Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
033


__ADS_3

1 Tahun kemudian...


Lala memasuki kantor dengan 2 tangan yang memegang plastik besar. Membalas sapaan karyawan lain dan menaiki lift setelah itu langsung membawa masuk 2 kantong plastik itu ke ruangan Benki.


"Ini pak, paket dari penggemar setia anda !" Ucap Lala kepada Benki yang hanya menatap datar padanya seraya meletakkan 2 plastik besar yang berisi berbagai macam hadiah, buah-buahan dan kue cookies buatan sendiri untuk pangeran Yunani Benki.


Lala yang tadinya hanya keluar untuk mengambil pesanannya saat tiba-tiba cewek-cewek yang entah muncul darimana mengerubutinya dan menjadikannya tukang pos untuk menitip sesuatu untuk Benki. Sikap Lala yang tidak hanya cantik namun juga ramah membuat banyak orang tidak sungkan padanya.


Lala menyanggupi permintaan penggemar Benki itu menyampaikan kriman mereka pada sang direktur. Yang paling mudah adalah surat cinta, tidak berat dan penuh makna menyampaikan perasaan cinta dengan begitu gamblangnya dan yang cukup berat tentu saja adalah makanan, kue dan buah-buahan yang bisa dalam jumlah banyak membuatnya kewalahan.


Kepopuleran sang direktur utama yang tampan dan mapan ini dalam sekejap menarik perhatian banyak wanita dari anak SMP hingga janda kembang. Disetiap kesempatan jika melihat Lala berjalan bersama Benki dan Fajar langsung saja menarik perhatian banyak cewek-cewek.


Mencontoh film Korea, anak sekolah dari SMP hingga SMA memberikan kertas lipat pada Lala dan segera berlari menjauh. Lala membuka lipatan kertas itu yang menunjukkan nomor handphone mereka dan tulisan untuk "cowok tinggi dan ganteng" yang pasti adalah Benki.


Benki yang mengetahui itu hanya cuek dan stay cool membuat Lala pusing tujuh keliling dengan pekerjaan barunya yaitu tukang pos yang selalu memenuhi kantong dan tasnya dengan 'surat' penggemar Benki.


"Diantara cewek-cewek cantik ini, tidak adakah yang bisa memikat hati anda pak ?" Lala bertanya pada Benki.


"Apa mungkin anda jatuh cinta padaku ?" Pekik Lala membuat Benki melotot.


"Maaf pak, saya menyukai orang lain !" Wajah Benki langsung jelek mendengar ucapan Lala dan Fajar yang entah kapan datang langsung terbahak-bahak.


"Pede banget Lo !" Cibirnya pada Lala.


"Aku tidak tertarik padamu. Tenang aja. Aku suka cewek yang lembut dan punya senyum sehangat mentari pagi !" Benki menerawang.


"Loh itu kan saya !" Kata Lala membuat Fajar kembali tertawa dan Benki yang mencibirnya.


"Entahlah, aku juga menunggu seseorang yang bisa merebut hatiku dalam sekejap !" Ucap Benki membuat Lala dan Fajar saling pandang.


Lala kembali ke mejanya saat layar komputernya memunculkan email masuk. Segera dibukanya dan langsung membeku saat membaca nama pengirimnya. ia mengenali email itu, terdiam cukup lama menatap satu demi satu huruf yang berjejer rapi itu, air matanya mengalir saat email Rizky masuk dan mengundang atasannya untuk datang pada pesta syukuran.


PT. Samudera Api mengadakan pesta syukuran pembukaan Pabrik baru mereka yang telah rampung sepenuhnya dan akan segera beroperasi.


Tak bisa Lala bayangkan, jika Rizky mengetahui bahwa ia mengirim ke email pekerjaan Lala. Mungkin cowok itu akan langsung datang kesini dan memiting lehernya.


Lala menatap cincin hitam di jempol kanannya, cincin yang ia pakai setiap hari tanpa ingin melepasnya. Air matanya kembali menetes mengingat Evan. Cincin itu cukup membantunya melewati kesulitan salah satunya kerinduannya pada Evan yang tak terkikis oleh waktu.


Lala beranjak dan kembali memasuki ruangan Benki. Terlihat Fajar sedang duduk di sofa mengerjakan sesuatu di laptonya dengan kening berkerut.


"Pak, anda mendapat undangan dari PT. Samudera Api untuk datang pada pesta syukuran mereka yang diadakan Minggu depan !" Ucap Lala kemudian duduk disamping Fajar.


Benki menatap lekat ekspresi Lala saat menyebut perusahaan itu.


"Kau mau datang !


"Tidak !" Jawab Lala langsung.


"Mengapa ? Karena direktur utamanya ?" Tanya Benki. Lala terdiam menatap Benki.


"Tidakkah kamu berusaha melupakan dia ?" Tanya Benki lagi.


"Seberapa keras aku mencoba melupakan dia maka semakin kuat juga saya terus mengingatnya !"


"Cobalah move on !" Sahut Fajar tanpa mengalihkan pandangannya.


"Lihat cincin ini !" Lala memperlihatkan tangan kanannya, cincin hitam yang melingkar di jari manis dan jempolnya.


"Cincin di jempol ini ibarat gembok yang mengunci hatiku. Berkat cincin ini, saya mampu mengendalikan diri untuk tidak jatuh cinta lagi. Saya akan tetap bertahan sampai perasaanku pada Evan benar-benar hilang dan saya bisa melepas cincin ini untuk cinta yang baru !"


"Mau kubantu lepas ?" Tawar Fajar.


"Gak semudah itu !" Lala memelototi Fajar.


"Selama perasaanku masih kuat padanya, saya tidak ingin bersama laki-laki lain !" Benki dan Fajar saling pandang.


"Baiklah, aku pun tidak bisa datang. Kirimkanlah sebuah hadiah untuk mereka sebagai ganti dan permintaan maaf !" Kata Benki.


"Baik pak, kalau begitu permisi !"


*****

__ADS_1


Hari yang ditunggu akhirnya datang beberapa jam sebelum makan siang, Evan menyambut para tamu undangan. Terlihat para pelayan yang bertugas menata meja dan menghidangkan banyak jenis makanan agar lebih mudah dijangkau para tamu. Disisi lain, beberapa kali mobil pick up datang mengantarkan karangan bunga yang diterima oleh Rizky yang bertugas menerima karangan bunga itu memberi arahan untuk mengatur tempat berdirinya para karangan bunga yang terus berdatangan.


Selain itu, masih banyak lagi hadiah berdatangan dari para kolega serta undangan lain yang tidak bisa menghadiri acara tersebut yang disertai kartu ucapan permintaan maaf. Dengan hati-hati Rizky membawa hadiah pecah belah itu menuju ruangan khusus.


Saat Evan menyapa para tamu, sebuah mobil mewah berhenti dan keluarlah wanita cantik yang modis dan seksi memakai kacamata hitam. Evan sempat terpaku dan akhirnya tersenyum melihat Cleo yang melepas kacamatanya, tersenyum manis berjalan kearahnya.


Evan langsung merentangkan tangan menyambut Cleo dalam pelukannya. Keduanya berpelukan hangat, Evan memejamkan mata memeluk mantan istrinya itu. Perasaannya benar-benar lega sekarang melihat Cleo yang sekarang.


Ya, mereka telah resmi bercerai tepatnya 4 bulan yang lalu. Menunggu hingga Cleo merampungkan Pascasarjananya dan mulai bekerja di perusahaan papanya.


Flashback on


Setelah itu keduanya menemui orang tua masing-masing dan menyatakan keinginannya untuk bercerai. Orang tua Evan amat kaget karena selama ini rumah tangga anaknya terlihat baik-baik saja dan sekarang mengatakan ingin berpisah membuat mereka bingung. Evan menjelaskan panjang lebar memberi pengertian pada orang tuanya bahwa ia dan Cleo akan berteman baik.


mau tidak mau orang tua Evan hanya bisa menyetujui selama keduanya benar-benar yakin dengan keputusan mereka itu.


Sedangkan orang tua Cleo, bisa ditebak. Papa Cleo marah besar dan kembali menyalahkan Cleo atas perselingkuhan Cleo yang lalu membuat Cleo menunduk gemetar menggenggam erat tangan Evan.


"Pa, ini bukan karena masalah Bryan. Ini semua atas kesadaran kami berdua kalau pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan !" Ucap Evan kala itu berusaha meredam emosi papa Kevin yang menatap nyalang pada anaknya.


"Evan benar-benar bisa mengikhlaskan apa yang pernah terjadi antara Cleo dan Bryan. Evan sudah memaafkan itu pa, ma. Tapi itu bukan alasan perceraian kami !" Evan memberi pengertian.


"Tapi Van, tidak bisakah kamu pikir-pikir lagi ? Berusaha memperbaiki hubungan kalian ?" Papa Kevin mencoba mengubah pikiran Evan.


"Kami sudah mencoba pa, tapi ternyata tidak bisa !" Evan menoleh pada Cleo yang mengangguk. Papa Kevin terdiam.


"Evan dan Cleo tetap berhubungan baik pa, maaf kalau ternyata kami berhenti ditengah jalan. Evan harap perpisahan ini tidak mencerai-beraikan keluarga kita. Setelah ini Evan dan Cleo akan berteman baik seperti para papa !"


Evan minta maaf pa, ma. Maaf, Evan kembalikan Cleo pada papa dan mama !" Evan meneteskan air mata memeluk kedua mertuanya bergantian. Cleo pun ikut menangis.


Flashback off


"Kamu semakin cantik !" Ucap Evan setelah melepas pelukannya. Netranya menangkap cincin berlian yang pernah diberikannya dulu di jari Cleo.


"Baru nyadar, aku sejak lahir emang udah cantik. Kamu aja yang sia-siain !" Cleo sombong membuat Evan tertawa.


"Apa kamu sudah punya pacar ?" Tanya Evan.


Tanpa keduanya sadari, seseorang yang tanpa kentara berdiri didekat mereka terkejut mendengar ucapan Cleo kemudian ia segera beranjak pura-pura mengambil minuman.


Sedangkan seseorang yang memakai pakaian pelayan dan memakai masker dan topi yang sedang menawarkan minuman kepada para tamu yang juga mendengar ucapan Cleo ikut terkejut. Pria yang memakai masker itu menoleh kearah Cleo dengan tatapan penuh rindu.


"Kamu sudah datang Cle. Bagaimana rapatnya ?" Tuan Kevin datang bersama tuan Robby.


"Iya pa, semua lancar !" Cleo tersenyum.


Evan pun turut bahagia melihat Cleo yang sekarang berusaha keras dibawah ke-galak-an papanya untuk mampu menjadi pengganti papanya memimpin perusahaan.


Acara segera dimulai, dengan ratusan orang penting datang bahkan acara ini disiarkan melalui berita televisi yang ditonton hampir seluruh orang.


Evan memberikan pidato pendek sebagai pembukaan. Saat semua orang fokus pada Evan, Rizky menghampiri Cleo dan berdiri disampingnya.


"Kau cantik hari ini dan aku suka !" Rizky melagu, Cleo melirik sekilas.


"Nanti malam, mau keluar nonton !" Rizky mulai pedekate. Kali ini Cleo menoleh menatap Rizky yang tersenyum padanya.


"Oke !" Rizky ingin lompat berteriak senang.


"Nanti malam aku jemput !" Kata Rizky.


"Oke !" Cleo kembali menjawab pendek.


Rizky tersenyum senang, menatap Cleo dengan tatapan lembut, terus mengajaknya bicara sesekali menggoda tanpa peduli sekitar membuat seseorang yang memakai baju pelayan menatap mereka dengan tatapan marah dengan tangan terkepal kuat.


Acara itu disiarkan di beberapa berita nasional. Termasuk seseorang yang menatap televisinya dengan amarah, fokusnya pada Evan yang sedang tersenyum ke arah tamu.


"Aku pasti akan menghancurkanmu karena kau telah menghancurkan hidupku !" Ucapnya dengan gigi gemeletuk.


"Dan sampai saat itu tiba, nikmatilah hidupmu dan teruslah tersenyum menanti kehancuranmu !" Laki-laki itu tertawa jahat.


HP-nya berbunyi dan tanpa melihat siapa ia langsung meraih benda itu.

__ADS_1


"Halo ?"


"Apa ? Dia sudah bercerai ?" Teriaknya tidak percaya namun detik berikutnya senyum sinis muncul dibibirnya.


"Baiklah, terima kasih infonya !" Ia menutup telepon dengan seringai licik.


"Tunggulah kau Evan !"


*****


Lala juga menonton berita televisi yang memperlihatkan acara Evan yang ramai serta menyorot luas bangunan pabrik beserta peralatan canggih yang telah ada.


Saat kamera menyorot sang direktur utama, air mata Lala tak tertahankan menetes membasahi pipi. Pria itu kini terlihat lebih tampan dan berwibawa. Senyumnya adalah hal yang sangat Lala rindukan.


Benki dan Fajar hanya diam melihat Lala yang mewek menatap televisi. Kedua pria itu saling pandang ikut menonton acara itu.


"Apa yang kalian kirimkan pada acara itu ?" Tanya Benki pelan.


"Sebuah guci antik dan karangan bunga tuan !" Jawab Fajar membuat Benki mengangguk.


Tiba-tiba lift terbuka, orang tua Benki datang. Tuan Hasan bersama istrinya Nazha yang berdarah China Turki Indonesia yang masih terlihat sangat cantik di usia yang sudah tidak muda lagi.


"Ma, Pa. Ada apa ? Kenapa tidak mengabari jika mau datang !" Benki langsung menyambut orang tuanya. Lala segera menghapus air matanya dan ikut menyambut orang tua atasannya.


"Selamat datang tuan dan nyonya !" Fajar dan Lala bicara bersamaan.


"Terima kasih Jar, La !" Ucap tuan Hasan.


Benki mempersilahkan orang tuanya masuk ke ruangannya diikuti Fajar dan Lala.


"Begini Ki, mama sama papa berniat menjodohkan kamu dengan anak teman papa kamu namanya Tiara !" Sang mama to the point.


Fajar dan Lala saling pandang, tersenyum.


Benki terdiam menatap kedua orang tuanya.


"Dia cantik, dulu waktu kuliah sempat jadi model. Sekarang sudah lulus jadi kalian bisa diperkenalkan !" Tambah mamanya.


"Tapi ma.......!"


"Tidak ada tapi-tapian. Kamu selalu menunda-nunda masalah pasangan. Mama dan papa mau lihat kamu segera menikah Ki !" Wajah sang mama jadi sendu. Papanya mengangguk.


"Atau kamu udah punya seseorang yang kamu sukai ?" Tanya sang mama.


"Gak ada ma !" Jawaban Benki membuat sang mama melirik kearah Lala. Lala yang ditatap begitu jadi salting.


"Kamu punya pacar La ? Apa kamu tidak menyukai Benki ?" Tanya sang mama pada Lala yang membuat gadis itu terkejut dan refleks menggeleng.


"Saya sudah punya orang spesial dihati nyonya !" Ucap Lala sopan.


"Apa dia orangnya ?" Mama Benki menunjuk Fajar membuat dua orang itu saling pandang kemudian.


HIIIIIYYYYYYYYY. Keduanya histeris bareng membuat Benki menahan tawa.


"Bukan Tante. Dia seseorang yang mempunyai senyum seindah birunya langit !" Tegas Lala. Semua yang mendengar itu mengerutkan kening.


"Pantas kamu bisa bertahan bekerja disini sampai sekarang !" Mama Benki tersenyum.


"Eh maksudnya ?" Tanya Lala seraya melirik Benki dan Fajar bergantian. Fajar menyikutnya pelan dan menempelkan telunjuk pada bibirnya memberi kode pada Lala tidak bertanya lebih lanjut.


"Papa sama mama tidak akan memaksamu setuju dengan perjodohan ini hanya saja kalau bisa kalian ketemu trus saling mengenal. Kalau cocok lanjutkan kalau kamu merasa tidak cocok ya papa dan mama akan terima apapun keputusanmu !" Ucap sang papa pada Benki.


"Baiklah pa, ma. Aku akan coba ketemu sama dia dan kalau tidak cocok ya maaf !


"Mama setuju yang penting kamu serius mengenal dia !" Pinta sang mama.


Ketiganya ngobrol sebentar kemudian pamit. Mama Benki memberikan bingkisan yang sejak tadi dibawanya kepada Lala.


"Ini untuk kalian nikmati bersama !" kata mama Benki.


"Terima kasih nyonya !" Lala tersenyum sopan.

__ADS_1


__ADS_2