Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 107


__ADS_3

Jerry akhirnya menemukan pesawat jet yang bisa ia sewa meski harus mengeluarkan kocek lebih besar.


Tak ingin berlama-lama, Jerry menjadwalkan kepergian mereka secepat mungkin juga sebisa mungkin apa yang ia lakukan tidak diketahui kubu Perdana Menteri yang nantinya akan kembali menghalangi mereka pergi.


Saat berkonsultasi dengan dokter, awalnya ia tidak diijinkan melakukan perjalanan udara melihat keadaan Bryan yang masih sangat lemah dan harus terus dikontrol tapi Jerry tetap ngotot untuk membawa sang kakak dengan alasan mereka kemungkinan akan diserang lagi seperti kemarin. Setelah melewati perdebatan yang sengit, akhirnya dokter mengijinkan Bryan dibawa dengan syarat harus ada beberapa dokter dan perawat yang menemani selama perjalanan mereka untuk mengontrol kondisi Bryan dan tentu saja semua fasilitas dan komodasi ditanggung oleh Jerry.


Dengan penuh kewaspadaan dan menggunakan ambulan, mereka pergi menuju bandara dimana pesawat jet telah menunggu.


Meski sudah waspada tapi pada akhirnya seseorang memantau pergerakan mereka dan saat mobil ambulan itu berlalu maka ia pelan-pelan mengikuti dari belakang.


Setengah jam perjalanan, ambulan itu sampai di bandara dan berhenti didekat pesawat yang nampak diam dengan gagah. Mereka terlebih dahulu membawa masuk peralatan medis mereka baru kemudian Jerry menggendong Bryan menaiki pesawat itu dengan diawasi dari belakang oleh petugas medis yang memegangi tubuh Jerry.


Jerry begitu hati-hati menapaki setiap anak tangga pesawat itu, begitu juga orang yang berada disekitarnya begitu fokus dengan keduanya hingga tidak sadar seseorang mengikuti mereka dari belakang seraya tersenyum berbahaya.


Pelan-pelan Jerry meletakkan Bryan di ranjang dan saat hendak menutup pintu pesawat.


"Maaf, anda siapa ?" Tanya seorang perawat membuat semua yang ada disitu menoleh kearahnya.


Mata Jerry terbelalak kaget saat seorang pria dengan wajah masih babak belur tersenyum sinis kearahnya.


Secepat kilat Jack mengeluarkan pisau lipat dan menerjang kearah Jerry dengan cepat, tak menduga membuat Jerry juga menghindar dengan cepat namun malang, hunusan pisau itu menancap di bekas luka Bryan.


"AAAAAAKKKKKRRRRRRFGGGGHHHHHH !" Teriak Bryan keras membuat semua yang ada disana panik.


Jack tersenyum puas, ia menarik keluar pisau itu membuat teriakan Bryan semakin keras dengan darah yang muncrat keluar dan saat hendak menusukkan kembali, dengan cepat Jerry menendang pinggang Jack dengan keras hingga pria itu terlempar kesamping.


Dengan cepat dokter dan suster memeriksa luka Bryan, membuat cowok itu menangis.


Jerry menghampiri Jack yang belum sempat bangkit dan kembali meninjunya berulang kali dengan murka. Jack tidak tinggal diam, ia berusaha melawan Jerry dengan meninju perut cowok itu, dan sebuah gerakan cepat membuat ia berhasil mendorong Jerry dari atas tubuhnya. Ia segera bangkit dan meraih pisau lipat yang sempat terlepas dari tangannya.


"Kurang ajar. Beraninya kau menampakkan wajahmu disini !" Bentak Jerry.


"Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk melenyapkan kalian kan karena aku tidak takut dengan polisi apalagi setelah melenyapkan kalian aku akan mendapatkan uang banyak, hahahahaha !" Jack tertawa menyeramkan. Jerry tersenyum remeh padanya.


"Kau pikir Perdana Menteri akan melindungimu ? Tidak, nanti dia akan menyalahkanmu atas semua kesalahannya dan kau yang akan membusuk di penjara menggantikan dia !" Jerry tersenyum remeh.


"Heh, diamlah kau dan bersiaplah untuk mampus karena setelah ini aku akan berlibur ke tempat yang indah dan hangat !"


"Kau itu cocoknya liburan di kutub Utara kalau perlu sekalian kau nikah sama beruang kutub betina disana !" ejek Jerry membuat yang mendengarnya menahan tawa.


"Diamlah kau bangsat, kau benar-benar mau manis dengan cepat, hah !" Jack emosi.


"Baiklah, coba saja membunuhku dan jika tidak berhasil maka akan kupastikan kau yang akan membusuk di penjara. Pada akhirnya kau hanyalah ayam yang pengecut dan tidak berguna sama sekali !" ejek Jerry.


Jack menggeram jengkel dan berusaha menusuk perut Jerry namun dengan mudahnya cowok itu berkelit.

__ADS_1


Jack masih berusaha menghunuskan pisaunya kearah Jerry tanpa sadar jika cowok itu menghindar sambil mengarahkannya kearah pintu pesawat. Jerry meraih tasnya dan berusaha memukulkannya dengan membabi buta kearah Jack membuat pria itu berangsur mundur menghindar hingga tepat berada didepan pintu masuk yang terbuka lebar.


Dan saat itulah Jerry dengan cepat menendang dada Jack hingga pria itu jatuh terjungkal kebelakang dan berguling-guling ditangga dan berakhir dengan erangan dibawah. Rahang bawahnya yang dekat dengan leher terlihat tertancap oleh pisau lipatnya sendiri membuat darah merembes.


"Bawa dia ke kantor polisi !" Teriak Jerry pada supir ambulan yang melihat itu dengan melongo.


"Cepat tutup pintunya dan berangkat !" Perintah Jerry.


Para awak pesawat dengan cepat menuruti perintah Jerry.


"Bagaimana keadaannya !"


"Untunglah lukanya tidak dalam !" Ucap dokter sambil masih berusaha menjahit bagian itu membuat Jerry gusar karena Bryan terus mengerang.


Pesawat mulai mendarat, Bryan sudah mulai tertidur dan Jerry duduk dikursi pesawat yang disediakan seraya menatap kegelapan diluar jendela namun yang ada dalam pikirannya bagaimana segera mengakhiri ini.


Tiba-tiba sebuah ide muncul dipikirannya membuatnya tersenyum sinis.


Jerry terbangun saat seseorang menepuk-nepuk lengannya, cowok itu terjaga dan melihat keluar dimana cahaya matahari sudah tinggi di Indonesia. Ia melihat sekeliling dan melihat bryan yang siap untuk dibawa turun.


Jerry menghampiri mereka dan kembali menggendong Bryan turun dari pesawat dengan ekstra hati-hati takut terpeleset.


Sesaat mereka harus menunggu sebab Jerry memesan helikopter dibantu pihak bandara agar perjalanan mereka lebih cepat, sambil menunggu Jerry berbicara dengan petugas medis juga awak kapal yang memutuskan ingin langsung kembali ke negara P setelah memastikan Bryan telah diserahkan ke pihak rumah sakit resmi.


Belasan menit menunggu, akhirnya helikopter yang ditunggu datang. Jerry kembali menggendong Bryan diikuti para petugas medis.


Saat lift terbuka, terlihat beberapa dokter juga suster yang sudah menanti dengan sebuah brangkar. Pelan-pelan Jerry meletakkan Bryan di ranjang itu dan dibawa oleh suster diikuti dokter negara P yang berkonsultasi dengan dokter rumah sakit ini tentang kondisi pasien.


Jerry tiba-tiba memikirkan hal lain, ia meminta para petugas medis untuk menunggunya sejenak.


"Kak, aku akan kembali ke negara P. Aku akan menyelesaikan semuanya jadi kakak disini aja dulu. Aku akan menelepon Michael !" Ucap Jerry.


"Jangan, tetap disini. Disana berbahaya !" Bryan protes.


"Sebentar aja. Aku akan segera kesini !" Setelah mengatakan itu, Jerry berbalik dan berlari meninggalkan ruang perawatan Bryan tidak memedulikan Bryan yang terus-menerus memanggilnya dengan suara lemah.


Jerry meninggalkan negara itu bersama para petugas medis serta seluruh awak pesawat dengan jantung yang bertalu-talu, dia pun tidak ingin berpisah dengan sang kakak namun ia berniat untuk membabat habis hingga akar tanaman beracun itu agar tidak ada lagi yang membuatnya khawatir.


Entah berapa jam yang dilewati pesawat cepat itu hingga akhirnya mendarat mulus ditempatnya semula.


Setelah itu, ia menaiki taksi untuk pulang kerumahnya. Rumahnya sudah terlihat namun Jerry tersentak serta meminta supir untuk berhenti tepat 50 meter dari rumah. Ia memicingkan mata, dalam gelapnya malam ia berusaha melihat dengan jelas kalau benar sesuatu nampak bergerak dijendela kamar Bryan, bukan hanya sekali tapi beberapa kali.


Jerry yakin bahwasanya rumahnya itu tidak sedang kosong, beberapa orang sedang berada disana yang ia yakini kiriman Perdana Menteri.


"Pak, saya ingin ke hotel D didaerah X !" Ucap Jerry yang langsung diangguki supir taksi itu.

__ADS_1


'Sialan, mereka berhasil menemukan tempat tinggalku !" Geram Jerry.


'Sepertinya aku tidak boleh buang-buang waktu lagi !' Batinnya


*****


Seminggu menuju hari H, Tiara ingin selalu lengket dengan Benki. Belajar dari hari kemarin, ia datang ke kantor Benki sebelum jam makan siang dan berhasil. Cowok itu berada disana masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Hai, ayo makan siang bareng !" Tiara menyapa lembut membuat Benki mendongak dengan mimik terkejut.


"Tiara ?"


"Iya, kamu mau kan makan siang bareng ?"


"Tapi pekerjaanku......!"


"Aku tunggu sampai kamu selesai !"


Tiara beralih ke sofa ruangan itu dan meraih majalah yang berada disana.


Tiara terpukau menatap gaun-gaun rancangan desainer ternama dalam majalah itu. Terlihat begitu indah, cantik dan memukau. Sedangkan Benki, ia sesekali melirik gadis cantik itu dan menatap lekat padanya.


Sekarang mereka sedang berada di restoran menikmati makanan masing-masing, Fajar menolak ikut dengan alasan pekerjaan masih banyak dan akan memesan saja.


"Nanti kalau kita tunangan, aku mau pakai gaun panjang deh warna putih yang seperti baju Putri kerajaan !" Kata Tiara semangat, Benki hanya tersenyum mendengarkan.


"Walau nanti sederhana tapi aku mau penuh kenangan dan berkesan bukan cuma untuk kita tapi juga keluarga kita !" Tiara tersenyum.


Benki hanya mengangguk.


"Trus nanti kamu juga pake jas warna putih seperti pangeran negeri dongeng supaya kita kelihatan serasi !"


"Kita ini cuma mau tunangan bukan menikah jadinya gak perlu berlebihan !" Benki nampak keberatan dengan itu.


"Ya nggak dong, walau hanya tunangan, aku mau semuanya berkesan !"


"Terserah kamu saja ?"


"Aku ke toilet dulu !" Tiara beranjak dari duduknya.


Benki memerhatikan saat gadis itu hingga hilang dibelokan, kemudian ia meraih Hp-nya dan membuka foto yang dikirim oleh pak ojol kemarin. Tanpa sadar Benki tersenyum, melihat pose gadis yang nampak kebingungan itu.


Setelah menyelesaikan makanannya, Benki dan Tiara keluar dari restoran itu tanpa tahu, seseorang memerhatikan mereka dengan tangan terkepal erat.


Saat jam pulang, Benki terperanjat kaget saat mobilnya terparkir didepan hotel milik Tiara yang nampaknya juga jam pulang para staf disana.

__ADS_1


Benki menunggu beberapa saat dan akhirnya melihat 5 orang gadis sedang jalan beriringan sambil tertawa-tawa. Perasaannya seperti ada sebuah kembang api yang meledak-ledak didadanya saat melihat Aulia yang nampak ceria, matanya terarah pada jari gadis itu yang memakai cincin couple mereka membuat Benki terus menatapinya hingga gadis itu menaiki angkutan umum.


__ADS_2