Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
022


__ADS_3

Masih tinggal sementara dirumah orang tua Cleo, membuat suasana rumah tuan Kevin ramai. Di meja makan Cleo melayani Evan dengan baik didepan orang tuanya.


"Papa dan papamu akan bertemu nanti saat makan siang. Jadi kalau bisa papa mau kamu menyusul nanti, kita makan siang sama-sama ditempat biasa !" Tuan Robby membuka pembicaraan.


"Baik pa !" Jawab Evan sopan.


Mendengar itu, tiba-tiba sebuah ide terlintas dikepala Cleo, wanita itu tersenyum tipis.


Saat jam makan siang..


Saat ini Evan, Rizky dan Lala sedang berdiskusi mengenai lokasi pembangunan pabrik batu bara. Tempatnya sudah ditemukan, mudah dijangkau dan jauh dari jangkauan penduduk.


Foto-foto sebuah tanah lapang terpampang di meja.


"Apa aman dilewati alat berat. Kok kelihatannya tidak meyakinkan ?" Evan mengerutkan kening menatap gumpalan tanah itu.


"Saya juga ragu, maka itu kita harus meninjau sendiri setelah itu kita bisa mengambil keputusan untuk membangun ditempat itu atau tidak !" Rizky berucap dengan posisi duduk tidak tenang.


Sepanjang diskusi, Rizky lebih banyak diam sesekali meringis menahan sakit perutnya namun dia tetap berusaha fokus.


"La, minta si penanggung jawab untuk meeting besok !" Perintah Evan.


"Baik pak !"


"Ayo kita makan siang bersama di restoran biasa bersama papa dan mertuaku !" Ajak Evan pada Rizky dan Lala sebelum keduanya meninggalkan ruangan Evan.


"Maaf pak, saya harus menyelesaikan pekerjaan yang tersisa jadi saya makan siang dikantor aja !" Tolak Lala halus.


"Saya sakit perut bos, lagi gak pengen makan !" Rizky meringis sambil memegang perutnya.


"Kau kenapa ?" Tanya Evan pada Rizky.


"Tadi malam saya keasikan nonton bola pak jadi gak sadar makan semangka bulat 2 buah pak. Sendirian. Jadinya ya gini perut saya sakit. Aw, permisi pak !" Rizky ngacir segera keluar menuju toilet. Evan geleng-geleng kepala, Lala hanya bisa menahan tawa.


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu. Mau kubawakan sesuatu ?" Tawar Evan, suaranya berubah lembut saat menatap Lala, yang ditatap menggeleng.


"Ya udah, aku pergi dulu !" Evan memegang pipi Lala disertai anggukan kepala Lala, Evan berlalu.


"Hati-hati di jalan !" Lala berpesan, Evan hanya mengangguk tersenyum.


Lala kembali ke mejanya, menyelesaikan sisa pekerjaannya. Rizky keluar kamar mandi masih meringis. Berjalan sambil memegangi perut melewati Lala menuju ruangannya.


"BROTTTT !" Belum juga tangannya membuka pintu ruangannya, bokong Rizky mengeluarkan bunyi tanpa permisi membuat si pemilik bokong terkejut dan seketika menoleh kearah Lala yang juga kaget mendengar bunyi itu.


Perut Rizky kembali melilit membuat cowok itu meringis berbalik menuju toilet.


"BRUTTT... BROTTT... BRUTUTUTUTUTUTUT !" Suara itu keluar lagi dengan keras dan semakin berirama saat Rizky berlari menuju toilet.


Tinggallah Lala yang menganga kaget mendengar suara itu, tersadar saat aroma yang ditinggalkan Rizky seketika memenuhi ruangan ber-AC itu membuat Lala mual menutup hidung.


Tak lama Rizky keluar dari toilet, baru 5 langkah berjalan, ia berbalik masuk toilet lagi dengan tubuh membungkuk dan wajahnya meringis. Tampak sekali cowok itu menderita akibat perutnya.


Melihat itu Lala kasihan juga, akhirnya ia keluar menuju ruko dekat kantor, mencari obat diare untuk Rizky.


Tak lama Lala kembali dan segera menuju pantry, menyeduhnya dengan air hangat.


Rizky terlihat keluar toilet dengan wajah pucat, isi perutnya keluar semua hingga ia terlihat tidak bertenaga.


"Ini Ky, obat diare. Ayo minum !" Lala mengulurkan gelas pada Rizky yang berdiri didepan mejanya. Rizky menatap minuman warna kuning di gelas bening itu.


Rizky mendekat dan meraihnya, baru saja akan meminumnya saat perutnya melilit lagi. Segera Rizky kembali ke toilet.


"BROTTTTT !" Bokong Rizky kembali berbunyi tanpa permisi. Hanya sekali namun sangat keras membuat Lala geleng-geleng kepala. Apalagi aroma busuknya menguar kembali memenuhi ruangan ber-AC itu.


Tiba-tiba seseorang keluar dari lift dan berjalan dengan anggun kearah Lala, serta merta gadis itu berdiri menyambut tamu yang baru datang.


"Selamat datang nona Cleo !" Sambut Lala ramah pada istri atasannya. Hatinya langsung berdegup saat berhadapan langsung dengan Cleo.


Sedangkan Cleo diam-diam bernafas lega saat melihat Lala tidak ikut diacara makan siang suaminya. Dia sempat berpikir kedatangannya sia-sia karna Lala terbiasa ikut makan siang bersama Evan.


Saat berdiri didepan meja Lala, Cleo mengernyitkan dahi saat merasakan aroma aneh diruangan itu, seketika dia mengibaskan tangan didepan hidungnya dan menatap Lala dengan tatapan menuduh.


Lala yang menyadari itu seketika menggeleng, ia ingin mengatakan kalau itu perbuatan Rizky namun urung.


"Maaf, pak Evan sedang tidak berada ditempat !" Ucap Lala ramah berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.


"Oh ya !" Balas Cleo. Ditatapnya gadis didepannya dengan tatapan sulit diartikan.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu nona ?" Tanya Lala risih melihat tatapan aneh Cleo.


"Saya akan menunggu diruangannya. Tolong buatkan saya teh tidak pake gula !" Perintah Cleo seraya berlalu memasuki ruangan Evan.


Rizky yang keluar dari toilet sempat melihat Lala memasuki ruangan Evan sambil membawa baki. Mengintip melihat siapa yang berada diruangan direktur. Rizky segera menuju ruangannya seraya meraih gelas obatnya dan menahan mulas perutnya saat melihat Cleo duduk anggun disofa.


"Silahkan nona !" Ucap Lala sopan meletakkan teh dan kue coklat didepan Cleo.


"Terima kasih !" Ucap Cleo datar.


Cleo kembali menatap Lala dengan pandangan rumit membuat Lala salah tingkah.


"Ada lagi yang anda butuhkan nona ?"


"Tidak ada !" Cleo meraih tehnya dan menyesapnya sedikit.


"Kalau begitu saya permisi, jika nona butuh sesuatu katakan saja pada saya !" Kata Lala, Cleo tidak menjawab.


Lala bergegas keluar, lari dari atmosfer tidak mengenakkan ini.


"Aku hamil !"


Lala menghentikan langkahnya, tidak percaya dengan pendengarannya. Ia berbalik kearah Cleo dengan tatapan tidak percaya.


Cleo sempat menangkap saat Lala berbalik, sesuatu berayun dan mengintip didadanya. Sebuah cincin hitam yang mirip dengan cincin Evan. Seketika membuat hatinya terbakar.


Cleo menahan diri untuk tidak bangkit berdiri dan merampas paksa cincin itu, amarahnya tersulut memikirkan hubungan keduanya telah menuju serius.


"Sudah 8 Minggu !" Cleo tersenyum memandang dan mengelus perut ratanya dengan bahagia. Berusaha terlihat sangat bahagia didepan Lala.


"Akhirnya, aku dan Evan akan menjadi keluarga yang utuh dan kehadiran bayi ini bisa mempererat rumah tangga kami !"


"Aku kesini ingin menyampaikan itu kepada Evan, sayangnya dia gak disini. Tapi gak apa-apa, aku senang berbagi kebahagiaan denganmu !" Cleo menatap Lala yang mematung.


"Akhirnya kami memiliki malaikat kecil. Aku gak sabar tunggu dia lahir, memeluknya, menggendongnya. Bisa melihat dia tumbuh gigi, tengkurap, dan mulai berjalan. Aku benar-benar gak sabar !" Wajah Cleo berbinar.


"Trus dia akan sekolah. TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah. Aku harap bisa melihat semua itu bersama Evan. Kami akan selalu mendampingi anak kami kapanpun dimanapun !" Mimik bahagia Cleo tak luntur.


Kabar yang diberikan Cleo itu bagai petir yang menyambar hati Lala, memporak-porandakan serta menghanguskan seluruhnya.


Lala seolah tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri untuk tetap berdiri dan terlihat baik-baik saja.


Cleo sempat menangkap setetes air mata jatuh di pipi Lala dan dengan cepat gadis itu menghapusnya.


"Selamat nona. Saya bahagia mendengar anda hamil !" Suara Lala bergetar.


"Terima kasih. Aku benar-benar bahagia. Evan pasti juga sangat bahagia karena sebentar lagi akan hadir malaikat kecil kami !" Cleo menatap Lala dengan ekspresi bahagia dan ia menyadari gadis yang sejak tadi terpaku itu balas menatapnya dengan ekspresi terluka.


"Permisi !" Tak tahan lagi, Lala segera keluar menuju kamar mandi dan menumpahkan air matanya, ditutupnya mulutnya rapat agar suaranya tidak terdengar.


Sakit, sakit sekali saat menyadari kesempatan untuknya bersama Evan hancur sudah. Bagaimanapun dia tidak mungkin egois dengan merebut Evan dari keluarga sahnya apalagi akan hadirnya bayi itu.


Air mata Lala tak berhenti mengalir dan terus mengalir menumpahkan rasa sakitnya.


Saat Lala berlari keluar dari ruangan Evan, Cleo memalingkan wajahnya, air matanya luruh seketika. Amarahnya luntur seketika berganti rasa aneh. Melihat ekspresi Lala yang dipastikan hancur hatinya, ia pun bisa merasakan. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak ingin kehilangan Evan.


Sejujurnya Cleo berbohong, tidak ada bayi dalam perutnya hanya saja ide itu tiba-tiba muncul dikepalanya. Apapun dia akan lakukan demi mempertahankan Evan.


Biarlah Lala yang mengalah karna masih bukan siapa-siapa bagi Evan sedangkan dirinya adalah istri sah. Istri sah yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Cleo meraih tisu diatas meja dan menyeka air matanya yang juga deras. Segera beranjak dan memutuskan pulang.


Sedangkan Rizky, cowok itu melemas ditempat duduknya. Ia mendengar semua pembicaraan Cleo dan Lala lewat gawainya. Sesak terasa didadanya menerima kenyataan itu. Apakah ini tandanya untuk menyerah ?


Rizky kembali ke toilet akibat perutnya yang kembali melilit.


 


"Bisa-bisanya kau menembunyikan ini dariku !" Tuan Robby menggebrak meja seraya menatap tajam besan sekaligus sahabatnya itu.


Tuan Kevin akhirnya menceritakan kebenaran tentang sahabat mereka Arif dan tentang Bryan dan Jerry yang hampir salah sasaran.


"Ini demi kebaikanmu, kebaikan keluargamu !" Bela tuan Kevin.


"Dengan membohongiku !" Tuan Robby kembali menggebrak meja hingga membuat private room itu berisik.


"Dia temanku juga Vin, tega-teganya kau menyembunyikan ini dariku. Kau anggap aku ini apa ?" Tuan Robby marah.


"Benar, karna kita berteman, Arif sangat-sangat tau sifatmu seperti apa. Jadi dia tak berani membiarkanmu terlibat. Karna kau pasti segera menolongnya apapun resikonya dan masalah ini keamanan keluarga kita yang menjadi resiko. Itu mengapa Arif melarangku melibatkanmu. Dia tidak ingin sahabat terbaiknya hancur gara-gara dia !" Jelas tuan Kevin membuat tuan Robby terpaku.

__ADS_1


"Dia memutuskan komunikasi dengan kita, dengan keluarga istrinya hanya semata-mata agar mafia itu tidak bisa mengganggu kita dan mengancam Arif !"


"Ingat kita berurusan dengan mafia, organisasi berbahaya !"


"Syukurlah anak-anaknya tumbuh dengan baik hanya saja mereka dihasut salah satu anggota mafia itu dan hampir mencelakai kita. Untung saja belum terjadi apa-apa !" Tuan Kevin menghela nafas.


"Bagaimana keadaan Bryan dan Jerry ?" Tanya tuan Robby pelan, amarahnya sudah surut.


"Tubuh mereka belum ditemukan pa !" Ucap Evan.


"Apa mereka sudah meninggal ?" Suara tuan Robby bergetar. Mengingat terakhir kali melihat anak Arif. Bryan yang berusia sekitar 5 tahun dan Jerry yang masih bayi.


"Kita tidak bisa memprediksi itu sebelum tubuh mereka ditemukan pa !" Hibur Evan pada papanya.


"Andai aku tahu pasti aku akan sering-sering menjenguk mereka di rumah pamannya !" Tuan Robby melirik sinis tuan Kevin yang hanya cuek sambil meneguk air putih.


"Udah deh, jangan merajuk seperti anak perempuan !"


Tuan Robby langsung mencekik leher tuan Kevin membuat tuan Kevin terkejut dan memekik geli.


Ia pun membalas mencekik temannya, jadilah keduanya bergelut tiduran dan kini keduanya saling memiting.


"Pa, ya ampun pa. Udah dong !" Evan pusing melihat kelakuan keduanya yang tidak ingat umur.


Namun keduanya masih asik saling memiting dan saling cubit pipi.


"Aw, aw, aw !" Tuan Robby mengerang sambil memegangi pinggangnya membuat tuan Kevin terkejut dan melepaskan cengkramannya.


"Aduh encok !" Tuan Robby meringis. Tuan Kevin malah terpingkal-pingkal melihat ekspresi sahabatnya.


Tuan Robby melirik tajam pada sahabatnya yang melihat itu malah semakin menjadi tawanya.


"Ah, au, aduh !" Ganti kali ini tuan Kevin memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Tuh, rasain karma !" Cibir tuan Robby melihat sahabatnya mengelus dadanya sendiri.


Evan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya yang masih terlihat bocah.


 


Sesampainya di kantor, entah mengapa Evan merasa ada yang berbeda pada Lala. Gadis itu terlihat pucat dan murung. Tidak seperti tadi saat melepasnya pergi tadi yang diiringi dengan senyum manis dan tatapan penuh cinta.


Namun kini Lala menyambut Evan selayaknya bawahan menyambut atasan.


"Kamu kenapa ?" Tanya Evan didepan meja Lala.


"Nggak pak, saya cuma sedikit pusing !" Lala tersenyum kaku.


Saat Evan akan menyentuh pipinya, refleks Lala memalingkan wajahnya hingga tangan Evan yang sudah terulur tertahan diudara.


Melihat itu Evan sedikit tidak suka.


"Maaf, saya benar-benar tidak apa-apa !" Lala tersenyum tidak berani menatap Evan.


Tanpa berkata lagi, Evan segera memasuki ruangannya. Dia tak habis pikir dengan tingkah Lala yang aneh.


Saat pintu direktur tertutup, air mata Lala kembali jatuh, dadanya sesak membuatnya mencengkram erat pakaiannya. Dihapusnya air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Lala bergegas ke kamar mandi


Rizky menatap Lala dari pintu ruangannya, mengerti apa yang dirasakan gadis itu. Rizky yakin Lala pasti sulit menentukan keputusan apa yang akan dia ambil.


Rizky memasuki ruangan Evan, terlihat sang direktur yang sedang merenung dengan rahang terkatup rapat.


"Ini adalah dokumen rincian pembangunan pabrik batu bara dan juga anggota yang menjadi pelaksana pembangunan, kontraktor dan arsitek !" Jelas Rizky.


"Apa yang terjadi pada Lala ?" Mengabaikan ucapan Rizky, Evan malah balik bertanya.


Rizky terdiam cukup lama sambil menatap atasannya.


"Tidak terjadi apa-apa. Dia baik-baik saja !" Ucap Rizky.


Evan mengerutkan kening, dia juga merasakan hal aneh pada Rizky. Tidak biasanya ekspresi cowok itu setenang permukaan danau.


"Kalau begitu saya permisi pak !" Rizky melarikan diri dari tatapan menyelidik Evan.


Saat jam pulang tiba, Lala langsung berlari keluar takut Evan menahannya hingga menghentikan langkahnya. Saat Evan benar-benar keluar untuk bicara dengannya, meja itu sudah kosong. Evan semakin pusing dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.


"Kamu itu kenapa, La ?" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2