Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 110


__ADS_3

Orang tua Benki amat terkejut mendengar penuturan sang anak yang membatalkan pertunangan tanpa memberi tahu mereka dulu, beberapa pengertian diberikan kepada sang anak tapi Benki tetap ngotot tidak ingin melanjutkan.


"Benki akan mencari Aulia ma, pa. Maaf, aku tidak bisa mencintai Tiara. Aku cuma mau Aulia !" Ungkap Benki.


Kedua orang tua itu juga hanya terdiam, tidak tahu lagi harus berkata apa. Tidak mungkin memaksakan kehendak pada Benki.


Di Bali.


Aulia melewati waktu dengan murung, ia hanya berusaha mengalihkan pikirannya tentang Benki kepada semua pekerjaan yang ada. Terkadang ia menangis jika mengingat kembali kebersamaan mereka dan juga fakta bahwa sebentar lagi laki-laki yang ia cintai akan menjadi milik temannya.


Aulia sadar, Benki memang untuk Tiara. Ia hanya sebagai pemain figuran yang membantu bersatunya 2 peran utama.


Air matanya mengalir, kerinduannya pada Benki datang. Perasaan yang selalu ia ingin buang terus saja melekat erat padanya dan menyiksanya.


Aulia memasuki mess, ruangan itu sangat lenggang karena hanya dia yang menempati tidak seperti kemarin beramai-ramai dengan teman-temannya. Setelah membersihkan diri, ia berbaring sambil menatap keluar jendela menikmati pemandangan malam hingga matanya terasa berat dan ia terlelap.


Sementara itu, Benki yang sudah berada di hotel Bali tempat ia menginap kemarin juga sedang menatap keluar jendela. Perasaannya berdebar, apa yang harus ia lakukan jika bertemu Aulia ? Apa yang harus ia katakan ? Karena jika bertemu gadis itu ia pasti akan memasang wajah bengis membuatnya menghela nafas.


*****


Syifa membuka lemarinya dan meraih kotak perhiasannya, dibukanya dan terlihatlah kalung berbentuk matahari dengan berlian kuning ditengahnya. Ia juga meraih kalung dari balik bajunya, menatap kalung titanium dengan bandul koin dengan inisial B itu.


Akhirnya setelah sekian lama, ia menemukan pemilik kalung ini meski detik berikutnya wajahnya memerah saat teringat momen dimana ia tidak sengaja mencium cowok itu. Syifa menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menggeleng malu.


Keesokan harinya, Bryan terbangun saat matahari telah menyinari bumi. Matanya tak sengaja menangkap 2 koper besar yang berada didekat pintu, langsung saja ia menoleh kesamping dan dilihatnya 2 pria sedang tertidur sambil berpelukan dengan dengkuran yang tidak bisa dibilang halus pada ekstra bed yang digelar dilantai.


Bryan bernafas lega saat melihat Michael terutama Jerry yang kompak memakai boxer itu terlihat baik-baik saja hanya nampak sangat lelah.


Pintu terbuka, seorang perawat masuk sambil tersenyum.


"Selamat Pa.....!" Ucapannya terhenti saat ia melongo melihat pemandangan 2 pria masih terlelap.


"Mereka sangat kelelahan jadi tolong jangan buat mereka bangun !" Ucapan Bryan itu diartikan lain oleh perawat itu. Wanita itu terlihat senyum malu-malu dengan wajah merah apalagi melihat 2 tubuh yang hanya tertutupi boxer itu terlihat berotot membuatnya meneguk Saliva kasar. Selimut mereka sudah jauh dibawah kaki.


Setelah mengganti perban Bryan, perawat itu berlalu tak lupa melirik 2 pemandangan indah itu sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian, Michael membuka mata saat merasakan belaian halus pada punggungnya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah sepupunya yang begitu dekat dengan wajahnya membuat ia refleks berteriak.


"Wawawawawawawawawa"


Jerry membuka mata mendengar teriakan itu, seketika ia ikut melotot dan keduanya saling dorong.


"Ih, apa sih kamu tuh. Ngapain peluk-peluk ?" Semprot Michael melotot seraya menutup dadanya dengan selimut.


"Ih, aku juga gak Sudi memelukmu. Aku mau peluk cewek cantik bukan genderuwo sepertimu !" Jerry tidak terima.


Mendengar itu, Michael segera memiting leher Jerry membuat cowok itu berontak dan melawan. Keduanya gelut dilantai diiringi tawa tertahan Bryan.


Kini keduanya duduk di sofa dengan rambut acak-acakan sambil nonton televisi, berita tentang kematian Perdana Menteri negara P menghiasai berita internasional setiap hari, banyak dari pejabat-pejabat tertentu datang memberi penghormatan disaat terakhirnya. Tak sedikit juga yang mencela jika ia pantas mendapatkan itu karena kelakuan buruknya yang belakangan ketahuan hingga ia bunuh diri.


"Sudahlah, gak usah nonton ini, gak penting. Mau cari sarapan deh !" Jerry beranjak dari duduknya dan beranjak keluar diikuti Michael.


Saat melihat 2 orang keluar dari kamar itu, seseorang yang sejak tadi mondar-mandir didepan ruangan itu seketika bernafas lega. Ia kemudian memasuki kamar itu.


Bryan yang sedang menikmati acara tv seketika menoleh saat pintu terbuka, dokter cantik itu masuk sambil tersenyum kepadanya.


"Bagaimana perasaanmu ?" Tanya Syifa seraya mengecek infus Bryan.


"Sudah lebih baik !" Bryan balas tersenyum.


"Saya periksa dulu !" Ucap Syifa, Bryan merebahkan posisi ranjangnya.


Syifa memeriksa luka Bryan diiringi tatapan cowok itu yang meneliti setiap pori-pori wajahnya yang membuat dokter cantik itu salah tingkah.


"Eum, kalau hasil tes nanti bagus, besok kamu udah boleh pulang, luka kamu juga sudah membaik !" Syifa gugup.


"Terima kasih !"


Syifa tersenyum hendak keluar namun langkahnya terhenti membuat Bryan bingung melihat gadis yang nampak kebingungan dan juga salah tingkah itu. Gadis itu berbalik dengan mimik malu.


"Ini punya kamu !" Ia mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Bryan.


"Itu apa ?" Bryan belum menyambut kotak itu.


"Ini kalung punya kamu !" Syifa membuka kotak itu dan memperlihatkan pada Bryan. Kalung titanium serta kalung matahari miliknya. Bryan hanya diam tak bereaksi melihat 2 kalung itu.

__ADS_1


"Ini waktu kita gak sengaja tabrakan didepan toilet di restoran steak trus yang ini waktu kita tabrakan di mall !" Jelas Syifa sambil menunjuk kalung itu bergantian.


Bryan masih tidak bereaksi namun detik berikutnya ia berpaling.


"Untukmu saja !"


"Hah ?"


"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, jadi untukmu saja !"


"Tapi, ini mahal kan !"


"Bagiku itu murah, buatmu saja atau kalau kamu tidak mau ya buang saja !" Kata Bryan enteng.


Syifa tidak berkata lagi, ditutupnya kotak itu dan dimasukannya ke saku jasnya.


"Terima kasih !"


Belum Bryan menjawab saat pintu terbuka dan 2 pria tadi kembali dengan membawa cemilan.


"Eh, dokter cantik ketemu pasien cantik !" goda Michael menaik turunkan alisnya membuat Bryan seolah ingin menembakkan sinar laser agar cowok itu hangus sekarang juga.


*****


Malam ini adalah malam pertunangan Benki dan Tiara, Aulia sebisa mungkin menghilangkan pikiran itu dan fokus dengan pekerjaannya.


Saat berada di mess, Aulia menangis. Membayangkan kalau sekarang Benki dan Tiara saling bertukar cincin dengan senyum bahagia serta sorakan bahagia dari keluarga.


'Apa ini saatnya aku bilang selamat tinggal ?'


'Apa ini saatnya aku merelakan semuanya ? Merelakanmu ?'


Aulia menyeka pipinya dan beranjak menuju kamar mandi membersihkan diri.


Kemudian Aulia membuka tas pakaiannya dan meraih gaun baru yang beberapa waktu lalu dikirim lewat ojol, setelah memberi sedikit make up tipis pada wajahnya ia berlalu ke pintu namun ia seperti kepikiran sesuatu.


Ia berbalik kembali membuka tasnya dan meraih kotak beludrunya, dibukanya dan diraihnya kedua cincin itu, dipakainya cincin berlian pada jari kanannya dan cincin couplenya di jari kiri setelah itu Aulia pergi keluar setelah mematikan lampu kamar.


Ia menuju pantai, tempat dimana ia kemarin sempat menghabiskan waktu bersama Benki. Cahaya lampu kerlap-kerlip yang menghiasi pohon juga lampu-lampu dari gerobak penjual kaki lima nampak tak berubah hanya semakin terang.


Benki yang baru sampai di hotel Bali memandang sejenak luar jendela dimana matahari bersinar sangat terang kemudian ia merasa lapar dan memutuskan turun ke lantai dasar untuk makan siang. Tak lupa ia memakai maskernya agar tak ada yang mengenalinya.


Saat berada dibagian stand makanan, Benki celingak-celinguk mencari keberadaan Aulia namun gadis itu tidak terlihat sama sekali. Setelah selesai makan, ia duduk membaca koran di lobi hotel sambil mengawasi setiap staf hotel yang lewat dan lagi tidak ditemukannya gadis itu.


Benki menyerah, ia beranjak menuju kamarnya namun saat sedang menunggu lift, gadis itu lewat didekatnya sambil membawa kotak makanan membuat cowok itu tercekat. Ia mengikuti Aulia dari jarak aman dan gadis itu berhenti di pinggir kolam renang. Gadis itu duduk dipinggir beralas batu sambil menatap riak air di kolam itu, menikmati makan siangnya sendirian.


Benki yang melihat itu hanya menghela nafas, apalagi tatapan mata gadis itu sering terlihat kosong bahkan ia makan dengan lesu. Benki terus mengawasi hingga gadis itu menyelesaikan makan siangnya dan beranjak dari sana.


Benki panik saat Aulia berjalan kearahnya, segera saja ia bersembunyi dibalik pot besar yang berada disana. Setelah Aulia berlalu barulah ia memasuki hotel.


"Permisi mas, mau tanya. Staf disini biasanya pulang jam berapa ?" Tanya Benki pada seorang cleaning service yang sedang mengepel lantai.


"Shift pagi atau shift malam mas ?" Tanyanya balik. Benki terdiam sejenak.


"Shift pagi !"


"Oh itu, jam 5 sore mas !"


"Oh begitu, terima kasih mas !"


Benki berlalu menuju kamarnya dan langsung rebah dikasur tak lupa menyetel alarm hp kemudian menutup mata hingga terlelap.


Jam 4 sore, alarm hp Benki berbunyi kencang membuat sang pemilik terbangun dari tidur siangnya, mematikan alarm Benki merenggangkan tubuhnya kemudian menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian santai, ia menonton tv sebentar kemudian keluar dari kamarnya menuju lobi. Ia membaca buku apa saja yang berada disana sambil celingak-celinguk atau melirik jam tangannya.


Hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore, Benki langsung was-was, beberapa orang terlihat keluar dan tak lama, Aulia juga terlihat hendak keluar. Benki langsung menyembunyikan wajahnya dibalik majalah bisnis yang ia baca, sedikit mengintip dan melihat gadis itu berjalan ke pintu keluar dengan mimik lesu.


Benki segera beranjak dari duduknya dan mengikuti Aulia dari jarak aman, beberapa menit berjalan Aulia sampai di mess. Gadis itu memasuki sebuah kamar dilantai 2 dan menutup pintu. Benki menatap sejenak bangunan itu kemudian berbalik menuju kamarnya sendiri.


Malam harinya, setelah makan malam. Benki kembali kesana, menatap bangunan mess itu terutama kamar Aulia yang menyala tanpa ia tahu bahwa gadis itu sedang menangis didalam sana seperti malam-malam sebelumnya.


Tak lama lampu kamar itu padam membuat Benki bingung dan melirik jam tangannya. Belum jam 8 tapi gadis itu ingin tidur ? Mungkin saja dia kelelahan ?


Benki beranjak dan berjalan menuju kamarnya sendiri, besok akan ia coba lagi.

__ADS_1


Keesokan harinya, setelah makan malam Benki kembali ke tempat kemarin dimana ia bisa melihat kamar kekasih hatinya. Jantung Benki berdebar kencang saat memutuskan untuk mendatangi kamar itu, mengetuk pintunya dan memeluk kekasih hatinya. Ia senyum-senyum tidak jelas saat membayangkan itu.


Setelah memantapkan hati, ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu untuk berbicara dari hati ke hati masing-masing. Namun baru saja ia hendak melangkah, lampu kamar itu kembali padam membuat Benki menghela nafas frustasi.


'Kenapa cepat sekali tidurnya !' Gerutunya dalam hati.


Tak lama pintu kamar itu terbuka membuat Benki refleks sembunyi. Ia mengintip dan seketika terpesona pada sosok Aulia yang keluar dari kamarnya namun dengan penampilan yang membuat Benki tidak bisa berkata-kata.


Dress peach itu tampak pas ditubuhnya membuatnya terlihat anggun, rambut yang dibiarkan terurai serta make up tipis membuat Aulia nampak sangat cantik. Gadis itu berlalu, Benki kembali mengikutinya dari jarak aman seraya memastikan tidak ada yang akan menganggu gadisnya.


Aulia menuju pantai dan berjalan dipasir basah setelah melepas sandalnya, sesekali ombak kecil menghantam kakinya juga angin laut yang menerpa tubuhnya seraya menerbangkan rambutnya atau memainkan rok gadis itu.


Benki tidak bersembunyi lagi, ia ikut berjalan dipasir basah itu setelah ikut melepas sandalnya hingga kemudian Aulia menoleh kearahnya dengan wajah terbelalak.


Aulia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benki disini, didekatnya. Cowok itu menatap lurus ke ujung lautan. Gadis itu terus menatapi sosok itu, meyakinkan diri jika cowok itu nyata, bukan imajinasinya. Cowok itu melirik kearahnya hingga Refleks Aulia berlari dan memeluk erat Benki, memejamkan mata seraya merasakan detak jantung juga aroma tubuh cowok itu. Sesuatu yang sangat ia rindukan.


"Aku kangen kamu kak ! Maafin aku !" Aulia mengeratkan pelukannya.


Benki masih belum bereaksi, ia mematung. Aulia mengguncang pelan tubuh itu saat Benki tidak meresponnya.


"Kak !"


"Kak !"


"Kak !"


Aulia merengek, ia gemas sekali pada Benki. Ingin sekali mencubit kedua pipinya atau menjambak rambutnya hingga ia botak.


"Maafin aku karena bohong sama kakak, maaf karena aku terlalu pengecut untuk jujur ke kakak, maaf aku terlena dengan hubungan kita !" Ucap Aulia, Benki masih diam.


"Aku juga tersiksa selama ini, aku benci saat kakak panggil aku Tiara, aku mau kakak panggil aku pake namaku tapi lagi aku terlalu takut buat jujur ke kakak, Maafin aku kak. Aku kangen banget sama kakak !" Aulia terisak. Benki menghela nafas.


"Aku juga kangen kamu !" Lirih Benki, kedua tangannya ikut melingkar ditubuh gadis itu.


Aulia tertegun, tidak menyangka dengan reaksi yang diberikan cowok ini. Ia mendongak menatap wajah Benki yang masih menatap ujung lautan.


Aulia kembali membenamkan wajahnya didada Benki, kembali mendengarkan detak jantungnya yang terasa kian kencang.


"Maafin aku kak !"


"Aku juga minta maaf, karena kemarin sempat kasar sama kamu !" Ucap Benki membuat Aulia menggeleng.


"Jangan ulangi lagi !" Tambah Benki.


"Iya, aku janji !" Aulia mengangguk didada Benki.


Aulia menangis seraya mengeratkan pelukannya, air matanya mengalir disertai rasa lega menjalar dihatinya, Benki pun membalas pelukan itu tidak kalah erat, membagi rasa hangat ditengah hembusan angin laut yang kencang.


Tiba-tiba Aulia teringat sesuatu dan melepas pelukannya, menatap Benki bingung.


"Bagaimana pertunangan kakak dengan Tiara ?" Aulia memelototi Benki.


"Aku membatalkannya !"


"Kenapa ?"


"Aku tidak bisa karena aku tidak mencintai Tiara. Aku sudah bicara baik-baik dengan keluarganya jadi itu kenapa sekarang aku bisa ada disini. Aku sadar kamu yang aku mau !" Benki menempelkan keningnya di kening Aulia.


Aulia terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Sekarang ia seperti bisa merasakan seperti apa perasaan Tiara sekarang.


Benki melepas pelukannya dan meraih kedua tangan Aulia.


"Aku sadar, aku tidak bisa menjalin hubungan dengan Tiara karena kamu sudah berhasil menguasai hatiku !" Benki lebay.


"Aku mencintaimu !" Ucap Benki menatap dalam mata gadis didepannya.


Aulia menangis, perasaan bahagia menyerap begitu cepat didadanya. Ia tidak menyangka akan seperti ini. Benki menatap tangan kanan Aulia dan melepas cincin berlian pink itu dari jarinya membuat gadis itu bingung.


Benki melangkah mundur sambil memperhatikan lekat cincin itu membuat Aulia was-was.


'Apa Benki akan pergi meninggalkannya ?'


Tak lama Benki berlutut dan mengadahkan cincin itu didepan Aulia.


"Maukah kau menikah denganku ?"

__ADS_1


__ADS_2