
Cleo terlihat berusaha menjadi istri yang baik. Menyiapkan pakaian kerja Evan dan melayaninya di meja makan, mengambilkan makanan dan minuman untuk sang suami. Evan hanya menatap diam atas perlakuan Cleo.
Setelah itu, dia melepas Evan dengan ciuman di pipinya. Evan segera mengendarai mobilnya sendiri sebab ia menginap dirumah mertuanya jadi pak Karyo tidak bisa ikut.
"Cleo !" Panggilan itu membuat senyum manis Cleo yang menatap mobil Evan hingga hilang dibelokan langsung hilang.
"I.. i.. iya pa ?" Jawab Cleo melihat papanya duduk di sofa.
"Duduk !" Perintahnya menunjuk sofa didepannya. Cleo menurut, dengan hati-hati ia duduk dan menunduk. Takut menatap papanya.
"Apa Evan tau hubunganmu dengan Bryan ?" Tanya papanya langsung.
"I.. iya pa !" Cleo tidak berani berbohong. Tuan Kevin menghela nafas kasar, wajahnya mulai mengeras hendak menyemburkan lava kemarahan.
"Tapi Cleo udah minta maaf pa, Cleo udah janji gak ulangi dan Cleo juga minta kesempatan dengan mas Evan !" Cleo buru-buru menjelaskan sebelum papanya menyemprotnya.
Tuan Kevin hanya menatap marah pada sang anak.
"Papa kan memang sudah menasehati kamu tapi lihat. Kamu malah membangkang bahkan kabur dengan laki-laki itu. Dan apa hasilnya ? Dia bohong kan ? Dia hanya mempermainkan kamu ? Sekarang kamu senang ?" Suara kencang tuan Kevin memenuhi ruang tamunya. Cleo memejamkan mata, bergetar takut.
"Papa gak mau tau Cle, papa gak mau kehilangan menantu kesayangan papa !"
"Cleo janji pa, gak akan ulangi lagi. Cleo akan setia pada mas Evan. Cleo akan jadi istri yang baik !"
"Memang seharusnya sejak awal seperti itu !" Bentak papanya membuat Cleo terperanjat.
"Maaf pa, Cleo benar-benar minta maaf !" Cleo menahan tangis.
Tanpa kata-kata lagi, tuan Kevin bangkit dari duduknya dan memasuki kamarnya.
Dikantor..
Evan sedang berdiskusi serius dengan Rizky dan Lala saat pintu ruang kerja Evan terbuka dengan hentakan keras.
Tiwi muncul dan menatap ketiganya dengan bola mata yang ingin keluar dari tempatnya. Dengan cepat Tiwi berlari menghampiri Evan dan langsung menjambak rambutnya, suara teriakan Evan memenuhi ruangan.
Saat Rizky berniat menolong memisahkan keduanya justru membuatnya ikut dijambak. Tangan kiri Tiwi menjambak kencang rambut Evan dan tangan kanannya meraih rambut Rizky membuat 2 pria itu memekik kesakitan.
Lala hanya melongo melihat adegan itu, ia tersadar saat suara teriakan keduanya semakin keras.
"Wi.. Wi.. lepas !" Lala menarik tubuh Tiwi kebelakang hingga membuat keduanya tangan terlepas dari rambut Evan dan Rizky. Beberapa helai rambut Evan dan Rizky nyangkut di jari-jari Tiwi.
"Sistem pemasaran di Amerika baik-baik aja, gak ada masalah sama sekali !" Bentak Tiwi sebelum Evan membentaknya. Evan dan Rizky saling pandang.
"Berarti kita dapat informasi yang salah !" Bela Rizky.
"Cih, salah informasi. Dasar tidak kompeten !" Cibir Tiwi.
"Apa kau bilang ?" Rizky melotot ngeri.
"Iyalah, kalau kau itu memang kompeten, perusahaan gak akan buang-buang uang untukku ke Amerika !"
"Eh, kuntilanak aku....!" Belum selesai Rizky bicara, Tiwi kembali memotongnya.
"Makanya kalau kerja tuh yang fokus, jangan malah mikirin pahanya Maria Ozawa. Gitu kan jadinya otak jadi error' !" Cibir Tiwi. Lala menahan tawa.
Mendengar itu, Rizky tidak terima dengan perkataan Tiwi. Baru saja akan balas mengumpat gadis itu saat Tiwi bicara duluan.
"Tau gak, kerjaan aku banyak bangetttttt. Eh malah disuruh jalan- jalan ke Amerika. Aku itu sedang mempersiapkan kontrak dengan perusahaan lain trus harus banyak memeriksa kondisi barang sebelum kita menggunakannya !" Omel Tiwi membuat tiga lain tidak peduli.
"Harusnya kamu seneng dong bisa jalan-jalan ke Amerika. Gratis pula !" Ucap Rizky.
"Heh, pekerjaanku lebih penting !" Mata Tiwi melotot maksimal
"Oh ya, terima kasih sudah nyembunyiin hpku ! Tiwi memelototi Rizky membuat cowok itu bersembunyi dibelakang Evan.
"Wi, kembali bekerja !" Titah Evan tegas membuat Tiwi melengos dan pergi meninggalkan ruangan Evan.
"Mengapa dia semarah itu ? Biasanya juga senang kalau pergi ke Amerika. Tumben-tumbennya pikirin kerjaan, kontrak lagi. Ckckck, sejak kapan dia mengurusi kontrak ?" Rizky bertanya-tanya.
"Direktur utama perusahaan x yang ingin membangun kerjasama diantara kita sangat.. sangat.. banget.. banget.. super cakep !" Lala meniru ucapan Tiwi saat kembali dari sebuah pertemuan, saat kembali ke kantor, Tiwi dengan hebohnya menceritakan betapa tampannya si direktur utama.
"Saking cakepnya Tiwi bilang jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku juga mau ketemu direktur itu, penasaran secakep apa dia !" Ucap Lala dengan pandangan menerawang, tanpa sadar kalau tanduk dan taring Evan yang tak kasat mata mulai tumbuh.
Evan menatap tajam pada Lala yang kesemsem pria lain, Rizky pura-pura tidak menyadari reaksi Evan.
"Katakan pada Tiwi untuk membatalkan rencana kerjasama kita pada perusahaan itu !" Semprot Evan membuat Rizky dan Lala terperanjat kaget.
__ADS_1
"Eh kenapa ?" Lala langsung menunjukkan mimik protesnya membuat Evan melotot ngeri.
"Eh, iya. Baik pak, akan saya sampaikan pada Tiwi !" Ucap Lala menyadari aura neraka dari ekspresi Evan.
"Kalau begitu permisi !" Lala segera ngacir keluar.
-----
Beberapa jam sebelum makan siang, Cleo berinisiatif membawakan makan siang untuk Evan. Dengan bantuan pembantunya Cleo berhasil membuat beberapa menu kesukaan Evan. Cleo meletakkan makanan itu didalam rantang plastik 3 tingkat. Cleo tersenyum geli melihat motif bunga-bunga pada rantang pink itu.
Cleo segera menuju perusahaan Evan, dia sudah tidak sabar melihat reaksi Evan melihat makanan yang dibawanya.
Saat jam makan siang tiba...
"Mau makan siang diluar atau pesan aja ?" Tanya Lala memasuki ruangan Evan. Evan mendongak menatap Lala.
"Pesan aja, pekerjaanku tidak bisa ditinggal !" Ucap Evan seraya menatap tumpukan map di mejanya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. kalau capek istirahat aja !" Lala mendekat membelai lembut kepala Evan.
Evan tersenyum, menarik pinggang Lala dan memeluknya.
"Lepas ih, nanti ada yang liat !" Lala panik sambil menatap pintu.
"Mereka akan ketok-ketok kalau mau masuk !" Evan cuek dan terus memeluk Lala, membenamkan wajahnya diperut Lala seraya meniupnya membuat Lala tertawa geli berusaha melepaskan tubuh Evan namun Evan malah mengeratkan pelukannya.
"Kamu tidak memakai cincinnya ?" Tanya Evan meraih kedua tangan Lala dan jemari itu kosong. Tidak ada cincin berlian no 3 dan cincin "tunangan" mereka.
Lala memerhatikan jari kanan Evan yang mengenakan cincin hitam itu. Gadis itu tersenyum kemudian meraba lehernya dan meraih sesuatu dibalik bajunya.
"Jeng jeng !" Lala memperlihatkan cincin itu yang ia jadikan bandul kalung.
"Kenapa dijadikan kalung ? Kenapa gak dipake di jari aja ?" Evan protes.
"Nanti ketahuan kalau ada sesuatu yang terjadi antara direktur dan sekertarisnya kalau aku pake ini cincin di jari !" Lala mencubit kedua pipi Evan membuat wajah pria itu kelihatan lucu.
Evan cemberut.
"Begini lebih baik jadi aku bisa memakainya setiap hari !" Lala tersenyum. Evan kembali memeluk perut Lala.
"Maksudnya ?"
Evan terdiam sejenak. Mendongakkan wajahnya dan menggenggam tangan Lala.
"Aku akan bicara pada Cleo untuk bercerai. Aku akan melanjutkan rencana kami untuk berpisah baik-baik !" Ucap Evan tegas.
"Jadi bersabarlah, sampai saatnya tiba. Kita menikah dan aku akan selalu memelukmu seperti ini !" Evan tersenyum membimbing kedua tangan Lala untuk memegang pipinya.
Evan memejamkan mata merasakan hangatnya telapak tangan Lala di pipinya. Lala mencium dahi Evan membuat pria itu membuka mata tak percaya.
"Aku akan menunggu. Aku mau memulai hubungan kita dengan cara yang baik, maka dari itu aku akan sabar menunggu !" Ucap Lala tersenyum.
Evan berdiri dan memeluk erat Lala menyalurkan rasa bahagianya yang terasa melimpah, Lala pun membalas pelukan Evan sama eratnya juga merasakan bahagia yang sama.
Tanpa keduanya sadari seseorang yang tadinya membuka pintu hampir setengah dan mendengar seluruh pembicaraan mereka serta mengintip tingkah mereka membuatnya menganga. Terkejut dan marah datang bersamaan mendominasi.
Orang itu bersandar di tembok samping pintu menutup mulutnya saat air matanya luruh tanpa permisi seraya menggenggam erat rantang pink bunga-bunganya.
Dunia Cleo seakan runtuh mengetahui kenyataan ini, jadi benar Evan memiliki hubungan dengan sekertarisnya.
Dia pikir Lala gadis yang baik nan polos namun ternyata..
Kenyataan ini tidak siap diterima Cleo, apalagi saat ia menata hatinya yang akan sepenuhnya diberikan pada Evan.
Cleo segera pergi dari situ dan memasuki lift bersamaan Lala keluar dari ruangan Evan untuk memesan makanan untuk mereka berdua.
Didalam lift, pikiran Cleo kacau balau. Ia sulit berpikir jernih. Apakah dia akan kehilangan suaminya ? Apakah hubungan mereka tidak bisa diperbaiki ?
Cleo terperanjat kaget saat wajah papanya melintas dikepalanya membuatnya menggelengkan kepalanya. Tidak.. tidak.. Cleo akan berusaha keras bagaimanapun caranya mempertahankan pernikahannya bersama Evan.
Saat akan keluar lift, ia berpapasan dengan Rizky dilantai dasar. Senyum Rizky tersungging saat pandangan mereka bertemu meski menyadari wajah cantik itu terlihat pucat namun di mata Rizky wanita itu tetap mempesona. Cleo berusaha mengabaikan pria itu dengan berjalan cepat keluar.
"Eit, eit, eit. Mau kemana ? Itu apa ?" Rizky menahan Cleo serta menatap rantang makanan ditangannya. Cleo hanya bisa menarik nafas.
"Eum, ini enak !" Akhirnya Rizky yang memakan masakan Cleo.
Keduanya kini berada di halaman perusahaan yang sangat luas, duduk dibangku panjang, keduanya duduk berdampingan.
__ADS_1
"Kok diam ?" Tanya Rizky sambil meletakkan rantang yang sudah kosong itu.
Ingin sekali Cleo menanyakan tentang hubungan antara Lala dan Evan namun diurungkan saat tatapan cowok itu nampak aneh menatapnya.
"Terima kasih karna sudah menolongku kemarin !" Ucap Cleo tertunduk. Pertanyannya tentang Evan dan Lala urung dia tanyakan.
"Sama-sama !" Dengan berani Rizky meraih tangan Cleo dan menggenggamnya.
Melihat itu Cleo terkejut dan refleks menarik tangannya seraya menoleh kekanan dan kekiri memastikan tidak ada yang melihat pemandangan ini namun Rizky enggan melepasnya.
"Ky, lepas. Ingat, aku ini istri atasanmu !" Cleo memperingati Rizky dengan tatapan tajam. Cukup sudah asisten aneh itu memperlakukannya dengan mesra.
Kelakuan Rizky padanya kemarin-kemarin sempat menganggu Cleo dan cukup membuatnya baper (bawa perasaan) namun ia bisa mengatasi saat memutuskan memilih Bryan.
Namun jika selalu bertemu, Rizky selalu memanfaatkan kesempatan. Cowok itu seperti tidak punya takut jika ketahuan atasannya bahwa dia menggoda istrinya.
Rizky mengabaikan kata-kata Cleo.
"Wajahmu kenapa murung begitu ? Apa sesuatu terjadi ? Apa Bryan menghubungimu ? Jailangkung itu masih hidup ?" Rizky bertanya panik membuat Cleo menoleh padanya dengan mimik terkejut.
Rizky menyadari saat mendengar nama Bryan wajah Cleo sedikit pias, membuat hati Rizky sedikit nyut-nyut gimana gitu.
"Sudah, ikhlaskan dia. Dia sudah tenang di planet Pluto sana dengan memilih karir sebagai petani !" Mendenga itu tanpa sadar Cleo tertawa.
"Aku sekarang sudah melupakan Bryan. Aku berusaha untuk tidak mengingatnya lagi !" Ucap Cleo dengan mimik pias.
"Betul, jangan mengingat orang yang tidak mencintaimu !"
"Tapi kemarin dia bilang...... !"
"Dia bohong, percayalah !" Ucap Rizky dengan mimik serius, Cleo menahan tawa.
"Sudah saatnya kamu move on !" Ucap Rizky membuat Cleo melongo, tangan Rizky dengan kurang ajarnya hinggap di bahu Cleo. Merangkulnya dengan mesra.
PLAKK. Cleo memukul tangan Rizky yang berada di bahunya.
"Iya, move on ke suamiku !" Cleo melepas tangannya dari genggaman Rizky dan langsung beranjak pergi. Rizky menatap kepergian Cleo dengan senyum tertahan.
Sesampainya dirumah, Cleo langsung menjatuhkan tubuhnya diranjangnya, air matanya kembali jatuh saat mengingat apa yang terjadi diruang kerja Evan.
Tadinya dia berpikir semua bisa diperbaiki dan memulai lagi dari awal namun ternyata seeorang telah masuk ke hati Evan saat dirinya keluar sebentar.
Cleo ingin marah, ingin menampar Lala karena menjadi orang ketiga saat hubungan mereka masih sah sebagai suami dan istri namun Cleo sadar dia juga melakukan hal yang sama, dia mencintai orang lain dibelakang Evan.
Tangis Cleo semakin deras saat penyesalan di hatinya semakin besar. Inikah ganjaran yang harus diterimanya akibat mengkhianati suaminya dan sekarang Evan telah memiliki kekasih lalu bagaimana dengannya ? Apakah mereka akan bercerai ?
Tidak.. Tidak.. Tidak... Cleo bangkit dari kasurnya, berjalan mondar mandir dengan gelisah. Dia sudah berniat memperbaiki segalanya dan tidak akan dia biarkan Lala masuk dan menghancurkannya.
-----
Evan memasuki kamar dan Cleo langsung menyambutnya dengan memeluk dan menciumnya membuat Evan kaget.
"Ada apa ?" Tanya Evan, tidak biasanya Cleo seperti ini.
"Nggak ada apa-apa. Ini cara menyambut suami pulang kerja model terbaru !" Ucap Cleo tertawa sambil meraih jas Evan. Evan menatap Cleo tidak mengerti.
"Mandi aja dulu baru kita turun sama-sama makan malam !" Cleo tersenyum manis. Evan bergeming.
"Cle, bagaimana kalau kita pulang saja ke rumah kita. Aku mau ngomong sesuatu, penting !" Ucapan Evan itu membuat Cleo terperanjat, tangannya yang hendak menaruh jas Evan di keranjang kotor seketika terhenti.
'Apa dia ingin mengatakan tentang perceraian ?' Cleo membatin.
"Bicara penting apa ?" Cleo bertanya gugup.
"Aku maunya bicara saat di rumah kita sendiri !" Jawaban Evan itu membuat Lala menahan nafas, menahan gemuruh akibat ketakutannya yang longsor.
"Kita disini aja dulu. Aku masih mau disini !" Kilah Cleo, mencoba menunda apa yang akan dikatakan Evan.
Evan menghela nafas, mengalah.
"Oke, 3 hari lagi kita pulang !" Ucap Evan seraya menuju kamar mandi.
Saat Evan menutup pintu, tubuh Cleo luruh ke lantai. Memegangi dadanya yang berdebar takut. Nafasnya serasa sesak memikirkan kemungkinan terburuk yaitu berakhirnya hubungan mereka seperti yang dulu dia minta 'Ayo kita berpisah baik-baik'
Cleo menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu.
"Tidak yank, sampai kapanpun kamu milikku !" Ucap Cleo menatap tajam pintu kamar mandi itu.
__ADS_1