Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 075


__ADS_3

Hari terakhir berada di Bali, kelima gadis itu sedang bersiap dengan lesu. Sepertinya mereka memang tidak bisa jalan-jalan menikmati indahnya Bali karena sore ini juga penerbangan mereka kembali ke kota J dan sekarang mereka harus menuju hotel untuk bekerja menyelesaikan tugas mereka sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing.


Saat telah memasuki hotel mereka bertemu dengan Indri yang langsung memberikan mereka masing-masing amplop putih.


"Hari ini kalian diberi ijin libur untuk jalan-jalan dan itu bonus kalian silahkan kalian pergunakan tapi ingat sore nanti kita sudah harus pulang jadi jangan lupa waktu !" Ucap sang manager seraya menunjuk amplop putih di masing-masing tangan kelima gadis itu.


Kelimanya sontak berjingkrak-jingkrak senang.


"Terima kasih bos !" Ucap kelimanya berbarengan. Indri mengangguk dan bersiap meninggalkan mereka.


"Eh, Bos Indri sendiri nggak mau ikut jalan-jalan !" Tanya Irma. Indri terdiam menatap kelimanya bergantian.


"Tidak, masih ada yang harus saya kerjakan. Oke, silahkan menikmati liburan kalian !" Setelah mengatakan itu, Indri berlalu.


"Ya udah, ganti baju baru cus jalan-jalan !" Irma sudah semangat 45.


"Oke deh !" Ana.


Kelimanya kembali menuju mess dan berganti pakaian kemudian bersama menuju pusat perbelanjaan oleh-oleh di Bali yang juga berada dipinggir pantai tidak begitu jauh dari hotel membuat kelimanya senang bukan kepalang apalagi melihat semua barang-barang disana hampir membuat mereka kalap.


'Kak, sekarang aku lagi jalan-jalan di daerah x. Nanti sore aku udah balik ke kota J'. Pesan terkirim ke Benki. Aulia menyimpan Hp di tasnya dan mulai menghampiri kios-kios yang menjual pernak-pernik aksesoris juga tas dan baju-baju serta sarung Bali.


Kelima gadis itu mulai berkeliling melihat dari satu benda ke benda cantik nan lucu lainnya.


Saat melihat kumpulan kalung, Aulia menyentuh kalung dilehernya membuatnya tersenyum apalagi mengingat saat Benki menciumnya yang langsung saja kulit wajahnya memerah malu, ia ingat saat Benki melepas tautannya, Aulia langsung berlari menuju kamarnya tidak berani menatap wajah pria itu.


Saat Aulia berusaha meredam rasa malunya akibat kejadian semalam saat tatapannya tertuju pada sebuah gelang yang dia rasa cocok untuk Benki. Gelang sederhana itu terlihat unik dengan ukuran tidak terlalu kecil.



Aulia membeli gelang itu dan mulai berkeliling lagi melihat satu benda lucu dengan lainnya, memilih yang mana yang akan dia belikan untuk ibunya saat matanya tertuju pada satu sosok yang berdiri tak jauh darinya.


Benki disana berdiri dengan tatapan hanya tertuju padanya. Sontak Aulia menoleh kearah teman-temannya yang untungnya sedang sibuk memilah-milah mana yang akan mereka beli.


Segera saja Aulia menarik tangan Benki untuk menjauh dari sana sebelum salah satu manusia kepo itu heboh dan bertanya lebih lanjut. Keduanya berhenti setelah cukup jauh dari tempat penjual itu dan berusaha mengatur nafas akibat berlari.


"Kok kakak bisa ada disini !" Tanya Aulia.


"Memang kenapa aku tidak bisa kesini !"


"Bukan begitu maksudku, aku pikir kakak bekerja atau bertemu kolega bisnis kakak !"


"Untukmu waktuku selalu ada !" Gombal Benki sambil menaik turunkan alisnya.


"Idih, pintar gombal sekarang !" Aulia yang malu memukul bahu Benki.

__ADS_1


Benki tertawa seraya menarik bahu Aulia dan memeluknya dengan sebelah tangan.


"Kangen !" Bisiknya membuat Aulia merinding yang dibalas cubitan di perut Benki membuat cowok itu memekik dan melepas rangkulannya.


"Ih, bar bar banget sih jadi cewek !" Benki mengelus bekas cubitan Aulia.


"Makanya jadi cowok jangan genit !"


"Daripada aku genit ke cewek lain, hayooo ?" Benki meledek.


Aulia melotot mendengar itu dan dengan tangannya ia memperagakan seolah memotong leher kearah Benki.


"Ya ampun, udah bar-bar tambah serem lagi !" Ucapan itu membuat Aulia mengejarnya ingin memukul atau mencubit cowok itu.


"Eit, eit, tunggu, tunggu, oke, oke sorry !" Benki menahan tangan Aulia yang ingin mengacak-acak dirinya.


Benki membalik tubuh Aulia menghadap lautan dan memeluk gadis itu dari belakang. Menatap mentari pagi yang terasa mulai membakar kulit.


"Oh ya, aku punya sesuatu untuk kakak !" Aulia mendongak menatap cowok itu.


"Apa tuh ?" Tanya Benki sambil melepas pelukannya. Aulia membuka tasnya dan mengeluarkan gelang yang tadi ia beli, memperlihatkan pada Benki dan memakaikan ke tangan kanan cowok itu.


"Gimana ? Suka gak ?" Tanya Aulia was-was melihat ekspresi Benki.


"Banyak orang lewat, jangan suka cium-cium !" Aulia kembali mencubit perut Benki namun cowok itu hanya terkekeh tanpa melepas pelukannya.


Keduanya bermain air, berlari saat ombak kecil mengejar kaki mereka yang membuat mereka tertawa. Hingga Benki meraih sebuat ranting kayu dan menggambar bentuk love yang cukup besar di pasir basah dan menulis nama mereka di love itu disertai anak panah yang menembus love itu.


Aulia membeku melihat nama Tiara dan Benki disana, karya Benki itu telihat sangat bagus hanya saja nama Tiara disana membuat hati Aulia tidak terima.


"Kamu gak suka ?" Benki bertanya saat melihat mimik wajah Aulia yang sendu.


"Nggak kok kak, suka banget !" Aulia berhambur memeluk Benki berusaha menahan tangisnya yang siap tumpah, ingin sekali dia mengganti nama Tiara dengan namanya bahkan ia ingin Benki menyebut namanya disetiap kebersamaan mereka bukan nama Tiara tapi tidak mungkin ia katakan, bisa terbongkar semua dan sekarang ia hanya harus bersabar.


Sepertinya alam mengerti perasaannya, sekelompok ombak datang dengan suara deburan kencang dan seketika menghapus karya indah Benki.


Melihat itu Aulia tertawa dan berterima kasih pada lautan dengan melambaikan tangan kearah ombak tadi datang.


"Kamu melambaikan tangan ke siapa ?" Tanya Benki heran.


"Tadi aku lihat putra duyung tampan disana ?" Tunjuknya.


"Dasar ngawur !"


*****

__ADS_1


Mobil yang menjemput Benki di bandara telah sampai didepan rumah sang bos. Fajar mengeluarkan barang-barang Benki dari bagasi mobil dan membawanya menuju kamar sang bos. Benki sudah berjalan masuk terlebih dahulu saat berpapasan dengan sang adik.


"Mel, mama dan papa mana ?" Tanya Benki pada Melati seraya celingak-celinguk memperhatikan sekeliling.


"Mereka lagi jengukin rekan bisnis papa yang kecelakaan di rumah sakit !" Ucap Melati namun matanya melirik Fajar yang melewati mereka tanpa menoleh.


Benki mengernyitkan dahi melihat adiknya dan melirik Fajar bergantian.


"Ya udah, aku istirahat dulu nanti malam baru bagi oleh-oleh !" Ucap Benki.


"Oke !" Melati langsung balik badan membuat Benki melongo karena biasanya Melati akan antusias meminta oleh-oleh jika melihatnya pulang dari luar kota maupun luar negeri.


Tanpa ambil pusing, Benki menuju kamarnya dan melihat Fajar hendak keluar dari kamarnya setelah menyimpan tas besar maupun tas kecil serta beberapa paper bag miliknya. Sehari sebelumnya Benki sudah jalan-jalan untuk membeli banyak oleh-oleh untuk keluarganya hingga saat bersama Aulia dia sudah tidak banyak pusing.


"Itu yang warna coklat buat kamu Jar ?" Ucap Benki sambil menunjuk paperbag ukuran sedang yang tadi diletakkan Fajar.


"Oh ya, oke bos !" Wajah Fajar jadi cerah dan segera meraih paperbag yang dimaksud dan membukanya. Dilihatnya sebuah baju kaos warna kuning, sandal jepit, sarung Bali dan beberapa aksesoris lucu untuk pria berada disana.


"Terima kasih bos, kalau begitu saya permisi !" Fajar pamit dan segera keluar.


Benki yang juga ikut keluar hendak menuju dapur saat dilihatnya Fajar yang sudah menuruni tangga dan hendak keluar saat berpapasan dengan Melati yang baru dari dapur membawa jus alpukat dan saat beradu pandang dengan Fajar, gadis itu langsung melengos dan balik badan menuju kamarnya meninggalkan Fajar yang masih setia menatapnya hingga masuk ke kamar baru kemudian cowok itu pergi dari sana.


Benki semakin bingung melihat keduanya dan urung menuju dapur dan kembali ke kamarnya, meraih HP-nya dan mengirim pesan kepada Aulia sambil merebahkan tubuhnya dan setelah pesan pertama terkirim, tanpa sadar Benki terlelap.


Sementara itu, kelima gadis itu juga telah berada di mobil travel yang dipersiapkan oleh pihak hotel untuk menjemput mereka. Aulia yang sedang berbicara dengan Ana saat merasakan HP-nya bergetar, diraihnya benda itu dan membuka pesannya.


Benki : Sudah sampai atau belum ?


Aulia : Ini sudah dijalan, kalau kakak lagi apa sekarang ?


Aulia menyimpan HP-nya kembali menunggu balasan dari Benki.


"Untung aja ya, kita sempat belanja dan jalan-jalan ke pantai sebentar !" Ucap Irma.


"Betul, mana banyak bule-bule ganteng, hehehe !" Ana.


"Uang bonus kalian tadi masih ada atau kalian pakai semua untuk belanja ?" Tanya Aulia.


"Masih ada tenang aja !" Irma dan Ana menjawab bersamaan. Saat membuka amplop putih itu, isinya benar-benar lumayan untuk memborong banyak oleh-oleh disana tapi milik Aulia masih utuh sepenuhnya.


"Sayangnya kita pulang gak bawa jodoh cuma oleh-oleh aja !" Ucap Irma ngaco.


Ketiganya tertawa, sedang Isa dan Veni tertidur sejak meninggalkan bandara. Aulia juga senang, Benki bersedia menemaninya berbelanja dan membeli oleh-oleh untuk ibunya. Benki bahkan mengambil banyak barang untuk Aulia dan membayarkannya membuat Aulia memekik tidak enak dan berusaha mencegah Benki membayar belanjaannya namun cowok itu bersikeras.


"Gak usah dipikir deh, harganya ini bagiku tu uang receh !" Sahut Benki. Sombong.

__ADS_1


__ADS_2