
Evan dan Cleo turun bersama menuju meja makan, disana sudah ada orang tua Evan dan duo N.
"Kalian kapan sampai ?" Tanya Evan pada adiknya.
"Tadi malam dijemput kak Rizky !" Jawab Nikita.
"Kapan balik ke Amerika ?"
"Minggu depan kak !" Jawab Nabila.
"Van, kamu kalau belum sehat istirahat aja dulu dirumah !" Ucap sang mama.
"Aku udah baikan ma, aku sudah segar bugar. Mama gak perlu khawatir !" Jawab Evan meyakinkan membuat sang mama menghela nafas.
"Van, turuti mamamu, jangan memaksakan diri !" Kali papanya bersuara.
"Aku baik-baik aja pa, lagipula kerjaanku menumpuk kasian Rizky kerja sendirian !"
Semuanya terdiam menikmati sarapan mereka masing-masing.
Orang tua beserta Cleo mengantar Evan sampai depan mobilnya, pak Karyo dengan sigap membuka pintu untuk Evan.
Didepan orang tuanya, Evan membelai pipi Cleo dan mencium keningnya yang disambut senyum manis Cleo membuat siapapun yang melihat itu tersenyum kemudian ia pamit kepada orang tuanya.
"Cle, kamu mau keluar hari ini ?" Tanya mama mertua.
"Iya ma, Cleo mau ke kampus jam 11 !"
"Kalau begitu mama mau nitip makan siang untuk Evan, tolong bawakan ke kantor Evan. Bisa ?"
"Bisa ma, nanti Cleo bantuin mama masak ?" Cleo tersenyum.
Cleo membantu mama mertua menyiapkan makan siang setelah itu dia mandi dan bersiap kemudian meraih rantang makanan yang telah disiapkan mertuanya.
"Kalau gitu Cleo pergi dulu ma !" Pamit Cleo.
"Hati-hati Cle !"
"Iya ma, Assalamualaikum !" Cleo berlari kecil menuju mobilnya.
Sesampainya dikantor Evan, Cleo yang sepanjang menuju ruangan Evan mendapat sapaan hormat dari karyawan suaminya yang juga dibalas ramah olehnya membuat Cleo tersenyum kecut karena sebentar lagi gelar istri direktur utama akan hilang darinya.
Lift sudah berhenti di lantai direktur utama. Cleo berjalan menuju ruangan Evan, menatap datar meja Lala yang kosong.
Cleo masuk keruangan Evan dan mendapati ruangan itu kosong, memutuskan meletakkan makanan itu di meja. Cleo meraih kertas kecil dan pulpen di meja kerja Evan bermaksud menulis pesan, saat akan berbalik kembali saat seseorang sudah berdiri menjulang didepannya.
"Kyaaaaaaaaa !" Cleo berteriak nyaring refleks bergerak mundur namun karena tubuhnya yang terlalu condong kebelakang membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh.
Rizky segera memeluk pinggang Cleo meraihnya sebelum tubuh itu jatuh menghantam ujung meja dan lagi keduanya bertatapan dengan Cleo yang menatap tajam.
Didorongnya tubuh Rizky agar menjauh namun Rizky malah semakin erat memeluk Cleo.
"Berhenti bikin aku kaget dan lepas !" Bentaknya seraya berusaha mendorong tubuh kekar Rizky.
"Ada apa datang kesini ? Rindu padaku ?" Tanya Rizky seraya mengedipkan matanya.
Cleo menganga.
"Lepas Ky, nanti dilihat Evan !"
"Oh, bos lagi di toilet !"
"Apa ?"
Cleo kaget karena bisa saja Evan kembali kapanpun dan melihat pose mesra sekarang ini. Cleo kembali berontak melepaskan diri.
"Aku mencintaimu !" Bisik Rizky sukses membuat Cleo mematung dan berhenti berontak. Tanpa sadar Rizky sudah membawanya duduk di sofa tanpa melepas pelukannya.
Rizky meraih tangan Cleo dan meletakkan di pipinya membuat Cleo menatap Rizky tak fokus.
"Maukah kamu mencoba mencintaiku juga !" Rizky menekan telapak tangan Cleo di pipinya, suaranya terdengar amat serius.
"Aku janji akan mencintaimu sepenuh hati dan sepenuh jiwa jadi tolong buka hatimu dan coba terima aku !" Rizky menatap tepat manik mata Cleo yang masih berusaha mencerna ucapan Rizky.
"EHEM !" Deheman keras menginterupsi adegan mesra itu. Evan yang sejak tadi menonton adegan itu kaget dan menatap tajam pada keduanya.
Cleo segera melepaskan diri dari Rizky dan beranjak dari duduknya serta salah tingkah.
"Ini dari mama, kata mama untuk sementara Mas Evan harus makan buatan rumah !" Cleo gugup seraya menunjuk rantang di meja. Evan bisa melihat dengan jelas wajah Cleo yang memerah.
"Kalau gitu aku permisi !" Cleo langsung berlari keluar.
Tinggallah Evan yang menatap tajam pada Rizky yang disambut santai cowok itu.
Saat Rizky berdiri, Evan meraih kerah Rizky dan meninju wajahnya dengan keras membuat Rizky tersungkur di sofa.
__ADS_1
"Dia masih istriku Ky, jangan kurang ajar padanya !" Bentak Evan.
Rizky menyeka ujung bibirnya dengan jempol. Tampak santai menghadapi amarah Evan.
"Kalau bukan sekarang nanti dia diambil orang lain seperti Bryan kemarin. Jadi maaf saya memanfaatkan kesempatan yang ada !" Ucap Rizky.
"Itu juga sama kamu menusukku dari belakang. Kamu sama aja mengkhianatiku !" Wajah Evan merah padam.
Rizky mengangkat bahu tak tahu harus menjawab apa.
"Maaf bos, dari sekian wanita yang aku kenal hanya dia yang mampu menembus hatiku yang sekeras baja !" Mata Rizky menerawang.
Evan terpana mendengar ucapan Rizky.
"Kamu menyukai Cleo ? Sejak kapan ?"
"Entahlah tapi aku hanya bisa mengaguminya karena dia istri anda bos !"
"Saat tau dia berhubungan dengan Bryan, membuatku ingin sekali menelan habis laki-laki itu, berani sekali dia curi start dan ternyata dia tidak mencintai Cleo ya aku sangat senang dan saat anda bilang sudah tidak bisa memperbaiki rumah tangga maka aku anggap itu kesempatan emas buatku !" Jelas Rizky menatap wajah mengeras Evan.
"Tenang saja bos, saya tidak akan menusuk anda dari belakang anggap saja cara untuk menandai Cleo agar kedepannya dia tidak disambar laki-laki lain !" Rizky beranjak kearah Evan dan merangkulnya.
Segera Evan melepaskan rangkulan Rizky sambil menatap membunuh padanya membuat Rizky tertawa.
"Tolong relakan jika suatu hari nanti saya berhasil mendapatkan Cleo. Saya janji tidak akan macam-macam selama dia masih menjadi istri anda bos kalau sekarang ya ya ya ya ya ya ya aku masih berusaha mendapatkan dia ?" Jelas Rizky.
Evan menatap tidak mengerti pada Rizky. Cowok itu tampan dengan tubuh kekar, tak sedikit cewek-cewek muda dan cantik serta seksi dari sesama karyawan hingga mahasiswi dan anak SMA naksir padanya dan berusaha mendapatkan perhatiannya namun tak satupun menyentuh hati Rizky.
Dan sekarang Evan menemukan kalau asistennya ini jatuh cinta pada istrinya.
"Bagaimana bos ?"
"Apanya ?"
Rizky menatap Evan dengan mimik malas.
"Ky, suatu hari nanti saat aku resmi berpisah dari Cleo. Aku berharap dia menemukan laki-laki yang tulus mencintainya......!"
"Dan orang itu kini berdiri dengan begitu gagahnya didepan anda !" Potong Rizky pede membuat Evan menganga kemudian mencibir.
"Entahlah Ky, kamu terlihat tidak meyakinkan !"
"Akan saya buktikan pada anda bahwa Cleo bisa bahagia bersamaku !"
"Terserah kaulah Ky, tapi jika Cleo tidak bahagia aku akan dengan senang hati membuatmu babak belur !"
*****
Dengan setelan andalannya, kemeja biru langit lengan panjang yang dilipat hingga siku, celana jins 3/4 dan sepatu kets putih membuat Lala siap menuju TKP.
Saat akan mengunci pintu saat Lala kembali masuk, membuka lemarinya dan meraih kotak beludru, dibukanya dan diperhatikan sejenak. Mengambil kedua cincin hitamnya dan memakainya di tangan kanannya, di jari manis sedangkan cincin Evan dijari jempolnya. Hal itu membantu meningkatkan percaya dirinya.
Sesampainya disana Lala kembali menganga melihat penampilan saingannya, rata-rata mengenakan gaun selutut maupun diatas lutut dengan rambut ala-ala Korea style membuat Lala kembali minder berada diantar gadis-gadis modis dan tampak berpendidikan tinggi itu. Lala hanya memerhatikan kedua cincin hitamnya yang sedikit banyaknya menjadi penyemangat untuknya.
memerhatikan sekitar yang tampaknya tak kalah gugup sepertinya.
Sekian jam menunggu dengan gugup akhirnya nama Lala dipanggil.
"Silahkan !" Seorang gadis membuka pintu ruangan untuk Lala.
"Silahkan duduk !"
"Terima kasih !" Lala tersenyum pada gadis itu yang kemudian keluar.
Sedangkan didepannya seorang pria sedang membelakanginya mencari sesuatu ditumpukkan kertas. Ia berbalik saat tak menemukan apa-apa.
Saat itulah, saat pria itu berbalik mata Lala melotot tak percaya melihat siapa didepannya yang balas menatap sangat biasa padanya.
'Sedang apa boxer macan disini ?' Pikir Lala.
"Perkenalkan saya Fajar Ramadhana, Asisten direktur utama PT. EndoFood !" Ucapnya seraya mengulurkan tangan kepada Lala yang disambut Lala dan menjabatnya.
"Nona Mirela Tania ?" Tanya Fajar dengan suara berat.
"Benar !"
"Usianya 34 tahun ya !"
"24 tahun !" Lala meralat seraya memelototi Fajar membuat cowok itu mengangkat ujung bibirnya.
Kemudian mulai terjadi sesi tanya jawab bahkan seringnya Fajar memberikan pertanyaan jebakan pada Lala.
"Duluan telur atau ayam !"
"Belut listrik kalau kesetrum jadi gosong atau makin jago ?"
__ADS_1
"Saat tivi ditemukan apa yang pertama kali ditonton oleh penemunya ?"
Lala menganga mendengar pertanyaan itu namun Fajar mendesak untuk dijawab.
"Telur !"
"Jadi Super belut, kekuatannya akan jadi berkali-kali lipat dan mampu menembakkan petir pada langit !"
"Nonton ribuan semut !"
Fajar tertawa mendengar itu.
Kembali ke topik, Fajar kembali profesional mewawancarai Lala dan dijawab dengan tegas oleh Lala.
"Ow di resume anda tertulis anda pernah bekerja sebagai sekertaris selama kurang 2 tahun. Mengapa anda berhenti bekerja ?"
Hening dengan Lala yang hanya menatap Fajar dengan kening berkerut bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu.
"Kamu tidak perlu menjawabnya !" Kata Rizky melihat ekspresi wajah Lala.
"Maaf !"
Pertanyaan demi pertanyaan kembali dilontarkan Fajar setelah itu Fajar menguji kemampuan Lala dalam berbahasa asing dan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Setiap apapun pertanyaan Rizky bisa dijawab dengan lugas dan percaya diri oleh Lala.
Cukup lama melakukan wawancara dan berhasil menjawab serta melakukan sedikit praktek, sesi wawancara berakhir.
"Terima kasih atas waktu anda, silahkan menunggu jawaban dari kami segera !" Ucap Fajar mengulurkan tangan yang disambut oleh Lala.
"Terima kasih !" Jawab Lala kemudian keluar bergantian dengan kandidat lain.
Saat keluar ia tertawa kecil mengingat Fajar. Lala tidak menyangka Fajar bekerja disebuah perusahaan besar dengan posisi cukup penting. Lala kembali tertawa saat mengingat bahwa Fajar sendiri yang mewawancarai para wanita itu yang artinya selama beberapa hari dan sepanjang waktu ia menatap dan berbicara serta memperoleh informasi pribadi para wanita cantik itu membuat Lala berpikir kalau Fajar sangat senang menjalani tugasnya sekarang ini.
Melangkah meninggalkan kantor tersebut dengan perasaan haru biru, meski ia yakin ia telah menjawab wawancara dengan maksimal namun tak bisa dipungkiri banyak gadis-gadis lain yang pasti lebih hebat dan modis darinya.
Lala hanya bisa berdoa semoga ini kembali menjadi rejekinya. Semoga dia yang terpilih untuk menjadi sekertaris di perusahaan ini.
*****
Hari demi hari berganti terasa begitu lama untuk Lala, jawaban apakah ia terpilih atau tidak, selalu memenuhi kepalanya. Disetiap sujudnya berdoa agar ini menjadi miliknya.
Bahkan semenjak saat itu, Lala jarang melihat Fajar, cowok itu tiba-tiba hilang bahkan di sore hari dimana jam rutinnya menggoda cewek-cewek cantik.
Beberapa hari ini batang hidung Fajar tidak terlihat, saat malam hari lampu kamarnya tak pernah menyala membuat Lala yakin cowok itu tidak pernah pulang.
Namun keesokan harinya Lala terkejut melihat Fajar sudah duduk di balkonnya seraya menelepon seseorang menggunakan bahasa formal. Lala dan Fajar sekejap bertatapan kemudian sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Baik tuan, secepatnya kita akan menjatuhkan pilihan jadi kedepannya semua bisa berjalan dengan baik !" Ucap Fajar membuat Lala berpikir cowok itu sedang berbicara pada atasannya.
Kemudian Fajar menutup teleponnya dan menatap Lala yang kamarnya persis berhadapan dengannya.
"Ada yang ingin kau tanyakan padaku ?" Tanya Fajar.
"Tidak ada !" Lala menggeleng. Fajar menaikkan bahunya dan memasuki kamarnya kemudian mematikan lampu kamar.
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, Fajar menghilang lagi, kamarnya di malam hari kembali selalu gelap membuat Lala semakin galau dan putus asa atas jawaban yang ia nanti.
2 Minggu kemudian Lala sudah pasrah. Dia mempersiapkan hati jika memang posisi itu bukan untuknya. Sering ia membuka email mengintip apakah sudah ada jawaban untuknya.
"TINGGG " Bunyi nyaring itu berasal dari laptop Lala membuatnya buru-buru meraih laptopnya. Memejamkan mata dengan jantung berdebar kencang seraya berdoa membuka emailnya.
Mata Lala melotot saat belum dibuka pesan masuk dan ia sudah membaca kata "SELAMAT". Air mata Lala mengalir deras saat membuka pesan itu dan langsung sujud kearah kiblat mengucap syukur. Pesan itu menyampaikan bahwa dialah yang berhasil mendapatkan pekerjaan itu.
Lala berlari mengitari kamarnya, lompat-lompat senang, guling-guling dilantai bahkan goyang ngebor mengekspresikan perasaan bahagianya. Perasaannya sekarang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, akhirnya ia kembali bekerja sebagai seorang sekertaris.
Selesai sholat Maghrib, Lala yang masih mengenakan mukenanya menatap sendu pada cincin hitam Evan ditangannya. Tiba-tiba rasa rindu datang menyesakkan dadanya membuatnya kembali menangis. Merindukan Evan yang setiap waktu dia rasakan dan ingin bertemu juga mendengar suaranya membuat Lala selalu terisak. Dia hanya bisa berdoa berharap agar Evan bahagia sperti apapun keadaannya.
Handphone Lala berdering menyadarkannya dari lamunan, menghapus air matanya seraya meraih HP-nya.
"Halo ?"
"Dengan nona Mirela ?"
"Iya benar !"
"Saya Fajar !"
"Oh Fajar. Kamu kemana kok gak pernah pulang ?" Lala bertanya spontan membuat Fajar terdiam diujung sana.
"Eh, maaf.. maaf. Saya salah bicara !" Lala segera tersadar.
"Anda sudah menerima email dari kami !"
"Iya sudah, Terima kasih !"
__ADS_1
"Anda sudah bisa memulai besok dan tolong besok datang ke kantor jam 9. Tut !" Selesai mengatakan itu Fajar langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Lala.