Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
036


__ADS_3

Saat Evan berpikir keadaan memihak padanya karena ia telah menemukan keberadaan Lala maka saat itu ujian kembali datang, rencana mamanya yang tiba-tiba membuatnya sedikit shock.


Evan benar-benar pusing. Kehadiran Syifa membuat konsentrasinya buyar. Pikirannya tentang Lala berputar kencang saat sang mama mengatakan akan menjodohkannya dengan syifa.


"Apa ma ?" Evan terkejut.


Saat Evan pulang ke rumah, sang mama langsung menghadangnya dan mengungkapkan keinginannya.


"Ya nggak apa-apa kan Van. Toh kamu juga duda !"


"Tapi ma.......!"


"Tapi kenapa ?"


Evan tidak siap mengatakan kalau dia mencintai mantan sekertarisnya.


"Dia itu dokter lho Van, dari keluarga terpandang dia juga baik dan lembut. Kamu pasti bisa bahagia sama dia !"


"Tapi ma.....!"


"Jalani aja dulu van. Siapa tau cocok. Lagian Syifa itu cantik. Kurang apa lagi ?"


Evan terdiam, padahal waktu yang ditunggunya sudah datang yaitu menemukan keberadaan Lala dan ia sudah berencana akan menemui Lala dan mengikat gadis itu agar tak lagi pergi darinya.


"Oh ya Van. Tiwi sampai kapan ada di Amerika ?"


"Mungkin dalam waktu yang lama mah. Om Ryan minta Tiwi bantu untuk mengurus bisnis disana !" Jelas Evan membuat sang mama mangut-mangut.


"Ya udah ya Van. Jangan lupa ajak Syifa jalan-jalan. Usahakan kalian bisa mengenal lebih dalam. Mama gak akan memaksa kamu sama dia tapi coba dulu jalani saling mengenal !" Pesan sang mama.


"Pasti bangga punya menantu seperti Syifa !" Pandangan mata sang mama menerawang. Evan hanya menatap mamanya galau.


Setelah itu sang mama berlalu ke kamarnya meninggalkan Evan yang sejenak termenung memikirkan tawaran sang mama namun Evan tak yakin apa bisa menyambut hubungan baru disaat perasaannya yang kuat tertuju pada Lala.


Evan duduk di sofa, merebahkan kepalanya dan memijit pangkal hidungnya mencoba mengingat gadis bernama Syifa itu, memang cantik dan terlihat lembut tapi apakah mampu menggeser posisi Lala dihati Evan.


Evan menghela nafas semakin galau. Berpikir bagaimana baiknya menghadapi ini. Mencoba menerima atau tetap mengikuti hatinya yang masih terpatri pada satu orang.


*****


Rizky sedang fokus pada laptopnya dan duduk di meja Lala, semenjak dia juga mengambil alih pekerjaan Lala maka dia lebih sering duduk disitu ketimbang diruangannya sendiri. Lebih mudah jika tiba-tiba Evan membutuhkannya.


Sekarang ini, Rizky amat kesal saat ia sulit menghubungi Cleo dan sekarang tiba-tiba handphonenya tidak aktif membuat Rizky frustasi. Entah mengapa ia tiba-tiba terpikirkan Cleo membuatnya segera meneleponnya dan malah direject. Menerka-nerka apa yang sedang Cleo lakukan sekarang hingga tidak menerima panggilannya.


Rizky menghela nafas, mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, menatap foto perusahaan tempat Lala bernaung sekarang. Rizky teringat sesuatu, merogoh kantong celananya mengeluarkan sebuah hp senter dengan nomor baru. Dicobanya menghubungi perusahaan PT. EndoFood.


Dering pertama terdengar kemudian langsung tersambung.


"PT. EndoFood, selamat siang !" Suara lembut Lala menyambut bersamaan Evan yang mendekati meja Rizky. Tak perlu bertanya, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu.


Seketika ia membeku, dadanya bergemuruh sesak. Ingin sekali ia berteriak ditelepon itu jika dia sangat merindukan Lala. Rizky melirik sejenak, ia pun tak tahu harus mengatakan apa.


"Dengan siapa saya berbicara ?" Suara Lala kembali bertanya saat tak mendapat sahutan. Setelah menunggu lama, Lala menutup telepon berpikir orang iseng.


"Aku gak sabar ketemu dia Ky !" Dada Evan kembali bergemuruh.


"Iya bos, saya akan menghubungi pihak sana agar kita bisa berkunjung tanpa sepengetahuan Lala !" Jawab Rizky.


"Baiklah !" Setelah mengucapkan itu Evan kembali memasuki ruangannya, lupa dengan apa yang akan disampaikan kepada Rizky.


Setelah itu, Rizky membuka email yang ia yakini adalah tangan kanan sang direktur utama. Menatap lama layar kosong itu seraya merangkai kata-kata yang baik dan dengan hati-hati mengetik kalimat itu menjadi sebuah surat kerjasama agar rencananya bisa berjalan mulus.


*****


Cleo masih menangis menyembunyikan wajahnya pada kemudi mobilnya. Ia terisak dengan begitu menyayat hati. Bryan dan Rizky bagai pisau tajam yang menghunus perasaannya. Dia jadi gamang, mengapa setelah berpisah dengan Evan ia justru malah terjatuh pada posisi ini.

__ADS_1


Saat memikirkan Bryan, ya dia pernah mencintai laki-laki itu dengan segenap hati bahkan ia rela berpisah dengan Evan agar mereka bisa bersama meskipun pada akhirnya Bryan membohonginya.


Sedangkan Rizky, laki-laki itu berusaha keras mendekatinya bahkan sejak ia masih istri sah Evan. Sifat tengil Rizky dan kata-kata cintanya sedikit demi sedikit mampu menembus hati Cleo.


Dan sekarang, Saat Cleo mengikuti arus dalam perasaan Rizky, Bryan kembali hadir dengan ucapan cintanya yang membuat Cleo yang meskipun ia tahu Bryan pernah membohonginya namun tak dinyana ia masih merasakan sesuatu pada Bryan yang mampu membuatnya sulit menolak pria itu.


Cleo mencoba tenang dan mengaktifkan Hp-nya kembali. Tak lama benda itu berdering memunculkan nama Rizky. Cleo menarik nafas sebelum menjawab panggilan itu.


"Halo !"


"Kamu dimana Cle ?" Tanya Rizky langsung.


"Lagi di depan mall Y. Iya !" Jawab Cleo.


"Kamu udah makan ?"


Cleo terdiam, kehadiran Bryan tadi langsung membuatnya lupa niatnya yang ingin makan siang dan sekarang perutnya terasa keroncongan.


"Belum !"


"Ayo makan bareng, aku tunggu di restoran D !"


"Iya !"


Cleo menjalankan mobilnya menuju restoran yang dimaksud. Setelah sampai ia memasuki restoran itu dan langsung melihat Rizky yang melambaikan tangan padanya.


Saat Cleo telah berada didepannya, Rizky bisa melihat dengan jelas wajah sembab wanita itu.


"Kamu kenapa Cle ? Kamu nangis ?


"Nggak apa-apa tadi aku kelilipan aja !" Kilahnya.


"Ayo pesan makanan !" Cleo memanggil pelayan dan memesan makanan.


Cleo akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap dalam pria didepannya, merasakan perlakuan manis itu membuatnya kembali galau. Sebisa mungkin agar air matanya tidak kembali jatuh.


"Kalau kamu punya masalah, jangan dipendam sendiri. Berbagilah denganku supaya perasaanmu lebih lega !" Ucap Rizky.


"Iya, aku baik-baik aja kok. Kamu tenang aja !" Jawab Cleo lembut.


"Kalau ada sesuatu yang membuatmu gelisah, tanyalah padaku. Aku akan selalu ada untukmu apapun yang terjadi !" Rizky menatap manik mata Cleo.


Cleo hanya tersenyum manis seraya mengangguk menunjukkan pada Rizky bahwa dia baik-baik saja walau dalam hatinya gemuruh hebat melanda.


*****


Sore hari, sepulang kerja Lala berjalan gontai menuju kost-nya, ia terlihat cukup lelah. Pikirannya fokus pada persiapan perusahaan yang akan melakukan iklan untuk peluncuran produk baru benar-benar menyita waktu dan pikirannya.


Berjalan pelan saat pandangannya mengarah pada warung mang Ujang yang cukup ramai sore itu. Disana ada Fitri, Dara dan Tika bersama ibu-ibu lain yang sedang berbelanja.


"Hey. Lagi gosipin apa ?" Tanyanya saat Fitri dan Tika terlihat berbicara serius. Ketiganya menoleh bersamaan.


"Oh nggak kok, ini tentang pesanan kue dan roti aja !" Jawab Tika.


Mendengar itu Lala terpikirkan sesuatu.


"Kalau aku tiba-tiba pesan dalam jumlah banyak bisa gak ?"


"Ya jangan tiba-tiba juga. Kalau acaranya besok ya pesannya hari ini !" Jawab Fitri.


Lala terlihat berpikir sejenak kemudian "Oke, aku pikirkan dulu apa yang mau dipesan kemudian menelponmu!"


"Hari ini kamu kelihatan segar dan bersemangat !" Ucap Fitri melihat mimik letih Lala membuat yang lain tertawa kecil.


"Ya, bersemangat untuk segera rebahan !" Jawab Lala.

__ADS_1


"Oh ya, kamu kan sekantor sama Fajar, kenapa gak pulang bareng aja ?" Tanya Dara.


"Nggak deh, nanti bisa-bisa aku disidang para fans-nya. Dikira kami pacaran trus aku dibully ? Diculik, dikasih masuk dalam karung trus dilempar ke laut bagaimana ?" Ucap Lala lebay membuat ketiga gadis yang mendengarnya menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah terlibat obrolan kecil, Lala memutuskan membeli beberapa cemilan sebelum masuk ke kamarnya.


"Duluan guys !" Ucapnya berlalu.


Sesampainya dikamar, setelah melepas sepatunya Lala langsung menuju balkon kamarnya, ketiga gadis itu masih berada di warung mang Ujang dengan terlibat pembicaraan serius. Lala mengalihkan pandangannya pada langit sore, tak ingin kehilangan momen pemandangan bola dunia yang akan tenggelam. Hal yang selalu dilakukannya setiap sore, menikmati indahnya ciptaan yang maha kuasa.


Saat bola dunia itu telihat bulat sempurna dengan warna orange menyala, Lala tertegun saat bola dunia itu memperlihatkan wajah Evan yang sedang tersenyum kearahnya membuat Lala terperanjat hingga tanpa sadar air matanya menetes.


Perasaannya masih kuat untuk Evan, seberapa kuat dia berusaha melupakan maka semakin dalam juga rindunya pada pria itu membuatnya terkadang seperti orang gila.


Sedang melamun seraya menatap pemandangan saat sebuah suara membuatnya kaget dan membuyarkan wajah Evan.


"Hey, cewek-cewek cantik, kalian mengalahkan indahnya matahari terbenam !" Ucap Fajar lantang.


Ketiga gadis itu menoleh bersamaan dan memandang remeh pada Fajar.


"Ada apa pak playboy ?" Tanya Fitri.


"Jangan galak-galak dong cantik, nanti cantiknya luntur. Aduh sore-sore gini emang paling oke liatin cewek-cewek cakep !" Kata Fajar, ia sempat melirik Lala yang menatap aneh padanya.


"Udah tau kami cantik sayangnya yang godain malah jelek !" Ucap Tika lantang membuat dua lainnya tertawa.


"Ih, para ayang. Harusnya senang dong digodain Abang ganteng ini yang selalu bisa menyadari keberadaan para gadis cantik !"


"Abang ojek lebih cocok, kalau ganteng gak cocok !" Ucap Tika membuat Fajar cemberut.


"Jangan galak-galak lho, nanti aku yang ganteng ini direbut orang lain trus kalian nangis darah karena kehilangan aku yang super oke ini !" Rizky mendramatisir membuat ketiganya plus Lala menganga.


"Senangnya dalam hati kalau beristri 3, oh seperti dunia ana yang punya !" Fajar bernyanyi. Ketiga gadis itu melongo.


"Kepada istri tua, Kanda sayang padamu.


Oh kepada istri muda I say, "I love you" !" Fajar melirik gadis itu satu persatu yang masih menatapnya aneh.


Asik tebar pesona sambil bernyanyi dengan suara pas-pasan, hp Fajar berbunyi. Posisi Fajar yang duduk di pagar balkon membuat gerakannya terbatas hingga ia terjungkal membuat ketiga gadis itu langsung tertawa geli. Lala hanya bisa menahan tawa atau Fajar akan memelototinya.


"Halo tuan !" Sapanya tegas.


"Oh iya, semua sudah beres tuan. Mungkin masih ada yang harus dilengkapi maka......!" Fajar melirik Lala sekejap kemudian memasuki kamarnya dengan tampang serius melanjutkan obrolannya.


Pandangan Lala kembali pada bola dunia yang hampir tenggelam dan menatapnya hingga hilang ditelan bumi.


Tak lama Rizky kembali balkon dan langsung memandang Lala yang melamun.


"La, besok para model akan datang. Makanya tolong pesankan konsumsi snack yang akan disediakan untuk mereka !" Ucap Fajar membuat Lala kaget mendengar suara Fajar.


"Eh, iya. Bagaimana kalau pesan roti dan kue dari tempat kerja Fitri ?" Tanyanya.


"Eum. Boleh deh. pesan untuk sekitar 15 orang !" Pesannya.


"Oke !" Setelah mendengar itu, Fajar memasuki kamarnya kembali.


Lala kembali menatap titik dimana bola dunia itu tenggelam dan kembali teringat pada kekasih hati.


'Apa kabarmu sayang ?'


'Apa kamu merindukanku ?'


'Apa kamu masih mengingatku ?'


Pertanyaan itu berputar dikepala Lala. Menahan air matanya dan masuk ke kamarnya saat Maghrib datang.

__ADS_1


__ADS_2