Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 066


__ADS_3

Jauh di belahan negara P, Bryan sedang berdiri pada jendela kaca yang cukup besar, menatap butiran salju jatuh dengan begitu indahnya dan semakin lama menguasai hampir setiap tempat yang ada, gedung-gedung megah nan menantang langit nampak tak berkutik saat putih salju semakin menutup puncaknya.


Salju yang semakin banyak itu memperindah sebuah jalan di sekitar yang tampak lengang dan tertutup salju. Terlihat di didepannya berdiri sebuah bangunan megah yang merupakan campuran antara museum dan juga pameran karya seni yang dimiliki oleh salah satu penguasa di negara itu.


Tak hanya itu, sudut-sudut gedung di sekitar juga tertutup salju dan tampak indah. Terlihat beberapa warga menemani anak mereka yang berjalan di salju yang tengah turun seraya bermain menikmati dinginnya salju.


Tapi tatapan Bryan nampaknya tidak fokus melihat itu, indahnya pemandangan salju itu tidak mampu menarik perhatiannya namun sebuah bangunan yang agak jauh disana yang menjadi titik pandangannya.


Terdengar suara pintu kamar terbuka, tanpa menoleh Bryan jelas tahu siapa yang datang.


"Kak, Michael sudah mengirim uang untuk kita !" Jerry menyadarkan Bryan dari lamunannya.


"Baguslah, lalu bagaimana penyelidikanmu ?"


"Mereka sulit didekati dan juga mereka dikelilingi alat-alat canggih. Museum serta pameran itu hanya kedok yang penuh dengan kamera tersembunyi !"


"Jadi kita perlu rencana yang matang untuk mendekati mereka !" Jelas Jerry.


"Lalu, apa sudah kau temukan celahnya !"


"Belum kak, aku masih mencari. Maaf !"


Bryan menghela nafas berat dengan rasa sesak di dada.


"Aku tidak sabar !" Ucapnya menatap tajam gedung mewah nan menawan yang berdiri beberapa puluh meter dari bangunan Bryan.


"Tunggulah, aku akan terus mencari kesempatan untuk masuk !" Ucap Jerry.


Bryan terdiam, pikiran berkelana jauh. Ia tidak sabar ingin pergi dari negara ini setelah tujuannya tercapai, pikirannya beralih pada wanita yang masih memenuhi hati dan pikirannya.


"Aku tiba-tiba kangen dengan Cleo !" Ucap Bryan.


"Sudahlah kak, relakan dia dan fokus dengan tujuan kita dulu !" Setelah mengatakan itu Jerry keluar dari ruangan itu membiarkan sang kakak kembali menikmati pemandangan luar.


Beberapa langkah meninggalkan Bryan membuat Jerry kembali ingat bahwa bukan itu saja yang ingin disampaikannya. Tak lama, Jerry datang melongokkan kepala mengintip Bryan yang masih berada di posisi sama.


"Kak, makanan sudah siap !" Ucap Jerry namun Bryan tak menggubrisnya.


"Kak, ayo makan !" Jerry mengeraskan suaranya namun tetap Bryan tidak bergeming.


Jerry masuk dengan pelan, berjalan mengendap-endap mendekati Bryan.


"Kak, makanan sudah siap !" Teriak Jerry menggelegar membuat Bryan terperanjat kaget dan langsung mengejar adiknya dengan perasaan geram. Suasana hatinya yang tadi haru biru kini kesal bukan main karena Jerry.


Bryan cepat lompat ke punggung Jerry, tangan kanannya memiting leher Jerry dan tangan kirinya menjambak rambut pria itu dengan jengkel dan gemas bercampur satu seraya membimbingnya ke ruang makan sebelum bocah kampret itu kabur.

__ADS_1


*****


Syifa baru saja tiba dirumahnya setelah melakukan seminar di kota B tepat disaat orang tuanya sedang makan siang bersama tamu yang seusia dengan mereka.


"Eh, Fa. Kamu udah sampai nak !" Mama Syifa bangkit dari duduknya dan memeluk anaknya.


"Iya ma !"


"Ayo makan, kamu pasti lapar !" Keduanya menuju meja makan.


"Fa, kenalin ini ibu Chyntia teman mama. Jeng, kenalin ini Syifa anak saya. Dia ini dokter bedah di rumah sakit S !" Ujar sang mama bangga pada temannya yang juga menatap lekat pada Syifa.


"Syifa Tante !" Syifa meraih tangan wanita tua itu dan menyalimnya.


"Tante Chyntia !" Ucap wanita tua itu seraya tersenyum lembut. Dia sangat suka dengan sopan santun gadis didepannya.


"Jadi gimana jeng !"


"Saya sih setuju jeng, lebih baik kita cepat-cepat kenalin mereka !" Ucap ibu Chyntia.


Syifa hanya terdiam mendengar itu, tersenyum manis sambil mendengarkan rencana kedua wanita tua itu dan mengangguk saja jika sang mama memberi nasehat atau arahan.


Dan keesokan harinya ia sudah janjian makan siang bersama Tante Chyntia. Dibantu sang mama, Syifa berdandan cantik. Syifa yang tidak pernah berpacaran itu hanya menurut saja saat mamanya menyuruhnya melakukan ini itu.


"Ma, kan cuma mau makan siang biasa jadi gak perlu dandan berlebihan gini ih !"


Syifa hanya menghela nafas, mengalah dengan kemauan mamanya. Saat semua selesai, Syifa cukup puas dengan pantulan dirinya di cermin yang terlihat tidak berlebihan dan terkesan natural.


"Oke ma, terima kasih !" Syifa memeluk mamanya.


"Iya sayang !" Sang mama balas memeluk.


Syifa segera berangkat menuju restoran yang dimaksud, saat sampai terlihat Tante chyntia juga baru sampai.


"Kamu cantik banget !" Puji Tante Chyntia.


"Terima kasih Tante !"


"Ya udah yuk, kita masuk !"


Jadilah sekarang siang ini, keduanya memasuki restoran seafood favorite di kota itu. Saat memasuki private room 2 pria tampan menyambut mereka. Syifa sedikit salah tingkah saat 2 pria itu terpaku dan memperhatikannya dengan teliti. Bersamaan dengan itu tuan Robby yang baru datang bergabung dengan mereka.


"Van, kenalin ini Syifa anak Tante Delia teman mama !" Ucap sang mama.


"Syifa !" Tanpa sadar gadis itu mengulurkan tangannya dengan cepat membuat ia sendiri kaget.

__ADS_1


"Evan !" Tangannya disambut. Keduanya tersenyum.


"Rizky !" Syifa terkejut saat tangannya disambar kemudian tersenyum manis pada Rizky.


"Van, Syifa ini dokter lho. Jadi kalau kamu sakit kamu bisa diperiksa sama dia. Iya kan nak ?"


"Iya Tante !" Syifa menunduk malu dan sedetik kemudian tersenyum manis menatap Evan.


Syifa merasa bersyukur tidak menolak perjodohan ini, Evan merebut hatinya dalam pandangan pertama, pria itu tampan dengan penampilan serta pembawaan yang berkelas membuatnya terlihat memukau meski pandangan pria itu sering terasa kosong membuatnya sering mencuri pandang pada pria itu. Obrolan-obrolan ringan memenuhi ruangan itu, tak jarang orang tua Evan berdecak kagum mendengar penuturan Syifa tentang pekerjaannya dan Evan lebih sering jadi pendengar dan akan berbicara jika ditanya saja. Evan pun menatap dalam pada Syifa yang membuat gadis itu menunduk malu.


Semua yang berada di ruangan itu, mulai menikmati makanan yang terhidang disertai ocehan Tante Chyntia yang menceritakan kebaikan serta keburukan Evan membuat Syifa tak jarang tertawa, berharap dia bisa sedikit banyak memahami pria itu.


*****


Tiara sedang berada di sebuah cafe resort sebuah hotel mewah yang berada di pinggir pantai bersama kekasih hatinya Rafly. Keduanya sedang menikmati makan malam romantis berdua dengan tema outdoor yang berlantaikan pasir dengan pemandangan laut, desiran ombak menambah kesan romantis malam itu.


"Yank, kamu nginap ya, nanti aku pesan 2 kamar !" Kata Rafly.


"Eh, ngga deh yank, nanti aku dicariin mama dan papa. Trus aku bilang apa dong ?"


"Ya alasan apa kek. Kali ini aja kamu kabulin permintaanku, selama ini aku yang selalu mengalah ke kamu !" Rafly mulai merajuk.


"Bukan gitu yank, aku pasti gak dibolehin buat nginap begini !"


"Kali ini aja, kamu itu selalu sibuk jadi sering terabaikan. Kali ini aja please !" Rafly memasang mata kucing membuat Tiara menghela nafas.


"Gak bisa yank, besok aku ada casting model iklan. Jadi aku harus pulang, cepat tidur supaya besok aku kelihatan fresh. Kamu kan tahu ini impian aku !" Suara Tiara sedikit meninggi sambil menatap tajam pria didepannya merasa kesal karena terus dipaksa.


"Maaf, yank.. maaf. Aku gak bermaksud begitu, aku cuma mau kamu juga bisa luangin waktu yang banyak untuk aku !" Rafly gelagapan melihat reaksi Tiara.


"Kita jarang banget ketemu, pernah sebulan sekali doang itu pun cuma sebentar. Aku juga mau seperti pasangan lain, jalan bareng, makan bareng seharian !" Tambah Rafly mengubah intonasi suaranya lebih lembut. Mendengar itu mimik wajah Tiara sedikit berubah.


"Yank, aku harus fokus dalam karir aku, kalau berhasil aku akan mudah dapat kontrak dari perusahaan luar, aku juga bisa tampil di beberapa negara lain dengan memperagakan busana dengan desainer ternama !"


"Jadi itu artinya kita bakal lebih jarang ketemu, jarang kencan seperti ini. Berarti pekerjaanmu lebih penting daripada aku !" Wajah Rafly mengeras dengan tatapan tajam tertuju pada Tiara.


"Maaf yank, aku gak bermaksud kayak gini. Tapi tolong ngertiin, sebentar lagi aku bakal tampil di luar negeri kan kamu juga yang senang. Gini aja, 2 Minggu lagi aku akan ambil libur nah aku akan ngabisin waktu seharian bareng kamu !"


"Janji ?"


"Iya janji !"


"Nginap ?"


"Boleh tapi aku mau kamar sendiri !"

__ADS_1


Keduanya terkekeh, Rafly mengangkat gelas jusnya dan mengajak Tiara bersulang dan menikmati jus masing-masing. Tanpa Tiara sadari Rafly tersenyum smirk kepadanya.


__ADS_2