Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
028


__ADS_3

Hari Senin dengan cepat datang, membuat semua orang bersemangat untuk melakukan aktivitas dari anak sekolah hingga para pekerja.


Kali ini Evan menatap meja kosong Lala dengan pandangan gusar, gadis itu libur terlalu lama membuat pekerjaannya membebani orang lain.


Baru saja Evan berniat menelepon Rizky saat cowok itu lebih dulu memperlihatkan batang hidungnya.


"Permisi bos, saya mau.......!" Belum selesai Rizky bicara Evan sudah memotongnya.


"Ky, pergi ke rumah Lala. Temui dia dan suruh dia segera masuk ke kantor atau kupecat. Nanti aku akan berikan alamatnya !" Titah Evan.


"Baik bos !" Rizky sempat melongo melihat wajah kesal Evan.


"Oh ya, ada apa kamu kemari ?"


"Itu bos, dokumen penggalian tengah kota saya akan mengembalikannya beserta memberikan jawaban anda pada mereka !" Ucap Rizky menunjuk map di meja Evan.


Evan meraihnya, matanya menangkap sebuah amplop putih begitu berkas itu terangkat. Diserahkan berkas itu pada Rizky.


"Kalau begitu, setelah ini kamu langsung ke rumah Lala. Aku akan mengirim alamatnya. Apapun yang terjadi besok dia sudah harus masuk kantor !" Tegas Evan.


"Baik bos. Kalau begitu saya pergi dulu !" Rizky berjalan keluar.


Evan meraih amplop di mejanya dan duduk di kursi kebesarannya. Membolak-balik amplop polos tanpa nama pengirim itu. Evan langsung membuka dan membacanya. Seketika ia langsung berdiri, matanya melotot tidak percaya membaca itu.


"RIZKYYYYYYYYYYYYY !" Teriakan menggelegar Evan membuat Rizky yang hampir memasuki lift seketika kaget dan secepat kilat berlari menuju ruangan sang bos.


"Ada apa bos !" Rizky bertanya panik, nafasnya ngos-ngosan.


Evan menyerahkan surat ditangannya dengan wajah emosi juga panik. Rizky membacanya dan sontak terkejut.


Surat pengunduran diri Lala, jawaban atas mengapa selama ini dia tak menampakkan batang hidungnya.


"Ayo kita kerumahnya !" Evan langsung berlari keluar diikuti Rizky.


"Ky, kunci !" Evan meminta kunci mobil Rizky, setelah itu mengemudikan mobil Rizky dengan kecepatan tinggi.


Rizky menggenggam kuat pegangan pintu, akan lebih baik jika dia yang menyetir namun ia tidak bisa membantah Evan yang suasana hatinya sedang kacau jadi sekarang dia hanya bisa berdoa semoga mobilnya baik-baik saja.


Mobil itu berhenti dengan suara decitan kencang serta kepulan debu tidak jauh dari kost Lala membuat kumpulan ibu-ibu yang sedang mengerumuni tukang sayur sambil bergosip menoleh berjamaah.


Mengabaikan mereka, Evan langsung lari menuju rumah itu dan saat Sampai disana ia gusar saat tidak tau letak kamar Lala.


"Assalamualaikum !" Teriak Evan.


"Waalaikumsalam !" Evan dan Rizky berbalik mendengar sahutan dari belakang mereka.


Bu Siti berdiri sambil memegang plastik berisi sayuran.


"Maaf Bu, saya ingin bertemu Lala !" Ucap Evan to the point.


"Lalanya sudah pindah nak !"


DEG. Evan menatap tidak percaya pada ibu itu.


"Tolong tunjukkan dimana kamarnya !" Pinta Evan sambil memegang kedua bahu ibu Siti dan menatapnya tajam.


"Itu disana paling pojok !" Tunjuknya takut-takut melihat wajah garang Evan.


Evan dan Rizky langsung berlari menuju ujung bangunan. Sebuah kunci masih tergantung dipintu memudahkan Evan membukanya.


Saat pintu terbuka, Evan disambut ruangan kosong. Tidak ada tanda-tanda orang tinggal didalam. Evan masuk dan berkeliling sekitar.


"Maaf kalian berdua siapa ya ?" Bu Siti menyusul keduanya.


"Kami rekan kerjanya di perusahaan dan itu adalah atasan kami !" Ucap Rizky menunjuk Evan.


"Kapan Lala pindah Bu ?" Tanya Evan dengan nada bergetar, membelakangi Rizky dan Bu Siti.


"Hari Rabu, Minggu lalu !" Jawaban itu membuat Evan memejamkan mata. Nyeri terasa saat gadis yang ia cintai pergi meninggalkannya.


Melihat Evan yang terpuruk, Rizky menutup pintu membiarkan sang bos menumpahkan perasannya.


"Maaf, bos saya mau numpang ke toilet !" Ucap Rizky saat melihat wajah penuh tanya Bu Siti.


"Apa ibu tau Lala pindah kemana ?"


"Dia gak bilang, hanya bilang dia akan ketempat yang jauh !"


Rizky mangut-mangut


Pandangan Evan mengedar menelusuri kamar itu, Lala seperti tidak meninggalkan jejak apapun namun netra Evan menangkap sesuatu di tembok samping pintu balkon.


Ia mendekat dan melihat dengan jelas.


'Aku mencintaimu Evan Setyawan'


Kalimat yang ditulis dengan pensil itu sukses membuat mata Evan memanas, air matanya tak bisa lagi ia tahan. Hatinya terasa tersayat.


Andai saja ia segera menemui Lala.


Andai saja ia menelepon Lala.


Andai saja ia mau mengalah.

__ADS_1


Andai saja ia memberi perintah pada Rizky lebih cepat.


Andai saja begini, andai saja begitu. Banyak kata andai yang memenuhi kepalanya, yang jelas ia menyesal, menyesal karena begitu pengecut.


Evan menutup matanya membiarkan air matanya jatuh deras berharap mengeluarkan semua rasa sesalnya hingga ia cukup tenang dan kembali menatap seraya meraba tulisan itu.


"Aku juga La, aku sangat mencintai kamu !" Lirih Evan meraba tulisan itu.


Evan keluar kamar dengan wajah sembab, membuat Rizky cukup terkejut. Bu Siti sejak tadi sudah turun kebawah.


"Ayo kembali !" Evan berjalan seperti zombie, ia seperti kehilangan separuh jiwanya.


Rizky berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Bu Siti kemudian menyusul Evan memasuki mobil.


Sesampai di kantor, suasana hati Evan yang sudah buruk kini semakin buruk.


"Panggil manajer personalia sekarang !" Ucap Evan dingin yang langsung dipatuhi Rizky.


Sindi muncul dengan senyumnya.


"Selamat pagi pak. Ada yang bisa saya bantu !" Ucap sopan Sindi.


"Apa Lala sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya padamu ?" Rizky yang bertanya.


"Benar, dan juga sudah diproses !"


Mendengar itu Evan meradang.


"APAAAAAAAAA ?" Teriak Evan menggelegar.


Sindi tersentak kaget membuat ia terdiam gemetar sambil melirik Rizky, teriakan Evan membuat jantungnya lompat-lompat.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu ?" Bentak Evan dengan mimik garang.


"Lala bilang, dia akan mengatakan sendiri pada anda pak dan juga tidak akan pernah datang ke kantor lagi !" Wanita berusia 30 tahun itu gemetar wajahnya pucat.


"Kembalilah ke ruanganmu !" Perintah Rizky karena ia sudah mencium bubuk mesiu dari tubuh Evan.


Sindi segera keluar takut pada amarah Evan.


Benar saja, tak lama kemudian Evan meledak. Melempar apapun yang ada didepannya, semua berkas dan dokumen berserakan dimana-mana dan gawainya ia banting dengan begitu keras ke lantai membuat pecahan itu bertebaran dimana-mana.


Rizky hanya bisa menyelamatkan komputer Evan dimana banyak file-file penting tersimpan. Untunglah Rizky cepat menyelamatkan karena Evan menjatuhkan mejanya yang besar nan lebar itu dengan penuh amarah.


Evan terduduk di lantai kembali menangisi dirinya yang bodoh hingga membuat Lala akhirnya pergi.


Tiba-tiba pandangannya menatap Rizky tajam. Evan berdiri dan mendekat pada Rizky dengan mimik sangar membuat Rizky menelan salivanya.


"Katakan, apa yang sudah buat Lala tiba-tiba berubah. Aku yakin kamu tau Ky. SEKARANG BILANG !" Teriak Evan membuat Rizky terjengkit kaget namun ia hanya menatap Evan.


"Saat itu nona Cleo datang dan dia bilang ke Lala kalau dia sedang hamil anak anda pak !" Ucap Rizky hati-hati.


Tubuh Evan melemas dan wajahnya pias seketika.


*****


Beberapa hari menempati kamar barunya, si pengangguran baru Lala hanya bisa rebahan dan terus rebahan. Makanannya selama ini selalu melalui ojek online. Belum ada kesempatan untuk jalan-jalan dan mencari pekerjaan.


Hari ini, Lala memutuskan untuk menemui keluarganya. Memasukkan beberapa pakaian ganti kedalam tas ranselnya dan bersiap diri.


Lala membuka pintu balkon membawa masuk sisa jemurannya saat netranya menangkap boxer macan aka Fajar sedang menatap datar padanya. Lala pun balas menatap Fajar intens, Lala merasa dia pernah bertemu pria ini tapi dimana ia lupa. Apa saat mendampingi Evan ?


"Cieeeeeeeee.... Tatapan !" Suara gemuruh bocah-bocah SD membuat pikiran Lala buyar dan menoleh ke kumpulan bocah-bocah yang langsung berlari.


Lala melirik kearah Fajar namun nampaknya godaan bocah-bocah SD itu tidak berpengaruh apapun pada pria berkaus hijau itu.


Lala tersenyum kemudian segera memasuki kamarnya dan mengunci pintu balkon. Memastikan semua aman dan perlengkapannya sudah cukup, Lala keluar mengunci kamarnya dan menuruni tangga.


Saat mengetuk rumah Fitri, tak ada yang membukakan pintu. Lala berpikir Fitri sedang kuliah atau bekerja, maka dari itu Lala berpikir apa yang sebaiknya dilakukan.


Mengirim chat, tidak mungkin. Lala sudah menghancurkan nomornya. Maka dari itu Lala memeriksa tasnya dan menemukan kertas kusam struk pembayaran indoapril dan juga pensil alis.


Ditulisnya pesan pada kertas itu dan memasukkannya dibawah pintu. Setelah itu Lala keluar mencari ojek dan mengantarkannya ke terminal.


*****


Siang harinya, Evan memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa, mengabaikan sapaan pembantunya Evan menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar dengan hentakan keras membuat Cleo yang sedang bermain ponsel di kasur terjengkit kaget dan Evan kembali menutupnya dengan keras juga.


"Mengapa kamu bilang ke Lala kalau kamu hamil ?" Tanpa Tedeng aling-aling Evan menanyai Cleo yang masih melotot kaget.


"Kamu kan tidak hamil Cle, kenapa kamu dengan bilang kalau kamu hamil !" Suara Evan meninggi.


"Memang kenapa ? Salah kalau aku bilang seperti itu ?"


"Kamu tau akibat dari kebohonganmu itu ? Lala pergi. Dia ngundurin diri dari perusahaan !" Sentak Evan membuat Cleo terkejut.


"Lalu apa yang membuat kamu marah ?" Tantang Cleo, ia penasaran apa Evan akan mengakui hubungannya dengan Lala atau tidak.


Evan terdiam dengan tatapan nanar.


"Aku ini istrimu dan kalau aku bilang ke orang-orang kalau aku hamil ya gak ada masalah kan !" Cleo memancing. Evan masih terdiam.


"Jawab. Kenapa kamu marah hanya karena Lala ngundurin diri ?" Bentak Cleo.

__ADS_1


"Dia sekertaris yang hebat, aku suka caranya bekerja !" Jawab Evan membuat Cleo geleng-geleng kepala, ia yakin Evan tidak akan mengakuinya.


"Aku udah tau yank, A-K-U S-U-D-A-H T-A-U. Kalau kamu pacaran sama sekertarismu itu !" Semprot Cleo membuat Evan melotot.


"Apa karena aku pernah sama Bryan kamu jadi balas dendam dengan pacaran juga sama sekertarismu ?"


"Aku pikir kamu bisa relain yang udah terjadi. Kamu bisa maafin aku dan kita bangun lagi pernikahan kita dari awal tapi apa ? Apa ? Kamu malah selingkuh sama sekertarismu sendiri !"


"Ya, aku sengaja ngomong sama Lala kalau aku hamil supaya di tau diri kamu itu punya istri dan dia bisa lepasin kamu karena kamu milik aku yank. Milik aku !" Teriak Cleo.


Keduanya terdiam sesaat dengan pikiran masing-masing.


"Yank, Ayo kita relakan semua yang udah terjadi, kita mulai lagi dari awal. Ayo kita punya anak, aku mau benar-benar mengandung anakmu !" Suara Cleo menjadi halus seraya memeluk Evan.


Cukup lama keduanya berpelukan, tidak, Cleo yang memeluk Evan yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri.


"Aku gak bisa !" Ucap Evan lirih namun terdengar jelas oleh Cleo.


"Apa ?" Wanita itu menajamkan pendengarannya.


Evan melepaskan tubuh Cleo dan menatap intens manik mata wanita itu.


"Aku mencintai Lala !"


Mendengar itu, Cleo bagai tersambar petir.


"Maaf Cle, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku selalu mencari waktu yang tepat untuk bisa mengakhiri hubungan kita. Terima kasih atas hadirnya Bryan dan kamu memilih dia jadi saat kamu jujur padaku dan mau pisah baik-baik itu aku mengartikan kalau kita sama-sama tidak saling mencintai !"


"Jadi aku meminta Lala menunggu. Menunggu sampai aku menyandang status duda dan kami bisa memulai hubungan kami dengan cara yang baik karena dia bukan pelakor !"


"Aku bahagia saat kamu menemukan laki-laki yang benar-benar kamu cintai dan aku pun bersama wanita yang aku cintai. Aku bersama dia bukan untuk membalasmu tapi karena aku benar-benar mencintai dia !"


"Jadi maaf, aku tidak bisa memulai hubungan kita lagi !" Setelah mengatakan itu, Evan keluar menuju ruang kerjanya, menguncinya dan merebahkan diri setelah melepas pakaiannya dan menyisakan pakaian dalamnya memejamkan mata hingga terlelap


Cleo jatuh terduduk di lantai, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Evan barusan. Air matanya menetes hingga jatuh ke lantai. Rasa sakit menusuk hatinya, menyadari kebodohannya.


Selama ini dia tidak pernah berusaha mendapatkan hati Evan. Dia pikir mereka telah menikah dan itu sudah cukup namun nyatanya hanya raga Evan yang bisa dia gapai tidak hatinya.


*****


Lala telah turun dari bus, terdiam sejenak memerhatikan sekitar. Sudah lama dia tidak pulang ke kampung halamannya.


Lala mulai berjalan, rumahnya berjarak 800 meter lagi. Menyewa becak untuk mengantarkannya melewati jalanan berbatu. Lala meminta berhenti 10 meter dekat rumahnya.


Setelah membayar, Lala terdiam mematung menatap rumah batu 2 lantai itu. 15 tahun yang lalu saat kedua orang tuanya masih hidup rumah itu lebih mirip gubuk reyot. Ayahnya yang seorang petani dengan sawah kecil hanya bisa membuat keluarganya makan walau pas-pasan dan sebisa mungkin bertahan dalam keadaan bocor saat hujan dengan penerangan yang minim. Ketiga anaknya yang masih kecil membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk melanjutkan sekolah.


Dan suatu hari kedua orang tua Lala yang berjalan kaki baru pulang dari sawah mengalami tabrak lari yang langsung membuat keduanya tewas ditempat. Meninggalkan tiga orang anak yang masih belia.


Anak tertuanya masih kelas 2 SMP dan Lala masih SD sedangkan yang paling kecil belum sekolah.


Andika, kakak pertama Lala, diusia yang masih belia sudah mengambil alih jabatan sebagai kepala keluarga, bekerja menggarap sawah kecil peninggalan orang tuanya seperti yang pernah diajarkan ayahnya dulu dan juga bekerja serabutan lain agar kedua adiknya bisa makan dan sekolah dengan baik.


Mereka sebenarnya masih memiliki paman yaitu kakak ibu mereka namun laki-laki tua itu tidak ingin memperdulikan mereka yang miskin dan pasti hanya akan merepotkannya. Lala dan saudara-saudaranya tidak akan melupakan saat mereka bertiga diusir dari rumah pamannya saat merayakan ulang tahun anaknya.


"Pergi, dasar miskin, dasar gembel. Jangan pernah menginjak rumahku lagi. Aku tidak punya keluarga miskin seperti kalian !" Bentaknya membuat adik laki-laki Lala yang bernama Ade menangis ketakutan.


3 bersaudara itu pulang dengan kelaparan, berharap bisa makan enak di acara ulang tahun sepupunya.


Andika semakin lama semakin ahli dalam menggarap sawah dengan baik dan sedikit demi sedikit bisa mengumpulkan uang, selain itu dia memancing ikan untuk dijual ke tetangga atau dimasak sendiri untuk dimakan bersama kedua adiknya.


Dalam keadaan sulit itu, Andika mampu menyelesaikan SMA-nya kemudian hanya fokus bekerja untuk kedua adiknya.


Hingga Lala berhasil lulus universitas dan bekerja di perusahaan Evan. Sekarang ganti dia yang membantu keluarga.


Mungkin para pembaca bertanya-tanya, mengapa sekertaris salah satu perusahaan terbesar di Indonesia malah tinggal di kost bukan di apartemen?


Inilah jawabannya, sebagian besar gaji Lala dia pakai untuk merenovasi rumah orang tua mereka hingga seperti sekarang ini membalas kebaikan sang kakak yang selama ini terus bekerja keras memikirkan kedua adiknya.


Dalam waktu 8 bulan, rumah batu 2 tingkat itu rampung berkat semua gaji, bonus dan THR dari perusahaan yang Lala terima. Dilantai bawah Lala membuat toko untuk kakaknya yang ingin buka usaha klontong bersama istrinya.


Lala menangis mengingat semua itu, andai orang tuanya masih ada dan bisa ikut merasakan kesuksesannya.


"Tante Lala !" Teriakan 2 gadis kecil membuat Lala menoleh. 2 anak perempuan kakaknya berlari kecil kearahnya dan langsung memeluknya.


"Aduh Tante rindu sama kalian !" Ucap Lala seraya mencubit kecil pipi keduanya.


"Lala, kapan datang ?" Rina si kakak ipar menyapa.


"Baru aja kak !"


"Ayo masuk !"


Keempatnya memasuki rumah, terlihat Andika baru keluar dari toilet.


"Lala, dia terkejut melihat kedatangan adiknya dan langsung memeluknya erat !"


"Kenapa gak bilang mau datang jadi kakak bisa masak makanan buat kamu !" Andika melepas pelukannya.


"Udah kak, gak apa-apa. Makanan biasa aja !" Jawab Lala nyengir membuat Andika membelai lembut kepala adiknya.


"Ehem, aku cemburu nih !" Si kakak ipar melotot.


"Ih, masa cemburu sama adik ipar sendiri !"

__ADS_1


"Mas gak pernah peluk aku seperti itu !" Rina cemberut membuat Andika tertawa. Diraihnya tubuh Rina dan dipeluknya persis seperti memeluk Lala tadi membuat kedua putri mereka meledek.


Lala tersenyum melihat keluarga hangat kakaknya. Akhirnya kakaknya bisa bahagia setelah sekian tahun menderita.


__ADS_2