
Syifa menatap lekat cincin berlian dijarinya, ia masih tidak percaya cincin yang hanya sering ia kagumi dibalik etalase toko kini melingkar manis dijarinya oleh seorang pria yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Ia melirik jam dan memerhatikan penampilannya lewat cermin, setelah siap ia keluar kamar dengan dress tosca selutut lengan pendek. Malam ini untuk pertama kalinya ia akan berkencan dengan Bryan sang calon suami.
Syifa mengemudikan mobilnya menuju restoran tempat pertama kali bertemu sekaligus mencium Bryan, mengingat itu membuat wajahnya memerah dan senyum-senyum tidak jelas.
Syifa memasuki restoran dengan mengedarkan pandangan mencari Bryan dan ditemukannya cowok itu duduk disudut sambil menatap HP-nya. Langsung saja ia menghampiri Bryan.
"Maaf, udah lama ya !" Sapanya membuat Bryan mendongak.
"Tidak kok, aku juga baru sampai. Ayo duduk !" Ucap Bryan sambil meletakkan Hp-nya.
"Kita pesan dulu ya !" Tambahnya yang diangguki Syifa.
Setelah memesan keduanya terdiam canggung dan salah tingkah. Efek tidak saling kenal tapi nekat melamar ya gini jadinya.
"Kamu cantik !" Bryan berusaha mengenyahkan kecanggungan diantara mereka dengan menilai penampilan Syifa.
"Terima kasih, kamu juga cakep !" Syifa tersipu. Keduanya tertawa.
"Hm, aku tau hubungan kita mendadak seperti ini dan belum mengenal satu sama lain tapi aku gak berniat mainin kamu. Aku serius untuk untuk hubungan ini !" Ucap Bryan serius. Syifa hanya tersenyum mendengar itu.
"Dengan berjalannya waktu aku harap kita bisa saling mengenal dan saling terbuka supaya kedepannya masalah apapun yang ada kita bisa selesaikan dengan baik !"
"Iya Bry, aku setuju denganmu. Aku harap kita kedepannya baik-baik aja !" Ucap Syifa membuat Bryan tersenyum.
"Pesta pernikahan kemarin, Cleo itu mantanku dan jujur saja aku sempat masih berharap padanya hanya saja ia sudah tegas memilih orang lain jadi aku harus melupakan dan merelakan dia !"
Syifa terkejut dan menatap Bryan intens.
"Tolong jangan pikir aku jadiin kamu pelampiasan, nggak. Mungkin aku sudah suka kamu sejak kamu pertama kali cium aku !"
Syifa terhenyak, seketika salah tingkah.
"Bryan, jujur saja kedepannya aku gak mau dalam hubungan kita kamu masih dibayang-bayangi masa lalumu. Aku mungkin gak bisa terima itu. Jadi aku harap kamu sudah selesai dengan masa lalumu sebelum kita nikah !"
"Aku ngerti, makanya tolong bantu aku supaya aku hanya fokus padamu !" Tangan nakal Bryan mulai meraba lembut jemari Syifa, menarik dan menggenggamnya.
Syifa salah tingkah dan hanya menatap tangan Bryan yang menyentuhnya.
"Aku mau mulai sekarang kita bisa terbuka tentang apapun supaya kedepannya kita bisa lebih dekat dan saling mengerti !"
Syifa tersenyum dan menatap seraut wajah tampan didepannya yang disertai senyuman.
Kemesraan mereka terjeda saat pesanan mereka datang. Keduanya makan dengan tenang.
Setelah itu, Bryan mengajak Syifa pergi nonton di mall. Menggunakan mobil Bryan dan menyimpan mobil Syifa diparkir restoran. Keduanya menuju mall dan langsung menuju bioskop.
Setelah menonton, Bryan mengajak Syifa berkeliling mall. Mengunjungi game zone atau mengajak gadis itu melihat pernak-pernik lucu di toko aksesoris. Langkah awal hubungan mereka.
*****
Syifa yang bersantai dikamarnya sedang menatap layar HP-nya lekat, Benki mengirimi foto undangan pernikahannya membuatnya terharu.
Saat asik menatap foto itu, benda itu berdering dan memunculkan nama Bryan.
"Halo, kamu lagi apa ?" Tanya Bryan.
"Lagi main Hp aja, kamu sendiri lagi apa ?"
"Sedang mikirin kamu !"
"Gombal !"
"Hahaha. Oh ya, orang tua kamu ada dirumah ?"
"Iya ada,. kenapa ?"
"Kalau gitu, sekarang aku kerumahmu mau melamar langsung ke orang tuamu !"
"Hah, apa ?" Syifa panik.
"Oke, aku kesitu sekarang !" Bryan memutuskan sambungan telepon begitu saja.
"Eh, eh, eh !" Syifa semakin panik dan mondar-mandir tidak jelas.
Bryan menarik nafas saat telah berada didepan rumah Syifa. Berusaha menetralisir detak jantungnya yang tidak karuan saat Ia akan melamar gadis itu pada orang tuanya langsung. Menghela nafas panjang, Bryan turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah calon istrinya dengan gagah berani.
Ting Tong...
Seorang wanita paruh baya yang diyakini pembantu dirumah itu membuka pintu.
"Maaf, mau ketemu siapa ?" Tanyanya seraya menatap Bryan dari ujung kaki hingga ujung rambut.
__ADS_1
"Saya mau ketemu orang tuanya Syifa !" Ucap Bryan.
"Oh, silahkan masuk den !" Sang pembantu mempersilahkan Bryan masuk.
"Silahkan duduk, saya panggilkan tuan dan nyonya !"
"Terima kasih Bu !" Bryan duduk di sofa ruang tamu.
Tak lama sepasang suami istri mendekat kearahnya dan menatapnya dengan kening berkerut.
"Maaf, siapa ya ?" Mama Syifa bertanya lembut saat melihat pria tampan yang katanya ingin bertemu dengan mereka.
"Perkenalkan saya Bryan, saya pacarnya Syifa !" Ucap Bryan hati-hati membuat pasangan itu terkejut dan saling pandang karena setelah pertunangannya batal, Syifa diketahui tidak dekat dengan siapapun.
"Pacar ? sejak kapan ?" Tanya sang papa.
"Sudah hampir seminggu !" Jawab Bryan enteng membuat kedua orang tua itu terkejut.
"Siapa lagi tadi namamu ?" Tanya sang papa.
"Bryan Fahri Collins, saya direktur utama perusahaan X yang bergerak dibidang bahan bakar di negara P. Sekarang ini saya berniat untuk membuka cabang sekaligus menetap di negara ini !" Jelas Bryan.
"Oh, saya tahu perusahaan itu, perusahaan kamu begitu terkenal bahkan banyak petinggi disini mencoba untuk menjadi investor disana namun sulit sekali !" Ucap papa Syifa.
"Iya Anda benar, hanya saja sedang ada masalah internal yang membuat kami terhalang untuk menerima investor baru tapi perusahaanku baik-baik saja !"
"Saya juga keponakan dari direktur utama PT. Sansgroup, Prana Collins !" Tambah Bryan membuat papa Syifa terbelalak.
"Wow, PT. Sansgroup. Itu adalah perusahaan yang cukup bergengsi dan besar !"
Papa Syifa kagum seketika saat seorang petinggi seperti Bryan melamar anaknya.
"Bik, panggilkan Syifa !" Titah sang mama yang sejak tadi diam pada pembantu mereka yang datang membawa nampan berisi teh dan kue.
"Baik nya !" Pembantu itu menuju kamar Syifa.
Tak lama gadis itu menghampiri mereka dengan wajah tertunduk dan langsung duduk disamping Bryan.
"Benar, dia pacar kamu ?" Tanya sang mama to the point.
"I.. iya ma !" Lirih Syifa seraya menatap orang tuanya bergantian.
"Jadi maksud kedatangan saya kesini ingin melamar Syifa om Tante !"
Orang tua Syifa kembali terkejut.
"Iya, saya ingin segera menikahi Syifa, saya tidak mau menunggu lama. Kalau tidak keberatan, 3 bulan lagi ?"
"Fa, kamu yakin ?" Sang mama beralih pada sang anak yang sejak tadi hanya diam dan Syifa kembali mengangguk.
Orang tua Syifa kembali saling pandang kemudian berbisik-bisik seraya sesekali menatap Bryan.
"Begini nak Bryan. Niat baikmu kami terima tapi kalau kamu tidak keberatan setelah menikah kalian tinggal disini. Syifa anak kami satu-satunya dan rumah sebesar ini tidak ada gunanya jika Syifa meninggalkan kami. Jadi kami bisa merestui kalian asalkan kamu tidak keberatan tinggal disini !" Jelas sang papa.
Bryan terdiam dan ganti menatap Syifa yang juga menatapnya.
"Tapi saya !"
"Saya mengerti dengan statusmu kamu mampu memberi Syifa rumah yang lebih baik hanya saja rumah sebesar ini sayang kalau kalian tinggalkan karena jika kami meninggal nanti pasti rumah ini akan jatuh pada Syifa !"
"Papa, jangan ngomong begitu !" Syifa cemberut.
"Alangkah lebih baik jika kita tinggal bersama apalagi kalau kalian bisa memberi kami cucu-cucu yang lucu !" Tambah sang mama membuat sejoli itu malu salah tingkah.
Bryan terdiam, menimang tawaran sang calon mertua kemudian beralih menatap Syifa yang juga menunggu keputusannya.
"Baiklah, saya setuju. Terima kasih karena sudah mau menerima lamaran saya !" Bryan tersenyum.
*****
Sebulan kemudian...
Pernikahan Benki dan Aulia diselenggarakan di hotel milik Tiara. Ijab kabul sekaligus resepsi dilaksanakan disana.
Aulia nampak sangat cantik menggunakan kebaya pengantin warna putih. Ia menatap cermin tidak percaya melihat pantulan dirinya yang sangat berbeda.
"Ya ampun Aul, kamu cantik !" Sebuah suara membuat aulia menoleh seketika dan melihat Veni, Ana, Irma dan Isa memandang takjub pada pengantin ini.
"Kamu beruntung menikah dengan konglomerat !" Ucap Ana.
"Benar, semoga kita juga bisa nikah sama konglomerat !" Sambung Isa
"Amin !" Ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Kalau kamu udah nikah jangan lupain kita-kita lho !" Ucap Irma.
"Pasti, selamanya kita ini teman !" Kata Aulia kemudian memeluk keempatnya dan sesaat suasana dipenuhi rasa haru.
Kelimanya mengobrol seru flashback tentang hubungan Aulia dan Benki yang menyusulnya ke Bali hingga akhirnya menikah hari ini. Kelimanya kadang tertawa kadang terlihat serius.
Tak lama ibu Aulia memasuki kamar beserta keluarga dari kampung dan kompak memuji Aulia yang cantik jelita. Keempat teman Aulia pun pamit keluar.
Acara sebentar lagi akan dimulai, Ball room hotel yang dipenuhi keluarga dan sahabat yang akan menjadi saksi pernikahan keduanya. Benki pun sudah duduk manis didepan penghulu. Ia yang tadinya hendak menemui Aulia tapi malah dilarang keras oleh orangtuanya.
"Bagaimana ? Apa semua sudah siap ?"
"Siap pak !"
"Kalau begitu kita mulai !" Pak penghulu mulai menjabat tangan seraya memberikan arahan yang nantinya diikuti Benki.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nurul Aulia dengan mas kawin cincin berlian 24 karat dibayar tunai !" Benki berucap mantap.
"Bagaimana para saksi ?"
"SAHHHHH !" Satu kata itu menggema dengan begitu kuat.
"Alhamdulillah !" Semuanya bersyukur.
Aulia yang juga mendengar jelas ijab kabul itu berusaha menahan tangis harunya hingga ibunya datang untuk membawanya ke samping suaminya.
Benki begitu terpukau saat melihat Aulia mendekat, ia masih tidak percaya gadis yang sedang tersenyum manis itu kini menjadi istrinya. Saat Aulia berada disamping Benki, penghulu meminta mereka memasangkan cincin. Aulia menyematkan cincin kawin itu dijari benki kemudian mencium tangan itu dan gantian Benki menyematkan cincin itu dijari gadis itu kemudian mencium lembut keningnya. Keduanya bertatapan seraya tersenyum lembut.
Malamnya saat resepsi, Aulia memakai gaun bak putri kerajaan. Benki tak berkedip melihat keindahan didepan matanya.
"Aku masih nggak percaya, gadis cantik ini istriku !" Ucapnya seraya memeluk pinggang Aulia yang hanya tersenyum mendengar itu.
"Aku beruntung, laki-laki tampan ini adalah suamiku !" Jawab Aulia.
Keduanya tertawa hingga perlahan wajah Benki mendekat dan...
"Benki !" Suara sang mama merusak momen romantis itu.
"Mama !" Geram Benki sedangkan Aulia tertunduk malu.
"Sabar nanti kan bisa. Sekarang udah waktunya, ayo !"
Sang mama berjalan diikuti kedua mempelai itu. Aulia menggandeng lengan suaminya dengan senyum manis dan perasaan bahagia yang tidak terkira.
Kini keduanya telah berada di pelaminan. Para tamu mulai berdatangan dan mengucapkan selamat kepada mereka.
Evan dan Rizky datang bersama istri masing-masing. Keempatnya menghampiri pelaminan.
"Selamat pak bos, turut bahagia untukmu !" Lala pertama kali berucap.
"Selamat menempuh hidup baru Ki !" Ucap Evan.
"Selamat menikah, semoga cepat dapat momongan !" Ucap Rizky.
"Selamat ya, langgeng sampai tua !" Ucap Cleo.
"Terima kasih ya ?" Ucap Benki dan Aulia bersamaan seraya menjabat tangan keempatnya.
Keenam orang itu terlibat obrolan ringan nan seru sejenak, tak jarang mereka tertawa. Setelah keempatnya turun dan menuju meja prasmanan. Terlihat Tiara mendekat kearah pengantin.
"Selamat ya, bahagia selalu untuk kalian !" Tiara tersenyum.
"Terima kasih Ra, terima kasih banget !" Aulia memeluk temannya.
"Terima kasih Angel dan maaf untuk segalanya !"
"Aku juga Ben, maaf untuk segalanya !" Tiara tersenyum tulus kemudian turun dari pelaminan menyusul orang tuanya.
Tak lama Syifa menuju pelaminan.
"Selamat Ki, akhirnya sold out juga, hehehe !"
"Thank you Fa, kamu juga semoga cepat sold out !" Ucap Benki membuat keduanya tertawa.
"Selamat ya dan kenalin aku Syifa teman sekolahnya Benki !" Syifa mengulurkan tangan pada Aulia.
"Aulia dan terima kasih !" Keduanya berpelukan sambil cipika-cipiki.
Setelah itu Syifa mendekati pasangan Evan dan Rizky. Basa-basi sejenak dan mulai menikmati makanan yang tersedia.
Sebenarnya Syifa sudah mengajak Bryan untuk datang kesini namun cowok itu sudah punya rencana untuk kembali ke negara P bersama sang adik untuk merealisasikan rencana kepindahannya ke negara ini.
Dan sejak kemarin saat kakak beradik itu telah meninggalkan Indonesia, Bryan amat sulit dihubungi. Panggilannya kalau tidak diangkat ya tidak aktif membuat Syifa kesal.
__ADS_1
Tak jauh beda dan tak jauh darinya berdiri, Tiara yang sama kesalnya karena Jerry tidak bisa dihubungi. Bahkan pesan yang dikirim lewat media sosial juga tidak dibacanya membuat Tiara kesal sekaligus khawatir. Ia sadar sedikit banyaknya apa yang sudah terjadi pada keduanya meninggalkan kesan yang begitu dalam pada diri Tiara. Ia mulai menyadari sudah memiliki rasa pada pria itu.
Hingga sebuah drama heboh tejadi disana membuat nyaris semua mata menatap ke titik itu dengan mulut menganga.