Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
044


__ADS_3

Tatapan Evan dan Lala seolah terkunci. Lala masih mencerna ucapan Evan yang menurutnya sulit dimengerti.


Masih bertatapan dengan pikiran masing-masing saat pintu kamar terbuka dan Cleo muncul dengan senyum kakunya.


"Oh Cle, ayo masuk. Sama siapa datang kesini ?" Tanya Evan.


"Sendiri !" Jawab Cleo seraya masuk dengan membawa buah-buahan ditangannya.


Cleo menghampiri Evan dan mengecup pipinya sambil melirik kearah Lala yang terlihat jelas terkejut melihat pemandangan itu.


Evan pun tak kalah terkejut dan menatap keduanya bergantian dengan salah tingkah. Evan takut 2 perempuan ini akan saling jambak-menjambak.


"Cle !" Tegur Evan yang hanya kedikki bahu oleh Cleo.


"Apa kamu cemburu ?" Tanya Cleo menatap dalam pada Lala.


"Ti.. ti.. tidak. Kenapa aku harus cemburu !" Sanggah Lala membuat Cleo tersenyum penuh arti.


Cleo meletakkan buah ditangannya di nakas, mengambil buah apel dan memotongnya kemudian diberikan kepada Lala.


"Terima kasih !" Ucap Lala dan mulai menikmati apel itu.


"Ng, kalian silahkan ngobrol. Aku mau keluar dulu !" Pamit Evan pada keduanya. Cleo tersenyum mengangguk dan Lala pun hanya mengangguk.


Evan keluar kamar dan tak lama kemudian kembali melonggokkan kepala.


"Tolong jangan bertengkar ya !" Ucapnya was-was sebelum menutup pintu membuat Cleo dan Lala bengong.


Kini tinggal 2 wanita itu yang sama-sama salah tingkah. Lala mengunyah buah apelnya untuk meminimalisir rasa gugupnya.


"Maaf !"


"Untuk ?"


"Aku membohongimu demi mempertahankan mas Evan. Saat itu keadaanku terdesak jadi aku terpaksa bohong soal kehamilanku padamu !" Ucap Cleo tertunduk.


"Setelah sekian lama, aku baru sadar kalau perasaanku tidak sedalam perasaanmu jadi rumah tangga kami seperti itu saja mengalir seperti air !"


"Dan aku pun mungkin mencintai orang lain, jadi keinginan untuk mempertahankan rumah tangga ini juga bisa dibilang setengah hati. Semua demi orang tuaku, mereka sangat menyukai mas Evan dan nggak mau kehilangan menantunya yang baik jadi ya begitulah !"


"Semakin lama kami memang menyadari kalau rumah tangga ini sulit untuk dipertahankan apalagi di hati mas Evan ada orang lain jadi keputusan ini memang sudah tepat !"


"Mulai sekarang kamu bisa mencintai mas Evan terang-terangan tanpa rasa khawatir lagi. Jadi maaf dan kuharap kalian berdua bisa bahagia !" Cleo tersenyum tulus, perasaannya lebih plong setelah mengungkapkan semua.


Lala menatap dalam mata Cleo, tertegun mendengar ucapan Cleo barusan membuat Lala hanya tersenyum tidak tahu bereaksi seperti apa.


"Kamu tidak bersalah, tidak seharusnya minta maaf. Saya yang harusnya minta maaf karena sudah berani mencintai suamimu. Saya harusnya sujud di kakimu, aku sadar aku salah mencintai milikmu dan kamu bahkan berhak memukulku. Jadi maaf, maaf sekali. Maaf karena aku mencintai Evan dibelakangmu. Maaf kami memiliki hubungan dibelakangmu. Aku benar-benar minta maaf !" Air mata Lala mengalir di pipinya, rasa sesak di dadanya menyeruak keluar.


Cleo terdiam mendengar itu, dia berasumsi bahwa Lala tidak tahu tentang perselingkuhannya bersama Bryan.


"Aku sadar dia telah menikah tapi aku masih tetap bersedia menerimanya dan sekarang seperti ini aku anggap karma untukku. Sekali lagi saya mohon maaf !" Tambah Lala menyeka air matanya dengan tisu.


"Aku sudah memaafkanmu dan juga sudah merelakan yang sudah berlalu. Mari kita melangkah kedepan tanpa menoleh pada apa yang sudah berlalu !" Ujar Cleo.


"Terima kasih !" Lala tersenyum disela tangisnya.


Cleo berdiri dan memeluk Lala yang disambut dengan hangat oleh Lala. Keduanya berpelukan dengan hati yang lega dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


*****


Rizky yang baru saja keluar dari lift dan sedang berada di lantai dasar saat tak sengaja melihat 2 orang yang mencurigakan memakai seragam cleaning service dengan gerak-gerik mencurigakan. Mata keduanya menelisik setiap sudut kantor dan menoleh kesana-kemari dengan waspada. Saat mereka berjalan menuju lift dan tak sengaja berpapasan dengan Rizky, kedua pria itu hanya tersenyum sambil memegang sapu dan alat pel kemudian memasuki lift.


Setiap petugas kebersihan selalu menyapa seraya menunduk hormat padanya, bukan artinya Rizky gila hormat hanya saja ia terbiasa dengan hal itu, setidaknya begitu cara mengenali karyawannya dan saat berpapasan dengan 2 orang tadi, kecurigaannya semakin besar. Ia memerhatikan angka lift terus berubah naik dan naik hingga berhenti dilantai direktur membuat Rizky tersenyum sinis.


Rizky meraih HP-nya dan menghubungi seseorang.


"2 orang itu berada di ruangan direktur utama, lakukan pelan-pelan !" Ucap Rizky.


Kemudian ia keluar kantor, saat akan menuju mobilnya saat beberapa orang masuk membuatnya terkejut, 5 orang itu menunduk menyapanya membuat Rizky tersenyum. Setelah itu, Rizky keluar kantor setelah yakin menyerahkan 2 ular berbisa merayap memasuki kantor pada 5 pawang ular tadi.


Saat berada di rumah sakit, Rizky memasuki ruang rawat Lala saat melihat Cleo disana.


"Udah lama ?" Tanyanya seraya meletakkan beberapa paper bag di nakas.


"Iya !" Jawab Cleo tersenyum.


"Tadi dia cium pipinya bos !" Lapor Lala langsung kemudian senyum penuh kemenangan.


Mendengar itu sontak Rizky memelototi Cleo horor membuat Cleo melirik garang pada Lala kemudian hanya nyengir pada Rizky. Melihat itu Lala tertawa geli namun tak lama karena punggungnya langsung sakit membuat ia mengerang dengan mimik nyeri.


"Syukurin !" Semprot Cleo.


"Cih !" Lala berdecih balas menatap garang pada Cleo.


"Mana bos !"


"Toilet !" Jawab Cleo membuat Rizky menatapnya dengan alis terangkat.


Tak lama Evan keluar dari kamar mandi.


Keduanya keluar menuju balkon jalur VIP rumah sakit, tempat biasa keluarga pasien untuk merokok atau duduk santai seraya melihat pemandangan luar sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Keduanya berdiri sambil menatap arah lalu lintas yang cukup padat itu.


"Saya sudah mengetahui siapa biang kerok ini bos !"


"Siapa ?" Tanya Evan langsung.


"Edi Gunawan. Pria serakah itu. Dia datang untuk balas dendam. Mungkin !" Ucap Rizky.


Evan terdiam mendengar itu, cukup terkejut mendengar nama itu lagi. Tadinya dia pikir orang itu sudah berada ditempat lain untuk melakukan hasrat serakahnya.


"Dan sepertinya sekarang anak buahnya sedang berada di kantor untuk mengerjai kita lagi !" Ucap Rizky dengan entengnya.


Mendengar itu Evan membulatkan matanya dan melirik Rizky dengan tatapan garang plus tidak percaya dengan ekspresi wajah santai cowok itu.


"Tadi kau bilang apa ?" Horor sekali suara Evan bertanya.


"Anak buah Edi sudah berada di kantor menyamar sebagai petugas cleaning service !" Jawab Rizky enteng, belum menyadari perubahan ekspresi Evan yang berubah menjadi mengerikan.


"Lalu kau sedang apa disini ?" Evan meraih kerah kemeja Rizky, mengcengkramnya serta mengguncangnya hingga tubuh Rizky maju mundur.


"Eh, tenang. Tenang bos !"


"Apanya yang harus tenang. Perusahaanku, perusahaanku dalam bahaya dan kau malah kesini !" Evan menjatuhkan tubuh Rizky ke lantai membuat beberapa cewek yang ingin menuju balkon seketika menghentikan langkahnya berpikir keduanya akan berkelahi.


Evan menjelma menjadi John Cena yang menjatuhkan Rizky dan memitingnya dengan jurus maut membuat para gadis berteriak histeris mengira keduanya benar-benar sedang berkelahi.

__ADS_1


Tak lama dua orang satpam datang dan berusaha melerai keduanya walau sedikit kesulitan melepas belitan tangan Evan dari leher Rizky membuat kedua satpam itu mengeluarkan tenaga ekstra untuk melepaskan Evan hingga keduanya terlepas. Rizky terbatuk-batuk sebentar kemudian tertawa geli membuat Evan senewen dan kembali melakukan smack down pada Rizky.


"Kalian berdua berhenti !" Bentak salah satu satpam dengan tag nama Hasan.


"Kalian berdua sudah mengganggu kenyamanan rumah sakit !" Tambah satpam satunya bernama Adi.


Tak terima dibentak, Evan melepaskan Rizky dan berdiri berkacak pinggang dan memelototi kedua satpam itu.


"Berani sekali kalian berdua. Kalian tidak tau siapa aku ?" Bentak Evan menggelegar membuat semua yang berada disitu kaget.


Kedua satpam itu saling pandang, berusaha mengingat siapa pria songong didepannya ini.


"Aku ini pemegang saham nomor 1 dirumah sakit ini. Aku bisa saja meminta kalian berdua dipecat atau kutarik sahamku agar kalian bisa di PHK !" Meski berbohong tapi suara Evan amat keras seperti penuh emosi membuat kedua satpam itu ciut seketika.


"Silahkan menggangguku dan kuhancurkan keluargamu !" Tambah Evan menatap ngeri semua orang yang menonton mereka seketika bergidik dan segera pergi dari sana.


"Ka.. ka.. kami minta maaf tuan. Kamis tidak tau jika anda......!" Satpam Hasan mempercayai omongan Evan.


"Dan sekarang kalian sudah tau. SEKARANG KALIAN PERGI DARI SINI !" Bentak Evan dengan sekuat tenaga hingga wajahnya memerah dengan dada naik turun emosi.


Kedua satpam terperanjat kaget mendengar volume suara Evan yang maksimal. Mereka sudah memikirkan kemungkinan terburuk akibat membuat marah pemegang saham nomor 1, mereka sudah berpikir akan dilaporkan pada atasan mereka atau kemungkinan besar langsung dipecat.


"Kami mohon maaf pak, kami benar-benar minta maaf !" Wajah Hasan memelas.


"Benar, kami minta maaf !" Wajah Adi sudah ingin menangis.


"PERGIIIII !" Teriak Evan menggelegar membuat kedua satpam itu segera berlari takut berharap mereka tidak dipecat.


Evan menarik nafas, berusaha menetralkan amarah di hatinya. Ia tidak menyangka Rizky akan membiarkan 2 orang musuh masuk ke perusahaannya untuk membawa masalah.


Rizky yang terduduk dilantai dibelakang Evan rasanya melihat sepasang sayap muncul dipunggung pria itu dan saat Evan perlahan berbalik kearahnya, sepasang taring dan mata Evan yang Semerah darah menyambut pandangan Rizky.


"RIZKY !" Bentak Evan saat melihat asistennya itu melongo.


Rizky terkejut dan sadar dari lamunannya, melihat Evan masih seperti sedia kala tidak berubah jadi monster. Secepat kilat Rizky beranjak dan memeluk Evan dari depan dengan niat mengunci kedua tangannya agar tidak lagi mencekiknya namun dia lupa jika pose mereka itu kelihatan mesra.


"Maaf bos, tenang saja. Saya sudah menyiapkan surprise untuk mereka !" Ucap Rizky tepat didepan wajah Evan. Hidung mereka nyaris bersentuhan membuat Evan yang terkejut atas perlakuan Rizky.


Cleo yang tadinya keluar mencari keduanya pun ikut membatu melihat adegan bromance itu, wanita itu menganga dan seketika melupakan apa yang ingin disampaikannya pada Rizky. Bukan hanya Cleo, beberapa orang yang tidak sengaja lewat juga melongo melihat pose keduanya.


Evan berontak bersamaan Rizky juga mengeratkan pelukannya was-was agar Evan tak mencekiknya.


"Ih, ih, ih !" Seorang bocah yang sedang digandeng ayahnya ikut melihat pose itu seketika histeris membuat Rizky langsung melepaskan pelukan mereka.


*****


2 orang memakai pakaian cleaning service memasuki lantai direktur dengan penuh kewaspadaan. Celinguk kesana-kemari dengan berakting menyapu atau menyeka debu di meja atau lantai masih dengan mata menelisik sekitar. Menyadari lantai itu kosong dengan tergesa-gesa ia memasuki ruangan Evan.


Tak lama yang satu datang juga dan seolah-olah sedang mengepel lantai. Keduanya berpandangan dan mengangguk, yang sedang mengepel seketika menuju pintu dan berjaga disana sedangkan yang menyeka meja segera menuju meja Evan dan memeriksa sekitar mencari sesuatu.


Memeriksa dari satu tempat ke tempat yang lain. Rak, laci dan tumpukan dokumen diperiksanya dengan teliti. Hingga suatu laci di kiri paling bawah ia menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum kemenangan. Itu adalah dokumen penting menyangkut bahan baku serta banyak daftar transaksi dan kerjasama dari beberapa perusahaan besar luar maupun dalam negeri.


Setelah merasa telah mendapatkan banyak dokumen penting, keduanya kemudian memasukkan dalam kantong plastik sampah dan menentengnya keluar. Keduanya segera menuju lift dengan senyum penuh kemenangan, dikepala keduanya telah berputar-putar hadiah yang akan mereka terima.


Pintu lift terbuka dan seketika membuat senyum keduanya luntur seketika berganti dengan wajah pucat. 5 orang pria berbaju hitam menodongkan pistol kepada mereka.


"Angkat tangan !" Sentak salah satu pria berpistol itu, membuat kedua petugas kebersihan gadungan itu seketika meletakkan kantong sampah dan mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


Salah satu pria berpistol maju dan memeriksa serta menggeledah tubuh kedua pria itu, mendapat Hp dan saat tak menemukan apa-apa lagi ia mengeluarkan sesuatu dan dengan bersamaan membekap kedua pria itu dengan sapu tangan seketika membuat dua orang itu jatuh tertidur.


__ADS_2