyak darah, untuk itu kami.....!"
"Ambil darah saya saja dok, golongan darah kami sama, ambil sebanyak mungkin, yang penting kakak saya selamat !" Jerry memotong ucapan dokter.
"Baiklah, nanti tolong ikuti perawat untuk mengambil darah anda !" Ucap sang dokter.
Tak lama seorang perawat wanita mendekati Bryan.
"Silahkan ikut saya pak !" Ucap perawat itu sopan. Jerry langsung bangkit dan mengikuti perawat itu.
Saat sudah sampai disebuah ruangan, terlihat perawat pria sudah bersiap disana. Perawat pria dengan tag name Chris menyambutnya dengan sopan. Jerry diminta untuk berbaring di ranjang seraya diberi beberapa pertanyaan terkait kondisi tubuhnya belakangan ini. Perawat itu mengerutkan kening melihat luka goresan yang bertebaran di betis dan kaki bahkan di lengan Jerry namun enggan untuk bertanya.
Perawat Chris pun mulai memeriksa suhu tubuh, tekanan darah juga denyut nadi Jerry. Saat merasa pria itu sudah memenuhi syarat untuk mendonorkan darah maka ia mulai bersiap membersihkan area kulit untuk ditancapkan jarum. Saat Jerry melihat jarum yang hendak ditusukkan ke kulitnya, cowok itu seketika merinding.
"Tunggu, apa jarum itu bersih apa tidak jarum lain yang lebih kecil ?" Tanyanya panik melihat bentuk jarum yang belum menusuk namun sudah terasa sakitnya.
"Tidak tuan, jarum inilah yang selalu kami pakai untuk mengambil darah !" Ucap perawat Chris seraya mengarahkan jarum itu ke lengan Jerry.
"Tunggu, tunggu !" Jerry melotot ngeri melihat jarum yang bersiap menembus kulitnya itu, jantungnya berdegup kencang, keringatnya mulai menetes takut.
"Apa jarum itu bersih ? Itu terlihat mengerikan !" Panik Jerry.
"Anda tenang saja tuan, jarum ini baik-baik saja !" Perawat Chris tersenyum kepada Jerry yang terlihat tegang.
"Tapi.. tapi !"
Lebih baik anda jangan melihatnya, anda harus rileks !"
__ADS_1
"AKHHHH !"Pekik Jerry saat jarum itu hendak menembus kulitnya, sontak saja perawat Chris terkejut dan menjauhkan jarum itu dari kulit Jerry.
"Itu sakit dan aku tidak mau ditusuk !" Semprot Jerry.
"Ini untuk kakak anda tuan, menurutlah jika kau mau kakakmu selamat !" Ucap perawat wanita yang sejak tadi terdiam melihat tingkah Jerry.
Jerry mematung, dia lupa itu. Darah ini untuk Bryan. Segera saja ia kembali rebah dan mengangguk kecil pada perawat Chris.
"Kau, kemarilah. Bantu pegang tanganku !" Ucap Jerry pada perawat itu. Gadis itu melirik perawat diruangan itu dan saat ia mengangguk gadis itu mendekati Jerry dan membantu memegang tangan Jerry yang disambut senyum manis cowok itu.
"AAAKKHHH !" Jerry kembali menjerit saat jarum itu sudah menempel di kulitnya membuat 2 orang didekatnya terkejut.
"Tahanlah tuan, saya mulai !"
Tanpa sadar Jerry melepas pegangan gadis itu dan menarik pinggangnya hingga Jerry membenamkan wajahnya diperut gadis itu membuat gadis itu ikut memekik kaget dengan tindakan Jerry.
"AAAAAAAAKKKKKKHHHHHHHRRRRGGG !" Jerry berteriak kencang seraya merapatkan pelukannya saat jarum itu sukses menembus kulitnya hingga semakin lama pandangannya semakin kabur dan benar-benar gelap.
Saat membuka mata, Jerry mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan pencahayaan ruangan serba putih itu, matanya menatap liar mencari jam dan melihat jam dinding memperlihatkan angka 8 disertai terangnya diluar jendela. Pakaiannya pun kini berganti menggunakan piyama rumah sakit dan luka goresan ditubuhnya mulai mengering.
Ia menoleh kesamping dan terlihat Bryan disana dengan selang infus juga selang oksigen menempel di tubuhnya. Jerry menghampiri Bryan.
"Kak, bangunlah !" Ucap Jerry seraya memerhatikan wajah Bryan.
Pintu ruangan terbuka dan perawat yang kemarin dipeluknya melangkah masuk.
"Dia berhasil melewati masa kritis dan kita hanya tinggal menunggu dia sadar !" Jelas perawat yang telah memasang tag name bernama Jane.
"Terima kasih dan maaf tadi malam aku kurang ajar padamu !" Ucap Jerry seraya tersenyum tidak enak.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu tidak seperti itu !"
Jerry tersenyum.
"Aku kagum denganmu karena begitu menghawatirkan kakakmu, padahal rumah sakit memiliki stok darah sesuai dengan golongan darah kakakmu tapi kamu malah menawarkan diri untuk mendonorkan darah. Kamu memang mengagumkan !" Perawat cantik itu tersenyum namun Jerry malah menganga.
Andai ia tahu jika ternyata pihak rumah sakit punya stok darah untuk Bryan maka ia tidak perlu repot-repot menahan sakit dan ngeri kemarin.
'SIALAAANNNN!' Batinnya berteriak. Ia menatap sebal pada perawat yang sedang memeriksa infus Bryan.
*****
Jauh disana, Keadaan Benki dari hari ke hari semakin tidak baik, ia seperti kehilangan gairah hidupnya, cowok itu selalu terlihat murung dan selalu melamun. Jika ditanya ia hanya menjawab seperlunya saja.
Bahkan saat Tiara rutin datang ke kantornya untuk mengajaknya makan siang bareng, yang awalnya Benki menyambutnya namun setelah ketiga kalinya, cowok itu sering menghilang dari ruangannya sebelum jam makan siang sehingga saat Tiara datang, Benki tidak berada ditempat dan hanya bisa menemui Fajar.
"Fajar, Benki kemana ?" Tanya Tiara pada Fajar yang baru keluar dari toilet.
__ADS_1
"Eh, ada ruangannya !" Jawab Fajar.
"Nggak ada, ruangannya kosong !" Ucap Tiara membuat Fajar melonggokkan kepala diruangan luas itu dan memang benar tidak ada siapa-siapa didalam.
"Mungkin tuan bos ada keperluan mendadak jadinya pergi gak bilang-bilang ke aku karena tadi aku ada di toilet !" Alasan yang diberikan Fajar masuk akal membuat Tiara menghela nafas kasar.
"Telepon aja si bos !" Saran Fajar.
"Udah, tapi nomornya gak aktif !" Tiara cemberut, ganti Fajar yang menghela nafas.
"Mau menunggu ? kamu bisa tunggu diruangan bos !" Tawar Fajar melihat mimik wajah Tiara.
"Nggak usah, aku masih ada kerjaan jadi gak bisa lama-lama. Ya udah, aku pergi dulu !" Pamit Tiara.
"Oke, hati-hati dijalan !"
Fajar menatap gadis itu hingga memasuki lift kemudian kembali fokus pada pekerjaannya sambil menunggu sang bos kembali.
Benki tidak menyadari kalau langkahnya yang ingin menghindari Tiara malah membuatnya datang ke hotel milik gadis itu. Benki pun terkejut saat sudah memarkir mobilnya, ia terdiam menatap hotel mewah itu. Sesuatu yang berada didalam sana menariknya untuk datang.
Benki melepas jas-nya dan dasinya kemudian meraih masker dan topi di dashboard dan memakainya kemudian ia meraih kacamata hitamnya dan mengenakannya. Benki turun dari mobil dan memasuki hotel itu.
Benki memasuki hotel dengan langkah tegap meski beberapa orang menatap aneh padanya.
Kini ia telah duduk direstoran hotel di lantai dasar dengan mata menatap liar kesana kemari tanpa sadar mencari seseorang. Hingga Benki menghabiskan makanannya, orang yang ditunggu tidak terlihat. Benki terlihat lesu dan berniat pergi dari sana namun saat hendak berdiri orang yang ditunggunya muncul sambil membawa banyak kain serbet dan menyerahkan pada staf disana kemudian gadis itu berbalik hendak pergi namun baru beberapa langkah gadis itu berhenti.
Jantung Benki berdetak cepat saat Aulia berbalik menoleh kearahnya dan memandangnya lekat. Benki mematung, topi, masker dan kacamata melekat sempurna di kepalanya tapi apa yang membuat gadis itu memandanginya, apa mungkin gadis itu mengenalinya ?
"Aulia, ayo pergi !" Sebuah suara mengalihkan pandangan gadis itu.
"Oke !" Aulia kembali melangkah dan sebelum berbelok, gadis itu kembali menatap kearah Benki kemudian setelah itu ia hilang dibelokan.
Benki menarik nafas panjang saat rasa sesak itu kembali datang, ada rasa bahagia bisa melihat gadis itu lagi namun sisa kemarahan masih menguasai egonya untuk tidak menghampiri gadis itu dan memeluknya.
Sementara itu, kondisi Aulia pun tidak sama baiknya. Gadis itu juga sudah tidak ceria seperti biasa bahkan aura mendung melekat erat padanya. Ia biasanya selalu mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya karena dengan begitu ia bisa melupakan sejenak kerinduannya pada Benki.
Gadis itu sering menangis seorang diri jika mengingat Benki. Ingin sekali ia mendatangi rumah mewah itu untuk bertemu juga memeluk pria itu namun saat kesadarannya datang bahwa semuanya sudah berakhir, laki-laki itu kini membencinya.
Seperti sekarang, hari ini ada sebuah perusahaan melakukan seminar di hotel yang artinya para staf harus ekstra cepat untuk bekerja. Setelah membersihkan kamar yang baru ditinggali oleh tamu, Aulia turun membantu pihak dapur dan tak lama Veni memanggilnya minta bantuan untuk membawa serbet ke bagian prasmanan.
Saat menyerahkan serbet itu dan hendak kembali ke dapur saat tanpa sadar Aulia berbalik dan menatap seorang pria dengan penampilan paling aneh diantara para tamu.
Gadis itu terpaku ditempatnya, sosok itu terlihat seperti Benki membuatnya terus menatapi titik itu.
"Aulia, ayo pergi !" Veni memanggil.
Aulia menertawai diri sendiri saat sadar betapa dia merindukan Benki hingga melihat pria itu pada sosok lain. Gadis itu melangkah mengikuti Veni dan sebelum berbelok ia kembali menoleh dan pria itu masih nampak memandanginya juga.
__ADS_1