Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
029


__ADS_3

Lala memasuki rumahnya, tatapannya mengitari setiap sudut ruangan. Rumah yang dulu terdiri dari kayu-kayu lapuk bahkan saat rusak bapaknya hanya bisa mencari terpal bekas untuk menutup lubang didinding.


Tapi sekarang berkat dirinya rumah itu kini bukan lagi kayu-kayu lapuk jelek dan penuh bekas gigitan rayap tapi kini berubah menjadi batu semen yang kokoh.


Ruang keluarga yang memilki tv 32 inci serta permadani impor dan dapur yang bagus. Rumah yang memiliki 6 kamar itu sangat membuat Lala bangga pada dirinya sendiri karena mampu mengangkat derajat keluarganya dan tidak ada lagi yang bisa memandang rendah mereka.


"Tante, ayo main dikamar yuk banyak mainan disana !" Kedua keponakan Lala memegang tangannya kanan kiri menyadarkannya dari lamunannya.


"Ada apa aja ?" Tanya Lala.


"Ada boneka Barbie !" Jawab Melati bocah 4 tahun itu.


"Ada yang lain ?"


"Ada boneka beruang sama boneka jerapah !" Jawab Mawar si adik yang berusia 3 tahun itu.


"Ya udah ayo !" Ketiganya tertawa girang menuju kamar bocah-bocah itu.


Ketiganya main dengan begitu semangat, Lala selalu meladeni apapun permintaan 2 gadis kecil itu hingga ketiganya tertidur pulas bersama.


Saat makan malam Lala kembali bermain dengan 2 keponakannya di meja makan karena sang kakak tidak mengijinkannya membantu menyiapkan makan malam.


Adik bungsunya yang baru saja pulang langsung memeluk kakak keduanya.


"Kapan datang ?" Tanyanya


"Tadi siang !"


"Ya sudah, duduk ayo makan ?" Andika meletakkan sayur sup di meja makan disusul istrinya membawa ikan goreng dan ayam bakar.


"Apa pekerjaanmu sibuk sekali ? Kamu kelihatan kurusan gitu !" Andika membuka pembicaraan.


"Iya kak, aku kan sekertaris apalagi perusahaan tempatku bekerja ini benar-benar besar dan selalu banyak rekan-rekan kerja bosku entah tanda tangan kontrak, meeting dan undangan lainnya jadi aku sebagai sekertaris harus selalu sigap kapanpun dimanapun !" Jelas Lala.


"Tapi jangan melewatkan makan pagi, siang dan malam !"


"Pasti !" Lala kembali menyantap makanannya seperti orang kesetanan dengan mata melotot membuat kedua keponakannya tertawa geli.


"Eum, kak. Aku........!" Ade tampak gelisah dengan apa yang akan ditanyakan, diliriknya Andika, kakak iparnya kemudian Lala dengan mimik gugup.


"Apa ?" Lala penasaran dengan apa yang akan ditanyakan adiknya.


"Kak, nanti aku mau daftar kuliah kedokteran. Boleh ?" Ade menatap Lala setelah melirik Andika. Lala balas menatap intens adik dan kakaknya.


"Boleh !" Semua yang mendengar itu tak bisa menggambarkan perasaan seperti apa.


"Tapi mahal !"


"Tidak masalah, mulai sekarang belajar aja yang rajin !" Ucap Lala tenang meski jantungnya berdegup kencang. Tak ingin keluarganya tahu bahwa dia sekarang pengangguran.


Mendengar itu Ade tersenyum senang. Lala pun ikut tersenyum.


"Kamu gak perlu khawatir, aku akan ikut membantu biaya pendidikan Ade !" Andika menatap Lala yang dibalas anggukan kepala oleh Lala.


Lala sangat bahagia kerinduannya akan kehangatan keluarganya telah terobati. Melupakan sejenak permasalahan hatinya tentang Evan.


Setelah makan malam, semuanya kembali berkumpul di balkon lantai menceritakan apa saja yang membuat mereka tertawa ditemani cemilan coklat dan wafer serta langit berbintang yang menambah hangat suasana.


Malam itu Lala kembali tidur bersama 2 keponakannya. Seperti biasa saat akan tidur, wajah Evan akan muncul diingatannya. Memejamkan mata hingga terlelap, Lala berharap segera melupakan Evan.


Keesokan harinya Lala mengikuti kakaknya menuju sawah, kegiatan yang selalu kakaknya lakukan sebelum membuka tokonya.


Lala duduk memerhatikan sang kakak yang mencabuti rumput liar yang tumbuh di sawah kecil mereka. Teringat saat Lala menemani ibunya menuju sawah sambil menggendong adiknya sedangkan ibunya membawa makanan, kemudian ayahnya dan kakaknya yang sedang menggarap sawah bersama menghampiri mereka dan makan bersama.


"Kakak gak mau nambah sawah ? Aku mampu beli sawah lebih besar dan kakak bisa menyewa orang untuk menggarapnya !" Lala memberi ide.


Andika berdiri tegak menatap Lala lama.

__ADS_1


"Gak usah, uang yang selalu kamu kirim juga masih banyak sekali, kakak mampu beli sawah yang lebih besar tapi sawah ini udah lebih dari cukup. Simpan aja uangmu untuk kebutuhanmu yang lebih penting !" Ucap kakaknya membuat Lala terdiam memerhatikan kakaknya.


Setelah cukup lama keduanya berada di sawah, keduanya memutuskan untuk pulang. Saat melihat Ade adiknya sedang menstarter motornya dengan beberapa gas yang disimpan gerobak kecil yang diikat pada motor bebek mereka.


"Mau kemana ?" Tanya Lala berlari menghampiri.


"Ini mau antar gas ke rumah Bu Ratna !" Ucap si bungsu tampan.


"Ikut ya, mau tau rasanya antar barang !" Lala langsung duduk dibelakang adiknya dan langsung menuju alamat dituju.


"Assalamualaikum !" Ucap Ade saat telah sampai ditujuan.


Seorang laki-laki seumuran Andika yang menyambut mereka. Lala ingat namanya Bani, dulu sangat suka menganggu dan mengejek kakaknya.


Laki-laki bernama Bani itu menatap Lala intens, tersenyum manis pada Lala yang dibalas senyum juga oleh Lala.


"Jadi semuanya 115 ribu !" Ucap Ade mengalihkan tatapan Bani pada kakaknya.


Setelah uang sudah diterima, Ade langsung menarik Lala untuk pulang tak ingin Bani terus menatapi kakaknya. Kepergian mereka tak luput dari tatapan Bani, dadanya berdesir saat menatap Lala, senyum tersungging di bibirnya.


*****


Rizky sedang fokus pada laptopnya, mencoba mencari titik terang tentang keberadaan Dharmawangsa bersaudara. Mula-mula Rizky menyelidiki bisnis Bryan di negara P namun ia tidak menemukan apapun. Ia sulit menerobos keamanan situs mereka.


Saat sedang fokus dengan pikirannya, pintu ruangannya terbuka dan memunculkan Evan dengan penampilan wow, rambut acak-acakan, baju kaos putih dengan celana rumahan selutut warna tosca serta sandal jepit merah membuat Rizky melongo melihat atasannya.


"Cari Lala sampai ketemu. Apapun yang terjadi temukan dia. Sewa semua detektif terbaik untuk temukan dia !" Evan to the point.


Rizky bangkit dan mendudukan Evan di sofa, meraih air mineral botol dan memberikannya pada Evan.


"Cleo gak hamil, Ky. Dia bohong ke Lala supaya Lala ninggalin aku !"


"Cleo udah tau hubunganku dengan Lala dan dia gak terima jadi dia bohong ke Lala soal kehamilannya !"


"Dan aku memutuskan untuk berpisah sama Cleo. Aku sudah pikirin ini baik-baik dan aku sadar hubungan kami sudah gak bisa diperbaiki. Aku sudah bilang sama dia aku gak bisa perbaiki hubungan kami karena aku cinta sama Lala !"


Rizky terkejut mendengar kalimat itu, tak lama senyum kecil muncul diujung bibirnya.


"Jadi temukan dimana Lala berada, kerahkan semuanya yang penting dia ketemu !"


"Baik bos !" Rizky menjawab semangat.


*****


Evan berubah, semakin lama ia semakin tidak bersemangat. Kepergian Lala menjadi momok kejatuhannya. Hatinya tidak siap ditinggalkan orang yang dicintainya sehingga membuatnya serasa ditusuk dengan tombak besar.


***** makannya hilang, fokusnya pada pekerjaan lenyap. Di kantor yang dilakukannya hanya melamun dan melamun membuat Rizky menghela nafas kasar melihat Evan yang duduk di kursi kebesarannya menjadi patung dengan pandangan kosong.


Di rumah, Cleo yang selama ini berusaha menggapai hati Evan, berusaha mengubah pikiran suaminya yang ingin berpisah agar tetap mempertahankan rumah tangga mereka dengan berusaha menjadi istri yang baik.


Namun terlambat, hati Evan telah berlabuh dan menetap pada hati Lala dan menjaga hatinya yang terpatri hanya untuk gadis itu seorang tapi sekarang gadis itu telah pergi meninggalkan hati yang mencintainya dengan begitu besar sehingga menimbulkan rasa sakit tak terkira.


Cleo pikir dengan kepergian Lala adalah kesempatan bagus untuknya bisa merajut kasih bersama suaminya tanpa pengganggu.


Tapi sekarang yang terjadi adalah Evan yang seperti mayat hidup. Sepanjang waktu hanya melamun terkadang terisak dengan menutup wajahnya dengan tangan atau bantal terdengar begitu memilukan, bahkan Cleo pun kadang ikut meneteskan air mata saat mendengar isakan Evan.


'Begitu besarkah rasa cinta Evan pada Lala ?' Pikir Cleo.


Sangat Sulit berkomunikasi dengan Evan yang bisa dikatakan kehilangan separuh jiwanya.


Keadaan Evan semakin lama semakin drop. Ia banyak pikiran dan susah makan, pikirannya hanya terus tertuju pada Lala. Akhirnya ia jatuh sakit, berbaring dengan tubuh lemah.


Akhirnya Cleo membawa Evan ke rumah sakit membiarkannya diopname. Ia menelepon keluarganya dan keluarga mertuanya mengabarkan tentang keadaan Evan.


Tak lama, orang tua Evan beserta kedua adiknya datang lebih dulu.


"Van, ini mama nak. Kamu kenapa ?" Dibelainya lembut dahi Evan yang setengah membuka mata.

__ADS_1


"Evan kenapa Cle ?" Mama Evan beralih pada menantunya.


"Evan akhir-akhir ini terlalu banyak kerjaan ma, jadinya dia kecapean dan stress juga !" Ucap Cleo menutupi kebenaran.


Mamanya kembali menatap sendu pada anaknya yang terbaring lemah. Kedua adik Evan, Nabila dan Nikita berdiri dikedua sisi mamanya menenangkannya.


Sedangkan, papa Evan tak berkata-kata melihat kondisi anaknya sekarang ini meski ia yakin Evan seperti ini bukan karena pekerjaan.


"Evan kenapa ?" Tuan Kevin datang bersama istrinya.


"Kecapean pa ?"


"Kecapean apa ?" Tuan Kevin menatap tajam Cleo membuat Cleo bingung mau menjawab apa.


"Vin, sudah !" Tuan Robby memberikan kode untuk duduk di sofa.


Tak lama Rizky datang dengan membawa banyak makanan dan minuman. Tadi saat mengabarkan keadaan Evan, Cleo meminta Rizky membelikan pesanannya. Diletakkannya semua camilan di meja sehingga dapat dinikmati orang-orang yang berada disana.


"Bos !" Sapa Rizky pada Evan.


"Bagaimana ?" Tanya Evan lemah.


"Belum !" Jawaban Rizky membuat Evan melemas.


Semua yang mendengar interaksi keduanya bingung saling lirik.


Para besan mulai ngobrol, Cleo dan Duo N bergabung dengan para mama, sesekali Cleo melirik kearah ranjang melihat Evan dan Rizky berbisik-bisik.


Saat jam makan siang


Atas permintaan Rizky para pria bertahan di kamar Evan, meminta kepada para wanita untuk membawakan makanan saja.


"Tuan-tuan, sepertinya Bryan dan Jerry masih hidup !" Ucap Rizky membuat tuan Robby dan tuan Kevin terkejut.


"Bagaimana bisa ?" Pekik tuan Kevin.


"Saya juga tidak tahu, tapi menurut Michael sepupu mereka. Kalau Jerry sering berkomunikasi dengannya. Itu artinya Bryan dan Jerry menemukan cara menyelamatkan diri malam itu !" Jelas Rizky.


"Siapa Michael ?" Tanya tuan Kevin.


"Direktur Utama Sansgroup !" Ucap Rizky membuat tuan Kevin mangut-mangut.


"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja !" Ucap tuan Robby.


"Saya masih menyelidiki dimana keberaadaan mereka dan kemungkinan keberadaan mereka di Indonesia !" Tambah Rizky.


"Baik Ky, lakukan yang terbaik untuk temukan mereka !" Pinta tuan Robby.


"Baik tuan !"


Tak lama para wanita kembali tanpa duo N. Para istri menyiapkan makanan yang dibawa untuk suami masing-masing.


Terutama Cleo, setelah meletakkan makanan untuk Evan di nakas ia kemudian berniat mengulurkan nasi kotak kepada Rizky.


Baru saja Cleo melangkah untuk memberikan pada Rizky saat kakinya tersandung kaki ranjang membuat tubuhnya oleng hilang keseimbangan. Seketika kotak nasi ditangan Cleo terlempar kedepan namun Rizky dengan sigap menangkapnya.


Tak lama tubuh Cleo ikut terlempar padanya, dengan cepat Rizky meletakkan kotak nasi ditangannya di meja dan mengulurkan kedua tangannya menyambut tubuh Cleo.


Didepan semua mata Cleo yang memekik kaget dengan mulus jatuh dipelukan Rizky dan duduk dipangkuannya dengan kencang saking kencangnya bibir Cleo mendarat mulus di pipi Rizky, membuat semua yang menyaksikan itu menganga.


Seperti adegan di tivi-tivi, sejenak keduanya berpandangan lama. Rizky yang menatap lembut pada Cleo yang dibalas tatapan aneh wanita itu.


"Ehemmm !" Suara berat tuan Kevin terdengar membuat Rizky dan Cleo tersadar dan secepat kilat Cleo bangkit dari pangkuan Rizky.


"Maaf !" Wajah Cleo merah padam apalagi saat melirik raut wajah papanya yang tidak suka.


Rizky masa bodo dengan suasana itu dan meraih kotak nasinya dan langsung melahapnya dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan senyum tersungging di bibirnya

__ADS_1


Ekspresi Rizky itu tak luput dari pandangan Evan, kemudian melirik Cleo yang terus menunduk malu atas kejadian tadi. Evan yang tadinya menatap datar adegan romantis itu jadi berpikir apa mungkin ada sesuatu antara Rizky dan Cleo.


__ADS_2