
Lala pulang ke rumah dengan perasaan berat, saat akan memasuki kamar kostnya, perut Lala keroncongan. Dia ingat, kedatangan Cleo membuatnya lupa makan siang.
Berbalik arah segera menuju penjual bakso yang berjarak 200 meter dari kostnya.
"Mau pesan yang mana kak ?" Tawar si penjual bakso.
"Em, bakso biasa gak pake tahu terus tolong tambahin bakso mercon 2 biji, dibungkus ya !" Pesan Lala.
Sesampainya dikamarnya, Lala langsung memakan habis baksonya. Setelah itu selonjoran di dekat pintu balkon kamarnya mengistirahatkan tubuhnya yang capek serta mulutnya yang mendesis terkena ledakan cabe dengan menikmati air es.
Terdengar lagu cinta dengan volume cukup besar dari bangunan sebelah membuat Lala menatap langit malam tanpa bulan dan bintang-bintang. Bernyanyi kecil mengikuti irama lagu.
Lala beranjak ke kamar mandi, sudah tidak tahan dengan gerah tubuhnya, segera membersihkan diri. Mengganti baju dengan pakaian santainya.
Menggelar kasur gulungnya ditempat semula disertai bantal, guling dan selimut. Saat Lala akan merebahkan tubuhnya, matanya menangkap kotak beludru navy kecil diatas mejanya.
"Ya ampun, cerobohnya aku ?" Lala membuka kotak itu, cincin berlian no 3 itu tampak mewah dilihat, Lala memakainya ditangan kirinya kemudian melepas kalungnya dan meraih cincin hitamnya dan memakainya di tangan kanannya ditempat Evan pertama kali mengenakannya.
Lala merentangkan kedua tangannya keatas wajahnya, cincin-cincin itu begitu indah. Lala menatap kedua cincin itu dengan pandangan haru.
Larut dalam suasana kekaguman pada tangan sendiri, handphone Lala berdering tepat disamping telinganya membuatnya terjengkit kaget dan refleks duduk.
Nama Evan tertera di layar. Lala mematung dan hanya memandangi hp miliknya hingga panggilan itu terhenti. Kemudian Evan menelepon lagi dan lagi, Lala berusaha keras menahan dirinya untuk tidak mengangkat panggilan itu, mendengar suara Evan yang selalu membuatnya rindu.
Lala memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya terisak. Rasanya sulit sekali merelakan apa yang dia pikir akan menjadi miliknya seutuhnya.
Telepon Evan datang lagi, dengan bercucuran air mata, Lala menatap sendu layar HP-nya.
"Mungkin lebih baik sampai disini !" Lala berkata pada handphonenya seolah bicara pada Evan. Hingga panggilan itu mati, Lala mengeluarkan semua air matanya.
Teleponnya berbunyi lagi namun kali ini bukan dari Evan tapi dari kakaknya, menghapus air matanya, Lala meraih HP-nya.
"Assalamualaikum. Halo kak. Apa kabar ? Keluarga disana apa kabar ?"
…................
"Iya kak, aku disini baik-baik aja. Maaf belum bisa pulang karna pekerjaanku banyak sekali !"
..…...............
"Kakak butuh uang ? Berapa kak biar aku transfer ?"
"Iya kak, makanku baik-baik aja. Selalu banyak. Hehehehehe !"
"Iya kak, doain Lala bisa pulang ya. Lala kangen sama kakak sama adek sama semuanya yang ada disitu !"
"Iya kak. Waalaikumsalam !"
Air mata Lala luruh saat panggilan dengan kakaknya sudah berakhir. Ia juga sangat merindukan keluarganya. Ingin sekali bertemu.
Lala merebahkan tubuhnya seraya merapatkan selimutnya, memandangi langit gelap dengan hati tak menentu. Diraihnya Hp-nya dan dibukanya galeri menampilkan foto Evan yang dia ambil diam-diam saat sang direktur sedang menatap serius map didepannya membuat pria itu terlihat memukau.
Air matanya luruh lagi, Lala segera menyeka pipinya serta menonaktifkan HP-nya dan kembali menatap langit, berpikir tindakan apa yang sebaiknya diambil tapi tanpa sadar Lala terlelap.
Ditempat lain, Evan begitu gusar saat Lala tak mengangkat satu pun telepon darinya, saat menelepon lagi nomor itu sibuk dan saat mencoba lagi malah tidak aktif.
"Kamu kenapa sih La ?" Evan bertanya-tanya sambil mengacak rambutnya.
Sikap Lala hari ini yang tiba-tiba berubah 180 derajat membuat Evan tidak suka. Hal itu mengganggunya sepanjang waktu, bertanya pada Rizky sama saja bertanya pada rumput yang bergoyang akibat jawaban cowok itu sering ambigu.
Cleo yang sedang bersandar ditempat tidurnya sambil menonton tv, melirik kearah Evan, memperhatikan sikap gelisahnya.
Sepertinya Lala tidak melaporkan kehadirannya tadi siang kepada Evan. Terbukti saat pulang tadi Evan tak berkata apa-apa.
Saat Evan mendekat dengan wajah yang menakutkan membuat Cleo tak berani bertanya. Suaminya merebahkan diri dan langsung memejamkan mata hingga benar-benar terlelap.
Tadinya Cleo berniat menggodanya agar bayi sungguhan segera hadir di rahimnya berharap pernikahan mereka terselamatkan dengan kehadiran anak.
Namun sekarang Cleo hanya bisa menghela nafas pelan sambil menatap punggung Evan yang membelakanginya.
------
Di kantor, lagi-lagi Evan mendapat penyambutan dari seorang bawahan bukan dari seorang kekasih.
"Selamat pagi pak !" Lala menunduk hormat padanya, sambil tersenyum biasa.
Evan hanya menatap datar, benar-benar tidak suka dengan perlakuan itu. Dia ingin Lala yang menatapnya penuh cinta.
__ADS_1
Evan memasuki ruangannya diikuti Lala, setelah itu Lala membacakan kegiatan apa saja yang akan Evan lakukan. Evan tidak fokus dengan apa yang dikatakan Lala, ia hanya menatap wajah cantik itu yang terlihat layu.
"Rapat dengan penanggung jawab pembangunan pabrik batu bara akan dilakukan setelah makan siang pak !" Lala menutup buku memonya.
"Aku merindukanmu !" Ucap Evan tiba-tiba membuat Lala membeku.
Jika ditanya perasaannya, dia pun lebih merindukan Evan. Namun sekarang logikanya yang berfungsi. Kata "Bayi" seolah menjadi bom waktu untuk hatinya jika menatap Evan.
"Saya permisi pak !" Lala langsung keluar dengan langkah cepat. Berusaha membujuk hatinya yang meronta-ronta merindukan Evan agar diam.
Atmosfer di ruangan itu sungguh tidak enak, tentu saja pada siapapun yang berada disana. Lala berusaha keras mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri dengan map di mejanya.
Sedangkan Rizky, tidak tau harus berbuat apa untuk bisa menghibur sang bos maupun sekertarisnya. Ia hanya bisa memerhatikan dari jauh berharap keduanya bisa menyelesaikan masalahnya.
Saat jam makan siang...
Lala memasuki ruangan Evan setelah mengetuknya terlebih dahulu.
"Bapak mau makan siang diluar atau mau saya pesankan !" Kalimat formal itu seketika membuat Evan mendongak, menatap tajam gadis didepannya. Melihat tatapan Evan, Lala hanya menunduk.
"Kamu itu sebenarnya kenapa ? Kenapa aneh sekali ?" Nada suara Evan naik satu oktaf.
"Saya baik-baik saja pak !" Lala menjawab sopan meski ia sedikit gemetar membuat Evan menghela nafas kasar.
"La, kalau ada apa-apa. Ada sesuau terjadi ? Bicarakan denganku, kita diskusi sama-sama sampai kita dapat jalan keluarnya sama-sama !" Evan menekan kalimatnya.
Lala mematung, tak bersuara juga tak menatap Evan.
"Maaf, tapi saya baik-baik saja !" Ucap Lala masih tak berani menatap Evan.
Evan berusaha meredam amarahnya, sikap Lala yang seperti ini membuatnya hampir kehilangan kesabaran.
"Sini mendekat, aku mau peluk !" Ucap Evan membuat Lala melotot.
Lala bergeming, memberanikan menatap Evan, dengan tatapan nanar dan terluka membuat Evan hampir meledak.
"Sayank !" Tiba-tiba Cleo memasuki ruangan Evan membuat dua orang didalamnya terkejut.
"Yank, ini aku bawain makan siang !" Cleo tersenyum manis pada Evan sambil memperlihatkan kotak makan ditangannya, membuat cowok itu salah tingkah.
"Ada apa Cle ? Kamu butuh sesuatu ?" Tanya Evan.
Evan dan Lala membeku, tak percaya dengan apa yang terjadi. Cleo melirik Lala yang masih menatap keduanya. Ekspresi gadis itu sudah ingin menangis.
Tatapan Evan pun tak luput melihat ekspresi Lala, hatinya ikut terkoyak karna tidak bisa mencegah Lala melihat adegan ini.
Lala tak tahan lagi, ia cepat keluar dan langsung menuju kamar mandi. Menumpahkan air matanya serta perih hatinya. Pemandangan tadi adalah sebuah tamparan untuk mengingatkannya agar ia tidak menyentuh apa yang bukan miliknya.
Cleo menarik Evan untuk duduk di sofa, menyajikan makan siang untuk suaminya. Mau tidak mau Evan, memakannya sambil pandangannya mengarah keluar.
"Yank, gimana rasanya ?" Cleo memecah perhatian Evan.
"Enak !" Jawabnya singkat.
Evan melanjutkan makannya, Cleo hanya diam menatap sendu. Rasa cemburu hadir saat menyadari bahwa Lala menguasai seluruh pikiran Evan, hingga pria itu terlihat kaku berada didekatnya.
"Kamu gak makan ?" Evan menoleh pada Cleo.
"Aku udah makan yank, makanan ini khusus aku bawain buat kamu !" Ucapnya lembut, Evan mengangguk dan melanjutkan makannya sampai habis.
Selesai makan, Cleo membereskan peralatan makan Evan untuk dibawanya pulang.
"Ya udah yank, aku pulang dulu !" Pamit Cleo.
"Terima kasih makanannya. Hati-hati di jalan !" Pesan Evan. Cleo tersenyum, mendekati Evan dan mencium pipinya.
Evan terdiam menatap kepergian Cleo. Saat Cleo keluar dari ruangan Evan bersamaan saat Rizky akan masuk ke ruangannya. Keduanya bertatapan namun Rizky hanya diam membuat Cleo sedikit bingung. Biasanya cowok itu akan cari kesempatan dalam kesempitan.
Tak mau ambil pusing, Cleo berlalu dan memasuki lift. Rizky terus memandangi Cleo yang sudah hilang dalam lift bersamaan itu Lala terlihat keluar dari kamar mandi. Wajah sembab gadis itu terlihat jelas.
"Ini untukmu sebagai ganti obat diare kemarin !" Rizky membuka kantung kresek hitam yang dibawanya dan meletakkan 10 botol kecil susu rasa melon di meja Lala. Minuman kesukaan Lala itu berjejer rapi.
"Terima kasih Ky !" Lala pun malu menatap Rizky.
"Ky, bisa minta tolong ? Rapat dengan penanggung jawab 10 menit lagi akan dimulai. Sepertinya aku tidak bisa ikut dengan wajah seperti ini !" Ucap Lala.
"Baiklah !" Rizky mengangguk. Lala tersenyum.
__ADS_1
"Pak. Bos. Sudah waktunya untuk meeting !" Ucap Rizky yang nongol dari balik pintu.
Evan mengerutkan kening melihat Rizky namun ia beranjak juga keluar.
"Mana Lala ?" Tanya Evan melihat meja Lala kosong.
"Di kamar mandi. Dia tidak bisa ikut rapat. Biasa cewek, gampang mewek !"
Evan menghela nafas, merasa bersalah.
" Ayo !" Keduanya memasuki lift menuju ruang rapat.
Saat pulang kantor...
"La, jangan pulang dulu. Ada tugas yang harus kamu selesaikan !" Ucap Evan selayaknya atasan.
Lala terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Baik, pak !"
Malam telah merambat naik. Diruangan direktur, Lala duduk di sofa mencoba fokus pada pekerjaan yang diberikan Evan, berusaha menyelesaikannya agar bisa cepat pulang.
Evan menatap intens gadis itu, dia merindukan kekasihnya itu tapi sekarang yang duduk di sofa itu adalah bawahannya.
"Oke pak, ini sudah selesai !" Tiba-tiba Lala menoleh ke Evan membua Evan gelagapan.
"Kalau begitu saya permisi !" Lala meraih tasnya dan bersiap pergi.
"Berhenti !" Titah Evan, membuat Lala urung melangkahkan kakinya. Evan mendekat membuat jantung Lala bergetar hebat.
"Aku kangen kamu La. Kamu tidak kangen aku ?" Evan tepat menatap manik mata Lala.
"Pak, saya......!"
"Sekarang aku bukan atasanmu !" Sentak Evan membuat Lala terkejut.
Keduanya saling menatap, Lala menatap Evan dengan tatapan yang sulit diartikan. Perasaannya yang susah payah ingin dibunuhnya nyatanya terus hidup dan bersemayam di hatinya.
Dengan gerakan cepat, Evan menarik tubuh Lala dan memeluknya erat. Lala yang terkejut sempat mematung kemudian berontak mendorong tubuh Evan. Evan menatap Lala tidak percaya.
"Mungkin lebih baik kita akhiri ini !" Ucap Lala tegas.
"Maksudmu ?"
"Ayo putus !" Evan tersentak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menatap Lala dengan mimik bingung.
"La, jangan bercanda. Ini gak lucu !"
"Aku sudah pikirin ini baik-baik. Aku sudah gak mau ketemuan sembunyi-sembunyi. Rasanya buat aku tercekik !"
"Tapi kemarin kita baik-baik aja kan !"
"Benar, tapi sekarang bagiku sudah tidak baik. Ternyata aku tidak ingin seperti ini !"
"La, kita pasti bisa lewatin semua ini, aku akan membereskan secepatnya perceraianku dengan Cleo. Jadi tolong bersabarlah !" Evan mencengkram bahu Lala. Menatap mata gadis itu dengan tatapan gusar.
Lala melepaskan tangan Evan dari bahunya, ia mundur selangkah kebelakang.
"Maaf, aku gak bisa. Tolong jangan berpikiran pendek. Pikirkan baik-baik, lebih baik anda memperbaiki hubungan anda dengan istri anda, apalagi akan hadir.....!" Lala tak sanggup meneruskan ucapannya. Tangisnya sudah ingin tumpah.
"Aku benar-benar bingung sama sikap kamu yang tiba-tiba berubah seperti ini. Kita baik-baik aja kan. Kenapa tiba-tiba kamu berubah !" Ucap Evan setengah berteriak, matanya memerah.
"Aku sadar kalau selama ini aku salah. Lebih baik aku mengembalikan sesuatu yang bukan milikku !" Mata Lala sudah berembun.
"La.....!"
"Maaf, tidak seharusnya aku menerimamu disaat kamu masih suami sah wanita lain. Harusnya aku bisa bersabar sampai kamu benar-benar telah sendiri. Sebelum orang-orang tau, sebelum mereka membullyku karena berhubungan sama suami orang. Jadi aku mau akhiri semua. Ayo putus !" Ucap Lala tegas. Evan menatap Lala miris.
"Hanya seperti inikah perasaanmu ? Hanya sedangkal ini perasaanmu ?" Evan menatap tajam.
"Benar. Benar sekali. Maaf sekali lagi maaf. Terima kasih atas segalanya. Mulai sekarang aku akan menatapmu sebagai atasan. Aku pun berharap kamu kembali melihatku sebagai bawahan !" Hati Lala nyut-nyut sakit mengatakan itu.
"Kalau begitu saya permisi bos. Saya berjanji akan bekerja dengan baik !" Pamit Lala seraya berlari keluar keruangan Evan. Segera memasuki lift meninggalkan Evan yang masih mematung tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
Semuanya berakhir dalam sekejap mata, padahal baru kemarin mereka berdua tertawa bersama berjanji untuk setia dalam keadaan apapun.
Dan sekarang gadis itu mengingkari janji dengan mengakhiri semuanya dan memintanya memperbaiki hubungan dengan istrinya. Evan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Lala.
__ADS_1
Tubuh Evan melemas dan ia menjatuhkan dirinya di sofa menutup wajahnya dengan kedua tangan, punggungnya bergetar. Ia tidak siap dengan keadaan yang tiba-tiba seperti ini.
Sedangkan Lala yang memilih naik taksi, segera saja air matanya tumpah ruah, terisak memegangi dadanya yang sakit. Tidak menyangka kisah cintanya setragis ini. Apa ini hukuman mencintai laki-laki milik wanita lain ?