
Bryan memerhatikan museum itu dari jendela kamarnya. Tempat yang dulu penuh kehormatan, sekarang berubah menjadi tempat yang mengerikan. Semenjak terjadi pembunuhan disana, aura gedung itu perlahan berubah menakutkan.
Bryan masih terus menatap kesana. Sesuatu didalam sana nampak mengundangnya untuk berkunjung.
Saat malam semakin larut, Bryan memutuskan kesana dengan mengenakan pakaian serba hitam serta sebuah topeng hitam yang ia simpan di saku celananya.
Ia membuka sedikit kamar Jerry dan melihat sang adik telah terlelap dengan dengkuran yang cukup keras. Menutup pintu kamar itu dan berlalu menuju tujuan awal.
Bryan berjalan kaki seraya memperhatikan sekitar jikalau ada yang melihatnya hingga ia sudah berada didepan gedung museum itu. Memakai topeng hitamnya dan melewati garis polisi dan memasuki gedung yang knop pintunya nyaris rusak.
Bryan mendorong pintu itu, menggesernya agar tubuhnya masuk kemudian menutup pintu itu kembali.
Lampu diruangan itu dibiarkan menyala meski hanya 3 lampu sebab lampu yang lain nampak rusak akibat tembakan.
Suasana dalam ruangan itu pun nampak lenggang. Tidak ada lagi kotak-kotak kaca dimana terdapat benda berharga peninggalan zaman prasejarah atau lukisan-lukisan pelukis ternama yang kemarin tergantung ditembok ruangan itu. Ruangan itu kosong melompong.
Bryan berjalan dari 1 ruangan ke ruangan yang lain dan hanya kekosongan yang ia temukan.
Saat tak menemukan titik terang, Bryan memutuskan keluar dari sana dan kembali pulang namun pandangan matanya mengarah pada sebuah kartu yang tergeletak basah disamping selokan. Bryan memicingkan mata dan memungut kartu itu. Membersihkan tanah yang melekat disana, meski penyok, tapi tulisan dikartu itu masih bisa terbaca dengan jelas.
"Club' malam Sexy !" Gumam Bryan, mengantongi kartu nama itu dan segera pulang.
Keesokan harinya saat malam mulai larut, Bryan mengajak Jerry menuju club' malam itu setelah menceritakan sedikit tujuannya yang ingin mencari titik terang keberadaan sang Perdana Menteri dan kini mereka melakukan perjalanan yang memakan waktu hampir 1 jam.
Suasana luar club' saja terlihat ramai apalagi didalam tapi Bryan dan Jerry harus mengantri untuk bisa masuk kesana.
"Kau tidak lupa membawa mainanmu kan ?" Tanya Bryan melirik sang adik yang nampak tebar pesona pada gadis-gadis cantik yang berseliweran disana.
"Iya bawa, dasar bawel !" Jerry menatap malas pada sang kakak dan kembali fokus menggoda gadis-gadis membuat Bryan menahan diri untuk tidak memiting leher Jerry.
Cukup lama mengantri, keduanya akhirnya bisa masuk. Asap-asap rokok yang membumbung tinggi menyambut kedatangan mereka. Suara-suara dentuman musik yang memekakkan telinga serta lantai dansa yang penuh dengan lautan manusia yang bukan hanya sekedar bergoyang biasa maupun erotis tapi juga bercumbu atau bahkan bercinta disana.
"Wow, di Indonesia kita mungkin tidak akan melihat pemandangan ini !" Kata Jerry takjub.
Bryan tidak menjawab dan hanya fokus mencari targetnya. Beberapa gadis cantik dan seksi berusaha menggodanya namun langsung ia tolak.
Mata Bryan kembali mencari kesana-kemari berusaha mencari apa saja yang bisa membuatnya menemukan keberadaan sang Perdana Menteri tapi malah dilihatnya Jerry turun ke lantai dansa dengan diapit 2 gadis cantik di kanan dan kirinya. Bahkan ada gadis lain yang mulai meraba tubuh Jerry dan cowok itu malah terlihat menikmatinya seraya mengikuti alunan musik membuat Bryan mendengus jengkel.
Hingga dilihatnya Jerry menabrak seorang pria hingga jatuh menindih pria itu. Bryan membulatkan mata saat mengingat siapa yang sedang ditindih Jerry. Itu adalah supir yang membawa Keanu ke restoran.
"Oh, maaf. Saya benar-benar minta maaf !" Ucap Jerry seolah-olah merasa bersalah.
Pria itu mendengus dengan angkuh.
"Perhatikan langkahmu !" Ucapnya ketus.
"Baik, dan sekali lagi saya minta maaf !" Jerry tersenyum manis namun pria itu kembali mendengus dan meninggalkan Jerry begitu saja menuju sudut kawasan kamar VIP.
Tatapan mata Bryan mengikuti langkah pria itu hingga memasuki sebuah kamar. Saat pintu terbuka, pria itu tampak menundukkan badan sejenak sebelum memasuki ruangan itu.
"Ayo keluar !" Jerry menepuk pundak Bryan hingga cowok itu terjengkit kaget.
"Apa ? Keluar ?"
"Ayolah !" Jerry menyeret paksa sang kakak untuk keluar dari club' itu.
Sesampainya di mobil, Jerry langsung menyalakan laptopnya juga Hp-nya. Membuka sebuah aplikasi yang seperti daftar musik yang biasa didengar di komputer. Saat aplikasi terbuka, Jerry langsung menekan sebuah tombol on disana dan suara grasak-grusuk terdengar menganggu pendengaran.
Kemudian terdengar suara berisik disertai dentingan botol kosong. Suara teriakan kemudian tawa disertai pekikan genit beberapa wanita membuat Bryan dan Jerry jengah.
"Suara-suara siapa itu ?" Tanya Bryan saat suara yang terdengar dari sana.
"Tadi aku simpan alat dikantong jas supir itu, jadi sekarang suara ini berasal dari ruangan dimana supir itu berada !" Jelas Jerry.
"Oh, oke !" Bryan senang mendengarnya.
Keduanya kembali fokus mendengar pembicaraan apa yang akan terjadi namun hanya ada suara godaan, pekikan manja serta ******* membuat kakak beradik itu risih.
"Bagaimana kalau kita pulang ? Biar alat ini aku ganti ke mode merekam. Jadi semua percakapan mereka bisa kita dengar besok !"
"Oke deh !" Bryan menurut dan memacu mobil untuk pulang.
*****
Keesokan harinya...
"Kakakkkkkkkkk !" Teriak Jerry menggelegar membuat Bryan tersentak kaget dan langsung terduduk. Masih berusaha menyesuaikan dengan sekitar agar kesadarannya sepenuhnya kembali.
"Kakakkkkkkkkk !" Suara teriakan Jerry kembali terdengar membuat Bryan mendengus jengkel karena terganggu tidurnya yang nyenyak.
__ADS_1
Bryan beranjak dari duduknya menuju kamar Jerry.
"Ada apa ?" Semprotnya.
"Sini dengar !"
Bryan duduk disamping sang adik dan Jerry mulai menyalakan rekaman itu dengan memajukan sejam kemudian.
Suara ponsel terdengar dan sepertinya si pemilik telepon menuju suatu tempat sepi untuk mengangkat telepon itu.
"Halo tuan ?"
"Saya sedang berada di club' Sexy !"
"Iya tuan, mereka berdua berada disini !"
"Baik tuan, saya segera kesana bersama mereka !"
Telpon tertutup dan kembali suara keramaian tidak jelas dengan si supir terdengar memanggil 2 orang untuk ikut dengannya.
Si supir sudah berada diluar club' dimana sudah tidak terdengar dentuman musik memekakkan telinga kemudian beberapa pintu terdengar tertutup dan suara mobil dinyalakan.
"Kita mau kemana ?" Seseorang bertanya.
"Perdana Menteri ingin bertemu dengan kalian berdua disuatu tempat !" Jawab sang supir kemudian semuanya terdiam dan hanya terdengar suara mesin mobil.
Jerry mempercepat suara itu beberapa kali yang dimana perjalanan mereka memakan waktu 45 menit.
"Tempat apa ini ?" Tanya seseorang lagi saat mobil terdengar berhenti namun samar-samar terdengar deburan ombak.
Mobil itu berhenti disebuah bangunan tua atau gudang terbengkalai atau apapun dimana bangunan ini tampak besar dan sudah ditinggalkan dalam waktu lama.
Semua yang berada di mobil kemudian keluar, melangkah memasuki bangunan itu. Sang supir membuka pintu membiarkan 2 orang dibelakangnya masuk.
"Oh, selamat datang !" Sambutan ramah Perdana Menteri. "Bagaimana perjalanan kalian ? Maaf aku meminta kalian datang ketempat yang jauh ini !"
"Tidak masalah !"
"Silahkan duduk !"
"Ada apa Perdana Menteri ingin bertemu dengan kami ?"
"Begini, aku mendapat laporan dari para polisi jika kematian Rex terdapat titik terang tentang siapa pelaku pembunuhnya !" Ucap Perdana Menteri membuat kedua orang itu terkejut.
Mendengar itu, salah satu dari mereka merasa emosi, dia pikir mengapa manusia didepannya ini selalu ingin terima beres.
"Memang seharusnya seperti itu kan. Ini adalah keinginan anda dan jika terdapat sesuatu yang tertinggal maka sudah sepatutnya anda yang membereskan !" Ucapnya, masa bodo bahwa yang duduk didepannya ini adalah orang terhormat dan ucapannya sukses membuat siapapun yang berada disana terkejut.
"Hei, apa yang kau katakan kepada Perdana Menteri ?" Yang satunya bersuara.
Tatapan Perdana Menteri berubah menakutkan.
"Kau bilang apa barusan ?" Suara Perdana Menteri terdengar tajam.
"Maafkan dia tuan, dia sedang tidak berpikir jernih !"
"Langsung saja, kapan anda akan memberikan uang kami ? Aku harap kedatangan kami berdua kesini tidak sia-sia. Oh ya, juga bisnis kami nanti akau harap bisa semulus janji anda !"
Semua mengangga mendengar itu.
"Bob, nampaknya kau lupa siapa dirimu ?"
"Yeah, berkat anda. Terima kasih. Jadi, kapan anda memberikan uang kami !"
"Hey, jangan bicara seperti itu !" Yang satu terdengar panik.
"Clint, diamlah. Aku sedang memperjuangkan hak kita !" Bentak Bob.
"Jadi kapan anda akan memberi masing-masing dari kami sebesar 200 juta dollar setelah membunuh Rex ? Kami rela mengotori tangan kami untuk menuruti keinginan anda !"
"Bob, come on !"
"Clint, please shut up !"
Wajah Perdana Menteri jangan ditanya, ekspresi wajahnya sudah segarang singa dan emosinya bagai larva panas yang sudah siap menyembur keluar melihat kekurang ajaran pria didepannya.
"Keanu !" Teriak Perdana Menteri.
"Ya tuan ?" Si pengawal pribadi muncul dari sebuah kamar.
__ADS_1
"Bawakan uang mereka ?" Perintah sang Perdana Menteri.
"Baik tuan !"
Mendengar itu, Bob dan Clint saling pandang dengan senyum tercetak jelas di bibir mereka.
Tak lama kemudian, Keanu muncul dengan menyeret 2 koper besar dan memberikan pada Bob dan Clint. Kedua pria itu kemudian membuka koper itu dan berbinar-binar melihat tumpukan uang didalamnya. Mereka menghitungnya dengan teliti.
"Baiklah tuan, ini sesuai dengan janji anda. Kalau begitu kami permisi !" Ucap Clint.
"Oh ayolah, masa kalian mau langsung pulang begitu saja. Bagaimana kalau kita minum-minum dulu, aku punya anggur terbaik dan termahal untuk kita minum bersama !" Ucap sang Perdana Menteri.
Kedua pria itu saling berpandangan.
"Keanu, bawa keluar botol anggur itu !"
"Baik tuan !"
Keanu keluar dengan membawa troli makanan. Terlihat disana ember berisi es dan botol anggur bersama 3 gelas kaca🍷 juga cemilan.
Keanu meletakkan masing-masing gelas didepan pria yang duduk disana dan menuangkan anggur ke gelas masing-masing hingga setengah gelas.
"Aku harap kedepannya kita bisa kerjasama dengan lebih baik lagi dan masalah ini tidak akan terulang lagi !"
"Pasti tuan, saya bisa jamin itu !" Jawab Clint cepat membuat sang Perdana Menteri tersenyum.
"Silahkan !" Sang Perdana Menteri meraih gelasnya dan terlihat meneguknya.
Bob dan Clint mengikuti, meraih gelas itu dan meneguk isinya hingga habis.
"Ini benar-benar enak tuan !" Ucap Clint tersenyum. Sedangkan Bob hanya terdiam.
Sang Perdana Menteri juga tersenyum namun ia membuang sesuatu dalam mulutnya ke lantai, cairan merah anggur itu tidak ia telan.
"Anda kenapa tuan ?" Clint bertanya khawatir.
Belum juga dijawab, Clint dan Bob merasakan tenggorokan mereka terbakar, keduanya terasa sulit bernafas. Keduanya kejang-kejang dengan pupil memutih.
"AAAAAAAAAKKKKKHHHHH !" Keduanya berteriak dengan kuat. Tubuh mereka kejang-kejang kuat hingga terjatuh ke lantai dan mulai sesak nafas parah beberapa saat kemudian diam tidak bergerak.
Hening sesaat, tidak ada yang berbicara saat tubuh-tubuh sudah tidak bernyawa itu terlihat sedikit ngeri.
"Wim !" Panggil sang Perdana Menteri dengan keras.
"I.. iya tuan !" Sang supir menghampiri dengan gemetar, sangat ketakutan melihat pemandangan yang baru saja terjadi.
Perdana Menteri membuka tas uang milik Bob, meraih 2 gepokan uang dan melemparkannya pada supir itu yang gelagapan menerimanya.
"Bereskan mayat kedua orang ini. Ingat, lakukan dengan teliti tanpa meninggalkan jejak atau kau akan bernasib sama seperti orang-orang tidak berguna ini !"
"Ba.. baik tuan. Saya mengerti !" Ucap sang supir takut-takut.
"Keanu, ayo pergi !"
"Baik tuan !"
Sang supir menghela nafas panjang. Sesaat memperhatikan sekeliling dan Ia mulai membersihkan cairan anggur yang dimuntahkan Perdana Menteri tadi lalu menyeka dengan kain basah semua kursi dan meja yang tadi digunakan kemudian memasukkan semua gelas juga botol wine kedalam ember es dan menghancurkannya hingga nyaris halus.
Wim si supir memeriksa setiap sudut memastikan dia telah membersihkan semuanya dan tidak meninggalkan jejak. Kemudian ia menatap 2 mayat itu, menghela nafas berat dan menggendong mereka 1 persatu menuju bagasi mobil dan meletakkan mereka disana.
Wim mengendarai mobil sejauh 4 kilometer dan berhenti disebuah tebing pinggir laut. Wilayah itu sangat sepi karena nyaris berada di tepi hutan tapi Wim tetap hati-hati karena tempat yang kamu pikir aman kemungkinan besar akan menjadi tempatmu jatuh.
Mobil berhenti 100 meter dari tebing. Wim mengenakan kacamata khusus untuk bisa melihat dalam kegelapan yang beberapa hari lalu diberikan oleh Keanu. Wim keluar dari mobil setelah mematikan mesin dan membuka bagasi mobilnya. Diraihnya ember es tadi dan membuang serpihan kaca itu ke laut sekaligus dengan ember itu.
Mau tidak mau Wim menggendong kedua mayat itu dibahu menuju atas tebing dengan mengarahkan tenaga ekstra dalam penglihatannya yang jelas berwarna hijau. Dia tidak bisa membuang ditempat ia membuang ember es tadi dikhawatirkan mayat itu akan tersangkut.
Wim meletakkan kedua mayat itu ditanah seraya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat jalanan menanjak, terdiam sejenak merasakan angin laut menerpa tubuhnya kemudian menatap kebawah dimana deburan ombak menghantam permukaan tebing.
Wim meraih tubuh Bob dan menggelindingkanya kebawah setelah itu tubuh Clint. Ia terdiam sejenak menatap 2 mayat itu terombang-ambing sesaat hingga perlahan kedua tubuh itu tenggelam.
"Maafkan aku kawan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kalian karena aku sadar tuan Perdana Menteri adalah orang yang sangat kejam. Tenanglah disana. Sekali lagi maafkan aku !" Ucap Wim sendu kemudian berbalik hendak pergi dari sana.
Tangan Wim tak sengaja menyentuh kantong jasnya dan merasakan sesuatu disana, Wim menghentikan langkahnya dan meraih sesuatu dari kantongnya. Benda kecil berwarna hitam seukuran korek api itu membuatnya bingung.
"Apa ini ?" Ditatapnya dengan baik benda itu dan saat merasa tidak berguna, Wim melempar benda itu ke laut.
Blup..
Blup..
__ADS_1
Blup..
Itulah suara terakhir dari mainan Jerry.