Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
058


__ADS_3

Akhirnya setelah menunggu sebulan lebih pernikahan Evan dan Lala akan terlaksana setelah banyak persiapan yang dilakukan masing-masing keluarga.


Akad nikah diadakan dirumah Evan dan rencananya resepsi akan mereka lanjutkan di sebuah hotel bintang 5 yang sudah dipersiapkan.


Disebuah kamar, Lala duduk didepan meja rias dimana MUA dengan telaten mendandaninya menuju hari besarnya, Lala menatap wajahnya yang sudah selesai dirias hingga wajahnya terlihat amat cantik.


Dengan dandanan pengantin Sunda yang membuatnya terlihat amat memukau bahkan dia sendiri tidak percaya saat menatap pantulan dirinya di cermin. Lala tersenyum bahagia melihat betapa cantiknya dia dalam kebaya putih.


Hingga pintu kamarnya terbuka dan memunculkan duo N. Lala tersenyum menyambut kedatangan calon adik iparnya itu.


"OMG, wow banget !" Nikita menatap Lala dari ujung kepala hingga ujung rambut dengan wajah takjub.


"Pasti nanti kak Evan termehek-mehek lihat ini, hehehe !" Nabila tertawa membayangkan ekspresi kakaknya.


Lala hanya tertawa kecil mendengar itu. Ketiganya ngobrol ringan diiringi canda dan tawa, saat pintu kamar kembali terbuka.


"Kalian berdua disini, mama cariin kemana-mana ternyata disini....!" Ucapan sang mama terhenti saat menatap Lala. Wanita tua menutup mulutnya tidak percaya menatap Lala.


"Ya ampun La, kamu cantik sekali nak !" Ucap mama Evan.


"Terima kasih nyonya !" Lala tersenyum.


"Jangan panggil nyonya, sekarang kan udah mau jadi menantu. Panggil mama !"


"I.. iya ma, terima kasih !" Lala memeluk mama Evan penuh sayang.


"Ya udah, kamu tunggu disini ya dan kalian ayo ikut mama !" Ujar sang mama melotot pada kedua anaknya yang dimana mereka sendiri juga lupa tujuan ke kamar Lala.


"Iya !" Duo N menjawab lesu.


Ketiganya meninggalkan kamar Lala dan gadis itu kembali duduk di meja rias menatap dengan teliti make-up yang menempel di wajahnya saat pintu kamarnya kembali terbuka, melalui cermin Lala melirik kearah pintu dan Lala berbalik kearah mereka dengan perasaan senang.


Orang-orang yang baru datang itu juga tertegun menatap penampilan terbaru Lala seketika diam mematung.


"Kak Dika !" Lala memanggil kakaknya dan menyadarkan lamunan orang-orang itu.


"Ya ampun La, kamu cantik sekali !" Kak Andika menatap adiknya tidak percaya, rasanya ia ingin menangis.


Lala yang mendengar itu juga tanpa ia sadari air matanya mengalir jatuh begitu saja dan langsung memeluk kakaknya.


"Jangan nangis, make-up kamu nanti luntur !" Sang kakak melepas pelukannya dan mencoba ingin menghapus air mata Lala namun ia urungkan.


Lala meraih tisu dan menghapus pelan air matanya. Tatapannya beralih kepada yang lainnya.


"Kak Rina !" Lala memeluk kakak iparnya, air matanya kembali jatuh.


"Selamat La, kakak turut bahagia untuk kamu !" Kakak ipar membelai punggung Lala.


"Terima kasih kak !" Lala melepas pelukannya dan tersenyum pada kakak iparnya.


"Adikku sayang !" Lala beralih memeluk Ade si bungsu.


"Selamat kak !" Ucap si bungsu.


Lala melepaskan pelukannya dan berlatih pada dua keponakan cantiknya yang sejak tadi diam menatapnya, mungkin karena make-up tebal Lala hingga keduanya tidak mengenali tantenya sendiri. Lala berjongkok menyamakan tinggi keponakannya.


"Kok nggak peluk Tante ? Gak kangen sama Tante ?" Ucap Lala pada keduanya.


Dua pasang mata polos nan bening itu perlahan mendekat pada Lala dan memeluknya. Sejenak Lala memeluk penuh sayang pada dua keponakan cantiknya dan mencium kening mereka bergantian hingga tertinggal bekas lipstik membuat keduanya terlihat lucu.


Sementara itu, Evan yang juga telah siap kini duduk di meja rias menatap pantulan dirinya yang memakai pakaian pengantin. Ia tersenyum kepada dirinya sendiri masih tidak percaya dia sebentar lagi akan menjadikan Lala istrinya. Sekelebat ingatan tentang perjalanan cinta mereka dari jadian sampai Lala meninggalkannya hingga sekarang ini membuatnya tersenyum saat merasa semua tidak sia-sia.


"Van, udah siap nak !" Suara sang mama terdengar membuat Evan terkejut.


"Su.. sudah ma !" Jawab Evan gugup, terlihat dahinya mulai berkeringat.


Melihat itu sang mama tersenyum, mengerti apa yang dirasakan putranya.


"Ya udah ayo, penghulunya sudah datang !" Sang mama meraih lengan sang putra dan menuntunnya menuju meja akad.

__ADS_1


Evan melirik kearah kamar Lala yang tertutup rapat. Tadinya ia ingin bertemu Lala sekejap saja untuk menetralisir rasa gugupnya, siapa tahu setelah bertemu Lala ia akan menjadi percaya diri namun ia tidak diperbolehkan bertemu hingga kata sah berkumandang.


Evan kini duduk berhadapan dengan Andika, wali nikah Lala. Keduanya saling tersenyum. Perasaan Evan benar-benar terasa gugup menggelitik hingga membuat perutnya mulas, padahal ini bukan pernikahan pertamanya namun ini terasa berbeda tidak seperti menikahi Cleo dulu.


Pak penghulu memberikan arahan kepada Evan untuk menjabat tangan Andika yang notabe wali nikah Lala. Suasana mendadak hening menunggu Evan yang akan mengucapkan ijab Kabulnya.


"Evan Setyawan, saya nikahkan engkau dengan adik kandungku Mirela Tania binti Muhammad Wawan dengan seperangkat alat sholat dan 1 stel perhiasan emas dibayar tunai karena Allah Ta'ala.


"Saya terima nikah dan kawinnya Mirela Tania binti Muhammad Wawan dengan mas kawain tersebut dibayar tunai karena Allah Ta'ala !" Ucap Evan mantap. Meski dalam hatinya berdebar dahsyat serta keringat mengalir deras di keningnya.


"Bagaimana para saksi ?"


"SAH"


Kata itu mengalir dengan kencang di penjuru ruangan, Lala yang mendengar dikamarnya seketika mengalirkan air mata haru, kini statusnya telah berubah menjadi seorang istri.


Kak Rina menjemput Lala dan perlahan membimbingnya menuju samping Evan yang terpesona melihat istrinya. Air matanya tak bisa ia tahan lagi saat melihat Lala semakin dekat dan akhirnya duduk disampingnya. Keduanya saling melempar senyum dengan perasaan haru. Lala menghapus air mata Evan yang terlihat jelas.


Keduanya diminta untuk saling memakaikan cincin. Evan menautkan cincin kawin pada Lala kemudian mencium keningnya dan Lala yang menautkan cincin dijari Evan seraya mencium tangan suaminya. Setelah itu keduanya kembali bertatapan bahagia. Perlahan wajah Evan mendekat dan mendekat dan hampir sampai ke bibir Lala.


"Ow.. ow.. ow !" Duo N dan para tamu refleks berteriak melihat Evan yang akan mendaratkan bibirnya ke bibir Lala.


Evan dan Lala terperanjat kaget, lupa jika masih berada ditengah keramaian membuat mereka malu.


"Sabar nak Evan, tunggu nanti malam ya !" Ucap pak penghulu diiringi tawa para tamu serta wajah Evan dan Lala yang memerah malu.


*****


Malam harinya resepsi diadakan di sebuah ballroom hotel bintang 5 yang mampu menampung ribuan tamu. Dekorasi mewah yang spesial untuk salah satu orang terkaya di Indonesia meski hanya melakukan persiapan selama sebulan.


Evan sudah memakai jas pengantinnya saat netranya menangkap Lala yang sudah selesai berhias. Evan terpana pada makhluk Tuhan yang paling indah didepannya, ia masih tidak percaya jika wanita cantik bagai putri negeri dongeng itu adalah istrinya. Begitu juga Lala, ia juga terpana pada pria tampan didepannya ini. Keduanya kembali melempar senyum pada satu sama lain.



"Udah siap, ayo kita ke ballroom !" Orang tua Evan datang dan seketika terpukau melihat pasangan baru ini.


"Ya ampun, kalian serasi sekali !" Mama Evan terharu.


Pasangan pengantin itu menuju ballroom sambil bergandengan tangan menuju pelaminan, singgasana keduanya sebagai raja dan ratu sehari.


Satu persatu tamu undangan datang menyalami pasangan pengantin itu. Senyum Lala tidak pernah luntur, ia sangat takjub melihat dekorasi pernikahannya yang mewah. Tidak percaya jika semua kemewahan ini bisa Evan persiapkan hanya dalam waktu sebulan.


Terlihat Benki dan Fajar mendekat.


"Selamat La, samawa yah !" Benki menyalami Lala kemudian Evan.


"Terima kasih pak bos !" Ucap Lala lirih pada mantan bosnya. Iya benar, Lala menyetujui keinginan Evan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Benki.


"Selamat La, turut bahagia untukmu !" Ucap Fajar tersenyum.


"Terima kasih Jar !" Lala pun balas senyum pada playboy macan ini.


Setelah kedua pria tampan itu turun, terlihat Rizky dan Cleo mendekat dengan saling bergandengan tangan.


"Selamat La, selamat bos !" Rizky menyalami mereka bergantian.


"Terima kasih Ky !" Ucap Evan.


"Selamat ya La !" Cleo memeluk Lala.


"Terima kasih Cle !" Lala balas memeluk Cleo.


"Selamat mas !" Ganti Cleo memeluk Evan erat yang juga dibalas pelukan erat oleh Evan membuat Rizky melotot ngeri dan Lala yang menahan tawa melihat mimik wajah Rizky. Setelah itu keduanya turun dengan Rizky yang menggerutu pada Cleo.


Pesta berjalan meriah dengan dihadiri orang-orang terpandang serta artis-artis ibu kota yang menambah kesan mewah pernikahan Evan dan Lala.


"Terima kasih untuk hari ini !" Lala memeluk perut Evan.


"Apa ? Yang mana ?" Tanya Evan.

__ADS_1


"Semuanya !" Lala tersenyum menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan yang tersenyum seraya membalas pelukan istrinya.


"Aku mencintaimu !"


"Aku juga !"


Setelah pesta usai dan malam semakin larut, Evan dan Lala berjalan menuju kamar mereka, tak dipungkiri keduanya sangat lelah akibat banyaknya tamu yang harus disambut.


Memasuki kamar royal suite itu, keduanya terpukau pada dekorasi kamar pengantin dimana ranjang putih itu dipenuhi kelopak mawar merah serta handuk yang dibentuk menyerupai 2 angsa. Melihat itu Lala jadi gugup apalagi saat terdengar Evan menutup pintu dan menguncinya. Pria itu tersenyum kearah Lala.


"Mau mandi duluan !" Tawar Evan dengan seringai anehnya.


"I.. iya !" Lala mengangkat roknya dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Melihat itu Evan terkekeh seraya melepaskan pakaiannya serta meraih remote tv dan mendudukkan dirinya di sofa dengan hanya memakai pakaian dalam mencari saluran tivi yang menarik.


Tak lama, Lala keluar dari kamar mandi memakai bathroab sambil memeluk gaun pengantinnya.


"Udah, silahkan pakai kamar mandi !" Ucap Lala pada Evan yang mematung melihatnya.


Tanpa berkata lagi, Evan menuju kamar mandi. Lala menaruh gaun pengantinnya di keranjang yang tersedia bersamaan meraih pakaian Evan dan menyimpannya ditempat yang sama, meraih remote tv dan mengganti saluran berita dan mencari saluran menarik lain, ia meletakkan remote tv setelah saluran musik menggema diruangan membuat mood Lala jadi happy.


Gadis itu menoleh kesana-kemari mencari tas pakaiannya, tadi sebelum meninggalkan pelaminan, kakak iparnya bilang sudah meletakkan tas pakaiannya dikamar namun setelah menoleh kesana-kemari dan membuka lemari serta laci yang ada tapi nihil, tas pakaiannya tidak ada. Lala menghela nafas jengkel saat merasa dikerjai kakak iparnya.


Saat itu Evan keluar kamar mandi, pria itu hanya memakai handuk sebatas pinggang hingga lutut membuat Lala menganga melihat Evan yang wow seksi banget. Evan menahan senyum melihat ekspresi melongo Lala.


Pria itu mendekati istrinya dan berdiri tepat didepan gadis itu, Lala tersadar dan gugup seketika. Saat dia akan memundurkan langkahnya, Evan meraih pinggangnya hingga hidung mereka bersentuhan.


Jantung Lala terasa berdetak hebat saat Evan memeluk tubuhnya dan menatapnya dengan syahdu.


"Kak, dimana tas pakaianku ?" Tanya Lala berusaha menguasai rasa gugupnya.


"Disini tidak ada tas apapun, tas pakaianku juga tidak, mungkin ini kerjaan duo N !" Jawab Evan santai.


"Lalu bagaimana sekarang ?" Pertanyaan bodoh itu membuat Evan tersenyum. Perlahan wajah Evan mendekat dan mendekat, Lala memejamkan mata dan tak lama merasakan bibir kenyal Evan menyentuh bibirnya. Evan mengecupnya mesra dan lembut, kepala Evan miring kekanan dan kekiri membuka bibir Lala dan bermain disana hingga keduanya hanyut dalam suasana syahdu malam pengantin mereka.


Evan mematikan tivi tanpa melepas kecupannya serta menuntun Lala menuju tempat tidur, tangan Evan meraih tali bathroab Lala namun gadis itu dengan cepat melepaskan pagutan mereka dengan nafas terengah dan wajah memerah.


"Kenapa ?" Tanya Evan dengan nafas tidak teratur juga.


"Aku.. aku.. aku malu !" Lala menunduk dengan wajah semakin memerah sambil menahan tali bathroab-nya.


Mendengar itu Evan tersenyum, kembali meraih tubuh Lala, meraih kedua tangan gadis itu dan melingkarkan ke lehernya serta Evan yang juga kembali memeluk Lala.


"Sekarang aku suamimu, kamu tidak perlu malu padaku lagi dan ini malam pertama kita !" Setelah mengatakan itu bibir Evan kembali mencium bibir Lala. Keduanya memejamkan mata menikmati kegiatan mereka sekarang tanpa rasa khawatir setelah status baru yang mereka sandang.


Tangan Evan kembali meraih tali bathroab Lala, merasakan itu tangan Lala mengcengkram bahu Evan. Jantungnya kembali berdebar hebat saat tali itu dengan mudah terlepas. Evan berhasil melepaskan kain itu hingga jatuh dengan mulus di kaki Lala memperlihatkan pemandangan yang membuat Evan melotot tidak percaya melihat pahatan sempurna yang maha kuasa didepannya sekarang ini. Mata Evan menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut seraya tersenyum senang.


Evan memegang kedua bahu Lala setelah melepaskan kain terakhir ditubuhnya sendiri, membimbing gadis itu untuk berbaring. Seketika pria itu terpaku melihat Lala yang berada diantara ratusan kelopak mawar itu membuatnya semakin mempesona. Lala sungguh malu melihat tatapan Evan padanya membuatnya menoleh ke lain arah menyembunyikan wajah malunya.


"Kamu sudah siap ?" Tanya Evan dengan suara berat. Tubuh keduanya menempel erat.


Lala mengangguk dengan jantung berdebar hebat seolah listrik dengan watt tinggi menyetrumnya, matanya terpejam saat wajah Evan mendekat mencium keningnya lama, kedua pipi, hidung dan terakhir bibirnya kembali dikecup mesra.


Setelah itu kecupan Evan menyusuri kulit halus itu dari leher dan terus kebawah, Evan memejamkan mata seperti sedang merasakan kain sutra paling halus di dunia. Tangannya tak luput meraba dan meremas lembut 2 gunung kenyal Lala yang terasa seperti bantal paling empuk di dunia. Evan terus menyusuri permukaan kulit itu bukan hanya dengan hasrat tapi juga perasaan cinta yang kuat serta telah bersemayam lama di hatinya yang akan menyempurnakan ikatan suci mereka saat ini. Lala memekik tertahan merasakan sensasi gelenyar aneh untuk pertama kali. Ia seperti terbang diantara sinar matahari sore yang hangat dan juga angin lembut yang menerpa usil wajahnya. Tak lama kemudian Lala merasakan seperti ratusan kupu-kupu terbang memenuhi perutnya membuatnya hanya bisa menahan gelora yang seolah mengalirkan listrik disepanjang urat nadinya.


"Ah, sakit !" Pekik Lala langsung, tubuhnya terkejut saat sesuatu yang asing mencoba menerobos masuk.


"Kak, sakit !" Lala meringis sambil menggigit bibir bawahnya saat benda asing itu terus berusaha masuk.


"Tahan, sedikit lagi !" Evan mencium kening lala seraya terus berkonsentrasi dengan apa yang ia lakukan sekarang.


Air mata Lala mengalir saat merasakan sesuatu terkoyak meninggalkan rasa sakit yang mantap jiwa serta intinya terasa penuh dan sesak membuatnya terus meringis. Evan berhenti sejenak melihat ekspresi kesakitan Lala, mencium lembut bibir istrinya berharap bisa mengurangi sedikit rasa yang sakit yang dirasakan Lala. Saat dirasa tubuh Lala mulai menerima, Evan mulai memberi Hujaman lembut agar Lala mulai merasa nyaman.


Awalnya Lala merintih saat rasa sakit masih terasa namun berikutnya Hujaman lembut Evan membuat Lala mulai merasakan sesuatu yang lain, sesuatu dimana sebuah rasa yang sangat enak bahkan nikmat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya kini seolah merasuki setiap sel darahnya membuatnya mengeluarkan suara ******* dengan irama merdu nan syahdu yang menandakan ia mulai menikmati permainan mereka. Evan tersenyum seraya membelai lembut pipi Lala dan kembali menciumnya tanpa menghentikan gerakannya dibawah sana.


"Ahh !"


Dikamar mewah itu menjadi saksi bisu 2 anak manusia yang mereguk nikmatnya malam pengantin. Surga dunia yang benar-benar terasa nikmat dalam ikatan pernikahan dan dilakukan dengan penuh keikhlasan hingga mencapai puncak kepuasan. Nafas Evan tersengal-sengal saat ia menjatuhkan tubuhnya disebelah Lala saat pelepasannya terjadi, begitu juga dengan Lala yang mengatur nafasnya yang amburadul dan tak lama kemudian wanita itu terlelap.


Evan tersenyum dan menarik tubuh istrinya ke pelukannya, menghapus peluh yang membanjiri dahi wanita itu dan membuang kelopak mawar yang menempel ditubuh istrinya, dikecupnya lembut kening Lala dan tak lama kemudian memejamkan mata menyusul Lala ke alam mimpi dan samar-samar ia mendengar suara istrinya.

__ADS_1


"Sepenuh hati aku mencintaimu !"


__ADS_2