Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 111


__ADS_3

"Kenapa selama ini kamu sulit dihubungi ?" Tanya Bryan pada Jerry yang sedang bermain Hp di sofa.


"Apalagi ? Ya cari aman. Kakak tahu, ternyata mereka menemukan rumah kita ! Perdana Menteri itu memang mau kita dibabat habis jadi bukan tidak mungkin alat komunikasi kita juga disadap ?" Jerry.


"Disadap bagaimana ?" Tanya Bryan heran. Jerry melirik sekilas kemudian mengangkat bahu tidak tahu harus berkata apa.


Bryan menghela nafas, tidak bertanya lagi. Adiknya sekarang ada disini dengan selamat, itu sudah cukup baginya. Keduanya terdiam dengan Bryan yang menonton televisi.


Jerry terus menscroll media sosialnya dan melihat postingan Tiara baru saja. Foto dari dalam mobil memotret depan bangunan club' malam dengan caption menghadiri ultah temannya.


Otak Jerry berpikir keras, ia ingin menyusul gadis itu tapi mengingat mereka sedang berada di kota yang berbeda membuatnya memutar otak ekstra keras. Beberapa saat berpikir dan yes, helikopter adalah pilihan yang tepat. Ia keluar ruangan dan menelepon pihak bandara bertanya apakah ada helikopter yang bisa disewanya malam ini juga dan ya ada.


Setengah jam kemudian helikopter pesanan sultan Jerry telah berada di helipad gedung rumah sakit itu.


"Kak, aku ke minimarket dulu cari cemilan. Kalau aku gak balik-balik berarti aku nginap !" Jerry setengah berlari meninggalkan kamar itu.


"Hah !" Otak Bryan loading mendengar alasan itu.


Sultan Jerry mulai menikmati pemandangan malam dari atas setelah mengatakan tujuannya kepada sang pilot.


Setengah jam kemudian, helikopter itu mendarat di helipad sebuah bangunan hotel.


"Bangunan ujung sana adalah club' malam yang anda tuju !" Ucap pilot itu sambil menunjuk arah Utara mereka.


"Terima kasih !" Ucap Jerry seraya menuju lift bangunan itu.


Sebelum keluar dari hotel itu, Jerry langsung membooking sebuah kamar agar ia tidak repot nantinya mencari kamar untuk menginap.


Jerry menatap luar bangunan yang tampak menarik itu dan segera memasukinya untuk mencari gadis yang dirindukannya.


Dentuman musik yang memekakkan telinga menyambut Jerry, asap rokok membumbung tinggi membuatnya segera mencari keberadaan Tiara.


Akhirnya ia melihat targetnya, disudut meja khusus tamu VIP, segerombolan gadis-gadis cantik sedang menyanyikan lagu ulang tahun pada seorang gadis yang tampak tidak berhenti tersenyum. Setelah meniup lilin dan menerima kado serta ucapan, si pemilik acara mulai meminta teman-temannya menikmati makanan yang tersedia juga berbagai jenis minuman keras di meja.


Tiara tampak tidak bersemangat, wajahnya sendu dengan gurat kesedihan namun tetap berusaha terlihat ceria. Gadis itu menikmati dengan pelan makanan yang tersedia dan menyesap sedikit alkohol itu bersama teman-temannya, kemudian beberapa dari mereka turun ke lantai dansa dan yang lainnya tetap tinggal karena efek alkohol yang mulai membuat pusing.


Tiara pun tanpa sadar semakin lama minum semakin banyak, pikirannya terus tertuju pada Benki. Ia masih tidak percaya telah kehilangan laki-laki itu padahal ia amat sangat menantikan pertunangan mereka bahkan pernikahan mereka, sepertinya ia telah jatuh cinta padanya.


Andai waktu bisa diputar, ingin ia kembali dimana ia harus bertemu Benki bukan malah menyuruh Aulia pasti sekarang ini dia bisa memiliki laki-laki itu sepenuhnya, pasti sekarang dialah yang Benki cintai.


Tiara semakin galau dan kembali menyesap minumannya.


Tiba-tiba seseorang telah berdiri dihadapan Tiara membuat gadis mendongak dan detik berikutnya ia terkejut.


"Rafly, kamu disini juga !"


"Iya, gak sengaja lihat kamu jadi aku kesini, gak apa-apa kan ?"


"Terserah kamu aja !" Tiara meraih minumannya dan meneguknya sekali.


"Bagaimana kalau kubelikan minuman ?"


"Gak usah, ini udah cukup !" Tiara ketus.


"Ini terlalu berat, aku beliin yang ringan deh, yang manis !" Rafly tersenyum lembut dan beranjak sebelum Tiara membuka suara.


Rafly menuju meja bartender dan memesan minuman manis untuk Tiara seraya menoleh kearah gadis itu dengan senyum smirk dan saat pesanannya sudah siap, ia menuju Tiara namun tanpa kentara ia memasukkan sebutir pil kedalam gelas itu.


"Ini, kamu pasti suka sama rasanya !" Rafly tersenyum lembut.


Tiara meraih gelas itu dan langsung meminumnya membuat Rafly tersenyum penuh kemenangan. Ia juga datang kesini karena melihat story media sosial Tiara, membuatnya berpikir bahwa inilah kesempatan emas untuk mendapatkan gadis ini kembali.


"Iya enak, ini nama minumannya apa ?" Wajah Tiara berseri-seri menatap minuman putih itu.


"Snow White !" Jawab Rafly sekenanya.


"Oh ya ini enak banget !" Tiara langsung menenggak minuman itu hingga habis membuat Rafly sangat senang.


"Kamu kenapa kok kelihatan murung ?" Rafly sok perhatian dan Tiara yang mendengar pertanyaan itu sontak kembali sedih.


"Pertunanganku gagal !" Ungkap Tiara.


Rafly terkejut tapi detik berikutnya ia berusaha terlihat normal dengan tangan mengepal.


"Tunangan ? Sama siapa ?" Tanya Rafly dingin.


"Dengan direktur salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Kalau aja aku berhasil menikah dengan dia aku pasti bisa dapetin apa yang aku mau salah satunya jadi model terkenal !" Entah Tiara menyindir atau memang seperti itu yang dia rasakan.


Rafly terdiam, ia tersindir mendengar itu. Matanya menatap sinis gadis didepannya yang menatap kosong orang-orang dilantai dansa. Tiba-tiba perasaan Tiara tidak enak, ia merasa agak gerah. Rafly tersenyum melihat itu.


'Kau dan hotelmu akan menjadi milikku !' Batin Rafly.


"Apa memang kamu sudah tidak mencintaiku lagi ?" Tanya Rafly membuat Tiara langsung menoleh kearahnya.


Gadis itu terdiam seraya menatap dalam pria itu. Jika ditanya tentang cinta. Ya, dia pernah mencintai laki-laki ini bahkan demi dia, Tiara rela melanggar aturan agensinya bahkan menolak perjodohan dengan Benki. Itulah hal terbodoh yang dia pernah lakukan dalam hidupnya.


"Ya, aku sudah melupakanmu. Aku memang pernah mencintai kamu tapi itu dulu, sekarang udah nggak, maaf. Ya udah, aku mau pulang. Aku harap kamu menjadi laki-laki yang baik dan bahagialah. Selamat tinggal !" Tiara beranjak namun saat ia berdiri kepalanya terasa berputar membuatnya kembali duduk dengan kening berkerut.


Kemudian rasa gerah yang tadi dia rasakan kini berubah semakin panas membuatnya ingin melepaskan seluruh pakaiannya, belum lagi kepalanya yang semakin lama semakin berputar membuat Tiara setengah mati mempertahankan kesadarannya.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa !" Rafly menyentuh tangan Tiara.


Sontak saja gadis itu seolah merasakan aliran listrik yang mengenakkan dari sentuhan Rafly dan ingin terus merasakan sentuhan itu, digenggamnya terus serta dielus lembut lengan kekar itu dengan kesadaran yang nyaris hilang.


"Kayaknya kamu udah mabuk, aku antar pulang ya !" Rafly langsung meraih tubuh Tiara hingga berdiri dan merangkulnya agar gadis itu tidak sempoyongan.


Tapi baru beberapa langkah Tiara langsung goyah dan hilang keseimbangan membuat Rafly langsung memeluknya dan menggendong tubuh Tiara yang mulai meracau tidak jelas. Senyum Rafly semakin lebar melihat itu.


Ia menggendong Tiara keluar dari club' itu, semua teman Tiara juga sudah mabuk sehingga tidak ada yang menghalangi Rafly membawa gadis itu pergi.


Rafly berjalan cepat menuju mobilnya dan saat memasukkan kunci untuk membuka pintu, seseorang menepuk bahunya dari belakang membuat Rafly refleks menoleh.


Dan sebuah bogem mentah nan keras menyambutnya seraya sebelah tangan yang lain menyambar Tiara dengan cepat membuat Rafly langsung jatuh terguling dan berakhir dengan keningnya membentur ujung trotoar. Rafly mengerang kesakitan, ia bangkit hendak membalas namun sudah tidak ada siapapun disana, orang yang menyerangnya ataupun Tiara.


Matanya nyalang menatap kesana kemari dengan amarah memuncak hingga ubun-ubun.


"Woi bangsat, balikin cewek gue !" Teriak Rafly seraya memeriksa tempat-tempat terdekat yang bisa menjadi tempat persembunyian kemudian ia kembali memasuki club' untuk mencari Tiara.


Jerry yang sedang membekap mulut Tiara yang terus meracau disamping bangunan yang gelap seketika melepaskan tangannya saat mengintip Rafly berlari memasuki club'. Tanpa sadar, Tiara memeluk tubuh Jerry erat serta mengecup leher cowok itu lembut. Sesuatu dalam diri Tiara bangkit serta menggebu-gebu dan meminta untuk disalurkan.


Jerry segera menggendong Tiara dan sedikit berlari menjauh dari sana, ia takut Rafly akan menemukan mereka, fokusnya mulai berantakan akibat kelakuan Tiara yang mengecup lehernya membuat Jerry sesak.


Jerry berusaha keras untuk tetap waspada, ia sekali-kali menoleh kebelakang berharap Rafly belum keluar dari club' hingga ia berhasil membawa Tiara memasuki hotel dan segera menaiki lift mengabaikan pandangan aneh sekitar.


Jerry tiba didepan kamarnya dan membuka dengan keycard dan membawa Tiara yang terus meracau sambil ingin melepaskan pakaiannya. Pintu terbuka dan Jerry segera meletakkan Tiara dikasur, saat ia hendak menuju kamar mandi, gadis itu malah menarik keras tangannya hingga cowok itu jatuh menimpa dirinya.


Tiara mencakup wajah Jerry dalam jarak dekat, wajah merah dengan tatapan sendu serta nafas tidak teratur kemudian ia mengecup lembut bibir itu membuat si pemilik bibir mematung dengan mata melotot.


Tiara melingkarkan tangannya memeluk leher Jerry hingga dada keduanya menempel erat membuat otak Jerry kosong seketika. Tiara dengan leluasa mengecup bibir itu, tangannya perlahan meraba lembut rahang Jerry dan belaian lembut itu perlahan masuk kedalam balik baju Jerry. Cowok itu tercekat, seketika tersadar.


"Ra, lepas. Ayo !" Jerry berniat membawa Tiara ke kamar mandi untuk menyiram kepalanya dengan air dingin agar gadis itu berhenti meracau.


Namun Tiara berontak dengan gerakan tubuh penuh kegelisahan.


"Panas, minum, minum !" Oceh Tiara.


Jerry menduga jikalau Tiara sudah diberi obat perangsang oleh Rafly makanya gadis ini bersikap seperti ini. Jerry segera menuju kulkas dan mengambil air botol dan memberikannya pada Tiara.


Setelah meminum air itu dengan tegukan besar, Tiara masih saja terus menggerutu dan berusaha melepas pakaiannya sendiri membuat Jerry melotot panik.


"Eh jangan !" Jerry menggenggam tangan Tiara yang hendak melepas gaunnya.


Saat itulah, sentuhan Jerry lagi-lagi terasa mengalirkan listrik ketubuh Tiara, dengan cepat ia menarik Jerry hingga cowok itu kembali menindihnya dan kembali mengecup bibir kemudian pipi hingga menciptakan rasa geli dalam diri Jerry. Sesuatu dalam diri Tiara meronta-ronta semakin kuat untuk dilepaskan.


Pikiran Jerry kembali kosong, perlahan matanya terpejam, Tiara mulai berhasil memancing gairah cowok itu hingga tak lama kesadarannya kembali datang dan berusaha melepaskan diri namun Tiara menolak melepas pelukannya dan menatap sayu pada Jerry membuat cowok itu tidak berkutik dan tanpa sadar, Tiara berhasil melepaskan kaos cowok itu.


Tiara kembali mencium lembut bibir Jerry, memeluk erat serta mengelus lembut bahu hingga turun ke punggung Jerry yang memejamkan mata, ia mencoba untuk tidak larut dalam permainan gadis ini namun sia-sia, sentuhan tangan dan bibir Tiara pada akhirnya membuat Jerry kalah pada gairahnya sendiri dan langsung mengambil alih.


Tiara menjerit kencang saat Jerry berhasil menembusnya kemudian mengigit keras bahu cowok itu melampiaskan rasa perihnya, air matanya luruh membuat Jerry terdiam sejenak hingga gadis itu mulai rileks dan berikutnya ia mulai menggerakkan tubuhnya hingga sebuah rasa yang nikmat seketika menyentak seluruh urat nadinya, berkobar dalam aliran darahnya membuat Jerry gila seketika serta melupakan segalanya dan hanya fokus dengan apa yang ia rasakan sekarang.


*****


"Semua sudah bagus ya, makannya tolong dijaga dan jangan langsung lakuin kegiatan yang berat-berat dulu !" Titah Syifa setelah selesai memeriksa kondisi Bryan.


"Iya, terima kasih !" Bryan kembali menatap lekat hingga gadis itu salah tingkah.


"Oh ya, adikmu mana ?"


"Dia bilang nginap di minimarket !"


"Hah ?" Tiara mengerutkan kening mendengar itu.


"Becanda, adikku itu memang aneh !" Keduanya tertawa sebentar kemudian terdiam canggung.


"Kamu tidak memakai kalungmu ?" Tanya Bryan.


Syifa terdiam kemudian meraih sesuatu dalam lehernya dan mengeluarkan kalung titaniumnya dari balik baju. Melihat itu Bryan hanya tersenyum.


"Padahal yang berlian lebih bagus, kenapa suka pake yang itu ?"


"Yang ini lebih aman dan nyaman. Lagian bahaya juga pake berlian kerja nanti banyak copet atau begal, hilang deh kalung mahal !" Mendengar itu Bryan hanya tersenyum.


"Kalau boleh tahu, sebenarnya kalung berlian itu untuk siapa ?" Tanya Syifa hati-hati.


"Untuk siapa ya ? Untuk seseorang yang tidak bisa lagi kugapai !" Bryan melankolis.


"Sepertinya kalung itu memang bukan untuk dia karena kalung itu menemukan sendiri pemiliknya !" Tambah Bryan menatap dalam wajah Syifa membuat gadis itu kembali salah tingkah.


BRAK. Pintu terbuka kencang.


"Eh, aku ganggu ya ?" Kata Michael sambil membawa makanan dikedua tangannya.


"Nggak kok. Hari ini pasien sudah boleh pulang !" Ucap Syifa.


"Oh, aku kira kalian sudah menetapkan tanggal ?" Michael ambigu.


"Tanggal ? Maksudnya ?" Syifa tidak mengerti.


"Jangan dengarkan dia, otaknya miring itu makanya omongannya gak jelas !" Sambar Bryan serta menatap penuh kutukan pada sepupunya itu.

__ADS_1


"Eh dokter, lihatlah sepupuku ini. Dia tampan juga kaya sayang jomblo ngenes !" Ejek Michael.


Bryan melotot ngeri, dalam pikirannya ia sudah mengutuk Michael menjadi berbagai arca keramat. Syifa tersenyum bingung dan saling pandang dengan Bryan yang tersenyum tipis padanya.


"Maaf, dia sendiri gak sadar diri kalau dia juga jomblo ngenes !" Balas Bryan dan ganti Michael menatap garang padanya.


"Ya udah, permisi ya !" Syifa tertawa sejenak kemudian beranjak keluar diiringi tatapan dalam Bryan.


*****


Disebuah kamar hotel VIP, 2 anak manusia sedang terlelap dengan hanya tertutup selimut saja. Pakaian mereka tergeletak berserakan dilantai.


Hingga sebuah deringan telepon yang kencang membuat kedua muda-mudi itu terjaga seketika akibat terkejut.


Keduanya membuka mata bersamaan dalam posisi saling memeluk, keduanya mematung saat saling menatap dengan mata melotot.


"KYAAAAAAAAA, ADUH SAKIT !" Pekik Tiara saat beranjak duduk dengan wajah nyeri.


Matanya menatap liar sekeliling ruangan yang asing dan matanya tertuju pada pakaiannya yang berserakan dilantai membuatnya kaget. Perlahan ia menatap tubuhnya yang tertutup selimut, mengintip kedalam dan menemukan dirinya polos belum lagi rasa sakit dari bawah perut yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuatnya berkaca-kaca, ia sadar sesuatu yang berharga sudah hilang.


Tiara menoleh kearah Jerry yang juga terlihat terkejut dengan keadaannya sekarang. Hal terakhir yang Tiara yaitu bersama Rafly namun sekarang mengapa ia bersama Jerry ?


"Apa yang udah kamu lakuin ?" Air mata Tiara luruh sudah.


"Aku.. aku.. aku !" Jerry bingung bagaimana menjelaskan.


Tiara terisak dan beranjak turun dari kasur dengan memegang erat selimut didadanya membuat selimut yang juga menyelimuti Jerry terlepas dari cowok itu. Bisa Tiara lihat dengan jelas tubuh polos Jerry membuatnya segera memalingkan wajah namun pandangannya justru tertuju pada bercak darah dikasur yang membuat tangisnya semakin deras.


"Aku bisa jelaskan !" Jerry bangkit hendak menghampiri Tiara namun gadis itu terus mundur dengan menahan rasa sakit dibawah perut juga di hatinya.


"Kamu jahat ? Kamu pikir aku cewek murahan hah ?" Bentak Tiara pada Jerry yang tidak peduli sedang terlihat polos.


"Apa karena aku model makanya kamu pandang rendah aku, Hah !" Bentaknya lagi.


"Bukan, bukan begitu !" Jerry terus mendekat.


"Selama ini aku bisa jaga diri, aku ini cewek baik-baik. Teganya kau !" Tangis Tiara semakin memilukan.


Hilang sudah hal yang selama ini ia banggakan dari dirinya, sesuatu yang selama ini ia jaga untuk suaminya kelak kini hancur ditangan orang lain. Tubuh Tiara luruh kelantai dengan tangis pilunya.


Jerry segera memeluk gadis itu, membiarkannya menangis serta memukul punggungnya dengan kencang.


"Kamu jahat !" Isaknya.


"Maaf, aku gak sengaja !" Jerry mengelus rambut Tiara.


"Aku akan tanggung jawab !"


Tiara masih menangis seolah tidak mendengar kata itu. Jerry menggendongnya dan mendudukkannya di sofa.


Kemudian Jerry menceritakan yang awalnya ia melihat status story' Tiara dan hendak menemui gadis itu disana tapi malah melihat Tiara berbicara dengan Rafly hingga gadis itu menjadi aneh setelah meminum minuman dari pria itu dan sebelum Rafly berhasil membawanya masuk ke mobil, dirinya berhasil merebut Tiara dari pria itu dan membawanya ke kamar ini tapi ternyata Tiara telah diberi obat perangsang yang membuatnya menggila bahkan menggoda Jerry yang akhirnya hanyut dalam godaan Tiara.


Tangis Tiara semakin deras, ia merutuki Rafly habis-habisan.


"Aku akan tanggung jawab, aku akan menikahi kamu !" Ucap Jerry seraya membelai lembut rambut wanita itu.


Tangis Tiara reda seketika mendengar itu, ia melepaskan diri dengan cepat dan menatap nyalang pada Jerry.


PLAKKKK.


Tamparan cantik itu mendarat mulus di pipi Jerry.


"Brengsek !" Umpatnya sambil berdiri.


"Kenapa kamu marah ? Harusnya aku yang marah ! Kan kamu yang memperkosaku !" Jerry tidak terima membuat Tiara menganga mendengarnya.


"Enak aja, aku bukan pemerkosa, kamu tuh dasar keong racun !"


"Semalam, kamu yang peluk aku, cium aku dan juga raba-raba tubuhku !"


"Idih, gak salah tuh aku ngeraba-raba keong racun sepertimu !"


"Kenapa nggak ? Kenyataannya memang begitu. Apalagi tubuhku seksi !" Jerry berpose membuat Tiara menelan Saliva susah.


"Pake celanamu !" Bentak Tiara, ia sangat kesal karena Jerry tampak santai saja tidak memakai apapun hingga anunya terpampang nyata membuat Tiara sangat malu.


"Lah, lupa ? Kan kamu yang udah lepasin semua bajuku !" Jerry cuek.


"Heh tukang fitnah, aku gak mungkin kayak gitu, auw sakit !" Rintih Tiara saat bawah perutnya kembali terasa nyut-nyut hingga tanpa sadar selimut yang sejak tadi menutup tubuh polosnya luruh begitu saja ke lantai.


"KYAAAAAAAAAAA !" Teriaknya saat sadar tubuh polosnya terpampang nyata didepan Jerry apalagi diliriknya pria itu melotot melihatnya.


"Jangan pikir macam-macam !" Bentaknya lagi. "Aw, sakit !" erangnya.


Jerry tersadar seketika menghela nafas setelah itu meraih ****** ******** dan mengenakannya kemudian meraih Tiara dan menggendongnya menuju ranjang membuat gadis itu memekik.


"Maaf, tadi malam kamu benar-benar dalam pengaruh obat dan terus menggerayangiku jadinya aku pun lepas kendali. Sekali lagi maaf !" Jerry berlutut didepan Tiara yang balas menatap kosong padanya.


Air mata Tiara kembali luruh, Jerry meraba lembut pipi gadis itu, menghapus air matanya tanpa penolakan kemudian ia bangkit dan duduk disebelah Tiara. Menarik bahunya agar bersandar didadanya, menenangkannya dengan mengelus lembut kepalanya.

__ADS_1


"Aku akan tanggung jawab, mulai sekarang kita pacaran dan mulai sekarang belajarlah mencintaiku !" Titah Jerry.


Entah sadar atau tidak, dalam isakannya Tiara mengangguk didada Jerry.


__ADS_2